A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 55


__ADS_3

"Kalau tiketnya begituan sih gue mau ikut challenge ini." Gema berseru senang.


"Lo yakin?" Melodi sedikit ragu. Ditatapnya kornea hitam milik cowok itu.


Dengan segenap keyakinan, Gema mengangguk. "Kenapa? Lo ngeremehin gue? Gue bisa kok, tenang aja." Kemudian mengusap punggung tangan pacarnya.


Nisa berhenti makan keripik setelah isi toples yang dipegangnya ludes, lalu berdiri. "Nah, gitu dong! Berarti fix ya!"


"Sekarang, siapa yang mau ke supermarket buat beli samyang-nya?" Melodi melirik ke arah Gema, cowok itu mengedikkan bahunya. Lantas mengalihkan pandangan pada Nisa, cewek itu hanya berpura-pura memainkan ponselnya. Lalu ke arah Sammy, cowok itu menggelengkan kepala.


Melodi menghela napas, "Ya udah deh, kalau gitu gue aja yang ke supermarket." Melodi mengambil kunci motor Gema yang tergeletak di meja samping sofa.


"Eh tunggu! Lo mau kemana?" Cegah Gema ketika cewek itu hendak berdiri.


"Ya mau ke supermarket lah!"


Mata Nisa tertuju pada kunci motor yang ada di tangan Nisa, "Emang lo bisa motor?" Ceplosnya.


Melodi terdiam. Detik selanjutnya, ia nyengir, menampilkan sederet gigi rapinya. "Nggak." Lalu kembali menyimpan kunci motor ke tempat semula. "Ya lagian salah kalian sih. Kenapa nggak mau beli samyang ke supermarket. Pengen tinggal enaknya doang."


"Aduh.. kalian ini ribet banget sih! Udahlah sini, biar gue yang beli ke supermarket." Rendi menengadahkan tangan kepada teman-temannya. Keempatnya sontak kebingungan.


"Maksudnya apa?" Tanya Sammy.


"Ya uangnya mana lah! Ya kali beli pakai daun."


Sammy merogoh saku celananya, mencari keberadaan dompetnya. Merasa tidak menemukan benda itu, Sammy melebarkan mulut, lalu menggaruk rambutnya yang tidak gatal. "Talangin dulu ya sama lo."


Rendi mendelik, "Ah, kebiasaan amat sih lo! Gimana kalau situasinya lagi kencan sama Nisa? Lo mau bilang minta talangin sama baristanya?" Ledek Rendi. Untung saja Sammy sudah terbiasa dengan mulut pedasnya Rendi.


Rendi lalu melakukan hal sama pada Nisa, Melodi dan Gema. Ketiganya hanya melempar pandang satu sama lain, memainkan mata mereka. Sudah Rendi prediksi, jawaban mereka pasti akan sama dengan jawaban Sammy.


Baiklah, Rendi menyerah. Mungkin memang ini hari sialnya. Terkurung di dalam penjara sebuah istana yang dihuni oleh dua pasangan menyebalkan. Kemudian dibebaskan beberapa menit hanya untuk melayani kebutuhan majikannya.

__ADS_1


***


Rendi menelusuri sepanjang rak yang berisi aneka macam mie instan. Tidak perlu waktu lama baginya untuk menemukan makanan itu. Rendi mengambil lima bungkus samyang paling pedas dari rak, kemudian menyimpannya ke dalam keranjang yang dibawanya.


Setelah itu, Rendi berpindah tempat menuju lemari pendingin yang berisi aneka macam minuman. Rendi mengamati satu persatu minuman itu, mencari minuman yang pas disajikan dengan samyang. Matanya tertarik dengan botol berukuran 350 ml yang memiliki varian rasa. Rendi lekas mengambil lima botol minuman itu, dan menyimpan ke dalam keranjang.


Setelah dirasa cukup, Rendi bergegas menuju kasir. Ia tidak boleh berlama-lama disini karena majikannya pasti akan marah.


Rendi menyimpan keranjang di atas meja kasir. Tangannya merogoh saku celananya, mencari dompet. Tiba-tiba, seseorang menepuk pelan pundak Rendi, ia spontan menoleh.


"Kak Rendi?" Cewek itu tersenyum manis.


Rendi terdiam sejenak, mengamati wajah cewek itu. "Ehm, Neta ya?"


"Iya kak, kakak lagi apa disini?" Pertanyaan bodoh yang dilontarkan oleh Neta. Tentu saja Rendi kesini untuk berbelanja. Sejak kapan supermarket jadi tempat belajar? Neta menepuk pelan mulutnya yang ngaco.


Rendi hanya memberi isyarat dengan mata yang mengarah pada sejumlah belanjaan yang sedang dimasukkan ke dalam plastik oleh kasir. Neta kemudian tersenyum kembali.


"Kok lo ke supermarket sini? Emangnya rumah lo dimana?" Tanya Rendi sambil menyerahkan selembar uang seratus ribu, lalu mengambil plastik belanjaannya.


