A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 6


__ADS_3

Melodi yakin jantungnya tengah bermasalah sekarang. Jika tidak, bagaimana bisa detakannya melampaui biasanya? Dan situasinya bertepatan ketika ia berhadapan dengan Gema. Merasa semakin canggung, Melodi melepas pelukannya dari Gema.


"Gu.. gue.. minta maaf." Melodi gelagapan. "Lagian salah lo juga turun dari situ nggak hati-hati."


Gema mengernyit, "Kok lo jadi nyalahin gue? Jelas jelas lo sendiri yang bikin lantainya licin. Lo yang ngepelnya nggak benar."


"Kok lo nyolot sih?"


"Siapa yang nyolot? Udah ah, gue mau lanjut bersihin toiletnya. Nanti kalau udah, jangan lupa.."


Melodi bersedekap, "Jangan lupa apa?"


Sambil terus mengepel lantai, Gema menoleh seraya mengedipkan mata, "RAHASIA." Kemudian ia menyeringai lebar, membuat Melodi semakin kesal dengan tingkah Gema.


Sepuluh menit kemudian, keduanya sudah duduk di kursi panjang depan perpustakaan. Melodi meregangkan tubuhnya yang sedikit pegal karena tugas negara yang diberikan oleh Bu Loli. Selama Melodi bersekolah disini, baru kali ini ia terlambat dan mendapat hukuman dari guru. Jenius juga terkadang boleh nakal kan? Tak perlu serius lah dalam menjalani hidup. Melodi memijat tangannya, lalu turun ke bagian kaki. Ia merasa, tulang-tulang di dalamnya remuk saat ini.


"Oh iya gue lupa!" Gema menepuk dahinya, membuat Melodi menghentikan aktivitasnya sejenak. Ia menoleh pada si pembuat kekacauan sekaligus pembuat kekesalan hari ini.


"Kenapa?" Ucap Melodi datar. Sebenarnya ia ingin sekali memaki cowok di hadapannya sekarang, tapi mulutnya tak bisa diajak kompromi sama sekali.


"Ayo ikut gue." Gema menarik tangan Melodi dengan lembut.


Melodi tak percaya ternyata Gema mengajaknya ke kantin. Tempat yang jarang sekali ia kunjungi. Bisa dikatakan, Melodi adalah murid yang anti dengan kantin. Gema memilih tempat duduk di tengah kantin, posisi yang sangat cocok untuk menikmati suasana ramai di kantin saat jam istirahat. Tapi sayangnya, ini bukan jam istirahat. Jadi Melodi tak bisa merasakan suasana itu.


Bukan berarti karena jam pelajaran kantin sepi. Ada saja murid yang berkunjung ke kantin. Seperti para cewek yang duduk di meja depan, dekat dengan penjual siomay. Mereka adalah trio beauty, terdiri dari Bianca--mantan Rendi, Bela, dan Basma. Mereka merupakan pialanya ekstrakurikuler modelling, maka tak heran jika mereka disanjung di kalangan murid cowok. Alasan mereka bolos kelas tidak lain adalah mengikuti event atau semacamnya.


Jika trio beauty dikenal dengan kecantikannya, berbeda dengan para cowok yang duduk di meja yang terletak di sudut. Mereka adalah Rio, Rayn, dan Roy. Teman-teman menamai mereka dengan sebutan crazy boy karena kenakalan dan kegilaannya. Selain itu, mereka juga selalu menyulut rokok di tempat persembunyian.


"Ngapain lo ajak gue kesini?" Tanya Melodi bingung. Pasalnya, perutnya tidak meminta diisi makanan sama sekali.


"Traktir gue dong." Pinta Gema.


"Hah?" Melodi setengah berteriak. "Dalam rangka apa gue traktir lo."


Gema melipat kedua tangan dan menyimpannya di atas meja. Kepalanya dicondongkan ke depan, menyisakan jarak beberapa senti di antara mereka. "Dalam rangka memperingati hari jadi kita."

__ADS_1


Melodi membelalakkan mata, "Wah, otak lo konslet ya gara-gara bersihin toilet. Atau jangan-jangan.." Melodi mendekap mulutnya sendiri. "Lo kemasukan hantu toilet ya? Jadi omongan lo ngawur gitu."


"Hahaha.." Gema tertawa terbahak-bahak. "Melodi, lo tuh kebanyakan nonton film tahu nggak."


"Ish.." Melodi memutar bola mata, kesal.


"Haha, oke oke. Lupain omongan gue yang tadi. Anggap aja lo traktir gue karena tanda terima kasih lo. Lo pasti ngerti dong.."


"Jadi lo nggak ikhlas nolongin gue?"


Gema menggelengkan kepala, "Ya nggak lah. Lo kira di dunia ini ada yang gratis? Ke toilet aja bayar kali."


"Tahu gitu gue nggak usah terima bantuan lo tadi." Sungut Melodi. Andai saja ia punya alat Doraemon, ia pasti sudah kembali ke waktu sebelumnya dan menolak bantuan dari Gema.


"Kalau lo nggak mau juga nggak apa apa sih.." Ujar Gema yang membuat raut wajah Melodi cerah kembali.


