A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 25


__ADS_3

Sehari setelah meninggalnya Beno, Rendi datang kembali ke panti. Perihal kedatangannya sudah jelas. Bahwa dia meminta maaf sebesar-besarnya kepada mereka atas perbuatan yang telah dilakukannya pada Beno. Sebenarnya sebagian dari mereka sudah memaafkannya, namun tidak bagi Nilam. Berkali-kali Rendi memohon, bahkan berlutut di hadapan Nilam, Nilam hanya diam tanpa suara. Melodi mencoba berbicara pada Nilam, agar Nilam mengikhlaskan kepergian Beno dan memaafkan orang yang telah mencelakainya.


Hari-hari terus berlalu. Rendi tidak pernah putus asa. Dia selalu datang ke panti demi sebuah balasan dari kata maaf. Bahkan, dia rela dibawa ke ranah hukum. Lagipula, hidupnya juga sudah tidak ada artinya lagi sekarang. Rendi, yang berjuang sendirian menghadapi kerasnya kehidupan.


Berkat nasihat dari anak-anaknya, perlahan Nilam luluh. Dengan tulus Nilam memaafkan Rendi. Nilam juga berkata, bahwa dia tidak akan melaporkan Rendi ke polisi. Nilam sudah ikhlas dengan kepergian Beno. Karena, selama apapun ia bersedih, Beno tidak akan pernah kembali. Takdir yang sudah digariskan untuk Beno tidak dapat dihindari apalagi ditolak.


Melodi bahagia akhirnya Nilam bisa berlapang dada. Biar bagaimanapun, tidak baik terus menerus larut dalam kesedihan. Sebagai insan yang masih diberi nyawa, patutlah kita menghargainya dengan melakukan hal-hal positif.


***


Ponsel Gema berkedip-kedip. Pertanda ada notifikasi masuk. Dia membuka pesan yang kini tertera dalam layar ponsel.


Ada yang mau gue bicarakan sama lo. Gue tunggu di coffee shop dekat alun-alun.


_Rendi


Gema mengernyitkan dahi. Apa yang mau Rendi bicarakan malam-malam begini?

__ADS_1


Baik, gue segera kesana.


_Gema


Tak butuh waktu lama, Gema sudah sampai di coffee shop. Dia langsung mencari meja nomor 6 tempat Rendi berada. Matanya berkeliling. Malam ini pengunjung cukup sepi. Mungkin karena sore tadi turun hujan. Orang-orang jadi malas bepergian keluar.


"Ada apa Ren?" Tanya Gema tidak sabar.


"Lo mau pesan apa?" Rendi mengalihkan pembicaraan.


"Espresso saja."


"Sebelumnya, gue minta maaf sama lo karena selama ini gue udah kasar banget ke lo." Rendi memulai pembicaraan kembali. "Semalam gue sempat merenung, memikirkan kejadian antara gue dan Mel. Dan ternyata, apa yang Mel katakan emang benar. Kita nggak ditakdirkan buat bersama." Lanjut Rendi.


Gema memilih untuk diam terlebih dahulu, menyimak penjelasan yang Rendi sampaikan.


"Gue udah banyak memberikan kenangan pahit buat Mel. Gue nggak pernah memikirkan kalau apa yang Mel lakukan ke gue cuma membuatnya semakin menderita. Ketika orangtua gue meninggal, Mel rela menghabiskan waktunya buat gue. Padahal, gue selalu mengabaikannya. Bahkan, gue malah terus menyalahkan Mel." Tutur Rendi.

__ADS_1


"Banyak banget hal-hal yang membuat hatinya tergores. Dan gue nggak pernah menyadarinya. Gue malah mementingkan ego gue dibandingkan perasaan Mel. Mungkin, jika diibaratkan. Mel adalah setangkai mawar, dan gue adalah durinya. Keindahan yang dipancarkan oleh mawar terhalang oleh duri di tangkainya. Dan gue, hanyalah sebatas perusak kebahagiaan Mel. Gue..." Rendi hampir kehabisan kata-kata.


"Iya, gue ngerti apa yang udah terjadi di antara lo dan Mel. Tapi gue yakin, Mel tulus melakukan semuanya buat lo. Karena dia paham, gimana kalau dia ada di posisi lo. Mel nggak mau melihat orang di sekitarnya menderita. Dia selalu berkata bahwa, cukup dia saja yang menderita tapi jangan sampai orang-orang yang disayanginya merasakan hal sama. Gue salut banget sama Mel. Dia begitu tabah menghadapi setiap masalah yang menimpa dirinya. Gue tahu, dibalik wajah cerianya tersimpan banyak kerapuhan." Gema berkata panjang lebar.


"Gue bodoh Gema. Gue udah menyia-nyiakan orang sebaik Mel." Sesal Rendi.


"Udah, nggak perlu disesali. Manusia nggak ada yang sempurna kan?" Gema menepuk-nepuk bahu Rendi. Dia berbicara pelan pada Rendi.


"Gema, apa gue boleh minta satu hal sama lo?" Pinta Rendi.


"Apa?"


"Tolong jaga Mel. Gue percaya, cuma lo yang bisa membuat Mel tersenyum. Jangan sampai buat Mel bersedih, cukup gue aja." Rendi memohon pada Gema.


"Tentu. Gue pasti memenuhi permintaan lo." Ucap Gema. "So, kita berteman?" Dia mengepal tangannya, mengajaknya tos.


"Baiklah."

__ADS_1


Suasana kembali santai setelah perbincangan mereka selesai.


__ADS_2