
Pertemuan tanpa direncanakan terjadi begitu saja antara Nisa dan Gara. Malam itu, sebelum insiden penculikan Melodi. Gara datang ke rumah Nisa. Tidak ada kesepakatan, apalagi obrolan di antara mereka.
Nisa, yang sudah siap terjun ke alam bawah sadar dengan piyama keroppinya terpaksa digagalkan. Dengan wajah kesal disertai malas ia turun menuju pintu utama, tempat dimana suara bel berdenting.
"Ish! Siapa sih malam-malam gini." Gerutunya dalam hati.
Nisa memutar kunci ke arah kiri, terbukalah pintu begitu lebarnya. Di depannya, sudah berdiri seorang cowok dengan setelan rapi beserta satu buket bunga di tangannya.
"Malam Nis.." Sapa cowok itu, yang tidak lain adalah Gara.
Nisa bersedekap, seraya berkata, "Tumben malam-malam kesini, ada apaan?" Nada bicaranya terdengar nyolot, menandakan ia begitu kesal.
"Gue mau ajak lo ke cafe dekat sini." Gara melemparkan senyuman, berharap Nisa bersedia ikut dengannya. Tidak lupa, tangannya menyodorkan buket bunga, persis seperti penyogokan.
"Males ah! Udah malam. Nanti gue diomelin bunda lagi." Ketusnya.
Bukan hanya itu. Hujan yang turun sore tadi menimbulkan hawa dingin yang luar biasa. Bahkan, berlapis-lapis jaket yang dikenakan tidak mampu menciptakan kehangatan. Nisa saja sampai mematikan AC ruangan. Menghindari hal buruk terjadi. Salah satunya mati karena kedinginan.
Mendengar penolakan dari mulut Nisa, Gara tidak putus asa. Ia semakin gencar merayu cewek itu, agar ia bersedia ikut dengannya. Karena, ada hal penting yang harus dikatakan hari ini juga.
"Yah Nisa. Gue kan udah datang jauh-jauh kesini. Mana hujan, becek pula." Bibir Gara mengerucut tatkala mengingat perjuangannya demi membuat Nisa bahagia.
Nisa terdiam sejenak. Pikirannya mengawang, mencari cara yang tepat untuk menolak secara halus. Namun, berkali-kali ia mencoba, hasilnya tetap nihil. Otaknya terlalu buntu untuk berpikir.
Nisa menghela nafas, "Ya udah deh. Tunggu bentar, gue ganti baju dulu."
"Eh Nis, bunganya engga diambil?"
Nisa menoleh, "Lo engga tahu ya kalau gue alergi bunga? Lima menit ada di dekat bunga, gue bisa bersin-bersin." Kemudian melanjutkan langkahnya kembali.
Gara berbicara pelan, "Sensi amat sih tuh cewek, lagi dapet ya?"
Namun, ucapan itu rupanya terdengar oleh telinga tajam milik Nisa. Seketika cewek itu menghentikan langkahnya kembali, menoleh ke arah suara yang membuat raut wajahnya kesal sepuluh kali lipat.
__ADS_1
"Gue dengar Gar lo ngomong apa."
Entah apa yang merasuki diri Nisa saat ini. Nisa seperti menjadi orang lain. Sifat dan sikapnya berubah dalam sekejap. Nisa yang terkenal luluh dengan cowok mendadak menjadi pemberani. Mungkin, dirinya berontak karena sering tersakiti.
Gara nyengir, menampilkan sederet gigi putihnya ketika melihat cewek itu murka. Sedetik kemudian, cewek itu menghilang di depan mata Gara.
Tak butuh waktu lama, Nisa sudah siap untuk pergi. Rasa malas yang datang tiba-tiba, membuatnya tak berpikir panjang dalam memilih pakaian. Cukup kaus lengan pendek dibalut jaket kulit, celana jeans panjang, dan flatshoes untuk kaki jenjangnya.
Sebelum Nisa kembali menemui Gara, ia masuk ke kamar sebelahnya, tempat saudaranya berada. Terlihat, cewek itu tengah asyik berbincang via telepon bersama pacarnya. Gelakan tawanya saja sampai terdengar ke tetangga sebelah.
"Mel, gue keluar sebentar ya. Ada perlu." Nisa berbisik di telinga Melodi, sementara Melodi hanya mengacungkan ibu jarinya.
