A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 9


__ADS_3

Melodi duduk di meja belajar. Mengambil buku paket kimia beserta catatan. Mencoba untuk berpikiran jernih. Membuang hal buruk yang tengah menari-nari dalam pikiran.


"Nggak, gue nggak boleh kalah sama mereka. Gue harus bisa lawan. Nilai kimia gue harus bagus dari ulangan yang kemarin." Ucap Melodi pada dirinya sendiri.


Satu jam kemudian, pengorbanannya berhasil. Melodi memijit-mijit pelipisnya. Pusing yang bersarang di kepala begitu terasa. Bagaikan ditusuk-tusuk oleh jarum suntik. Berdenyut tidak konstan.


Maafin Rendi soal kejadian tadi sore ya.


_Mel


Iya Mel nggak apa-apa, harusnya bukan lo yang minta maaf.


_Gema


Oh ya, luka lo jangan lupa dikompres pakai air hangat.


_Mel


Ih, perhatian banget sih❤️


_Gema


Melodi memilih untuk tidak membalas kembali pesan dari Gema.


***


Sore tadi, Gema hanya bisa melihat punggung Melodi yang membelakanginya. Berjalan kian menjauh meninggalkannya. Entah kenapa, dia merasa separuh hatinya patah. Melihat Melodi yang pergi dengan Rendi. Perasaan apa ini?


Dia berjalan dengan lunglai memasuki rumah besarnya. Lebih tepatnya istana tempat tinggalnya. Disanalah kenyamanan selalu dia dapatkan. Keluarga yang lengkap dan sangat menyayanginya.


"Kamu baru pulang Gema?" Tanya Gina, mamanya.


"Iya ma." Gema langsung terduduk di sofa ruang TV.

__ADS_1


"Kamu udah makan?" Gina memberikan segelas air putih padanya.


"Udah ma." Gema tersenyum, berharap tidak menimbulkan kecemasan Gina.


"Bibir kamu kok luka? Kamu berkelahi lagi ya?" Gina menyentuh bibirnya. Gema meringis kesakitan.


"Ah ini. Aku tadi jatuh dari motor terus bibir aku nyium aspal," Kilah Gema dilanjut dengan seringaian. "Lagian aku kan udah janji nggak bakal berkelahi lagi." Ucapnya seraya mengusap lengan Gina.


"Kamu ini, hati-hati makanya. Pokoknya mama nggak mau kalau kamu ikut geng menyeramkan itu lagi." Manik mata Gina terlihat begitu cemas, mengingat Gema adalah anak semata wayangnya.


Kekhawatiran yang selama ini Gina sudah coba singkirkan ternyata masih bersemayam dalam dirinya. Pasalnya, Gema pernah koma selama satu minggu karena geng zombie yang dia ikuti. Geng zombie merupakan suatu geng yang di dalamnya terdiri dari sepuluh orang cowok. Keseharian mereka adalah balapan motor liar di jalanan sepi. Teknisnya, geng itu dibagi menjadi dua kelompok. Masing-masing kelompok harus menentukan ketua yang akan menjadi taruhan untuk balapan. Setiap kelompok yang kalah, harus memberikan uang senilai satu juta rupiah kepada pihak pemenang. Dan ketua kelompok harus rela dikorbankan, dengan jalan dipukuli oleh ketua kelompok yang menang.


Awalnya, Gema tidak pernah menceritakan perihal dirinya yang bergabung dengan geng zombie. Namun, Om Zainal tidak sengaja melihat ketika dia dan geng zombie sedang beraksi. Dari sanalah Gina mulai memintanya untuk keluar dari geng zombie.


Sekitar tiga bulan setelah Gema keluar dari geng tersebut, ketua geng zombie, Gara ditangkap. Dia ketahuan polisi sedang melakukan balapan liar dan menabrak seorang wanita sampai kehilangan nyawanya. Gara dijatuhkan dua tahun penjara.


Jika mengingat kembali hal itu, Gema juga sedikit merinding. Kalau saja tidak ada yang menemukannya saat itu, mungkin dia sudah mati. Dan sekarang tidak akan bertemu dengan Melodi. Untung saja, Tuhan masih berbaik hati padanya. Dia sembuh kembali seperti sedia kala.


