
Meja bundar sisi kolam renang memang tempat paling cocok untuk bersantai. Ditemani semilir angin yang berhembus, juga percikan air mancur yang bersentuhan dengan air kembali.
Bukan hanya itu. Empat pasang mata yang duduk melingkar di atas kursi kayu itu menambah kesan nyaman di siang hari ini.
Di atas meja, sudah ada lima piring berisi samyang level paling pedas beserta fruit tea di depan masing-masing piring. Teknis challenge kali ini, tentu saja tidak boleh ada yang minum di sela-sela makan.
"Oke, siap ya!" Seru Nisa heboh. Di antara mereka, memang Nisa yang paling suka hot food. Maka, jika Nisa menang di challenge kali ini tidak usah heran.
"1, 2, 3." Melodi memulai aba-aba. Dan pada saat hitungan ketiga, mereka serempak memakan samyang dengan kecepatan sesuai kemampuan masing-masing.
Lima detik pertama, mereka sanggup menyumpit mie dan menelannya dengan kasar. Detik selanjutnya, Sammy terlihat sudah mengusap peluh yang membanjiri wajahnya. Tangannya yang lain mengipas-ngipas lidahnya yang panas. Belum lagi, terik matahari yang semakin menghantam tubuhnya, membuat ia tidak mampu melanjutkan challenge ini.
Dengan wajah merah, Sammy membuka tutup botol, lalu meneguknya sampai menghabiskan setengah isi botol. "Ah! Gue nyerah! Gue nggak sanggup lagi." Sammy berlalu, menuju ayunan yang letaknya dekat pintu belakang. Ia duduk disana, sambil menggoyangkan ayunan tersebut.
"Yaaaah.. Sammy. Gimana sih?" Terdengar keluhan pacarnya dari seberang kolam. Sammy tidak memedulikan Nisa, ia lebih memilih menyandarkan punggung dan kepalanya di sandaran ayunan, lalu memejamkan matanya dengan tenang.
Masih ada empat manusia lagi yang masih berjuang keras demi sebuah tiket pesawat ke Jepang. Rendi hanya tertawa kecil dalam hati karena ia berhasil mengusili ketiga manusia di depannya ini. Lihat saja! Mereka sangat bersemangat karena iming-iming hadiah dari Rendi. Apalagi Gema, yang nyatanya membenci hot food, karena tiket pesawat ia merelakan lambungnya melawan musuh yang mendadak masuk tanpa permisi.
"Gue nyerah." Setelah dua menit berlalu, Melodi meletakkan sumpit di atas piring. Alih-alih meminum fruit tea, ia malah berlari ke tepi kolam. Mencuci mukanya yang sudah merah padam seperti kepiting rebus. Ah, segar sekali rasanya ketika air itu menerpa wajahnya, masuk ke dalam pori-pori wajahnya.
"Mel, lo gimana sih? Biasanya kan lo pantang menyerah." Sahut Gema dengan mulut penuh samyang. Melodi menoleh, lantas menatap sebal pacarnya itu. Oke, Melodi mengaku kalah di challenge kali ini. Karena apa? Samyang-nya benar-benar super pedas. Melodi tidak sanggup membuka mulutnya lagi. Mungkin sekarang bibir Melodi juga sedikit bengkak karena pedas yang dihasilkan oleh mie tersebut.
Satu menit setelah Melodi tumbang, kini saatnya Rendi menyerah. Sebenarnya ia masih sanggup melanjutkan challenge ini, hanya saja ada satu hal yang ingin Rendi lakukan. Yaitu mengusili Nisa dan Gema. Sepertinya asyik, batinnya menggebu-gebu.
Melodi berdiri di belakang Gema, sedangkan Sammy berdiri di belakang Nisa. Dan Rendi, tentu saja ia menjadi juri di challenge kali ini.
"Ayo Gema... lo pasti bisa!!" Jerit Melodi tidak sabar.
Begitu juga dengan Sammy, "Nis, ayo Nis. Lo pasti bisa." Sammy memijat bahu Nisa, memberi ketenangan agar cewek itu bisa memenangkan challenge.
Pertandingan semakin sengit. Gema memasang tampang kemenangan, begitu pula Nisa. Keduanya sama-sama menebar api berkobar di mata juga mulutnya. Sudah tidak perlu ditanya lagi bagaimana bentuk wajah mereka saat ini. Yang jelas, wajah mereka benar-benar mengerikan. Keringat yang memenuhi wajah, ditambah kulit yang berubah kemerahan.
