
Sore ini, Melodi menemani Nisa ke bandara untuk melihat kepergian Coki ke Tokyo. Tapi, tidak hanya berdua saja. Tiga cowok konyol itu juga ikut berpartisipasi. Entah kenapa, semenjak melakukan misi, mereka bertiga terlihat begitu dekat. Itulah alasan Melodi mengapa menamai mereka trio konyol. Dan, pekerjaan mereka hanya membuntuti Melodi setiap hari. Melodi hanya menghela napas melihat tingkah mereka.
"Nis, jaga diri lo baik-baik ya." Coki menggenggam erat tangan Nisa.
"Lo juga ya Coki, kabarin gue kalau lo udah sampai disana." Nisa mulai berlinangan air mata.
"Mel, gue titip Nisa ya." Coki mengalihkan pandangannya pada Melodi.
"Oke Coki."
Perlahan, Coki melepaskan genggaman tangannya. Badannya berbalik arah. Sedetik kemudian, Nisa hanya bisa melihat punggung Coki yang kian menjauh.
Sepanjang perjalanan, Nisa tidak bersuara sama sekali. Nisa memilih untuk diam. Teman-temannya berusaha untuk menghibur Nisa, akhirnya mereka mengajak Nisa pergi ke taman wisata. Disana terdapat banyak sekali wahana untuk dinikmati. Pepohonan yang rindang menambah suasana sejuk taman ini. Ditambah lagi, danau yang begitu luas mampu membuat pengunjung ingin berlama-lama menetap disini karena keindahannya. Sore hari memang waktu yang tepat untuk menyaksikan sunset di taman wisata ini. Bahkan, banyak sekali yang mengabadikan momen pada saat sunset karena keindahannya.
"Gimana kalau kita naik perahu?" Melodi berseru pada teman-temannya.
__ADS_1
"Ide bagus." Sahut Rendi.
"Ayo." Ucap Gema dan Gara bersamaan.
"Ayo Nis." Melodi mengajak Nisa.
"Nggak mau ah. Gue disini aja." Nisa tidak beranjak sama sekali dari kediamannya.
"Nggak usah takut, ayo." Gara menarik tangan Nisa, mengajaknya naik ke atas perahu.
Sedari tadi, Melodi melihat Gara begitu perhatian pada Nisa. Manik mata yang Gara pancarkan pada Nisa berbeda dengan pancarannya pada Melodi. Gara seperti terhanyut dengan kecantikan Nisa. Kalian perlu tahu, Melodi memiliki sedikit keahlian dalam membaca raut wajah seseorang. Dan, Melodi dapat simpulkan bahwa wajah Gara menggambarkan, dia kagum dengan Nisa.
Setelah bersenang-senang bermain air di atas perahu, mereka pergi menuju warung yang menjajakan banyak makanan. Tempat duduk yang disediakan berupa dangau yang dapat menampung lima sampai enam orang. Dari sana, mereka bisa melihat kembang api yang terukir di langit. Dangau ini berjumlah sangat banyak dan mengelilingi sebuah lapangan kecil. Kegunaan lapangan tersebut adalah untuk pertunjukan tari daerah dan teater. Biasanya, pertunjukan dimulai pukul delapan malam.
Malam ini, hidangan yang akan mereka santap adalah satu porsi nasi liwet. Isi di dalamnya berupa nasi liwet, sambal, orek tempe, sayur kangkung, ikan teri pedas dan kerupuk. Untuk minumannya berupa wedang jahe hangat. Tak hanya itu, bola-bola ubi dan getuk singkong akan menjadi dessert mereka. Taman wisata ini, memang menerapkan ciri khas Sunda. Dari mulai bangunannya, hiburannya sampai hidangannya.
__ADS_1
"Hm, enak banget. Gue baru nyobain makanan kayak gini." Kata Rendi di sela-sela makan malam.
"Huh, lo norak banget sih. Masa baru pertama kali nyobain? Makanya, lo jangan kebanyakan makan junkfood." Sahut Gema meremehkan.
"Emangnya lo udah pernah nyobain sebelumnya?" Tatap Rendi memastikan.
Gema hanya menyeringai lebar, pertanda bahwa dia baru kali ini merasakannya.
"Udah, makan makan. Jangan ribut terus." Melodi melerai Rendi dan Gema.
"Wah, ternyata Melodi ini hebat ya. Mampu menangani dua cowok ini sekaligus." Ucap Gara sambil menyesap wedang jahenya.
"Hebat dari mananya. Jujur aja gue capek menghadapi sikap mereka berdua. Kerjaannya tiap hari cuma berantem yang berakhir tragis salah satunya. Rasanya gue pengen pindah ke planet mars aja." Kata Melodi dengan wajah memelas.
"Kalau gitu gue bakal ikut!" Sontak Gema berteriak.
__ADS_1
"Gue juga!" Sontak Rendi tidak mau kalah.
Melodi hanya merutuki kedua cowok itu. Berharap bahwa keduanya lenyap ditelan bumi. Atau hilang terbawa angin. Apapun, asal mereka tidak ada bersamanya. Bibir Melodi komat kamit tidak menentu. Membuat Nisa dan Gara tertawa terbahak-bahak melihat tingkahnya.