***


Tuk. Tuk. Tuk. Gema mengetuk-ngetukkan pensilnya ke meja. Membuat Melodi sedikit kehilangan konsentrasi.


"Berisik banget sih dia. Nggak tahu apa gue lagi mikir?" Batin Melodi.


"Mel.. Mel.." Gema memanggil nama cewek itu, setengah berbisik.


Melodi menghiraukan panggilan Gema. Konsentrasinya tidak boleh teralihkan. Melodi tetap melanjutkan menjawab soal.


"Mel... Mel..." Gema tidak putus asa, dia menyebut nama Melodi kembali. Kali ini intonasinya sedikit tinggi.


Melodi masih membiarkan Gema, sibuk dengan pekerjaannya. Biar saja Melodi disebut tuli atau dungu oleh Gema. Memangnya siapa yang peduli?


"Melodi Senja!!!" Gema spontan berdiri, menggebrak mejanya sendiri.

__ADS_1


Suara gebrakan yang Gema timbulkan membuat seisi kelas menoleh padanya. Pak Darma menghampiri Gema, dan meminta Gema untuk bertukar tempat duduk dengan Tio. Huft. Syukurlah. Si pembuat keributan dan pengganggu konsentrasi tidak di sampingnya lagi untuk saat ini.


Tak butuh waktu lama, Melodi sudah sampai di soal terakhir. Sebelum dikumpulkan, ia memeriksa kembali jawabannya. Setelah dirasa sudah benar, Melodi bangkit dari kursi menuju meja guru. Kemudian kembali lagi ke meja, melewati Gema yang memasang tatapan mengerikan. Melodi hanya membalas dengan senyuman sinis.


***


Angin sepoi-sepoi membuat rambut yang  Melodi urai berkibar. Mengalahkan kibaran bendera di tiang. Sejuknya menelusup masuk ke dalam tubuhnya. Sensasinya begitu menyegarkan. Melodi merentangkan kedua tangan, merasakan setiap kesejukannya. Namun, hal itu tidak berlangsung lama. Tiba-tiba saja udara sekitar menjadi panas sejak kedatangan sosok Gema.


"Mel, lo jahat banget sih sama gue..." Gema berlutut di depan Melodi dengan tampang memelas.


"Lo ngapain lagi disini? Kalau Rendi lihat bisa mati gue.." Melodi menarik Gema untuk menjauhi lapangan yang begitu ramai pada saat jam istirahat. Ia mencari tempat yang sekiranya tidak akan dijangkau oleh Rendi.


"Lo ngomong apa sih tadi?"


Gema kembali berlutut di depan Melodi,


"Ih, kenapa tuh orang." Celetuk salah satu cewek.


"Kayaknya dia habis dicampakkin sama cewek itu deh, kasihan banget ya. Ganteng kayak gitu dibuang. Kasih gue aja deh kalau nggak mau." Sahut temannya.


Melodi yang mendengar perbincangan mereka sontak berkata, "Ngomong apa kalian?" Melodi memasang tampang mengerikan, membuat murid kelas X yang tadi membicarakannya langsung berjalan pergi, takut disantap oleh Melodi detik itu juga.


"Melodi jahaaaat.." Gema berteriak kencang, dan pura-pura menangis di depan Melodi.


Orang-orang yang lewat koridor kelas X memberikan tatapan tajam dan mulai menusuk mata Melodi satu persatu. Melodi yakin, ini taktik Gema untuk mempermalukannya karena perbuatan Melodi pada Gema tadi.


"Gue nggak boleh diam aja. Gue harus bertindak. Ayooo.. otak berpikirlah."


"Huhuhu..." Melodi menangis tersedu-sedu. "Gue turut berduka cita ya Gema atas meninggalnya bokap lo. Jangan sedih Gema, gue kan jadi pengen nangis. Huhuhu..." Melodi menepuk-nepuk punggung Gema dengan keras.


"Lo pikir gue nggak bisa baca situasi?" Senyuman licik tersungging begitu saja di bibir Melodi.


Gema tak mengerti dengan perubahan sikap Melodi. Maklum saja, IQ-nya di bawah rata-rata. Dia malah kebingungan melihat Melodi. Hah, dasar Gema.

__ADS_1


__ADS_2