
Sudah beberapa hari ke belakang Melodi tidak tidur di panti. Bukan karena bosan bersama mereka, melainkan masalah yang menimpanya kemarin. Bahkan malam ini pun, Melodi harus menginap di rumah Nisa. Dia bilang, bundanya tidak akan pulang. Alasannya karena masih banyak hal yang harus dikerjakan. Baginya tak mengapa jika ia harus menemani Nisa, tapi belum tentu Nilam. Melodi mesti berbicara panjang lebar jika ingin mendapatkan izin.
"Bu, malam ini aku tidur di rumah Nisa ya? Bunda Nisa lembur, perkiraan nggak pulang. Nisa ketakutan diam sendiri rumahnya. Jadi aku mau menemaninya, boleh?"
"Hm, gimana ya?" Nilam tampak berpikir. "Sebenarnya ibu ingin melarangmu pergi, tapi ibu tidak tega melihat Nisa sendirian. Jadi, ya sudahlah, ibu izinkan."
Kalimat terakhir yang diucapkan Nilam membuat Melodi melengkungkan senyuman. Sudah dikatakan, Melodi harus berbicara dengan tatapan memohon padanya. Karena kelemahan Nilam terletak dari matanya. Jika dia melihat manik mata memelas, dia pasti langsung luluh.
Setelah mendapat izin, Melodi langsung mengambil tas yang ada di dalam kamar. Sebenarnya ia sudah menyiapkan semuanya sebelum ia bicara dengan Nilam. Firasatnya seperti mengatakan bahwa Nilam pasti menyetujuinya. Selagi Melodi tidak macam-macam, Nilam tidak akan marah.
Kakinya sudah berpijak di depan rumah megah yang tidak lain adalah rumah Nisa. Tidak perlu berpikir, Melodi langsung memencet bel. Menunggu Nisa membukakan pintu untuknya. Tak lama, dia muncul dari balik pintu. Tubuhnya langsung menghambur ke dalam pelukan Melodi. Reaksinya persis seperti kedua orang yang sudah lama tidak bertemu.
"Mel, ayo cepat masuk."
"Iya Nis."
Gadis yang sudah mengenakan piyama itu membawa Melodi ke sebuah ruangan besar. Ruangan dengan nuansa Paris yang tak lain adalah kamar Nisa. Barang-barang di dalamnya, tertata rapi. Membuat orang yang melihatnya enggan untuk beranjak. Ditambah lagi, fasilitas lengkap yang tersedia menambah kesan malas keluar dari kamar. Beruntung sekali memang Nisa. Diadopsi oleh seorang wanita single yang tidak mempunyai anak.
Kasur king size yang sudah ada di depan mata, memaksa Melodi untuk merebahkan tubuh. Kantuk yang sedari tadi melanda, tidak bisa ia tahan lagi. Dalam sekejap, is menutup mata.
"Mel, jangan dulu tidur dong." Nisa yang duduk di sampingnya, menggoyangkan tubuhnya.
"Em, Nis. Gue ngantuk banget tahu." Masih dalam posisi terpejam, Melodi membalas perkataan Nisa.
Namun, perkataan Melodi malah membuat Nisa semakin mengganggu kenyamanannya. Baiklah, Melodi menyerah. Kantuknya terkalahkan oleh rayuan Nisa. Dengan wajah tanpa dosanya, dia menyeringai. Kalau tidak ingat Nisa saudaranya, Melodi pasti sudah menampar bibirnya dengan sandal tidur miliknya.
Nisa mengambil remote TV, jarinya mulai memencet tombol-tombol remote. Mencari siaran yang layak mereka tonton malam ini. Tak lama, jarinya berhenti di tombol nomor 7. Layarnya menampilkan siaran drama Korea. Bukan main, film kesukaan Melodi tayang malam ini.
__ADS_1
Mereka duduk di atas kasur sambil menikmati popcorn dan satu kaleng cola. Sepertinya Nisa sudah menyiapkan ini. Lampu kamar sengaja dimatikan, supaya menambah kesan ala bioskop. Satu pack tissue sudah tersimpan di depan mereka. Karena mereka sudah tahu, drama Korea tidak akan luput dari kata tangisan. Maka, sudah sepatutnya tissue menjadi benda utama yang disediakan.
Sebenarnya, Melodi bukanlah pecinta K-Pop seperti gadis-gadis yang lain. Ia hanya menyukai dramanya saja. Baginya, penulis yang membuat skenarionya sukses membuat penonton hanyut dalam cerita. Selain itu, aktor yang mereka pilih mampu membuat para gadis tergila-gila. Mungkin ini yang dinamakan dengan taktik menambah viewers.
Baru saja 20 menit film diputar, bulir-bulir air mata mereka sudah berceceran dimana-mana. Jujur saja, film yang mereka tonton sangat menyentuh hati. Mereka merasa seperti aktor wanita yang ada di film itu.
"Huhuhu, Mel. Kasihan banget ceweknya ditinggal mati pacarnya sendiri." Nisa menangis tersedu-sedu, larut dalam film yang ditonton.
