
Kali ini, mereka sedang sibuk mencari kayu bakar. Sengaja mereka pergi dari tenda sekitar pukul tiga sore, agar nanti saat mereka pulang tidak terlalu malam. Ya walaupun, jika diperhatikan, lampu untuk penerangan cukup banyak. Tapi kalau sudah dibekali jiwa penakut dari kecil, sulit. Bagaimanapun suasananya, tetap saja nyali menciut. Untung saja Melodi tidak memiliki indera keenam. Kalau iya, tamat sudah riwayat seorang Melodi Senja.
Melodi, bersama dengan Gema dan Nisa, mencari kayu ke arah selatan dari tenda. Sementara yang lain, ke arah utara. Kayu yang dicari haruslah kayu yang berkualitas bagus. Tapi tidak kayu jati atau mahoni juga. Setidaknya, kayu tersebut benar-benar bisa untuk dibakar dan tahan lama. Artinya, kayu tersebut harus dalam kondisi kering tidak basah. Kenapa Melodi jadi seperti orang sedang presentasi ya?
Di tangannya, sudah terkumpul sekitar 8 kayu. Sedangkan Gema dan Nisa, sudah memegang 14 kayu. Maka, jika dijumlahkan sudah ada 22 kayu. Karena dirasa cukup, mereka kembali ke area tenda. Menunggu Rendi, Gara dan Bianca. Setelah semua datang, barulah para cowok mulai membuat api unggun.
Langit telah berganti warna dari biru menjadi jingga. Sebentar lagi, sore akan tiba. Sunset akan muncul di bagian barat. Kemudian dilanjutkan oleh senja. Tak lama, segalanya terjadi. Malam yang dingin sudah menanti. Ia ingin mereka sambut dengan hangat. Oleh karenanya, mereka menggunakan jaket bahan tebal dan sarung tangan agar tidak kedinginan.
"Gimana Ren, bisa nggak?" Tanya Gara pada Rendi.
"Iya, sebentar. Ini tinggal disiram minyak tanah kok." Jawab Rendi. Dia sedang berkonsentrasi dalam membuat api unggun.
"Ah kelamaan, sini." Sergah Gema. Dia langsung mengambil minyak tanah dari tangan Rendi, lalu menyiramkan ke tumpukan kayu. Selanjutnya, dia menyalakan beberapa korek kayu dan dilemparkan ke tumpukan tadi.
Perlahan, api mulai menyala. Awal mulanya cukup kecil, namun lama-lama menjadi besar. Merambat ke kayu-kayu lain yang ada di tumpukan. Huft, akhirnya. Kehangatan kedua telah muncul.
"Karena api unggun sludah nyala, gimana kalau kita bermain?" Melodi berseru. Entah kenapa, setiap ada api unggun ia selalu ingin melakukan permainan. Tapi, bukankah adanya api unggun itu untuk bersenang-senang?
"Permainan apa nih." Balas Gema. Melodi tahu, Gema tidak akan memberikan usul. Jika harus sekalipun, pasti usulnya tidak masuk akal. Tipe humoris seperti dia memang sulit diajak serius. Kecuali hubungan mereka ya--garis bawahi.
"Hmmm." Nisa mulai memutar otaknya. "Gimana kalau tebak-tebakan?" Ucapnya seketika.
"Tebak-tebakan apa nih? Tebak gaya atau tebak kata?" Bianca mulai tertarik dengan usul Nisa.
"Tebak gaya kayaknya asyik." Rendi langsung berdiri, mulai mempraktekkan. Pose pertama, tangan kanannya disimpan di atas kepala, sementara tangan kirinya disimpan di pinggang. Kemudian keduanya digerakkan seperti orang sedang menggaruk. Pose kedua, dia duduk di tanah. Kedua tangannya digerakkan kembali tepat di depan mata. Pose ketiga, dia berjalan seperti suster ngesot.
__ADS_1
"Biar gue tebak, biar gue tebak. Itu pasti... Orang punya kutu, nangis ketemu suster ngesot." Tebak Gara.
"Mohon maaf, anda belum beruntung." Kata Rendi.
"Gue... gue..." Bianca angkat tangan. "Wanita kegatelan, nangis sambil ngesot."
"Salaaah.." Ucap Rendi kembali.
"Huuuh, emangnya lo." Gema melempar kerikil kecil ke arah Bianca. Bianca meringis kesakitan.
"Jadi, nggak da yang bisa jawab nih?" Rendi bertanya kepada teman-temannya.
"Hm, kera nangis sambil ngesot." Kata Melodi dengan ragu.
