A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 61


__ADS_3

Sakit rasanya melihat seorang anak lelaki tangguh itu terbaring di atas bangsal. Sebagian tubuhnya dipasang alat-alat penopang hidup. Entah bertahan sampai kapan, tak ada yang tahu.


Air mata terus menerus mengalir membasahi pipi seorang wanita paruh baya yang sedang meratapi nasib anaknya. Di depannya, seorang anak itu tengah berjuang melawan penyakit yang dideritanya. Beberapa saat kemudian, tangan kanan yang dipasang sebuah alat sedikit bergerak. Disusul kedua mata yang berkedip-kedip.


"Deon, kamu udah bangun nak? Ini mama sayang.." Pelukan hangat langsung menyelimuti tubuh lemah Deon. Tanpa disadari, seutas senyum terukir di bibir cowok itu.


"Kamu baik-baik aja kan? Sebentar, mama panggil dokter dulu ya."


Tangan Lia tergerak untuk memencet tombol yang ada di sebuah dinding, namun gerakannya tiba-tiba terhenti melihat gelengan kepala dari Deon.


Dengan susah payah, Deon mengucapkan beberapa kalimat. "Ma, Deon senang banget mama bisa ada disini. Tadi Deon mimpi ketemu sama Dea ma, disana Dea bahagia banget. Dea ngajak Deon pergi ma.."


"Ma.. maksud Deon apa? Deon nggak akan kemana-mana kan? Deon tetap disini sama mama kan?" Wajah Lia berubah menjadi panik, ia tak mau kehilangan anaknya kembali. Cukup Dea saja yang diambil oleh tuhan, jangan Deon. Ia masih ingin menikmati kebersamaan dengan Deon.


"Ma..afin Deon ma, mama jaga diri baik-baik ya."


Selepas berkata demikian, kedua mata Deon tertutup kembali. Lia lekas memanggil dokter untuk mengecek kondisi anaknya, namun dokter menyerah. Deon sudah tiada. Air mata langsung tumpah, memenuhi rumah sakit tempat Deon meninggal dunia.


"Deon... jangan tinggalin mama.. Deon..."


Tak hanya Lia yang merasakan duka mendalam. Melodi, Bi Munah dan Pak Tatang juga ikut merasakan hal yang sama. Sore itu, tepat pukul 15.30 WIB Deon meninggal dunia di rumah sakit kencana.


***


Setelah jenazah Deon dibawa pulang ke rumah dengan ambulans, para pelayat langsung datang berhamburan. Banyak diantaranya yang mengucapkan bela sungkawa dan tidak menyangka bahwa Deon bisa pergi secepat ini. Padahal, cowok itu tak pernah memperlihatkan penyakit yang dideritanya.


"Bang, gue senang sekaligus sedih sebenarnya dengar Deon meninggal." Ucap Gema ketika melayat ke rumah Deon. Dia datang bersama Melodi, Rendi, Sammy, Nisa, beserta teman-temannya yang lain.


"Wah, parah lo Gem. Teman meninggal malah senang." Celetuk Sammy yang mendengar percakapan mereka.


"Bukan gitu, gue senang karena saingan gue berkurang. Kalau sedih ya, gue juga tetap sedih. Gitu-gitu juga dia kan teman gue." Gema menyangkal perkataan Sammy.


Melodi menyimpan telunjuk di bibir, seraya berkata. "Suuut! Kalian tuh ya, nggak baik ngomong kayak gitu di rumah duka. Lebih baik mendoakan semoga almarhum tenang di alam sana."


"Tahu nih, malah pada ngerumpi lagi. Kalian nggak tahu apa kalau arwah Deon dengar kalian ngomongin dia?" Ujar Nisa menakuti ketiga cowok itu. Seketika mereka bergidik ngeri karena keusilan Nisa.


Rencananya, jenazah Deon akan dimakamkan pukul sembilan pagi hari. Keluarga menunggu kehadiran Riko, papa Deon yang tengah berada di Amsterdam. Sama halnya dengan Lia, Riko juga terpukul melihat anak lelaki satu-satunya itu pergi meninggalkan mereka untuk selamanya.


Jenazah Deon dimakamkan di TPU Melati, tempat Beno dulu dimakamkan. Setelah membaca doa, para pelayat satu persatu pergi, sambil sesekali mengucap bela sungkawa kepada keluarga Deon.


