
Pulang sekolah kali ini, Melodi kembali diganggu oleh Gema. Bagaimana tidak? Gema membuntuti Melodi sedari tadi. Persis seperti anak kucing yang mengikuti ibunya.
"Lo mau kemana? Buru-buru amat." Celoteh Gema karena melihat Melodi berjalan begitu tergesa.
"Gue mau belajar, besok kan ada ulangan harian." Jawab Melodi santai sambil terus berjalan tanpa memperhatikan lawan bicaranya.
Sejurus kemudian, Gema sudah ada di depan Melodi dan menghalangi langkahnya.
"Ulangan? Ulangan apa?" Tanya Gema, wajahnya terlihat begitu tegang.
"Kimia."
"Kok lo nggak bilang sih?" Ujar Gema menyeimbangi langkah Melodi.
Melodi memutar bola mata, jengah. "Lo tuh di sekolah ngapain aja sih, belajar apaan, hah?"
"Belajar mencintai kamu.." Katanya sambil cengengesan.
"Ish.. udah ah. Gue mau balik. Gue mau belajar soalnya gue nggak mau dapet nilai jelek." Melodi pergi meninggalkan Gema, namun Gema kembali menghentikan langkahnya.
"Apa lagi?" Tanya Melodi kesal.
Gema menggenggam tangan Melodi, "Ajarin gue ya." Ia memasang senyum memelas.
Melodi buru-buru melepas genggaman tangannya. "Nggak! Gue nggak mau Rendi marah lagi ke gue kalau lihat pacarnya deket sama cowok lain." Bantah Melodi.
Gema mencibir, "Rendi lagi, Rendi lagi. Lo segitu takutnya sama dia? Lo tuh kayak hidup di zaman yang cuma ada satu cowok, yaitu Rendi." Gema memalingkan wajah Melodi agar menghadap ke arahnya. "Jadi selama ini lo anggap gue cewek?"
"Nggak usah lebay!!" Sinis Melodi. Namun, Gema malah semakin menjadi. Ia terus menerus memohon, meminta agar Melodi mengajarkannya.
"Ayolah, lo kan terkenal murid paling pintar di kelas setelah Tio." Puji Gema. "Masalah Rendi biar gue yang atur. Kalau bisa, gue kerangkeng deh dia biar nggak pergi kemana-mana."
"Terserah lo. Tapi gue tetep sama pendirian gue." Melodi bersikeras. Jujur saja, semenjak perjanjian yang dibuat oleh mereka, Melodi lebih hati-hati berinteraksi dengan lawan jenis. Ia tak mau kalau Rendi sampai memergoki dirinya dekat dengan cowok lain selain Rendi. Entahlah, apa roh yang sudah merasuki jiwa Melodi. Hingga ia tak bisa melepaskan Rendi, padahal jelas-jelas Rendi sudah sering menyakitinya.
Melodi memilih untuk memasang earphone, agar suara Gema tidak terdengar olehnya. Tapi sekeras apapun volume yang ia pasang, suara Gema tetap melebihi volume keras tersebut.
"Dasar Melodi. Murid pintar yang pelit. Lo tahu kan kalau orang pelit kuburannya sempit?" Ejek Gema.
"Terserah lo Gema." Melodi mengabaikannya.
"Huh, Mel pelit... Mel pelit..." Gema mengejek Melodi kembali, tapi kali ini dia buat seperti nyanyian.
Lama kelamaan, telinga Melodi panas mendengar ocehan Gema. Dengan sangat terpaksa, Melodi mengiyakan permintaan Gema.
"Nah begitu dong.." Gema tersenyum bangga karena berhasil meruntuhkan pertahanan Melodi.
"Tapi, ada syaratnya. Kita belajar di taman kota." Menurut Melodi, itu tempat yang cocok untuk kali ini karena letaknya sangat jauh dari villa Rendi.
"Hm, baiklah." Ucap Gema seraya pergi meninggalkan Melodi.
__ADS_1
Melodi hanya menggerutu kesal, menghentak-hentakkan kaki ke lantai.
