
Malam panjang yang Rendi lalui diselimuti dengan banyak pertanyaan. Berbagai fakta terungkap dalam sekejap, tanpa memperhatikan persiapannya. Memori tempo dulu yang pernah terukir, tidak tersirat dalam benak sedikit pun. Dia seperti orang amnesia yang kehilangan ingatannya. Kalau saja kenangan itu terkunci rapat, tragedi ini tidak akan terjadi. Tidak akan ada yang terluka. Padahal, mamanya dulu sudah di depan mata. Tetapi dengan bodohnya dia tidak menyadari.
Kamar yang begitu luas ini, tidak mampu membuat Rendi merasa lapang dada. Terlebih sebaliknya, sesak yang menghujam dada begitu terasa. Sekujur tubuhnya berkontraksi, sampai membuatnya kehilangan kendali. Dia terus mencoba melawannya. Dia tidak ingin menjadi pria lemah untuk yang kedua kalinya.
Di sudut ruangan, Rendi mulai beranjak. Dengan susah payah dia berpegang pada benda-benda yang membantunya untuk berdiri. Pening di kepala masih terasa, namun tidak mengurungkan tekadnya. Semuanya harus terbukti sekarang, tidak boleh ditunda kembali. Tanpa berganti pakaian, dia mengambil kunci yang tergeletak di atas nakas. Berjalan dengan langkah gontai menuju keluar. Mengabaikan bibi yang memintanya untuk tetap berada di villa.
Rendi mulai melajukan mobil. Mata sembab, rambut acak-acakan beserta wajah kusut bukan masalah baginya. Yang terpenting, dia harus mengetahui apa alasan Gina membuat kebohongan ini. Rendi menancap gas, agar dia tiba dengan cepat.
Rumah besar yang pernah Rendi pijak, terlihat begitu asing. Bukan bangunannya, tapi orang yang ada di dalamnya. Perlahan kakinya melangkah masuk ke dalam rumah. Mencari sosok yang akan menjelaskan semuanya. Kini, sosok itu sudah duduk di ruang tv. Seperti menunggu kedatangan Rendi Permana, anak yang dia telantarkan 18 tahun yang lalu.
"Ren--Rendi?"
Rendi hanya diam tanpa suara. Duduk di seberangnya, tidak memperhatikan wajahnya sama sekali. Jujur saja, setiap melihatnya rasa sakit itu muncul kembali. Namun, mata dan hati Rendi saat ini tidak sinkron sama sekali. Hati berkata, bahwa dia merindukannya.
"Biar mama jelaskan semuanya padamu." Manik mata Gina sendu, terlihat bahwa dia merasakan hal yang sama seperti Rendi. Masih dalam posisi sama, Rendi memilih untuk bungkam. Membiarkan Gina menjelaskan semuanya.
"Jadi sebenarnya..." Gina menjelaskan panjang lebar padanya. Dari awal Gina melakukan kebohongan ini. Sampai alasan mengapa Gina membuatnya.
"Mama minta maaf. Mama nggak bermaksud untuk menelantarkanmu. Mama cuma pengen kamu hidup bahagia. Semua mama lakukan demi melindungimu, anakku." Air mata itu terjun begitu saja dari mata Gina. Membuat pipi tirusnya basah seketika. Rendi tidak kuat lagi melihatnya seperti itu. Hatinya luluh mendengar semua penjelasannya. Perlahan, kakinya melangkah mendekati Gina. Tangannya mulai menghapus air mata Gina. Dalam sekejap, Rendi rengkuh dalam pelukan Gina.
"Jadi kamu mau maafin mama?"
Rendi hanya membalasnya dengan anggukan. Dia tidak mau banyak bicara dulu, dia sedang ingin menikmati kebersamaan dengan Gina. Mama yang selama ini telah melahirkannya.
Setelah suasana tidak canggung lagi, Gina memanggil Gema. Rendi tidak menyangka, cowok yang pernah dia maki ternyata adiknya sendiri. Bodoh sekali memang. Dia tidak pernah menyadari mereka yang ada di dekatnya. Padahal, tuhan telah memberikan tanda begitu jelas depan matanya. Tetapi dia terlambat memahaminya.
"Gema, mulai sekarang abangmu akan tinggal disini bersama kita."
