
Istirahat kali ini, kelas XI IPA 2 tampak begitu ramai, tidak seperti biasanya. Terlihat, sang ketua kelas berdiri di depan kelas. Sebelum jam istirahat berlangsung, Tio dipanggil oleh murid kelas sebelah untuk ke kantor. Seketika murid-murid IPA 2 langsung shock, karena mereka berpikir kalau Tio dipanggil pasti akan ada beban yang diberikan pada mereka.
Dan, perkiraan mereka seratus persen benar. Tadi, Tio menghadap Ibu Riska selaku guru wirausaha di kelas XI. Beliau mengatakan bahwa mereka harus membentuk kelompok yang terdiri dari dua orang setiap kelompoknya. Tugasnya adalah membuat makanan atau minuman unik yang bisa dijual kembali.
"Jadi gimana teman-teman? Pembentukan kelompoknya mau pilih sendiri aja atau diundi?"
Melodi memberikan usul. "Gimana kalau misalkan diundi aja? Biar adil pembagiannya gitu."
"Gimana tuh usul Melodi? Setuju nggak?" Tio bertanya pada teman-temannya.
Sebagian menganggukkan kepalanya, menyetujui usulan Melodi. Terkecuali seorang cowok yang tiba-tiba mengangkat tangannya, kemudian mengutarakan pendapatnya.
"Kalau gue sih kurang setuju sama usul Melodi, memperlambat waktu masalahnya. Jam istirahat kita terbuang sia-sia loh cuma buat bahas beginian aja. Mendingan kalian pilih teman kelompoknya sendiri aja, simple kan."
Itu Deon, cowok dengan setelan paling rapi sama seperti Tio. Dia memang cenderung menyukai hal simple, tidak mau bertele-tele. Selain itu, dia terkenal dengan egoisnya.
"Ehm, boleh juga tuh usul Deon." Sahut Cindy, dilanjut teman-teman lain yang menyetujui usulan Deon.
"Ya udah kalau gitu, sekarang kalian boleh istirahat. Nanti pulang sekolah nama anggota kelompoknya kasihin ke gue ya."
Seketika kelas lengang selepas Tio berkata demikian.
***
Melodi tengah makan di kantin bersama dengan Gema. G-Namica tidak kumpul di istirahat kali ini, masing-masing memiliki urusan tersendiri. Nisa sedang sibuk mengerjakan tugas matematika yang begitu banyak dan harus dikumpulkan pukul sebelas tepat, sehingga ia merelakan jam istirahatnya terbuang demi mendapat nilai yang sempurna. Sementara, Bianca mengabarkan pagi tadi via chat grup kalau dirinya sedang tidak enak badan dan memutuskan untuk tidak masuk sekolah. Rendi sendiri sedang sibuk menyiapkan kebutuhan untuk turnamen basket di sekolahnya. Kebetulan, ia terpilih sebagai ketua pelaksana tahun sekarang.
__ADS_1
"Mel, lo pasti sekelompok sama gue kan?" Tanya Gema dengan percaya diri. Mendengar itu, Melodi mendelikkan matanya.
"Ih, kok gitu sih. Nggak mau sekelompok sama gue?"
"Emangnya lo bisa masak?"
Gema nyengir, pertanda ia tidak bisa memasak. Jangankan untuk memasak, berdiam di depan kompor saja Gema sangat takut. Ia perlu menggunakan jaket dan helm jika harus memasak.
"Malas ah, gue mau cari teman kelompok yang bisa masak aja." Cibir Melodi. Sejujurnya, ia sedang mengusili Gema.
"Kok gitu sih? Gue janji deh, kalau cuman kupas bawang atau potong cabai gue bisa kok. Seriusan." Gema mengacungkan kedua jarinya, membentuk huruf v.
"Hm, gimana ya?" Melodi sedikit berpikir.
