
Ujian akhir semester tinggal satu minggu lagi. Melodi mulai mempersiapkan segalanya dari sekarang.
"Eh, UAS sebentar lagi ya." Celetuk Gema kepada teman-temannya.
"Tumben lo ingat UAS, gue kira lo bakal ngelupain gitu aja." Ledek Melodi.
"Enak aja, biar begini gue masih ingat jadwal UAS kapan. Yang gue nggak ingat, materi pelajarannya." Jawab Gema sambil mengunyah permen karet yang sedang dimakannya. "Tapi tenang aja, kalau Melodi pasti gue ingat terus. Lo kan gampang diingat dan sulit dilupakan."
Pipi Melodi bersemu merah, sementara Rendi memasang tatapan tak suka kepada Gema.
"Ah, manusia kayak lo emang udah kelihatan. Tampang-tampang pemalas." Sahut Rendi, yang kini sedang mendribble basket.
Mereka sedang ada di lapangan basket indoor sekolah. Ini jam istirahat, sehingga lapangan begitu sepi. Tiba-tiba, dua sejoli yang Melodi tidak tahu mulai dekat sejak kapan datang menghampiri, dengan membawa lima cup es jeruk.
"Hei Nis. Lo sama Gara?" Pertanyaan bodoh yang memang sudah jelas jawabannya.
"Ya iyalah, masa sama Gema." Canda Gara pada Melodi.
"Oh ya, nih. Kita bawain es jeruk buat kalian." Nisa membagikan es jeruk kepada ketiga temannya.
__ADS_1
"Wuih, pas banget. Gue lagi haus-hausnya." Rendi berhenti bermain basket dan ikut bergabung dengan teman-temannya yang tengah duduk di tribun penonton.
"Woy! Bentar lagi UAS kan ya." Sambar Gema.
"Kan udah dibilang daritadi." Sahut Melodi dan Rendi bersamaan. Keduanya jengkel karena Gema mengulang pertanyaan yang sudah dijawab tadi.
"Bukan, maksud gue gini. Rendi bilang gue kan tipe pemalas, apalagi dalam hal pelajaran. Gimana kalau misalkan kita bikin kelompok belajar? Buat satu minggu ini aja." Gema memberikan usul.
"Tumben otak lo encer." Cibir Rendi.
"Gini-gini juga gue pernah juara lomba nyanyi antar SMP." Gema membanggakan diri.
"Apa hubungannya?" Nisa menautkan alis.
"Gue juga setuju. Berarti, di rumah lo ya?" Gara mengedipkan mata.
"Oke, tenang aja." Gema mengiyakan perkataan Gara.
"Nasib gue gimana? Kalian kan anak IPA, sementara gue anak IPS. Pelajaran kita beda kali." Ucap Rendi. Perkataannya benar juga. Rendi perlu teman yang satu jurusan dengannya.
__ADS_1
"Oh, gini aja. Gimana kalau lo ajak Bianca? Ya, walaupun gue emang nggak akur sama dia, tapi nggak ada salahnya kita ajak dia. Toh ini buat kebaikan dia juga." Terang Melodi pada Rendi. Rendi tampak berpikir. Sedetik kemudian, dia menganggukkan kepalanya.
***
Di kelas, Melodi mulai membuat beberapa coretan di kertas. Entah sejak kapan ia memiliki hobi menggambar. Mungkin ketika ia masih berumur enam tahun. Kala itu, Melodi sedang menggambar di sebuah taman bermain. Kemudian, datang seorang anak lelaki duduk di hadapannya. Anak lelaki itu memuji karya Melodi. Katanya, gambar buatan Melodi sangat bagus.
"Wah, bagus banget." Kata anak lelaki itu sambil melihat gambar milik Melodi.
"Makasih." Ucap Melodi pada anak lelaki itu.
"Kamu mau nggak, kalau udah besar nanti gambar wajah aku. Aku janji deh bakal tumbuh jadi cowok yang tampan." Kata anak lelaki itu sambil mengacungkan jari kelingking.
"Mau kok." Melodi meraih jari kelingking itu, melakukan janji kelingking.
"Oh ya, ini buat kamu." Anak lelaki itu memberikan sebuah gelang rotan dengan inisial G di liontinnya. "Kamu harus pakai terus gelang ini, biar aku gampang temuin kamu kalau udah besar."
"Kalau gitu, ini buat kamu." Melodi melepas ikatan rambut hello kitty, kemudian memberikannya kepada anak lelaki itu.
"Aku pasti simpan ini. Sampai jumpa." Anak lelaki itu melambaikan tangan pada Melodi.
__ADS_1
"Eh tunggu, nama kamu siapa?" Kata Melodi.
"Gema Angkasa." Anak lelaki itu setengah berteriak, namun Melodi tidak mendengar apa yang dikatakannya karena dia sudah terlanjur pergi menjauh.