
Mereka sudah berkumpul di area parkir tepat sepuluh menit setelah bel berbunyi. Kelompok belajar diaktifkan kembali. Melodi naik ke motor Gema, begitupun dengan Nisa naik ke motor Gara. Sementara Bianca, dia naik ke mobil Rendi. Lokasi belajar kali ini masih sama dengan sebelumnya, bertempat di rumah Gema.
Mereka berjalan seperti sedang melakukan touring. Melodi dan Gema berada di posisi paling belakang. Setengah perjalanan, Melodi merasa hatinya tidak karuan. Jantungnya berdegup kencang tidak seperti biasanya. Melodi berusaha untuk berpikir positif dan melafalkan doa.
Di pertigaan jalan, tiba-tiba saja Melodi mendengar suara dentuman dan rem mencekit. Sontak Melodi meminta pada Gema untuk menghentikan motornya. Hatinya berkata bahwa ia harus menghampiri tempat kejadian itu. Melodi berlari ke arah kerumunan, dan mendapati Bima sedang berdiri disana dalam keadaan menangis. Tanpa berpikir panjang, Melodi langsung masuk ke dalam kerumunan melihat siapa korban tersebut. Air matanya tiba-tiba mengalir dengan derasnya. Itu Beno, adiknya. Dia kini terkapar lemah tidak berdaya di jalan. Kepalanya mengeluarkan banyak darah. Melodi tidak kuasa melihatnya, dalam sekejap Melodi pingsan di tempat.
Bau zat kimia begitu menusuk hidung. Mata Melodi berkeliling, melihat sekitar. Ini rumah sakit, tidak salah lagi. Seketika Melodi teringat kejadian tadi. Melodi langsung berlari menuju ruangan UGD. Disana sudah ada Nilam dan teman-temannya yang lain. Terlihat Nilam berdiri dengan tatapan kosong di depan pintu UGD. Melodi yakin ibunya sangat terpukul sama seperti dirinya. Rendi, sang pelaku menghampiri Melodi.
"Mel, gue minta maaf. Gue nggak sengaja." Rendi berlutut di depan Melodi, mengakui kesalahannya.
"Jadi ini balasan lo setelah kita putus? Gue kira, lo udah bisa nerima semuanya dan lo nggak akan melakukan hal buruk yang pernah lo sebutin itu. Tapi ternyata gue salah. Lo jahat Ren! Jahat! Kenapa lo tega melakukan ini sama gue Ren? Kenapa? Gue udah susah payah jadi apa yang lo minta, tapi balas budi lo ke gue gini? Gue benci lo Ren!" Melodi menarik-narik kerah kemeja Rendi.
"Mel, gue nggak ada maksud buat celakain Beno. Gue nggak sengaja, lo salah paham Mel. Gue udah lupain ancaman yang pernah gue kasih ke lo. Gue udah janji sama lo kalau gue akan berubah." Ungkap Rendi.
"Salah paham? Lo bilang salah paham setelah apa yang gue lihat di depan mata gue sendiri. Lo jelas-jelas membalaskan dendam lo ke Beno, keluarga gue. Lo nggak main-main sama omongan lo. Mulai sekarang, lo pergi dari hadapan gue!"
"Mel, please maafin gue. Iya gue ngaku salah karena udah bikin ancaman konyol gitu. Tapi serius, ini murni kecelakaan Mel." Rendi memohon pada Melodi agar Melodi membuka pintu maafnya. "Kalau lo masih nggak percaya sama gue, ya udah. Gue rela lo laporin polisi detik ini juga." Pasrah Rendi.
__ADS_1
Melodi tidak sanggup berkata-kata lagi. Tangisannya mengunci mulutnya rapat-rapat. Gema langsung memeluk Melodi, Gema paham dengan kondisi Melodi sekarang. Melodi menangis di bahu Gema, tidak mempedulikan Rendi yang memohon-mohon padanya.
"Lo benar-benar jahat Rendi!" Nisa tiba-tiba menampar pipi Rendi. "Kenapa lo nabrak anak nggak berdosa kayak Beno?" Intonasi suara Nisa meninggi, menandakan dia begitu marah.
Rendi hanya diam tanpa suara. Sorot mata semua orang seperti menyalahkannya.
"Hei, apa apaan lo!" Sahut Bianca, dia membantu Rendi untuk berdiri.