"Tante, yang sabar ya. Tante harus kuat. Tante nggak boleh nangis terus. Kasihan Deon disana tante, Deon juga pasti sedih kalau lihat tante kayak gini." Melodi mengusap punggung Lia pelan, berharap Lia bisa pulih dari kesedihannya.


"Mel, sebenarnya beberapa hari sebelum Deon pergi, dia nitipin ini buat kamu." Lia menyerahkan sepucuk surat kepada Melodi, dengan sopan Melodi menerimanya.


*Dear : Melodi Senja


Mel, ini gue Deon. Iya Deon, cowok yang dari semester 1 ngejar-ngejar lo. Nggak tahu kenapa, gue bisa suka sama lo. Padahal jelas-jelas lo udah punya pacar. Tapi anehnya, gue semakin gencar pengen dapatin lo. Gue egois ya? Emang gue egois. Kalau nggak egois bukan Deon Adirama namanya.


Mel, gue senang banget deh bisa kenal sama lo. Kalau kata orang lo beda dari cewek-cewek yang lain, it's true. Lo beda banget. Lo unik. Tapi sayangnya, lo nggak bisa jadi milik gue. Kenapa sih? Karena gue kurang ganteng? Padahal dibanding Gema sama Rendi, jelas gantengan gue kemana-mana.


Ya mungkin, tuhan emang tidak menakdirkan lo sama gue. Karena Tuhan nggak mau lo sedih. Lo perlu tahu satu hal Mel, gue sakit. Gue punya penyakit leukeumia stadium akhir. Lo kaget nggak? Pasti kaget lah ya, orang di sekolah gue kayak orang sehat. Padahal jauh di dalam diri, gue menyembunyikan sakit yang luar biasa. Itu semua gue lakuin demi lo sebenarnya. Gue nggak mau kelihatan lemah di mata lo.


Oh ya Mel, gue juga senang banget bisa satu kelompok sama lo. Walau harus banyak drama sama Gema, tapi jujur I'm so happy. Gue berharap sih, bisa seterusnya satu kelompok sama lo.

__ADS_1


Aduh, kayaknya gue kebanyakan nulis ya. Kasihan lo bacanya. Intinya, gue bahagia bisa kenal sama lo dan bisa suka sama cewek kayak lo Melodi Senja. I love you!


From : Deon Adirama*


Tanpa sengaja, air mata sudah membanjiri pipi Melodi. Biar bagaimanapun, Melodi merasa kehilangan sosok teman. Gema langsung memeluk cewek itu, menyalurkan ketenangan.


'Tak ada yang tahu, kapan dan dimana. Karena pada kenyataannya, manusia kelak akan mati.'


***


Beberapa bulan kemudian...


"Woy! Gue bawa berita bagus nih buat kalian." Gema datang bersama Melodi dan langsung menghebohkan seisi cafe.


"Apaan? Lo punya simpanan cewek cantik?" Celetuk Sammy.


"Ye.. bukanlah. Coba tebak lagi."


"Lo dapat harta karun?" Tebak Sammy.


"Salah." Ucap Melodi.


"Terus apa dong? Gema dapat nilai bagus?" Ujar Bianca.


"Kalian penasaran ya, oke kita kasih tahu. Kita mau tunangan!" Ucap Gema dan Melodi serentak.


Seketika, teman-temannya langsung kembali ke aktivitasnya masing-masing. Tidak memedulikan kedua sejoli yang tengah berbahagia itu.


"Kok kalian responnya biasa aja sih? Ini hari bahagia kita loh." Ucap Melodi sedikit jengkel.


"Ah, bang Rendi nggak asyik nih. Kan gue udah bilang jangan cerita dulu ke yang lain. Biar kita aja yang kasih tahu. Nisa juga nih samanya."


"Hehe, sorry. Mulut gue gatal habisnya."


***


Acara tunangan yang digelar di taman magenta berlangsung meriah. Dekorasi sederhana yang menyatu dengan alam sukses membuat kedua mata segar. Tamu-tamu undangan yang datang juga terlihat menikmati acara dan hidangan yang disajikan.


Sorak sorai terdengar begitu riuh tatkala Gema memasangkan cincin di jari manis Melodi begitu pula sebaliknya. Kedua insan itu tampak terlihat sangat bahagia.


"Nis, kita kapan ya kayak gitu." Sammy iri melihat kebahagiaan mereka.


"Lo nya kapan mau ngajak gue serius? Gue lihat lo masih suka ganjen sama cewek." Cibir Nisa tidak suka.


