
"Lo serius Gema?" Tanya Melodi sekali lagi memastikan.
"Iya Mel sayang, gue nggak apa-apa. Nggak perlu khawatir." Ucap Gema.
Percakapan mereka terhenti sejenak karena sajian sudah siap. Gara menghamparkan dua buah karpet untuk mereka duduk. Sedangkan Nisa dan Bianca menata sajian. Aroma makanan yang tertiup angin, membuat perut Melodi melonjak-lonjak. Ingin segera menyantap habis semua yang ada di depan mata.
Sedetik kemudian, matanya langsung menangkap sate daging dengan bumbu pedas. Mengingat alergi kacang yang dimiliki Melodi, Nisa berinisiatif membuatkan beberapa tusuk sate dengan bumbu pedas. Melodi mulai menikmati potongan demi potongan. Lezat sekali. Rasanya hampir mirip dengan sate khas restoran. Nisa memang bisa diandalkan dalam meracik bumbu. Setelah menghabiskan sekitar lima tusuk, tangannya beralih mengambil tiga tusuk bakso bakar. Bumbu yang digunakan masih sama, yaitu bumbu pedas. Dalam sekejap, Melodi melahap bakso bakar tersebut.
Setelah menghabiskan beberapa tusuk sate dan bakso bakar, akhirnya perut Melodi berhenti berkontraksi. Waktunya untuk memakan dessert sebagai akhir dari makan siangnya. Dessert kali ini adalah buah-buahan. Mengingat sajian mereka kebanyakan mengandung lemak, sehingga mereka membutuhkan asupan air lebih banyak.
Dari buah melon, semangka dan jeruk yang tersedia, Melodi memilih mengambil sepotong melon. Alasannya karena biji melon sudah dibersihkan pada saat dikupas. Sehingga Melodi tidak perlu repot lagi dalam memakannya. Entahlah, ia lebih menyukai hal simple dibandingkan rumit. Tetapi, memangnya ada yang menyukai hal rumit?
"Gimana kalau kita mengubah nama geng kita?" Seru Bianca.
"Waaah, jadi Bianca udah nerima kita jadi teman nih." Sahut Nisa.
"Tentu saja." Jawab Bianca.
"Ada usul?" Tanya Rendi kepada teman-temannya.
"Ah, otak gue ngggak sampai kesana." Gema menyerah.
"Huh, di otak lo kan cuma ada Mel. Makanya lo nggak bisa memikirkan nama yang cocok buat geng kita." Ledek Gara.
"G-Namica. Bagus nggak?" Kata Melodi dengan ragu.
"Diambil dari mana itu?" Tanya Nisa penasaran.
"Penggabungan nama kita."
"Baru aja gue mau bilang itu, udah keduluan Mel." Kata Gema.
"Huuuuh." Mereka spontan memukul Gema bersamaan.
Drrt. Drrrt. Ponsel Nisa berdering. Ada satu panggilan masuk di layar ponselnya. Nisa meminta izin kepada teman-temannya untuk mengangkat telepon tersebut. Kemudian, dia pergi menjauh.
"Iya bu? Ada apa?"
"Cepat pulang nak. Ibu punya kabar gembira untukmu."
"Kabar gembira? Apa itu bu?"
"Cepat pulang. Kamu akan mengetahuinya di panti."
"Baiklah."
__ADS_1
Nisa menutup telepon, lalu kembali ke tempat berkumpul. Nisa membisikkan sesuatu ke telinga Melodi. Mendengar itu, Melodi menganggukkan kepala seraya berkata, "Gue sama Nisa kayaknya harus pulang sekarang."
"Loh kenapa?" Tanya Bianca.
"Ada yang mau ibu omongin ke gue." Jawab Nisa.
"Kalau gitu biar gue yang antar mereka." Kata Rendi mendahului Gema dan Gara. "Kalian masih mau disini kan?" Tanya Rendi kemudian.
"Gue sih masih betah disini." Sahut Gara. Bagaimana tidak? Hidangan yang melimpah seperti itu pasti enggan membuat Gara angkat posisi.
"Ya udah, lo jaga mereka berdua ya. Jangan sampai mereka terluka." Gema memperingatkan.
"Tenang aja, nggak usah khawatir. Mereka aman sama gue." Janji Rendi kepada Gema.
***
Sesampainya di rumah, Melodi melihat ada sebuah mobil mewah terparkir di halaman panti. Sepertinya Nilam sedang kedatangan tamu. Siapa ya kira-kira? Melodi begitu penasaran. Melodi dan Nisa mengetuk pintu sebelum masuk ke dalam panti. Disana, telah duduk Nilam bersama seorang wanita paruh baya di hadapannya. Melodi dan Nisa mengucapkan salam bersamaan pada keduanya.
"Mel, Nisa sini duduk." Ajak Nilam kepada anak-anaknya.
"Jadi gini, kedatangan Bu Riri kesini adalah dia mau mengadopsi kamu Nisa." Nilam mulai menjelaskan.
Mata Nisa berbinar-binar. Dia pasti senang mendengarnya. Doa yang dia panjatkan selama ini terkabul. Sudah sejak lama dia ingin diadopsi dan memiliki kehidupan baru. Melodi mengembangkan senyum, turut bahagia untuknya.
"Iya, aku mau bun. Aku mau." Nisa begitu bersemangat.
"Ya udah, kalau gitu barang-barang Nisa nanti diambil sama supir saya ya, Bu Nilam."
