A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 39


__ADS_3

Seminggu sudah fakta terungkap bahwa Melodi adalah anak dari Riri Marissa, wanita yang kerap disebut bunda olehnya. Banyak yang terkejut mendengar fakta itu, terlebih Nilam. Kini, dia harus kehilangan putrinya kembali. Setelah melepas Nisa yang diadopsi oleh Riri, sekarang Nilam juga harus melepas Melodi yang berstatus putri kandung Riri.


Selepas pulang dari galeri, keduanya datang ke panti, menemui Nilam. Riri menjelaskan cerita yang selama ini dia kubur sendirian. Cerita mengenai suaminya yang tega membawa kabur putrinya saat masih bayi. Bahkan dia tidak sempat memberi ASI sedikitpun pada putrinya. Yang masih teringat dalam benaknya, ketika dia menggendong putrinya itu, dia melihat tanda lahir yang terletak di belakang telinga kanannya. Itulah terakhir kali dia melihat putrinya, sebelum suaminya pergi meninggalkannya bersama dengan putrinya.


Mendengar cerita pahit yang terlontar dari mulut Riri, Nilam turut prihatin. Dia juga tidak mau egois, menahan Melodi dalam genggamannya. Akhirnya, dengan ketulusan hati Nilam mengizinkan Melodi pergi bersama orangtua kandungnya.


Sebenarnya, bukan hanya Nilam yang berat untuk melepas. Tapi Melodi juga sama, berat sekali meninggalkannya. Terbayang dalam benak, sosoknya yang sejak kecil sudah rela merawatnya. Padahal dia tidak pernah tahu Melodi ini berasal dari mana.


Ucapan terima kasih dan maaf Melodi lontarkan padanya, dipeluknya Nilam dengan sangat erat, agar dia bisa tenang setelah Melodi pergi. Melodi pun berjanji padanya, bahwa ia akan selalu bermain ke panti, menjenguknya.


***


Pagi cerah sebanding dengan wajah Melodi. Hari ini ia sengaja bangun lebih awal karena ia ingin jogging bersama Nisa. Jarak tempuh jogging mereka tidak jauh, hanya sampai taman kota. Biasanya, orang-orang juga ramai berkunjung di pagi hari, mengingat udara segar yang bisa dihirup disana.


Mereka berlari-lari kecil, menyusuri jalanan lengang kompleks. Huft, rasanya, suasana ini sangat berbeda. Bahkan, Melodi masih tidak percaya bahwa ia tinggal di tempat ini sekarang.


Tak lama kemudian, mereka sampai di taman kota. Benar perkataannya tadi, di sini banyak orang berdatangan. Entah mereka hanya sekedar jogging atau menikmati suasananya. Tapi yang jelas, belum pernah ia merasa situasi seperti ini. Bisa dibilang, ini kali pertamanya dengan Nisa melakukan aktivitas ini.


"Mel, duduk dulu yuk, capek." Ucap Nisa yang tengah membungkuk memegangi lututnya. Dia kelelahan sepertinya.


"Ah, lo Nis. Masa baru segitu aja udah nyerah. Ayo lanjut lagi." Melodi berlari meninggalkannya. Terdengar, Nisa berteriak memanggilnya untuk berhenti. Namun, Melodi tidak menghiraukannya.


Dengan sisa tenaga yang masih dimilikinya, Nisa mengejar cewek itu yang kini sudah duduk santai di bawah pohon. Wajahnya terlihat kesal pasca dia sampai di tempat.

__ADS_1


"Ah, Mel. Lo nyebalin banget sih! Lo kan tahu sendiri, fisik gue ini lemah, nggak bisa lari sejauh ini." Keluh Nisa. Memang benar sih, sejak dulu, Nisa sudah memiliki riwayat lemah fisik. Makanya, dia sering sakit-sakitan.


"Hehe, maaf deh. Ya udah sini duduk." Melodi menepuk kursi sampingnya, menyuruhnya untuk duduk melepas lelahnya.


Nisa langsung menuruti perintahnya, dia duduk di sampingnya, lalu mengusap peluhnya yang bercucuran dengan handuk kecilnya.


"Lo haus nggak?" Tanya Melodi pada Nisa, karena mereka lupa membawa minum saat pergi tadi.


Nisa hanya menganggukkan kepala, memberi isyarat bahwa dia memang haus. Melihat itu, segera Melodi bangkit dari kursi, mencari penjual minuman.


Sejauh Melodi berjalan, ia belum menemukan penjual minuman sama sekali. Akhirnya, ia keluar dari taman kota, mencari minimarket yang sudah buka. Dan, matanya langsung berbinar melihat minimarket yang berdiri di seberang jalan.


Ketika Melodi hendak melangkahkan kaki, menyeberangi jalan, tiba-tiba saja seseorang mendekap mulutnya. Melodi meronta-ronta karenanya. Namun sesaat kemudian, matanya terpejam akibat bius yang diberikannya.


***


Nisa menyimpan ponsel di telinganya, menunggu orang di seberang sana menjawabnya. Tetapi, yang ada hanyalah sahutan operator. Nisa kembali menghubungi Melodi, berharap Melodi menjawabnya, akan tetapi sahutan operator kembali terdengar, hanya saja sekarang berbeda daripada tadi. Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif.


"Aduuh, Mel kemana sih. Jangan bikin gue khawatir dong." Nisa mulai panik, dia mencoba menghubungi lagi dan lagi, tapi tetap tak ada jawaban.


Dalam kebingungan yang melanda, dia terus berpikir. Mencari orang yang bisa membantunya. Akhirnya, dia menelepon Gema.


"Halo Nis, kenapa?"

__ADS_1


"Gema, tolong gue Gema."


"Kenapa Nis? Coba tenang dulu, tenang."


"Gimana gue bisa tenang Gema, Mel hilang. Gue nggak tahu dia dimana sekarang."


"Hah? Mel hilang? Posisi lo dimana? Gue segera kesana."


Bip. Telepon mati begitu saja. Nisa masih duduk di sana, dengan wajah khawatir, menanti kedatangan Gema. Tak lama kemudian, Gema datang menghampirinya. Nisa menceritakan kejadian sebelum Melodi hilang pada Gema.


"Kita harus gimana Gema.." Nisa mulai menitikkan air mata. Dia tak sanggup jika harus kehilangan Melodi.


"Gue udah minta tolong sama Bang Rendi untuk melacak keberadaan Mel. Sebentar lagi dia pasti ngasih tahu dimana lokasi Mel sekarang." Ucap Gema menenangkan Nisa. "Oh ya Nis, jangan kasih tahu bunda dulu, gue takut dia khawatir nanti." Lanjutnya.


Nisa hanya mengganggukkan kepalanya, dia tidak mampu berkata-kata lagi. Mulutnya seakan terkunci oleh tangisan yang keluar dari air matanya. Mel, lo dimana?


Beberapa saat kemudian, notifikasi ponsel Gema berbunyi. Ada satu pesan masuk dari Rendi.


Lokasinya di gedung kosong Jalan Cempaka nomor 8.


_Rendi


Setelah membaca pesan itu, mata Gema langsung membelalak. Dia kaget dengan isinya.

__ADS_1


"Bukannya, itu markas geng zombie?"


__ADS_2