
"Ayo masuk!" Ajak Deon selepas ia memarkirkan mobilnya di pekarangan rumah. Melodi menurut saja, ia mengikuti langkah Deon yang temponya sedikit lebih cepat.
Sampai di ruang tamu, Melodi lekas duduk di sofa berwarna biru yang membentuk angka L. Matanya berkeliling, melihat seluruh ruangan. Melodi sempat terkagum, karena ruang tamu Deon dipenuhi dengan pot bunga hias plastik. Dinding bercat putihnya dihiasi pigura-pigura foto Deon bersama keluarganya. Melodi tertarik dengan pigura yang letaknya di sisi pigura besar. Pigura berukuran 20x25 cm itu menampilkan potret Deon kecil bersama adik perempuannya, keduanya sama-sama tersenyum manis.
Setelah menyimpan dua gelas es jeruk di atas meja, Deon duduk di samping Melodi. "Minum dulu Mel."
"Ah, iya makasih." Tatapan Melodi masih tertuju pada pigura foto tadi. Adik perempuan Deon sangat menggemaskan.
Deon tahu kalau Melodi tengah memperhatikan pigura itu, karenanya dia mengabaikan Deon. "Itu adik gue, namanya Dea Adinda."
Melodi mengerjap, "Nama yang bagus. Di foto itu, ade lo gemasin banget. Berasa pengen gue cubit deh pipinya."
"Iya, dia emang gemasin banget. Gue juga masih ingat, waktu dia nangis terus minta gendong ke gue pas dia jatuh dari sepeda." Deon tertawa hambar, dilihatnya kembali foto itu. Semakin ia lihat, luka lama di dalam hatinya seakan terbuka kembali. "Semua kenangan tentang dia, terekam jelas di dalam memori kepala gue. Memori yang gue kunci rapat-rapat, karena gue nggak mau kehilangan satupun memori itu."
Melodi menoleh ke arah Deon, dilihatnya cowok itu memberikan tatapan sendu, jauh berbeda dengan Deon yang Melodi kenal. Apa yang membuat Deon menjadi demikian?
"Kalau gue boleh tahu, emangnya adik lo ke mana?"
Mendadak hening. Deon meremas jemarinya keras-keras. Tanpa dikomando, cairan bening keluar dari sudut matanya. Melodi tercengang. Tangannya tergerak mengusap lembut lengan Deon.
"Maafin gue ya. Nggak seharusnya gue nanya hal gini ke lo."
Deon menghapus air mata yang membasahi pipinya, lantas menyunggingkan senyuman. Deon tidak mau terlihat lemah di hadapan Melodi. Deon harus terlihat kuat. Bagaimana bisa Melodi memilihnya jika ia terlihat lemah di mata Melodi?
"Nggak Mel, nggak apa-apa kok. Gue aja yang belum terima kenyataan. Sebenarnya, adik gue meninggal waktu dia berumur 10 tahun. Penyakit leukeumia yang bersarang di dalam dirinya selama 5 tahun merenggut nyawanya."
Melodi prihatin mendengar cerita Deon. Rupanya, Deon yang terlihat sangat ambisius di mata Melodi, memiliki sisi kerapuhan juga. Mungkin memang benar, setiap manusia perlu merasakan kebahagiaan diiringi kepedihan, agar mereka mengerti arti keseimbangan.
Setelah merasa kondisinya baik, Deon kembali mencairkan suasana. Insiden mellownya tadi sempat membuat dirinya lupa tujuan utama mengajak Melodi ke sini.
"Oh ya Mel, tadi pas di jalan nyokap gue chat, katanya dia pulang agak telat dari toko. Mungkin lagi banyak pesanan kali ya. Lo nggak keberatan nunggu?"
"Hm, It's okay."
Sambil menunggu mamanya Deon, Melodi diajak oleh Deon menjelajahi rumahnya. Melodi sangat terpukau dengan hiasan membentuk hewan kucing dan kelinci yang terbuat dari ukiran kayu dan diletakkan di sisi televisi. Melodi mendekat ke arah bufet, mengamati setiap ukiran yang dibentuk oleh senimannya. Hiasan itu terukir begitu sempurna, terkesan seperti hewan aslinya.
Belum selesai sampai di situ, Melodi diajak oleh Deon ke sebuah ruangan yang letaknya bersebelahan dengan kamar milik Deon. Membuka pintu, Melodi langsung membelalakkan mata melihat isi ruangan itu. Benda-benda yang tersimpan di dalamnya semua hasil ukiran.
"Waw, keren banget." Melodi menutup mulut dengan kedua tangannya. Langkahnya mendekat ke arah ukiran kayu berbentuk wajah perempuan. "Ini pasti potret adikmu."