Gema juga heran dengan dirinya sendiri. Bagaimana bisa ia menaklukkan lambung manjanya ini. Biasanya, sedikit saja ia memakan hal yang berbau pedas, lambungnya langsung bereaksi.
Jika Gema bisa berdamai dengan pedasnya sekarang, berbeda dengan Nisa. Cewek itu biasanya bisa menghabiskan samyang level paling pedas ini dalam waktu satu menit. Tapi nyatanya, ia perlu waktu sekitar lima menit untuk menghabiskan samyang di challenge ini.
"Oke, satu suapan terakhir..." Rendi kembali menyemarakkan suasana. Gema dan Nisa langsung menyumpit mie terakhir dan memasukkannya ke dalam mulut masing-masing. Gema buru-buru mengunyah mie itu dengan kasar. Hal sama juga dilakukan oleh Nisa.
__ADS_1
Dengan gerakan cepat Gema menyimpan kembali sumpit di atas piring bersamaan dengan Nisa. "Gue menang!" Teriak Gema sambil menahan panas di lidahnya.
"Enak aja! Gue yang menang!" Balas Nisa tidak setuju. Jelas-jelas dirinya yang paling awal menghabiskan samyang miliknya.
"Lo telat setengah detik nyimpan sumpitnya." Gema mengambil air mineral yang dibawakan oleh Melodi lalu menenggaknya sampai habis.
"Apaan! Jelas-jelas duluan gue daripada lo! Ya kan Sam? Mel? Ren?" Nisa menatap ketiga pasang mata yang sudah menyaksikan challenge Gema dan Nisa. Sammy tidak memberi jawaban sama seperti Melodi.
"Sammy, gue kan yang menang?" Nisa kembali bertanya pada pacarnya. Sammy menggaruk tengkuknya. Sejujurnya, menurut penglihatan Sammy keduanya seri.
"Mel, gue kan ya?" Tanya Gema mengikuti ekspresi Nisa. Dan Melodi tentu saja sependapat dengan Sammy.
"Hello, hello..." Rendi menyela pembicaraan mereka. "Ngomong-ngomong, kenapa kalian nggak tanya jurinya sih? Gue kan berdiri di sini sebagai juri. Kalian nggak ada keinginan buat tanya ke gue?"
Gema dan Nisa langsung menyambar, "Gue kan yang menang?" Keduanya serempak berkata demikian.
Rendi melipat tangan kanannya di depan dada sementara telunjuk di tangan lainnya tersimpan di dagunya. "Kalau menurut gue sih.." Rendi sedikit mengulur waktu. Tentu saja itu membuat keempat manusia di hadapannya sekarang memasang mimik wajah serius, tanda penasaran dengan pemenang di challenge kali ini.
"Pemenangnya adalah..." Rendi mengetukkan tangannya ke meja. "..Gema dan Nisa.." Kemudian ia bertepuk tangan heboh. Gema dan Nisa langsung berdiri, tidak terima dengan keputusan Rendi.
"Nggak bisa! Pemenangnya harus satu, nggak boleh dua." Protes Nisa.
"Aish! Kalian ribet banget sih! Udahlah, pemenangnya dua juga nggak apa-apa, yang penting kalian sama-sama dapat hadiah."
"Serius?" Gema dan Nisa kembali bertanya serempak.
Rendi menganggukkan kepalanya. Seutas senyuman jail tiba-tiba terukir di bibirnya.
***
Bagaimana Melodi, Rendi dan Sammy tidak tertawa terbahak-bahak kalau akhirnya akan seperti ini. Selepas challenge, mereka memilih bersantai di ruang keluarga. Melodi dan Sammy yang merebahkan diri di sofa, dan Rendi yang memilih sibuk menonton tv, menghiraukan dua orang yang mengapitnya.
Gema dan Nisa langsung meminta hadiah dari Rendi. Awalnya Rendi ingin mengulur waktu, namun keduanya terus-terusan merengek minta segera diberi hadiah. Rendi lantas meminta Melodi untuk mengambilkan buku dan sebuah pulpen. Di dua lembar kertas, Rendi menulis 'Tiket Pesawat ke Jepang'. Setelahnya, ia merobek kertas itu dan memberikannya kepada dua manusia yang sudah membuat pendengarannya sakit.
