A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 26


__ADS_3

Kelompok belajar yang mereka bentuk terpaksa tidak beroperasi kembali akibat insiden yang terjadi seminggu ke belakang. Alhasil, mereka belajar otodidak. UAS ini merupakan penentuan kenaikan kelas. Maka sudah dapat dipastikan, jika Melodi tidak bersungguh-sungguh dalam menguasai materi, Melodi bisa tinggal kelas. Dan Melodi tidak mau hal itu terjadi.


Jadwal pertama UAS di kelas jurusan IPA adalah mata pelajaran fisika. Sementara di kelas jurusan IPS adalah mata pelajaran ekonomi. Soal yang tercantum dalam satu lembar kertas sebanyak 40 butir soal. Sedangkan durasi untuk mengerjakannya selama 120 menit. Pengawas kali ini Bu Loli, guru mata pelajaran fisika sendiri. Oleh karenanya, tidak boleh ada mata yang jelalatan selama UAS berlangsung. Jika tertangkap basah, mereka akan dikeluarkan dan diberi nilai 0. Menyeramkan bukan?


Melodi memilih untuk menatap lurus soal yang ada di hadapannya. Tidak ada tengok kiri kanan. Apalagi depan belakang. Melodi hanya fokus kepada satu titik. Pelan-pelan, Melodi mulai membaca butir demi butir soal. Otak kiri Melodi mulai bereaksi, sementara tangannya mulai bergerak membulatkan setiap jawabannya. Melodi merasa, otaknya bekerja sangat baik dalam pelajaran ini. Karena baru saja 90 menit waktu berlalu, Melodi sudah selesai mengerjakannya.


Salah satu peraturan ketika UAS ialah, peserta yang telah selesai mengerjakan soal harus menunggu diluar kelas. Hal ini dimaksudkan agar tidak mengganggu peserta lain yang masih mengerjakan. Kini, Melodi sudah berada di depan kelas. Menunggu Gema menyelesaikan soal UASnya. Melodi berdoa, supaya Gema diberikan kelancaran dalam mengerjakannya.


Lima belas menit kemudian, muncullah Gema dan beberapa siswa lain dari balik pintu. Dia mengembangkan senyumannya. Melodi menautkan alis, bingung dengan ekspresi wajah Gema saat ini. Gema segera menghampiri Melodi. Dia duduk di samping pacarnya sambil memainkan jari jemarinya.


"Gimana?" Tanya Melodi penasaran.


"Dari 40 soal yang diberikan, gue yakin 20 soal yang gue jawab benar." Gema tersenyum bangga. Dia memamerkan deretan gigi putihnya.


"Berarti, kalau misalkan 20..." Melodi menghitung nilai yang akan diperoleh Gema dalam pikiran. "Lo akan mendapat nilai 50. Ya.. lebih baik dari ulangan harian sebelumnya jika sesuai prediksi." Kata Melodi pada Gema.


"Wah, nggak sia-sia berarti lo ngajarin gue dalam waktu ekstra." Sahut Gema kegirangan.


"Tapi jangan senang dulu. Kita belum tahu hasil sebenarnya." Ucapan Melodi membuat bibir Gema mengerucut.


"Jadi, lo nggak percaya sama pacar lo satu-satunya ini?" Gema terlihat murung.


"Siapa bilang lo pacar Mel satu-satunya?" Tiba-tiba saja Rendi datang dan ikut bergabung.

__ADS_1


"Rendi juga pacar gue loh." Melodi menggandeng tangan Rendi. Menjaili Gema memang sangat menyenangkan. Lihat saja, wajahnya berubah menjadi jengkel hanya karena hal sepele. Semenjak kejadian yang menimpa keluarganya, Melodi sempat marah pada Rendi. Namun, karena Rendi meluruskan kesalahpahaman di antara mereka, Melodi mampu memaafkan Rendi dan menerimanya kembali sebagai teman.


"Hai beb." Canda Rendi. Sepertinya dia juga mengetahui akting Melodi.


"Jangan sentuh Mel!" Gertak Gema. Tangannya menepis gandengan Melodi.


"Uuuh, kejam banget. Kalau meluk gimana?" Rendi mencoba memeluk Melodi.


"Hentikan Rendi! Atau lo gue musnahkan!" Gema berlari mengejar Rendi yang kini tengah lari terbirit-birit.


Melodi tertawa terbahak-bahak melihat tingkah keduanya. Seperti anak kecil yang sedang memperebutkan sebuah permen. Mereka berlari, terkadang salah satunya terjatuh. Bahkan saling menjulurkan lidah satu sama lain. Atau pukul-memukul tangan. Suasana yang terlihat saat ini, tidak pernah terjadi sebelumnya. Sepertinya mereka sudah mulai berbaikan. Melodi turut senang melihatnya.


***


"Coba tebak." Sahut cowok itu.


"Kalau gue benar nebaknya lo harus traktir mie ayam, oke?" Tantang Nisa. " Ini pasti Gara kan?" Ucap Nisa tanpa ragu.


Gara melepaskan kedua tangannya dari mata Nisa. Dia memasang mimik wajah lucu di hadapan Nisa.


"Benar kan? Ayo mie ayam." Ajak Nisa, langkah kakinya menuju ke kantin.


"Jangankan mie ayam Nis, KUA juga ayo." Canda Gara pada Nisa. Gara dan Gema memang mirip, sama-sama tukang ceplas ceplos dalam bicara. Nisa hanya membalasnya dengan pukulan pelan di lengannya.

__ADS_1


Kantin telah ramai dipadati oleh para siswa. Membuat mereka sulit mencari tempat yang kosong. Namun, mata mereka tertuju pada meja di sudut kantin. Ada sepasang kekasih beserta mantan kekasihnya sedang bercakap-cakap. Akhirnya, mereka mendekati meja tersebut.


"Boleh gabung?" Gara langsung duduk di samping Rendi.


"Eh Gara sama Nisa. Dilihat-lihat, kalian sering banget berdua yah." Selidik Melodi, curiga dengan kedekatan mereka.


"Kalian pacaran kan?" Tuduh Gema. Memang ya, orang di sebelah Melodi ini selalu asal bicara.


"Suka sembarangan kalau ngomong." Melodi menggeplak tangan Gema. Sebenarnya, Melodi masih trauma dengan kejadian Nisa bersama Coki dahulu. Apalagi, Gara juga berstatus mantan narapidana.


"Ya, pokoknya doain aja secepatnya." Gara mengedipkan mata pada Nisa. Nisa hanya tersipu malu melihat tingkah Gara.


"Nggak, gue nggak akan doain kalian." Ucap Rendi tidak setuju.


"Kenapa?" Tanya Gema.


"Gimana nasib gue kalau kalian semua pacaran?" Keluh Rendi, dia mengacak-acak rambutnya.


"Kan ada gue." Suara yang tidak asing tiba-tiba muncul. Itu Bianca.


"Gue, sama lo?" Rendi mendengus kesal.


"Haha, udah terima aja Ren." Ledek Gema.

__ADS_1


Mereka hanyut dalam perbincangan yang bertema Bianca dan Rendi akan rujuk kembali. Pihak yang dibicarakan hanya diam saja, tidak mau ikut dalam perbincangan. Jika saja bel tanda masuk tidak berbunyi, sepertinya Rendi dan Bianca akan berkomitmen kembali.


__ADS_2