Setelah itu, Nisa bergegas menemui Gara. Nisa sengaja tidak berpamitan pada bundanya, karena bundanya belum pulang. Akhir-akhir ini, Riri memang selalu lembur di galeri. Akhirnya, Nisa hanya meminta izin via chat.
"Kamu cantik!" Puji Gara saat cewek itu muncul di depannya. Di matanya, setelan apapun yang dikenakan oleh Nisa selalu terlihat sempurna.
Nisa hanya mendelikkan mata.
***
Malam ini, pengunjung di cafe tersebut terbilang sedikit, mengingat cuaca yang tidak memungkinkan untuk bepergian keluar rumah.
"Gue mau teh manis hangat aja."
Gara tergelak, "Nggak salah? Ngapain gue ngajak lo ke cafe kalau cuma pesan teh manis hangat aja."
Gara menyebutkan sederet pesanan tanpa persetujuan dari Nisa, mengabaikan Nisa yang melotot karena tidak suka dengan sikap berlebihannya Gara.
"Baik mas, ditunggu ya pesanannya." Ucap barista di cafe itu dan dibalas anggukan oleh Gara.
Selepas barista itu pergi, Gara mulai melancarkan aksinya. Peran menjadi tokoh protagonis telah usai, kini saatnya berubah menjadi tokoh antagonis. Seketika, senyuman manisnya berganti sinis.
"Sebenarnya lo mau ngapain sih ngajak gue kesini? Malam-malam lagi. Lo nggak tahu apa gue tuh ngantuk banget." Cerocos Nisa yang lebih pantas disebut keluhan.
__ADS_1
"Hm, gue mau ngomong sesuatu sama lo."
"Sesuatu apa?"
Situasi mendadak canggung bagi Nisa. Ia memainkan jari jemarinya, hal yang selalu ia lakukan ketika dilanda kebingungan.
"Gue suka sama lo."
Lantang dan cepat. Seperti ucapan pengantin pria pada saat akad berlangsung.
Dugaan Nisa rupanya benar. Gara pasti akan mengatakan hal demikian.
"Gar, gini. Selama ini, gue cuma anggap lo teman sama kayak Rendi dan Gema. Semenjak putus dari Coki, gue belum bisa buka hati gue lagi. Jadi maaf, gue nggak bisa balas rasa suka lo." Ujar Nisa.
Gara langsung menatap tajam cewek di hadapannya. Gara, adalah tipikal cowok yang benci penolakan. Jika seseorang menolaknya, maka ia akan bertindak kasar.
"Jadi lo nolak gue?" Sinisnya. "Terus selama ini lo suka blushing kalau gue gombalin apa maksudnya? Hah? Apa maksudnya?"
Itu bukan Gara yang Nisa kenal. Gara itu baik, lembut ketika berbicara dengan lawan jenis. Gara sangat berbeda saat ini.
"Biar gue jelasin. Jadi gini.."
Gara memotong, "Ya intinya lo tetap nolak gue dan kasih harapan palsu ke gue."
"Gar, please dengarin gue dulu." Pinta Nisa.
"Oke, karena masalah ini lo yang buat, jadi jangan salahin gue kalau salah satu orang yang lo sayang menderita!" Ancam Gara.
Nisa menggebrak meja cukup keras. Beruntungnya, pesanan mereka belum datang. Sehingga tidak ada yang berjatuhan. "Maksud lo apa? Lo ngancam gue? Tolong ya Gar. Ini urusan kita berdua. Nggak usah bawa orang-orang terdekat gue."
"Ya semua ada di tangan lo sekarang. Lo terima gue, semua aman. Begitu juga sebaliknya."
Nisa mengepal kedua tangannya, ia sudah geram dengan situasi. Jika saja ini bukan tempat umum, Nisa pasti sudah melempar pukulan bertubi-tubi. Itulah yang ada di dalam pikirannya.
__ADS_1
"Gue kasih lo waktu lima menit dari sekarang. Kalau lo bilang iya, gue cabut ancaman itu."
Gara mulai menghitung mundur. Terlihat cewek itu menggigit bibirnya, pertanda bingung harus menjawab apa. Waktu terus berjalan. Ketika detik-detik terakhir, tiba-tiba saja ponsel Nisa berdering. Ia langsung mengangkatnya, hingga ia lupa memberikan jawaban.