"Apaan? Gue setia kali sama lo."


"Setia kok jalan sama cewek. Kemarin gue lihat lo di alun-alun, mana cantik lagi ceweknya."


"Alun-alun? Oh, lo salah paham Nis. Dia tuh sepupu gue yang baru pulang dari Singapore. Rencananya mau gue kenalin sama si Rendi. Biar dia nggak galau terus karena Melodi."


"Bohong!"


"Benaran, dia juga kesini kok bentar lagi."

__ADS_1


Di tempat lain, Rendi tengah berfoto bersama Melodi dan Gema. Sesekali Bianca mencuri pandang pesona Rendi yang tampan berkali lipat lebih dari biasanya.


"Rendi ganteng banget ya.." Ucap Bianca pada kedua temannya.


"Iya ih, cocok banget kalau bersanding sama lo." Kata Bela.


"Gue jadi mau kayak mereka." Ucap Basma.


Neta, yang berada jauh dari kerumunan temannya rupanya mencuri pandang pesona Rendi juga. Sepertinya ia sudah memantapkan hati untuk mengatakan pada Rendi mengenai perasaannya. Apapun hasilnya, Neta akan mencobanya hari ini.


Beruntungnya, ketika Rendi turun dari atas panggung ia langsung menghindar dari Bianca yang ingin berfoto bersamanya. Sejauh mata Neta melihat, Rendi menuju ke arahnya. Sekumpulan kalimat sudah terkumpul di pikiran untuk diutarakan pada Rendi.


"Kak, gue.." Namun kalimatnya terhenti ketika melihat Rendi melewatinya, pergi menghampiri Nisa, Sammy, dan satu cewek cantik yang ikut bersama mereka. Neta merasa asing dengan cewek itu, karena sebelumnya ia tak pernah melihat cewek itu.


"Sorry, gue tadi foto-foto dulu. Lo nggak ikutan foto Nis?" Tanya Rendi.


"Gue nyusul deh nanti, soalnya gue mau kepo dulu." Katanya sambil nyengir.


"Kepo apaan?"


Rendi langsung menyadari bahwa bukan ada Nisa dan Sammy saja disitu, melainkan ada orang lain yang juga ikut berbincang dengan mereka. Cewek itu mengulurkan tangan dengan sopan.


"Hello, gue Keyna Kirana. Panggil aja gue Key."


Rendi menjabat tangan Keyna, seraya memperkenalkan diri. "Gue Rendi Permana, panggil aja Rendi."


"Gimana Ren? Ini sepupu gue yang pernah gue ceritain itu." Bisik Sammy di telinga Rendi.


"Gimana apanya?"


"Cantik kan? Udah, gebet aja. Mumpung dia lagi single."


"Apaan sih!"


"Eh, Sam. Kita foto dulu yuk sama Gema Melodi." Nisa langsung menarik lengan Sammy agar menjauh dari Rendi dan Keyna.


"Eh.. tunggu."


"Udah, nikmatin aja waktu kalian berdua. Pdkt dulu aja." Celetuk Sammy.


Suasana yang Rendi pikir akan terasa canggung rupanya tidak terjadi. Keyna bisa menghiasi suasana dengan candaan yang dibuatnya. Keyna seperti sudah kenal dekat dengan Rendi, padahal jelas-jelas mereka baru kenal hari ini.


Lama kelamaan, Rendi merasa nyaman dengan keberadaan Keyna. Sampai membuat Bianca dan Neta memasang wajah iri melihat Rendi dan Keyna yang terlihat begitu serasi.


"Key, kita foto yuk sama adik-adik gue." Ajak Rendi seraya menarik lengan Keyna dengan halus.


"Boleh."


Dan, acara foto bersama pun berlangsung kembali. Gema dan Melodi yang menyadari kalau Rendi membawa pasangan baru langsung melontarkan sejuta pertanyaan. Keduanya hanya tersenyum mendapati pertanyaan demikian.


'Suka dan duka adalah pewarna dalam kehidupan. Keduanya diciptakan agar kita mengerti arti keseimbangan. Dan aku beruntung bisa bertemu denganmu. Karena kamu telah memberi warna di hidupku.'


END

__ADS_1


Hai, my readers. Aku punya kelanjutan cerita dari A Romantic Badboy, judulnya I'm Confused. Bukan bentuk novel, tapi chat story. Jangan lupa baca yaaa❤️


__ADS_2