Deon mengangguk pelan. Lalu berjalan mendekati Melodi. Diusapnya ukiran kayu itu, seketika Deon kembali ke masa lalu dimana adiknya masih hidup. Adik kecilnya itu tengah duduk di hadapannya, memperhatikan setiap gerakan Deon.
__ADS_1
"Kak, kakak lagi apa?" Tanya Dea sambil menatap lurus ke arah kakaknya.
"Dea, jangan gerak dong. Kakak lagi bikin ukiran wajah kamu tahu." Deon membenarkan kembali posisi wajah adiknya. Dea sedikit cemberut.
"Tapi aku pegal kak, aku capek telus senyum kayak gini." Dea mencebikkan bibir.
"Iya, ini beres kok bentar lagi. Makanya kamu diam aja, jangan banyak ngomong. Mengerti adik manis?" Deon mengacak rambut Dea dengan gemas.
"Tadaaa... udah jadi." Deon memperlihatkan hasil ukirannya pada Dea. Mata cokelat gadis itu langsung berbinar, sementara bibirnya menyunggingkan senyuman. Rasa pegalnya tergantikan dengan ukiran wajah dirinya yang benar-benar terlihat sempurna.
"Gimana? Bagus nggak?" Tanya Deon sambil menyelipkan helaian rambut yang menjuntai di depan wajah Dea.
Dea menggangguk, kemudian tubuh mungilnya memeluk sang kakak. Dengan lembut Deon membelai rambut Dea.
"Kalau bagus, ukiran ini simpan aja di kamar Dea, ya?"
Dea menggeleng cepat. "Gimana kalau misalkan ukilan ini disimpan aja di kamal kakak? Bial kalau misalnya aku nggak ada, kakak punya kenangan tentang aku. Kakak telus ingat aku sampai kapanpun."
Deon menatap mata cokelat itu, tersirat banyak kesakitan di dalamnya. Bagaimana bisa adik kecilnya merasakan sakit di usianya yang masih sangat muda? Bahkan dia tidak bisa merasakan kebahagiaan layaknya anak kecil lainnya.
"Kok Dea bilangnya gitu sih. Memangnya Dea mau ke mana?"
"Dea semalam mimpi, Dea pelgi ke tempat yang jauuuuh banget. Di sana nggak ada mama, papa, kakak juga. Tapi di sana Dea bahagia kak. Dea nggak ngelasain sakit lagi. Dea juga bisa main sama teman-teman seumulan Dea. Kila-kila, Dea pelgi kemana ya kak?"
***
Turnamen bola basket akan berlangsung sekitar satu minggu lagi. Sudah sepantasnya untuk para panitia mempersiapkan acara itu dengan matang. Karena, turnamen tahun ini akan diikuti oleh seluruh sekolah di kota Jakarta.
Rendi masih berkutat di depan layar laptopnya. Jari-jarinya dengan lincah mengetik proposal yang akan dikirim ke beberapa perusahaan. Selain sebagai sponsor, juga sebagai tambahan dana yang menunjang suksesnya turnamen ini.
"Eh Ren, lo udah makan siang belum?" Sammy duduk bersandar di kursi kayu panjang. Mereka sedang berada di halaman sekolah sekarang.
Rendi sejenak menoleh ke arah Sammy, kemudian mengalihkan pandangannya kembali ke layar laptop. "Belum nih. Lo nggak ada niat buat beliin gue makanan atau minuman gitu?"
"Justru gue ke sini buat ngajakin lo makan. Ayo, kantin Ren. Itu mah gampang dikerjain lagi nanti. Urusan perut harus nomor satu. Kan nggak lucu kalau lo mati gara-gara bikin proposal." Ledek Sammy. "Nanti di media sosial viral, 'siswa SMA rela mati kelaparan demi menyelesaikan proposal turnamen." Sammy spontan terkekeh.
Rendi mencubit lengan cowok yang sudah berdiri di sampingnya, lalu mematikan laptop kemudian memasukkannya ke dalam ransel.
Keduanya jalan beriringan menuju kantin sekolah. Kalau dilihat, koridor cukup sepi siang ini. Padahal biasanya banyak sekali murid cewek yang duduk di deretan tembok. Aktivitas yang selalu mereka lakukan setiap harinya, yaitu melihat murid cowok berolahraga di bawah teriknya raja siang.
Perut mereka yang meronta-ronta sedari tadi, membuat langkah mereka cepat sampai di kantin. Rendi lekas duduk di bangku, membiarkan Sammy memesan makanan dan minuman yang akan disantap.