__ADS_1
"Wow! Asyik dong kalau gitu." Gema merangkul bahu Rendi, membawanya ke suatu tempat. Langkah mereka ternyata menuju lantai atas. Di depan pintu besar, Gema menyuruhnya untuk masuk. Perlahan dia memutar kenop pintu, melihat ke dalam. Ternyata, ini adalah kamarnya.
"Gimana? Suka nggak?" Tanya Gema pada Rendi yang masih berdiri di depan pintu.
Dia menggelengkan kepala, berniat menjaili Gema. Sudah lama mereka tidak bercanda.
"Sayangnya, Gue lebih suka Melodi."
Perkataan itu dibalas dengan lemparan bantal yang mengenai wajahnya. Selanjutnya, terjadilah perang bantal antara mereka.
***
Melodi menghela nafas lega mendengar informasi dari Gema. Berkali-kali ia mengucap kata syukur karena doanya terkabulkan. Kini Rendi tidak sendirian lagi. Dia sudah bahagia bersama keluarganya. Karena semua sudah selesai, Melodi berencana mengajak mereka piknik di pinggir danau.
Setelah melakukan persiapan, Melodi menunggu kedatangan mereka. Tidak lama, mobil Mitsubishi Xpander tiba di depan panti. Melodi bergegas menemui mereka. Penyakit lupa yang Melodi miliki, kumat saat itu. Melodi hendak naik di kursi penumpang depan, namun ternyata disana sudah ada Rendi. Kebodohannya memang, seharusnya ia membuka pintu belakang.
Sepanjang perjalanan, mereka berbincang-bincang. Sepertinya mereka melupakan orang lain di belakangnya. Akhirnya, Melodi memilih mendengarkan musik. Membiarkan mereka melakukan pendekatan.
Jujur saja, Melodi kesal sekali. Seharusnya tidak begini jadinya. Melodi mempersatukan mereka kembali bukan untuk mengabaikannya, melainkan supaya mereka menjadi lebih dekat. Anggaplah sekarang Rendi Abang iparnya. Tapi kenyataannya, mereka malah mengabaikannya.
"Awas aja!" Geram Melodi.
"Nah, disini tempatnya cocok kan?" Ucap Rendi.
"Wah, abang gue emang paling oke."Gema mengacungkan kedua jempolnya.
"Oh ya, ngomong-ngomong Mel mana?"
__ADS_1
"Mel kan tadi disi--" Ucapan Gema terpotong.
Katakanlah Melodi anak kecil yang kesal karena tidak diberi permen. Lagipula, ini bukan kesalahannya. Mereka yang mengawalinya duluan. Sehingga Melodi memilih untuk tidak mengikuti mereka.
"Mel.. Melodi.." Panggil Gema dan Rendi. Melodi pikir mereka tidak akan mencarinya karena sudah sibuk dengan dunia mereka. Tapi ternyata mereka masih mempedulikannya.
Mereka menghampiri Melodi yang tengah duduk di pinggir danau. Sedari tadi, tangannya hanya melempar batu ke air, tidak ada niat untuk makan sedikitpun. Baginya, lapar di perut sudah terobati dengan rasa kesal di hati.
"Ternyata lo disini." Gema duduk di samping kanan Melodi, sedangkan Rendi sebaliknya.
"Kenapa tiba-tiba berhenti disini?" Tanya Rendi.
"Gue kesal sama kalian!" Melodi membentak mereka.
"Kesal kenapa?"
"Lo kesal karena kita mengabaikan lo, iya?" Rendi membaca situasi.
Melodi tidak menjawab pertanyaan Rendi. Bibir tipisnya mengerucut entah sejak kapan. Akan tetapi, mereka malah tertawa melihat tingkah cewek itu. Menyebalkan memang. Kali ini, mereka malah menarik tangan Melodi. Membawanya pergi dari sana.
"Jangan ngambek dong, kalau ngambek nanti cantiknya hilang loh." Canda Gema.
"Iya nih, maafin kita deh ya." Sahut Rendi.
"Ah, kalian menyebalkan!" Gerutu Melodi kesal.
"Dimaafin nggak?" Tanya Gema.
__ADS_1
"Hm, baiklah." Melodi kembali mengembangkan senyuman. Hari ini, ia merasa mendapat kasih sayang dua cowok sekaligus. Yang pertama mantannya sendiri, dan yang kedua pacarnya.
Tuhan memang selalu memiliki cara untuk mempersatukan makhluknya. Yang terpisah, tidak selamanya menjauh. Mereka hanya bermain dengan waktu. Jika sudah berada di titik temu, mereka pasti akan kembali.