A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 44


__ADS_3

Wajah Nisa berubah menjadi pucat selepas ia mendapat telepon dari seberang sana. Kekesalannya berganti menjadi kepanikan luar biasa. Pasalnya, Melodi mengatakan bahwa sang bunda pingsan setibanya di rumah.


Tanpa basa-basi, Nisa lekas mengambil tas yang tersimpan di atas meja kemudian menyelempangkannya di bahu kanan. Tidak peduli cowok di depannya yang melemparkan tatapan tajam. Yang terpenting, ia harus segera sampai di rumah dan memastikan kalau bundanya baik-baik saja.


Mengingat sore tadi turun hujan, kendaraan yang berlalu lalang di jalanan juga cukup sepi. Bahkan, Nisa sudah berdiri di pinggir jalan selama sepuluh menit dan ia tidak menemukan satupun kendaraan yang bisa mengantarnya pulang. Ditambah lagi, ojek dan driver online yang memilih untuk mematikan aplikasinya karena malas berurusan dengan hawa dingin malam hari.


"Biar gue anter!"


Dibalik kekacauan yang melanda, cowok yang membuat Nisa benar-benar kesal hari ini tiba-tiba saja menawarkan pertolongan. Nisa bisa saja mengambil tawaran itu, tapi ia juga harus menanggung segala resikonya. Dan, Nisa tidak mau itu terjadi.


"Nggak usah, gue bisa pulang sendiri kok." Tolak Nisa, suaranya terdengar sangat ketus. Matanya sama sekali tidak melirik wajah cowok itu. Baginya, jalanan sepi di depannya lebih sedap dipandang daripada cowok di sebelahnya yang jelas-jelas telah membuat moodnya hancur seratus persen dalam waktu sekejap.


Sudah dikatakan berkali-kali, bahwa Gara sangat benci dengan kata penolakan. Maka, dengan terpaksa ia mencekal tangan cewek itu cukup keras, menariknya ke tempat dimana motor Gara terparkir.


"Lepasin! Lepasin gue!" Nisa mengelak. Namun, sekeras apapun ia mencoba, Gara malah semakin erat mencekalnya. Nisa meringis kesakitan karena cengkeraman yang ditimbulkan oleh Gara.


"Lo kenapa sih? Gue cuma mau nganter lo doang. Apa itu salah?" Intonasi bicaranya tinggi, menandakan ia begitu marah. Sorot matanya menyala, siap menembus mata cewek itu.


"Iya salah! Gue udah bilang, gue nggak mau dianter sama lo. Lo nggak dengar?" Nisa berteriak di telinga Gara, membuat Gara geram dan mengangkat tangan kanannya, hendak menampar cewek itu.


Nisa berusaha menghindar, matanya terpejam tatkala ia tahu niat yang akan dilakukan oleh Gara. Namun, niat licik Gara rupanya berhasil digagalkan. Tendangan melayang nyaris membuat kakinya patah detik itu juga.


"Lepasin dia!" Titah cowok yang baru saja menolong Nisa. Nisa tidak bisa melihat dengan jelas siapa cowok itu, karena penerangan yang kurang di area parkir tersebut.

__ADS_1


"Siapa lo? Nggak usah ikut campur!" Gara mendorong tubuh Nisa, hingga terbanting ke lantai kasar.


Gara melemparkan pukulan melayang ke wajah cowok itu. Tetapi, gerakan yang bisa terbaca oleh cowok itu membuatnya berhasil menghindari serangan Gara.


"Tunggu! Gue kayaknya pernah lihat lo deh." Ucap Gara tiba-tiba. Ia mengamati setiap inchi wajah cowok itu, berharap cowok itu lengah dan Gara bisa menyerangnya habis-habisan.


"Nggak usah banyak omong Lo!" Pukulan kembali melayang tepat di wajah Gara, menyebabkan sudut bibirnya berdarah. Seakan belum puas menghajar Gara, cowok itu kembali melayangkan pukulan yang mendarat mulus di perut Gara. Gara sudah kehabisan tenaga, ia tidak sanggup melawan cowok itu lagi.


"Kenapa? Lo mau nyerah? Ayo lawan gue lagi." Tantang cowok itu.


Gara terduduk di lantai kasar itu, tangan kirinya menopang tubuhnya yang lemah, sementara tangan kanannya memegangi perutnya. Sakit, batinnya.


"Oke, gue anggap lo menang kali ini. Tapi jangan harap di lain waktu. Gue bakal cari tahu keberadaan lo dan ngabisin lo. Tunggu aja!" Gertak Gara.


Cowok itu kembali berdiri, meninggalkan Gara dan menuju ke arah Nisa yang pingsan akibat perlakuan Gara tadi.


***


Lima belas menit kemudian, mobil yang dikendarai oleh cowok itu sampai di sebuah rumah paling megah yang ada di kompleks perumahan ini. Membawa Nisa yang masih memejamkan mata karena insiden di cafe tadi. Tak perlu bingung cowok itu tahu dari mana alamat rumah Nisa, karena jelas-jelas cowok itu mengenal Nisa.


Cowok itu menepuk pelan pundak Nisa, seraya membangunkannya dari pingsan. "Nis, bangun Nis.."


Tak lama, mata Nisa mengerjap-ngerjap.

__ADS_1


"Gue dimana?" Ucapnya.


"Rumah lo." Sahut cowok itu ramah.


Nisa melirik cowok di sampingnya, matanya seketika menyipit tatkala melihat wajah cowok itu.


"Tunggu! Lo bukannya.." Nisa mencoba mengingat nama cowok itu. "Ah! Lo mantan Melodi kan? Hm.. Sammy?"


"Iya, betul sekali."


"Lo ngapain disini?" Tanya Nisa linglung. "Dan kenapa gue bisa ada di mobil lo? Lo nggak ada niat mau balikan sama Melodi kan? Wah, lo gila ya. Melodi itu udah jadi milik Gema, Sam. Lo nggak usah macam-macam sama dia, kalau lo nggak mau berakhir di TPU Melati." Ucap Nisa tanpa titik koma.


Sammy mengerutkan kening, bingung dengan ucapan Nisa. Apa cewek ini amnesia karena benturan di kepalanya tadi?


"Nis, lo ngomong apa sih? Jelas-jelas, lo yang bakal berakhir di TPU Melati tadi kalau gue nggak buru-buru datang." Jelas Sammy. "Ya intinya, lo berutang budi sama gue."


"Ya ampun!" Nisa menepuk keningnya. "Gue lupa!"


"Jadi gimana? Lo udah ingat semuanya?"


"Iya gue ingat, gue ingat. Gue mesti temuin bunda sekarang." Nisa membuka pintu mobil yang tidak terkunci, kemudian berlari tergesa menuju rumah besarnya.


Sammy, tak habis pikir dengan isi kepala Nisa. Detik itu juga ia berasumsi bahwa Nisa mengalami amnesia ringan.

__ADS_1


__ADS_2