"Lo mau bela dia? Lo nggak lihat apa? Adik gue tengah terbaring di atas bangsal itu. Semuanya karena dia!!" Emosi Nisa kian memuncak.
"Dia udah minta maaf, lagipula ini semua murni kecelakaan." Bela Bianca.
"Hentikan!!!" Pekik ibu. "Nggak ada gunanya saling salah menyalahkan. Kita semua disini merasa terpukul karena kecelakaan Beno. Tapi bukan berarti kalian melampiaskan emosi seperti ini." Nilam menengahi pertengkaran Nisa dan Bianca. "Lebih baik kita berdoa untuk kesembuhan Beno." Lanjut Nilam.
Seketika, ruangan mendadak hening. Hanya terdengar suara alat-alat di dalam UGD. Melodi tidak henti-hentinya memanjatkan doa, agar Beno diberikan keselamatan. Beno anak kuat. Beno pasti bisa melewati semua ini. Beno harus pulih kembali demi mereka.
***
__ADS_1
Setiap doa yang dipanjatkan tidak selamanya akan terkabul. Setiap harapan yang diinginkan belum tentu terwujud. Bahkan, setiap insan yang dekat bisa saja tidak bersama. Banyak sekali kemungkinan yang tidak diketahui.
Sepanjang malam, Melodi berdoa agar Beno pulih seperti sedia kala. Bisa melihat kembali keindahan dunia. Tertawa bersama orang-orang yang disayangi. Namun, skenario tuhan tidak bisa diubah. Takdir berkata lain. Tepat pukul dua pagi, Beno dipanggil oleh sang maha kuasa.
Beno dimakamkan di tempat pemakaman umum dekat panti. Derai air mata pada saat pemakaman berlangsung tak henti-henti membanjiri. Mereka sangat kehilangan sosok adik yang begitu mereka cintai. Melodi mencoba untuk mengikhlaskan kepergiannya. Melodi percaya, tuhan menyayangi Beno. Tuhan tidak mau membuat Beno merasakan sakit lebih lama lagi.
Sepulang pemakaman, para pelayat masih banyak yang berdatangan. Mereka mengucapkan bela sungkawa atas meninggalnya Beno. Karangan bunga duka terpampang di halaman panti. Beno, Melodi yakin. Di surga sana Beno pasti sangat bahagia, karena di bumi ini banyak orang yang menyayangi Beno.
Melodi masuk ke dalam kamar Nilam. Dari sekian banyak orang, Nilam yang paling terpukul. Nilam selalu bercerita pada Melodi, bahwa Beno anak yang baik. Beno tidak pernah membantah perintah Nilam. Yang membuat Nilam begitu kehilangan adalah, Nilam bertemu dengan Beno saat dia masih bayi. Nilam menemukan Beno di dekat tempat sampah. Saat itu, kondisi Beno sangat buruk. Tubuhnya panas, namun dia menggigil. Akhirnya, Nilam memutuskan untuk membawanya ke panti dan merawatnya sampai sekarang.
Nilam sudah menganggap mereka semua seperti anak kandungnya sendiri. Maka wajar, jika salah satu dari mereka terluka atau pergi Nilam pasti akan bersedih. Melodi berusaha untuk tetap tegar di depan Nilam, agar Melodi bisa menyalurkan ketenangan. Perlahan, Nilam mulai terpejam. Melodi merasa lega melihatnya.
"Mel, lo yang tabah ya." Ucap Gema sambil memegangi tangan pacarnya. Dia adalah salah satu penyemangat bagi Melodi.
"Iya Gema, makasih udah ada di samping gue." Balas Melodi.
"Percayalah, Beno akan bahagia disana jika lo juga bahagia. Begitupun sebaliknya. Beno akan bersedih disana jika lo juga bersedih." Terang Gema. "Jadi mulai sekarang, usap air mata lo. Lalu ukir kembali senyuman lo." Gema menyeka air mata Melodi, kemudian menarik sudut bibir Melodi perlahan agar Melodi melengkungkan senyuman.
__ADS_1
Melodi bersandar di bahu Gema. Menatap langit yang awalnya mendung namun berubah menjadi cerah seketika. Sepertinya benar. Beno tidak suka melihat Melodi bersedih. Beno, Melodi berjanji tidak akan bersedih lagi. Beno, walau Beno sudah tiada di dunia, tapi Beno akan tetap ada di relung hati yang terdalam.