"Yes!!"


"Tapi lo harus jadi pacar gue detik ini juga. Gimana?"Gema menawarkan.


"Ya Tuhan, kenapa engkau hadirkan sosok mengerikan seperti ini padaku?" Melodi mengangkat kedua tangannya seperti sedang memanjatkan doa.


"Gue nggak mengerikan, tapi menggemaskan." Celetuk Gema yang langsung dibalas pukulan keras di tangannya. Tak ingin berbasa basi lagi, Melodi segera menghampiri penjual siomay dan memesan satu porsi untuk cowok yang tengah duduk bersantai disana.


"Pak, pesan satu porsi siomay ya. Pedasnya pakai banget." Melodi menekankan kata pedas agar penjual siomay itu mengerti dengan pesanannya. Sekaligus ia ingin membalas dendam pada Gema yang secara tidak langsung sudah memerasnya hari ini.


"Oke siap neng." Kata Pak Amin, si penjual siomay. Dengan gesit ia membuat pesanan untuk Melodi.


"Eh, ada cewek panti." Celetuk seorang cewek tiba-tiba. Melodi lekas menoleh, dan menemukan Bianca sudah berdiri di hadapannya. "Ngapain lo disini?" Matanya langsung menelusuri dari ujung kepala sampai ujung kaki Melodi.


"Apa lo bilang?" Lawan Melodi.


Bianca mendekat, dan berbicara tepat di telinga Melodi. "Gue bilang, lo cewek panti. Puas? Dan lo harusnya malu pacaran sama Rendi yang notabene orang kaya. Betul nggak guys?"


"Betul banget." Sahut Bela dan Basma berbarengan.

__ADS_1


"Plak!" Tamparan keras melayang tepat di pipi Bianca. Menyebabkan pipinya berubah kemerahan.


Merasa tak terima dengan perbuatan Melodi, Bianca menjambak rambut panjang cewek itu. Selanjutnya, terjadilah perkelahian ringan antar cewek. Gema, yang melihat kejadian itu lekas memisahkan keduanya. Sementara Pak Amin hanya melongo, tak bisa berbuat apa-apa.


"Hentikan!!" Pekik Gema.


Bianca bertepuk-tepuk tangan, seraya berkata, "Waw, pahlawan penyelamat Melodi ya? Kalau Rendi tahu, pasti dia bakal marah besar." Bianca mengambil ponsel di sakunya. Sepertinya ia akan menelepon Rendi. Dengan sigap, Gema merebut ponsel Bianca.


"Balikin hp gue!" Jerit Bianca.


"Gue bakal balikin hp lo, asalkan lo minta maaf ke Melodi dan lo tutup mulut ke Rendi." Titah Gema.


"Nggak mau!" Tolak Bianca mentah-mentah.


"Ya terserah. Berarti lo rela hp lo nggak gue balikin." Gema dan Melodi pergi meninggalkan mereka.


Bianca sebenarnya bisa saja mengikhlaskan ponselnya jika saat ini kartu atm-nya tidak diblokir karena pemborosan anggaran. Bianca berpikir kembali, dan memutuskan untuk mengambil ponsel itu.


"Melodi, gue minta maaf!" Bianca mengejar Melodi dan Gema yang sudah pergi menjauh. Keduanya spontan berhenti mendengar suara cewek itu.


"Nah gitu dong, lo harus janji kalau lo.." Gema menggantungkan ucapannya. Dengan secepat kilat ia menarik tangan Melodi, bersembunyi di belakang kantin. Melodi sempat merasa kebingungan dengan sikap Gema.


"Ada apa sih?"


Gema menutup mulut Melodi rapat, agar cewek itu tidak menimbulkan suara sedikitpun. Jari telunjuknya disimpan tepat di bibirnya. "Suuut. Jangan berisik. Ada Rendi." Katanya setengah berbisik.


Melodi terkejut, dengan hati-hati ia mengintip dari celah-celah dinding. Disana, terlihat Rendi dan Bianca tengah berbincang.


"Cepatan balik ke kelas. Lo dicariin sama guru BP tuh." Ucap Rendi. Asal kalian tahu, Rendi menjabat sebagai ketua kelas di XI IPS 2, dan jabatannya itu membuat dirinya menjadi bahan pertanyaan guru. Setiap ada yang bolos kelas, ia harus tahu alasan dan dimana keberadaan mereka. Seperti sekarang ini.


"Eh Rendi." Bianca bergelayut manja di lengan Rendi, membuat Melodi yang melihatnya ingin mematahkan tangan Bianca.


Rendi melepas paksa tangan Melodi. "Cepatan! Lo tuh senang banget sih bikin gue kerepotan." Rendi mendengus. "Kalian juga, cepatan balik ke kelas." Tunjuk Rendi pada crazy boy yang tengah asyik bermain game di ponsel masing-masing.


"Iiih.. kasar banget sih.." Bianca berbicara dengan lembut. Tanpa sadar, Melodi memukul keras dinding kantin, menyebabkan pantulan suara yang terdengar oleh seisi kantin.

__ADS_1


"Siapa disana?" Tanya Rendi.


__ADS_2