Hari yang menyebalkan sekaligus melelahkan. Melodi menghempaskan tubuhnya ke atas kasur. Tidak peduli dengan seragam yang masih ia kenakan. Melodi mencoba memejamkan mata, namun gagal karena suara ketukan pintu.
"Masuk." Katanya dengan malas.
Rupanya, itu Nisa. Melodi sudah bisa menebak jika Nisa tiba-tiba datang ke kamarnya. Kalau bukan soal pelajaran, tentu saja soal cowok.
"Kenapa, kenapa?" Melodi memulai pembicaraan.
"Gue jadian sama Coki. Aaaah..." Nisa memeluk Melodi saking senangnya. Membuat cewek itu kesulitan bernapas.
"Waaah.. congratulation Nis. Bener kan kata gue? Coki pasti juga suka sama lo. Cowok mana sih yang nggak terpukau sama kecantikan seorang Nisa Permata?" Canda Melodi pada Nisa, membuat pipinya menjadi merah merona.
"Ah Mel, lo bisa aja." Nisa tersipu malu.
"Terus terus, gimana si Coki nyatain perasaannya ke lo?"
Obrolan mereka terus berlanjut. Tidak jarang gelakan tawa mengisi perbincangan mereka. Waktu terus berjalan. Menunjukkan pukul empat sore. Nisa sudah kembali ke kamarnya, lima belas menit sebelumnya. Melodi mengirimkan pesan pada Gema sebelum menuju ke lokasi.
Ini gue, Melodi. Kita ketemu langsung di taman kota aja ya.
_Melodi
Melodi mulai mencari buku-buku yang akan ia gunakan untuk belajar hari ini. Memasukkannya ke dalam ransel berukuran sedang. Melodi malas berganti baju, akhirnya ia hanya menutupi kemeja putihnya dengan jaket. Tidak lupa, Melodi berpamitan kepada Nilam sebelum dirinya pergi.
"Sendirian aja mbak." Suara yang sangat khas itu spontan menghentikan langkah Melodi.
Cowok itu membuka helmnya, menunjukkan siapa sebenarnya dirinya.
"Gema? Kok lo ada disini? Kan gue udah bilang kalau lo langsung tunggu aja di taman kota." Sambar Melodi tanpa titik koma.
"Oh, hp gue ketinggalan." Ucap Gema, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Hhh." Melodi memutar bola mata jengah.
"Tunggu apa lagi? Ayo naik. Nanti keburu kesorean loh." Gema menepuk-nepuk jok belakangnya, memberi isyarat bahwa Melodi harus naik.
Motor berjalan dengan kecepatan stabil. Melodi merasa lega karena Gema tidak macam-macam kali ini. Sepuluh menit kemudian, mereka telah sampai di taman kota. Setelah memarkir motor, mereka mencari tempat yang tidak terlalu ramai agar konsentrasi mereka tidak buyar.
"Keluarin buku lo." Melodi memasang wajah jutek. Kata orang sih, ia pandai dalam hal itu.
"Gue nggak bawa buku." Gema mengatakannya dengan santai.
"Lo ini niat belajar atau nggak sih?" Kesabaran Melodi mulai menyusut. Benar-benar memang si Gema ini.
"Yaa lo nggak bilang harus bawa buku." Perkataan Gema membuat Melodi ingin menampar wajah tampannya dengan sepatu yang ia kenakan.
"Ya udah, ini." Melodi menyobek beberapa lembar kertas untuk Gema. Gema hanya tersenyum geli melihat tingkah Melodi.
__ADS_1
"Jadi..." Melodi mulai menerangkan materi-materi yang akan menjadi soal ulangan besok. Gema, yang Melodi ajarkan, hanya manggut-manggut saja. Entah dia mengerti atau tidak.
Melodi terlalu fokus dengan dunianya saat ini. Melodi tidak menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengintainya. Bukan teroris. Bukan haters. Tapi, dia adalah Rendi, pacarnya. Ketika sedang asyik belajar, ponsel Melodi berdering. Tertera nama Rendi di layar ponsel. Melodi menghirup napas, kemudian mengeluarkannya. Mencoba untuk tetap tenang agar Rendi tidak curiga.
"Iya Ren, ada apa?"
"Lo dimana sekarang?"