"Abang, lo nggak serius kan ngasih kita kayak ginian?" Gema menatap nanar tiket palsu yang diberikan oleh Rendi.
Rendi menggeleng. Selanjutnya Nisa bertanya, menangguhkan jawaban dari Rendi. "Ren, sumpah ini nggak lucu. Mana tiket aslinya?" Nisa menengadahkan tangan, meminta tiket tersebut pada Rendi. Bahkan tangan satunya lagi sampai menarik-narik kaus Rendi.
__ADS_1
Jangan tanya ekspresi wajah Sammy dan Melodi saat ini bagaimana. Tentu saja mereka sudah tertawa terpingkal-pingkal, kulit perutnya seperti tergelitik. Mereka bersyukur karena menyudahi challenge tadi tanpa menghabiskan mie yang masih tersisa setengah di piring.
Melodi sendiri sebenarnya sudah curiga dengan Rendi. Dari gerak geriknya, Rendi terlihat tidak serius dengan hadiah yang akan berikan. Kalau Sammy? Sudah jelas ia hapal dengan perilaku Rendi. Cowok itu sudah sering menjebak dirinya ke dalam perangkap jailnya, tapi kali ini Sammy berhasil terhindar dari perangkap tersebut.
"Pokoknya gue minta yang asli!" Pinta Nisa kembali.
"Gue juga!" Gema tidak mau kalah.
Rendi mengecilkan volume tv, ia berpindah posisi menjadi menghadap ke arah Gema dan Nisa. Menarik napas pelan, kemudian mengeluarkannya dengan santai. "Sekarang gue tanya ke kalian. Emang gue bilang hadiahnya tiket pesawat ke Jepang yang asli?"
Spontan keduanya menggeleng. Rendi hanya mengatakan tiket pesawat ke Jepang saja, tanpa ada kata lain di belakangnya.
"Jadi, gue nggak salah kan?"
Gema dan Nisa tertegun. Benar juga. Lantas, siapa yang salah? Gema dan Nisa yang terlalu tergiur dengan hadiahnya? Atau Rendi yang tidak menjelaskan secara rinci hadiah yang akan diberikan.
"Tapi tetap aja!" Nisa masih belum terima penjelasan dari Rendi. "Iya, gue akuin lo benar. Tapi seharusnya lo jelasin lagi dong tadi biar kita nggak salah paham. Betul nggak Gem?" Nisa meminta dukungan. Cowok itu menganggukkan kepalanya.
"Sekarang gue tanya lagi, kenapa kalian nggak nanya lebih lanjut ke gue soal hadiahnya?"
"Ya kan karena kita udah nggak sabar bang, pengen cepat-cepat menang terus dapat hadiahnya." Gema mengelak.
Setelah merasa puas dengan tawanya yang membahana, Melodi duduk di samping Rendi, menengahi adu mulut mereka.
"Ya udah deh, daripada urusannya makin ribet, mendingan gue yang kasih hadiah."
Gema dan Nisa langsung antusias. "Apa hadiahnya?"
"Cheese cake buatan gue. Mau nggak?"
Tanpa basa-basi, keduanya langsung menghambur ke ruang makan. Melodi dan Rendi hanya menggelengkan kepala melihat tingkah keduanya.
Melodi menoleh pada cowok di sampingnya, "Dan lo, jangan ulangi hal konyol kayak gini. Untung lambung si Gema kuat. Kalau nggak, dia bisa masuk rumah sakit."
"Ya kan dia ini yang masuk rumah sakit." Sanggah Rendi. Sempat-sempatnya Rendi berkata begitu. Tentu saja cewek itu langsung memukul keras lengan Rendi. Tidak terima kalau sampai pacarnya terluka.
"Hush! Kalau ngomong jangan sembarangan."
__ADS_1
"Iya, bercanda.." Rendi tertawa renyah mendapati pukulan yang baginya tidak terasa apa-apa.
Jangan lupa klik tombol suka kalo kalian suka sama cerita aku yaa. Dukung terus novel aku my readers❤️ dan, aku ucapkan makasih buat kalian yang masih setia nungguin cerita dari aku. Love you my readers💕