"Iya Nis. Gue jadi ingat Gema kalau kayak gini."
Walaupun insiden kemarin membuat Melodi begitu kesal, tapi tetap saja rindunya mengalahkan rasa kesal itu. Wajahnya yang tampan--tapi sedikit bodoh selalu terbayang dalam pikiran. Terlebih tingkah anehnya yang membuat Melodi terbahak-bahak setiap kali melihatnya. Ah, rasanya Melodi merindukan dia.
Belum selesai Melodi memikirkannya, tiba-tiba saja orang yang sedang ia pikirkan itu video call. Sepertinya dia merasakan bahwa Melodi tengah merindukannya. Istilahnya itu kontak batin. Melodi langsung menggeser ikon hijau ke atas, mengangkat video callnya.
"Hai Mel, lo lagi--" Gema menghentikan perkataannya, matanya memperhatikan wajah Melodi lekat-lekat. "Lo nangis?"
"Oh ini, gue lagi nonton drama Korea sama Nisa." Jawab Melodi dengan santai.
"Tapi kenapa mata lo bisa sembab kayak gitu." Tanya Gema, dia memang tidak paham dengan drama yang disukai para gadis.
"Lo tahu kenapa Mel nangis? Karena, ada cowok yang sudah menyakitinya." Nisa bersuara setelah dia menghapus air matanya. Ponsel Melodi langsung dialihkan ke wajah Nisa.
"Siapa yang berani menyakiti Melodi gue? Akan gue musnahkan dia!" Gema terdengar marah, namun karena ini via ponsel, suaranya samar-samar.
"Itu orangnya ada di dalam TV. Musnahin aja." Sahut Nisa, lalu disambut dengan gelakan tawa keduanya. Gema termakan keusilan Nisa rupanya.
Melodi mengalihkan kembali ponsel ke arahnya. Di layar, sudah terpampang wajah garangnya yang siap menyantap lawan bicaranya. Dulu memang Melodi cukup ngeri melihat dia, tapi sekarang ia sudah terbiasa dengannya.
__ADS_1
"Hei, lo belum tidur? Udah malam juga." Melodi mengganti topik pembicaraan.
"Lo kira gue cowok lemah yang tidur di bawah jam 9?" Gema terusik dengan perkataan Melodi.
"Haha, bukan gitu. Gue tahu lo emang bukan cowok lemah. Lo itu cuma.." Melodi menggantungkan kalimatnya.
"Cuma apa?"
"Ah nggak, gue lupa mau ngomong apa tadi." Melodi menjaili Gema. Entah kenapa, Gema selalu terjebak dalam trik jail Melodi.
"Lo ngerjain gue ya?" Tanyanya menginterogasi.
"Emang iya." Sahut Melodi lalu diiringi gelakan tawa keduanya. Terlihat, wajahnya berubah menjadi muram. Bibirnya yang mengerucut membuat Melodi ingin menariknya. Dia menggemaskan sekali ketika sedang kesal.
"Udah ah, tutup dulu ya." Tanpa mendengar jawaban dari sana, Melodi langsung mematikan panggilan.
Bukannya Melodi tidak mau berlama-lama video call dengan Gema, tapi suara Nisa di sebelahnya yang meminta Melodi untuk menemaninya menonton sangat mengganggu. Jadi, Melodi merelakan panggilan Gema demi Nisa. Melihat Melodi yang sudah tidak berkutat dengan ponsel, Nisa melebarkan senyuman.
"Oh ya Mel, lo mau tahu satu hal nggak?" Tanya Nisa tiba-tiba. "Bunda itu ternyata punya anak perempuan loh. Tapi sayangnya, anaknya itu hilang dibawa kabur suaminya." Nisa berkata, logatnya seperti dia telah mengetahui alur ceritanya.
"Masa? Terus sekarang keberadaan anaknya dimana?" Melodi merespon perkataan Nisa. Lebih tepatnya, ia penasaran dengan kelanjutan ceritanya.
"Ya kalo tahu juga bunda nggak akan mencari-cari dia sampai ke ujung dunia Mel." Ucap Nisa, nadanya terdengar sedikit kesal karena pertanyaan bodoh Melodi.
"Tapi sih, setahu gue, bunda itu dulunya orang nggak mampu. Nah, karena keterbatasan ekonomi keluarga mereka, suaminya dengan sadis membawa kabur anaknya yang masih bayi. Bunda juga nggak tahu dimana keberadaan suaminya sekarang." Nisa bercerita panjang lebar pada Melodi. Cewek itu hanya manggut-manggut saja mendengar ceritanya.
Dulu Melodi mengira, dunia itu begitu kejam kepadanya. Karena mereka sudah merenggut semua yang ia miliki. Tapi ternyata, setelah ia melihat dunia luar dan berinteraksi dengannya, ada banyak sekali orang yang lebih menderita daripada dia. Mungkin benar yang dikatakan oleh pepatah, bahwasanya jangan meratapi apa yang kau tidak punya, tapi syukuri apa yang telah kau punya. Dengan begitu, kau akan mengerti apa arti dari bersyukur.
__ADS_1