"Lo ini aneh-aneh aja. Gue di panti lah. Gue lagi belajar. Udah ah. Nanti gue telepon lagi ya."
Melodi menutup telepon, melanjutkan pembelajaran kembali. Namun tiba-tiba, sebuah tangan menariknya dengan kasar. Melodi menoleh ke pemilik tangan tersebut.
"Rendi?" Melodi menutup mulut, tidak mampu mengucapkan sepatah kata pun.
"Oh.. jadi ini yang dinamakan belajar di panti?" Sorot mata Rendi menyala. Jelas sekali terlihat kemarahannya.
"Ren, gue bisa jelasin, Ren. Ini nggak seperti yang lo lihat." Melodi mencoba memberikan penjelasan pada Rendi.
"Nggak usah ada penjelasan. Semua yang gue lihat udah jelas. Mel, Mel. Udah gue bilang berkali-kali. Gue nggak suka lihat lo berduaan sama cowok sialan ini!" Telunjuk Rendi menunjuk-nunjuk wajah Gema. Emosinya kian memuncak.
"Hei, lo!" Rendi melemparkan satu pukulan tepat di pipi Gema. Membuat sudut bibir Gema berdarah.
"Rendi, cukup Ren." Melodi merelai mereka berdua, mencoba menengahi agar tidak terjadi perkelahian yang lebih hebat.
"Pukul aja, pukul! Gue yang salah! Melodi nggak salah sama sekali. Gue yang minta dia buat ngajarin gue. Pukul sepuas lo Rendi!" Gema membela Melodi, merelakan dirinya menjadi bahan pukulan Rendi.
Rendi mendorong Melodi hingga Melodi tersungkur ke bawah. Kesabaran Rendi sudah habis. Gawat! Gema bisa terluka kalau terus seperti ini.
Bugh! Rendi melemparkan pukulan kembali. Kali ini sasarannya perut Gema. Gema tidak sanggup lagi untuk berdiri, dia kehilangan keseimbangan dan terjatuh. Melodi bangkit, dengan susah payah ia berlari menuju ke arah Gema.
"Stop Rendi, stop..!! Hentikan semuanya! Hentikan..!!" Suara Melodi terdengar parau.
"Jadi, lo lebih milih cowok ini daripada gue? Jawab Mel!" Rendi membentak Melodi.
"Bukan begitu, gue cuma.." Melodi kehabisan kata-kata. Bingung harus menjawab apa.
"Sekarang cepat pilih. Gue, atau cowok brengsek ini!!!" Rendi memberi Melodi pilihan. Melodi tidak bisa berpikir panjang.
"Udah Mel, lo pergi aja sama Rendi. Gue baik-baik aja." Gema angkat suara. Matanya begitu tulus saat mengatakannya. Senyumannya terukir walaupun Melodi tahu Gema pasti sedang merasa kesakitan.
Pelan-pelan Melodi bangkit kembali. Berjalan ke arah Rendi. Meninggalkan Gema sendirian.
Brak!!! Pintu mobil dibanting begitu saja. Jika Melodi memiliki riwayat penyakit jantung, mungkin saja ia sudah mati di tempat. Melodi sesekali melirik Rendi dengan takut. Rendi belum pernah semarah ini. Melodi ingin memulai pembicaraan sebenarnya, namun ia tidak kuasa.
"Gue minta maaf," Setelah sekian lama diam, akhirnya Melodi bersuara. "Tapi harusnya lo ngerti, gue cuma bantu Gema. Itu aja nggak lebih.." Nada bicara Melodi naik satu oktaf.
"Lo lupa sama perjanjian kita? Gema masih beruntung tadi, nggak gue patahin tangannya." Ketus Rendi. "Pokoknya, gue peringatin sekali lagi ke lo. Kalau lo tetap berhubungan sama cowok brengsek itu, gue nggak akan tinggal diam!"
Sepersekian detik, bibir Melodi terkatup kembali. Melodi memilih untuk diam. Karena semua masalah tidak akan selesai jika keduanya saling emosi. Perlahan, Rendi mulai melajukan mobilnya. Meninggalkan taman kota yang telah menjadi saksi sejarah perkelahian antara Rendi dan Gema.
__ADS_1