A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 53


__ADS_3

"Mel, kok gue kangen lo ya?"


Gema menatap dirinya dalam cermin. Rambut hitam gondrong dengan sedikit polesan pomade cocok dengan wajah ovalnya. Di bagian telinga, terpasang earphone yang menghubungkan panggilan kepada Melodi.


"Tumben lo bilang kangen." Cibir cewek itu dari seberang sana. Suaranya terdengar sangat mengejek.


"Oh, jadi mau gitu sekarang?" Nada bicaranya naik satu oktaf.


Terdengar gelakan tawa sejenak, lalu cewek itu kembali berbicara, "Sensi benar sih, kayak orang dapet aja. Iya, gue juga kangen sama lo."


Gema beralih dari cermin menuju jendela kamar. Sinar matahari pagi langsung menyambut kedatangan Gema. Cuacanya cukup bagus. Sangat cocok digunakan untuk beraktivitas.


"Mel, gue ke rumah lo ya. Bosan gue di rumah."


"Ya udah, kesini aja. Gue tunggu lo. Tapi jangan cepat-cepat ya, soalnya gue belum mandi."


"Ya nggak apa-apa kali, lo kan mau udah mandi, mau nggak sama aja. Sama-sama bawel." Ledek Gema yang langsung dibalas desisan oleh Melodi.


Ini adalah akhir pekan. Sudah sepatutnya digunakan sebaik mungkin. Gema mengambil parfum yang tersimpan di atas nakas, kemudian menyemprotkannya ke seluruh tubuh. Sekali lagi ia menatap dirinya dalam cermin. Setelah dirasa penampilannya sempurna, ia turun menuju lantai bawah.


Aroma parfum menyeruak ketika Gema tiba di ruang keluarga. Terlihat, kakaknya masih terbaring malas di atas sofa sambil bermain game. Hidungnya mengendus, mencari asal aroma yang tiba-tiba memenuhi ruangan.


"Woy! Mau kemana lo? Pagi-pagi udah rapi benar." Rendi bangun dari tidurnya, kemudian duduk bersila.


"Hm, kasih tahu nggak ya?"


"Ya ampun, kasih tahu aja sih. Mau kemana, hah? Mau kemana?" Rendi menghampiri Gema. Dilihatnya penampilan adiknya itu dari atas sampai bawah. Otak Gema tidak geser kan?


Gema nyengir, "Kenapa bang? Ganteng ya?"


"Kenapa lo nggak dandan begini tiap hari sih Gema, adem tahu gue lihatnya. Btw, lo mau kencan ya sama Melodi?" Selidik Rendi. Ya, memang benar perkataan Rendi. Gema hanya berpenampilan rapi ketika ia akan kencan dengan Melodi. Kalau bukan karena itu, jangan harap bisa melihat Gema tampil rapi. Style acak-acakan layaknya berandalan seperti sudah melekat di jiwanya. Beruntungnya, wajah tampannya menutupi kekurangannya itu.


"Gue cuma mau main ke rumah Melodi doang kok." Tukas Gema cepat.

__ADS_1


Ke rumah Melodi? Sudah lama Rendi tidak mengunjungi rumah itu. Lagipula, sepertinya Rendi merindukan adik manisnya itu. Ya, semenjak Gema dan Melodi resmi berpacaran, Rendi memilih untuk menganggap Melodi sebagai adik perempuannya. Walau berkali-kali ia mengatakan, kalau ia masih belum bisa move on. Tapi, apa boleh buat? Tidak mungkin Rendi harus merebut pacar adiknya sendiri. Rendi tidak sejahat itu.


"Oke deh kalau gitu. Tunggu 10 menit, gue mau ikut."


"Apaan! Lo kan kalau mandi bisa sampai setengah jam."


"Nggak, benaran kok sekarang cuma 10 menit."


"Bang, lo nyusul aja ya."


"Nggak mau, gue lagi malas bawa mobil. Gue lagi pengen di motor berdua sama adik gue."


"Ih, bang Rendi... Jijik banget sih!"


***


Bel di pintu depan berdenting. Membuat Melodi sedikit terperanjat. Kenapa Gema datangnya cepat sekali sih? Padahal kan Melodi belum siap untuk menemuinya.