Belum juga Melodi memberikan jawaban, tiba-tiba seorang cowok bersetelan rapi datang menghampiri meja Melodi dan Gema. Di tangannya sudah ada nampan berisikan satu gelas es jeruk dan satu mangkuk bakso. Tanpa basa-basi, ia langsung duduk di meja sepasang kekasih itu.
"Melodi bakal sekelompok sama gue!" Jawab Gema.
Deon tersenyum sinis, "Oh gitu? Tapi sayangnya gue udah masukin Melodi ke kelompok gue."
Melodi tersedak martabak yang sedang dimakannya, Gema langsung menyodorkan segelas air putih. "Tapi gue belum bilang mau apa nggak sekelompok sama lo. Kenapa lo main masukin gue seenaknya ke kelompok lo?"
"Ya sekarang gue kan bilang ke lo. Lo nggak mau kan nilai mata pelajaran wirausaha lo jelek?"
Gema menggebrak meja begitu saja, membuat sebagian pengunjung kantin menoleh ke arah mereka, bahkan ada juga yang berbisik-bisik.
__ADS_1
"Nggak bisa gitu. Gue pacarnya Melodi, jadi gue harusnya sekelompok sama dia." Bantah Gema.
Deon kembali mengembangkan senyuman sinis, namun kali ini benar-benar ditujukan untuk Gema.
"Ya terus, kalau lo pacarnya lo mesti ikut serta juga di pencapaian prestasinya Melodi? Ini kehidupan sekolah, jangan disangkut pautkan sama kehidupan di luar sekolah. Ya kalau gue jadi lo sih, gue pasti bakal ngalah. Terkecuali, kalau gue masuk kriteria."
"...jangan lupa pikirin lagi ya Mel, ini demi nilai lo."
Rasanya, Gema ingin sekali menghajar cowok di depannya saat ini jika ia tidak ingat ini lingkungan sekolah. Melodi lekas menenangkan Gema, agar ia tidak membuat keributan dan berakhir di ruang kepala sekolah atau BK.
***
Sebulan sebelum kedatangan Gema ke Sekolah Cendana, kelas IPA 2 sempat dihebohkan oleh seorang juara kelas yang menyatakan perasaannya pada teman sekelasnya. Padahal, ia sudah tahu betul kalau status ceweknya saat itu tengah berpacaran dengan kakak kelas. Namun, jiwa ambisius yang telah melekat di dalam dirinya tidak mempedulikan hal itu, ia tetap menyatakan perasaannya di hadapan murid kelas IPA 2.
Deon berlutut di depan Melodi, tangan kanannya memegang sebuket bunga. Deon yang pandai merangkai kata mampu membuat cewek satu kelas takjub padanya.
"Melodi, gue pernah baca suatu pepatah, isinya begini."
"...setiap manusia berhak jatuh cinta hingga patah hati. Karena pada dasarnya, jatuh itu sendiri menimbulkan rasa sakit. Tergantung bagaimana kita mengawalinya. Dan, hari ini gue bakal nyatain semua perasaan gue ke lo. Gue suka sama lo Mel."
Teman-teman sekelas langsung menyoraki keduanya, ada yang bilang terima perasaan Deon, tapi ada juga yang melarangnya.
"Maaf Deon, tapi gue udah punya pacar." Melodi menolak secara halus, berharap Deon tidak tersinggung dengan ucapannya.
Deon pantang menyerah, ia membalas jawaban Melodi dengan senyuman tulus. "It's okay. Mungkin hari ini lo masih pacaran sama dia, tapi besok? Belum tentu. Setiap hubungan tidak pernah berjalan mulus, pasti ada hambatannya. Setiap janji tidak selamanya ditepati. Dan, ada saatnya dimana lo pasti ngelirik gue dan jatuh ke pelukan gue. Dunia itu berputar Mel, lo mesti ingat satu hal itu." Jelas Deon, membuat para cewek terpukau dengan ungkapannya.
__ADS_1
"...suatu saat nanti, lo pasti bakal jadi milik gue. Apapun caranya." ucap Deon dalam hati.