"Oh gitu, ya udah gue balik dulu ya. Soalnya teman-teman gue udah pada nunggu." Rendi berlalu.


Tanpa sadar, Rendi menjatuhkan sebuah kalung perak dengan liontin bentuk hati. Benda itu tergeletak di lantai, membuat Neta meraih benda itu. Dibukanya liontin kalung itu, senyuman miris tercetak di bibirnya.


***


"Bang, lo lama banget sih!" Sahut Gema ketika melihat Rendi berjalan santai menuju ruang keluarga. Di tangannya, terdapat satu plastik besar.


"Abang lo kayaknya godain kasir supermarketnya dulu deh Gema." Ledek Sammy. Pembalasan terlaksana akhirnya. Rendi langsung melempar bantal yang sedang digunakan oleh Nisa sebagai alas kepala, sampai membuat cewek itu meringis kesakitan. Sementara yang dilempari bantal hanya menghindar.


"Udah ih! Kalian kayak anak kecil deh. Mana sini plastiknya." Melodi meminta plastik belanjaan, cowok itu langsung menyerahkannya.


"Nis, ayo." Ajak Melodi pada Nisa, karena cewek itu masih tetap berbaring di atas karpet tanpa alas kepala.

__ADS_1


"Ngapain?"


"Bantuin gue masak samyang-nya lah!"


Sementara Nisa dan Melodi sibuk memasak, ketiga cowok itu memilih untuk mengobrol santai.


"Eh eh. Gue mau tanya dong!" Celetuk Sammy.


"Tanya apa?" Jawab Gema.


"Jujur ya jujur. Ceritain dong kenapa kalian bisa pacaran sama Melodi. Dimulai dari lo ya Gema."


"Ya lo kan udah tahu, awal gue kenal Melodi pas gue jadi murid baru di kelasnya. Dulu status dia masih pacaran sama abang gue. Ya nggak bang?" Rendi menganggukkan kepalanya.


"Terus kita sempat taruhan gitu, sampai akhirnya Melodi milih gue. Karena katanya, abang gue ini kurang tampan." Celoteh Gema.


"Kalau gue kurang tampan, terus lo apa?" Sinis Rendi.


"Terlalu tampan lah!" Ucapnya dengan bangga.


Kedua cowok itu langsung mendesis. "Terus-terus, kalau lo sendiri Ren?" Tanya Sammy penasaran.


"Kenapa mesti tanya lagi sih? Kan lo udah jelas tahu faktanya gimana. Gue ketemu Melodi pas dia mau dicopet. Terus seiring waktu berjalan, kita dekat, terus saling berkomitmen." Jawab Rendi dengan ekspresi datar. Bukan apa-apa. Rendi malas membahas masa lalunya bersama Melodi. Terlalu banyak kenangan indah yang dirusak oleh kenangan buruknya. Dan semua dihancurkan oleh dirinya. Rendi yang bersalah atas hubungannya yang kandas di tengah jalan.


"Bang Rendi emang gitu orangnya. Kadang suka datar, kadang juga suka dingin." Gema setengah berbisik pada Sammy.


"Gue dengar Gema. Nggak perlu bisik-bisik." Rendi mengambil remote, kemudian menekan tombol on. Sepertinya lebih baik mendengar suara di tv daripada mendengar celotehan kedua cowok yang sedang jatuh cinta ini.


"Kalau lo sendiri?" Gema balik bertanya.


"Gue ketemu dia waktu pas SMP kan. Kalau nggak salah pas acara MOS deh. Nah, dia tuh lagi dihukum sama kakak OSIS gara-gara nggak pakai tas yang dibikin dari kardus." Sammy mulai bercerita. "Dan yang lebih ngakaknya lagi, dia protes karena dia ngaku nggak salah. Terus dia bilang gini." Sammy berdiri, kemudian mempraktekkan ekspresi wajah Melodi saat berbicara dengan kakak kelas.


"Kak, saya nggak salah kok. Suruh siapa kakak bilangnya cuma tas kardus, kalau kakak bilangnya tas yang dibikin dari kardus baru benar. Nah kalau tas kardus berarti, tas dalamnya kardus." Sammy tergelak menceritakan kepolosan Melodi. Sampai terdengar suara teriakan Melodi dari dapur.

__ADS_1


"Sammy! Gue tempelin pantat panci ya di mulut ember lo!"


Diam-diam, Rendi sedikit tersenyum mendengar cerita Sammy. Memang benar, Melodi itu terkadang terlihat sangat polos. Bukan hanya itu, ketika kepolosannya keluar, Melodi terlihat sangat menggemaskan. Dan, masih banyak lagi hal-hal istimewa yang ada di dalam diri Melodi. Mungkin itulah alasan kenapa Rendi masih mencintai Melodi. Tapi, tenang saja. Rendi tidak akan egois kali ini. Rendi akan memendam perasaannya. Rendi senang dengan kehidupan Melodi yang sekarang. Cewek itu jarang sekali menitikkan air mata, berbeda jauh saat bersama dengan Rendi.


__ADS_2