Dengan secepat kilat, Melodi membasuh wajahnya kemudian mengeringkannya dengan handuk. Lantas beralih ke meja rias, menyisir rambutnya yang sedikit acak-acakan. Alih-alih menguncir ala ekor kuda, Melodi memilih mencepol rambutnya. Wajahnya ia poles dengan bedak tipis-tipis dan liptint yang mewarnai bibir cantiknya.


Melodi mengenakan t-shirt dengan rok selutut. Berlari-lari kecil menuruni anak tangga, lalu membukakan pintu untuk tamu istimewa di pagi ini.


"Selamat pagi say.." Ucapannya terhenti karena cowok di depannya. Kaos polo berwarna merah tua dengan celana jeans panjang longgar. Rambut gondrong yang sedikit kecokelatan itu tidak diberi olesan pomade. Dan raut wajahnya begitu datar.


"Sammy? Ngapain lo disini?" Melodi berkacak pinggang.


"Gue mau ketemu Nisa lah, ya kali mau ketemu lo!" Sammy berjalan masuk tanpa permisi. Dengan wajah kesal Melodi membuntuti di belakangnya.


"Nisa belum bangun kali!" Ketus Melodi. Ia ikut duduk di sofa, sama seperti Sammy.


"Oh ya? Kata siapa?"


"Kata gu.."

__ADS_1


Lagi-lagi kalimatnya terpotong karena kehadiran cewek yang tidak terduga. Cewek itu sudah tampil cantik dengan t-shirt putih dan celana jeans selutut. Dan, lihat! Cewek itu memakai riasan natural di wajahnya, tidak seperti biasanya. Bukan hanya itu, aroma parfumnya yang menusuk hidung Melodi membuatnya berasumsi kalau cewek itu sudah membersihkan diri.


"Hai, Sammy..." Nisa duduk di sebelah Sammy. Senyuman tersungging di bibir pink alaminya.


Sammy membalas senyuman cewek itu, lalu memberikan sebuah hadiah yang dibawanya. Melodi menatap keduanya dengan tatapan tidak percaya. Jadi, apa maksud semua ini?


"Makasih ya Sammy."


"Sama-sama Nis."


"Jadi, apa maksud kalian? Sammy pencet bel daritadi, terus lo nggak bukain pintu karena lo sibuk dandan buat Sammy, gitu? Terus gue yang nyangka kalau tamu yang datang adalah Gema langsung heboh dandan buat bukain pintu."


"Kalian nggak lagi prank gue kan?" Selidik Melodi.


Kedua pasangan itu hanya menggeleng. Nisa tidak ada niat sama sekali untuk mengusili Melodi. Lagipula, tadi saat bel berdenting posisi Nisa sedang memoles wajahnya. Ia tidak sempat membuka pintu.


Dan Sammy. Dia juga tidak salah sama sekali. Sammy memang sudah membuat rencana di hari ini. Sammy juga tidak tahu kalau Gema akan datang ke sini. Jadi, siapa yang salah?


"Kita nggak tahu apa-apa ya." Nisa berkata pelan.


"Lagian, emangnya kenapa sih kalau misalkan yang datang tadi itu Gema?" Protes Sammy.


"Ya gue kan belum mandi, gue belum dandan, gue belum siap ketemu dia.." Keluh Melodi. Bagaimana bisa ia tertipu seperti ini? Bodoh sekali memang.


"Oh jadi karena itu, ya udah mendingan sekarang lo mandi deh. Soalnya tadi gue dapat chat dari Gema kalau dia lima menit lagi bakal sampai."


"Hah? Serius? Kenapa lo nggak bilang dari tadi? Aduh, gawat! Gue tinggal ya." Melodi bergegas menuju kamarnya kembali.


Nisa menoleh ke arah Sammy, mendapati raut wajah tanpa dosa cowok itu. "Lo bohong kan sama Melodi?" Nisa memicingkan mata.


"Kok lo tahu?" Sammy setengah tertawa.


"Ya tahu lah. Sejak kapan lo punya nomor ponsel Gema emangnya?"

__ADS_1


Sammy langsung terbahak, tidak mampu menahan perutnya yang tergelitik.


insyaallah aku bakal update tiap hari kalo engga ada kendala. so, ikutin terus yaa cerita ini sampe beres. love you my readersđź’•


__ADS_2