"Selamaaat.. anda mendapatkan hadiah senilai satu juta rupiah dipotong pajak." Rendi bertepuk tangan. Ternyata, jawaban asal Melodi benar juga. Spontan ia langsung berdiri dan menirukan gaya acara di TV.
Teman-temannya yang ada di depan cewek itu hanya melongo melihat tingkahnya. Mungkin heran, kalau Melodi memiliki bakat terpendam yang patut diberi penghargaan.
"Ganti dong, yang lain. Nggak asyik ah!" Gema bosan dengan permainan yang mereka lakukan. Lagipula, sedari tadi dia tidak ikut berpartisipasi. Mungkin karena otaknya tidak mumpuni.
"Tebak kata aja yuk! Lebih gampang." Nisa langsung berdiri, memulai aksinya. "Teh apa yang disukai oleh bunda R?" Nisa melontarkan pertanyaan.
"Mana gue tahu, emangnya gue stalker bunda R. Lagian siapa sih bunda R, gue belum kenalan masalahnya." Jawab Gema, disusul oleh gelakan tawa yang lain. Tapi, ada benarnya juga sih jawabannya. Hanya saja, ini kan tebak-tebakan. Dia terlalu kritis berpikirnya.
"Gema.. Gema.. Masa gitu aja nggak tahu. Jawabannya pasti teh sari murni kan?" Rendi mencoba menebak teka-teki dari Nisa.
__ADS_1
"Seratuuus buat Rendi." Nisa mengacungkan kedua jempolnya. Korupsi memang si Nisa ini. Dia bilang seratus, tapi kenyataannya hanya memberi dua saja. Lupakan.
"Kok bisa teh sari murni?" Gara kebingungan. Gara, yang dikenal satu spesies dengan Gema.
"Lo nggak punya TV ya di rumah? Kalau punya, lo pasti sering lihat iklannya. Lagunya tuh gini 'ini teh kantong bundar sari murni, yang rasanya enak sekali'." Melodi menjelaskan pada Gara. Sekaligus menyanyikan lagu iklan tersebut.
"Ganti, ganti." Sahut Bianca. "Gimana kalau kita melanjutkan lirik lagu tapi dari lagu yang berbeda."
"Lo mencoba menyingkirkan kita?" Gema dan Gara langsung bersatu, sama-sama memasang tampang bodoh.
"Haha, udah udah. Kasihan mereka terbebani." Rendi menertawakan keduanya. Mereka langsung menyatukan kekuatan, bersiap menghajar orang yang meremehkan mereka.
Selanjutnya, mereka larut dalam perbincangan sederhana. Menikmati malam tanpa setitik bintang. Merasakan hembusan angin yang memaksa masuk ke dalam tubuh melewati sela-sela jaket. Mendengarkan suara jangkrik, cacing, dan makhluk lainnya. Suasana yang Melodi alami beberapa tahun ke belakang, kini terlaksana kembali. Ditemani dengan teman dan pacar yang saling melengkapi.
"Sebelum kita tidur, gimana kalau kita membuat perjanjian?" Ucap Melodi, entah kenapa mulutnya ingin mengatakan hal demikian.
"Perjanjian apa?" Sahut Bianca.
"Perjanjian kalau kita akan menjadi teman selamanya dan nggak akan mengkhianati satu sama lain." Jawab Melodi dengan lantang.
"Menurut gue, janji nggak selamanya akan ditepati. Lebih baik, kita bermain di kehidupan nyatanya saja. Perbanyak aksi, bukan reaksi." Jelas Rendi. Luar biasa. Cowok idaman memang manusia satu ini. Walaupun, ada juga kelemahannya yang Melodi tidak suka. Bukankah setiap ada kelebihan harus ada kelemahan? Hidup kan harus seimbang.
"Benar tuh, kata Rendi." Gara menyetujui perkataan Rendi.
Rendi mengajarkan mereka bahwa kata janji hanya terucap dari sebuah mulut manis. Tanpa tahu kelanjutannya bagaimana. Tapi aksi, akan selamanya terjadi. Terlihat oleh mata setiap orang. Wujudnya nyata, bukan khayalan. Dan yang lebih penting, tidak menimbulkan harapan.
__ADS_1
Malam semakin larut. Bulan memilih untuk menyembunyikan cahayanya dibalik awan. Mungkin ia merasa, bumi sudah banyak memancarkan cahaya. Melodi menarik selimut, menutupinya sampai ke leher. Dingin yang menusuk membuat bulu kuduknya berdiri. Ditambah sunyi yang berdatangan, membuatnya merasa ketakutan. Tapi, lebih menyeramkan lagi suara dengkuran wanita di sampingnya.
"Loh, Bianca ngorok?" Kata Melodi dalam hati.