"Baik." Nilam mengangguk singkat. Sepertinya, Nilam sedih karena akan melepas Nisa ke tangan orang lain.
"Ibu, aku pamit ya. Maafin kalau selama ini aku selalu melakukan banyak kesalahan. Aku janji, aku akan sering-sering main kesini, jenguk ibu." Nisa memeluk Nilam begitu erat.
"Iya Nis. Ingat pesan ibu. Kamu harus patuh ke Bu Riri, jangan pernah menyakiti perasaannya. Jadi anak kebanggaan buat Bu Riri." Nilam mengusap puncak kepala Nisa dengan lembut. Nisa mengganggukkan kepala.
Kini, Nisa beralih pada Melodi. Dia memeluk Melodi dengan sangat erat. Seperti akan pergi jauh dari Melodi dan tidak akan pernah bertemu kembali. Melodipun merasakan hal yang sama. Tanpa sepengetahuan Nisa, dibalik punggungnya Melodi menitikkan air mata. Melodi tahu ini terlalu berlebihan. Tapi Melodi dan Nisa telah dipertemukan sejak kecil. Jadi rasanya, berat sekali untuk melepas kepergiannya.
***
Nisa masih tidak percaya dengan pemandangan yang ada di hadapannya sekarang. Bukan rumah megah, bukan juga barang mewah. Tetapi, sosok ibu sambung yang baru saja mengadopsinya. Berkali-kali dia mencubit pipinya sendiri. Ini bukan mimpi sama sekali.
Riri Marissa. Seorang wanita yang telah lama hidup sendirian. Suaminya pergi meninggalkannya karena alasan ekonomi mereka dahulu. Sebelumnya, mereka sempat dikaruniai seorang anak perempuan. Namun karena segala keterbatasan, suaminya membawa pergi putri satu-satunya itu. Dan sampai sekarang, Riri tidak pernah mengetahui keberadaan keduanya.
Riri begitu menyayangi putrinya. Sepanjang hari, dia tidak pernah letih mencari. Tetapi, dia tidak pernah menemukan jejak sedikitpun. Setelah kehilangan putrinya, Riri mulai merintis karirnya. Dengan bakat yang dimiliki, dia menjual lukisan-lukisan hasil coretan tangannya. Lambat laun, karirnya membuahkan hasil. Dia membuka sebuah galeri lukisan. Dan dari situlah awal kejayaan Riri.
"Bunda, kapan-kapan aku boleh dong main ke galeri bunda." Kata Nisa sambil melihat-lihat koleksi lukisan di sebuah ruangan.
__ADS_1
"Tentu boleh Nis. Bunda nggak melarang kok." Riri tersenyum kepadanya.
"Kalau gitu, boleh aku ngajak G-Namica?" Tanya Nisa kembali pada Riri.
"G-Namica? Siapa dia?" Riri menaikkan sebelah alis.
"G-Namica itu nama gengku. Jadi itu sekumpulan teman-temanku Bun." Nisa menjelaskan seputar G-Namica.
"Oh gitu. Silakan Nisa. Sekalian ajak juga mereka main kesini." Riri begitu antusias.
"Baik bun." Ucap Nisa.
***
Hari ini, G-Namica diundang oleh Nisa ke rumah barunya. Riri akan mengadakan acara syukuran atas adopsi Nisa. Acara dimulai pada pukul tujuh malam. Tidak hanya G-Namica saja, tetapi Nilam beserta anak panti turut serta diundang. Mereka sengaja datang lebih awal karena mereka ngin membantu mempersiapkan acara.
Acara syukuran berlangsung sekitar satu jam. Diisi dengan pembacaan ayat suci, do'a dan terakhir menyantap hidangan. Setelah rangkaian acara selesai, Nilam dan Riri dibantu dengan beberapa tetangga merapikan segalanya. Sementara Melodi dan yang lain, memilih untuk pergi ke ruang TV membicarakan perihal liburan mereka.
"Jadi, libur semester kali ini kita pergi kemana nih?" Sahut Nisa sambil memakan keripik pisang yang ada di dalam toples.
"Kemana ya?" Kata Bianca yang kini sedang rebahan di atas sofa.
"Bukannya Mel pernah bilang kalau kita berhasil menyelesaikan misi membuat Cok..." Perkataan Gema terpotong karena Melodi cepat-cepat membungkam mulut Gema. Gema tidak boleh membocorkan rahasia mengenai misi yang dijalankan waktu itu. Apalagi pada Nisa.
"Misi apa?" Nisa mengernyitkan kening.
"Ah, lo salah dengar kali." Rendi berkilah.
"Tapi jelas-jelas gue dengar kata misi." Nisa bersikeras.
"Gue nggak dengar tuh. Lo salah dengar Nis." Gara mencoba membantu.
"Ah, udah. Jadi kita liburan kemana?" Gerutu Bianca.
"Gimana kalau kita camping?" Melodi berseru.
"Waaah cocok tuh. Kita camping aja." Gema hampir kehabisan napas karena Melodi mendekap mulutnya cukup lama.
"Setujuuuu." Nisa dan Bianca sontak berteriak kegirangan.
"Oke, nanti gue kirim pesan ke kalian apa aja yang harus dibawa. Berarti kita pergi Jum'at ini ya?" Rendi memastikan.
"Terus pulangnya?" Tanya Nisa.
"Minggu gimana?" Usul Gema. Yang lain menganggukkan kepala pertanda menyetujui usulan Gema.
__ADS_1