__ADS_1
Hening dan sunyi. Begitulah suasana kantin siang ini. Hanya ada beberapa kedai yang masih buka, juga dua siswa yang kelaparan. Tapi tunggu! Sepertinya Rendi salah bicara. Di sudut ruangan, ada seorang cewek berkacamata. Fokusnya tertuju pada buku yang tersimpan di atas meja. Berkali-kali cewek itu tertawa, sepertinya buku yang dibacanya menarik.
Rendi memperhatikan cewek itu, "Bukannya itu cewek yang duduk sama Melodi?"
"Woy! Lo lagi lihatin apa sih. Serius amat dah." Sammy mengalihkan pandangan Rendi. Di tangannya, sudah ada nampan berisi dua mangkuk mie ayam dan dua gelas es teh manis.
"Ng-nggak kok. Gue nggak lagi lihat apa-apa." Rendi setengah terbata. Hampir saja ia ketahuan tengah memperhatikan cewek itu.
Sammy duduk di depan Rendi, "Bohong banget lo. Gue bisa lihat dari tatapan lo. Lo lagi ngincer seseorang ya?" Sammy melirik ke sudut ruangan. Benar saja dugannya. Ternyata di kantin masih tersisa murid lain selain mereka.
"Lo tadi merhatiin dia ya?"
Rendi menggeleng, "Nggak kok, ngapain gue merhatiin dia."
Sammy menyumpit mie lalu menyantapnya. "Lo tahu kan dia siapa? Dia itu Neta, teman sebangkunya Melodi yang terkenal dengan sifat introvertnya."
"Iya, gue tahu kok. Terus apa urusannya sama gue?"
"Ya gue kasih tahu aja ke lo, kalau biasanya orang introvert itu lebih kejam dari orang normal. Bisa aja dia menyembunyikan sesuatu dibalik sifat introvertnya."
"Maksud lo, sejenis diam-diam menghanyutkan gitu?"
Sammy menyeruput es teh manisnya, kemudian melanjutkan ceritanya. "Iya, betul banget. Soalnya dulu pernah ada teman gue yang begitu, diam banget kalau di kelas. Tapi pas ditelusurin, dia punya jiwa psikopat yang jauh lebih parah dari introvertnya." Sammy bergidik ngeri.
"Tapi, nggak semua orang introvert kayak gitu kali Sam." Tukas Rendi.
"Ya emang nggak semua, tapi rata-rata begitu. Gue cuma ngingatin aja Ren. Lo jangan coba-coba dekatin dia deh. Apalagi, sampai suka sama dia."
Rendi spontan tergelak, "Yang benar aja. Gue nggak akan suka sama cewek mana pun. Di dalam hati gue cuma ada Melodi. Ya walau kenyataannya, sekarang Melodi milik adik gue sendiri. Tapi nggak tahu kenapa, gue belum bisa move on dari dia. Melodi itu istimewa di mata gue, beda kayak cewek yang lain."
"Ren, lo masih waras kan? Melodi itu udah bahagia kali sama Gema, terus lo masih diam di titik itu aja? C'mon Ren, lo mesti move on. Lo mesti buka hati lo buat yang lain." Sammy berpikir sejenak. "Misal, untuk Bianca."
Kalimat terakhir Sammy langsung disambut dengan pukulan pelan di lengan Sammy. Cowok itu hanya menatap Rendi dengan jenaka.
"Stop Sam! Nama Bianca bukan lagi termasuk ke dalam list cewek yang pernah gue suka. Gue juga heran, kenapa dulu gue bisa kepincut sama cewek aneh kayak dia."
Sammy tertawa terbahak-bahak, mengingat bagaimana dulu kisah asmara Rendi dan Bianca.
Sambil tetap membaca novelnya, Neta menajamkan pendengarannya. Organ di dalam dirinya sedikit tergores mendengar cerita mereka. Mengapa orang-orang seperti mereka selalu memandang remeh kaum introvert sepertinya? Apa mereka tidak tahu bahwa kaum introvert memiliki rahasia menyakitkan yang membuatnya berakhir begini. Sungguh, Neta bukanlah orang yang termasuk ke dalam kategori yang Sammy katakan tadi. Neta sungguh mencintai Rendi.
Apa yang lo bilang barusan Net? Lo suka sama Rendi? Pacaran aja belum pernah. Gaya banget lo sekarang. Rendi itu terlalu sempurna buat lo. Sisi hati Neta yang lain berkata demikian.
__ADS_1
btw, mohon maaf kalo misalkan ceritanya jadi absurd. aku cuma menuangkan semua yang ada di pikiran hehe