
"Pasien dengan nama Gema Angkasa tidak bisa diselamatkan."
Kalimat yang terdengar dari kedua telinga Melodi membuat langkahnya terhenti. Dadanya terasa sesak setelah mendengarnya. Melodi mencoba berpegang pada apapun yang bisa menopang tubuhnya, namun ia tak kuasa. Hingga akhirnya, ia pingsan saat itu juga.
Melodi kembali terbaring di atas bangsal setelah beberapa minggu lalu. Entah kenapa, akhir-akhir ini ia selalu pingsan setiap kali merasa khawatir.
Seketika Melodi kembali teringat perkataan dokter sebelum ia pingsan tadi. Dengan segera ia turun dari bangsal, mengabaikan Rendi yang melarang untuk pergi. Dalam pikirannya hanya ada nama Gema, tidak ada yang lain.
Langkahnya begitu tergesa-gesa, sampai ia tidak sadar bahwa ia hampir saja menabrak seseorang jika ia tidak menghentikan langkahnya.
"Ma, maaf." Melodi mendongakkan kepala seraya melihat orang yang ada di hadapannya. Seketika ia membelalakkan mata, terkejut dengan apa yang dilihat.
"Loh, Mel?" Ucap Gema sambil mengibaskan telapak tangannya tepat di depan mata Melodi.
Melodi tidak membalas perkataannya, ia lebih memilih untuk memeluk cowok itu. Betapa bersyukurnya ia bahwa ternyata ucapan dokter tadi tidak benar. Gemanya masih hidup, dia belum meninggal. Melodi memeluknya sangat erat, tak peduli dia yang memintanya untuk melepaskannya.
"Mel, lo kenapa sih?" Tanyanya, mungkin dia bingung dengan sikap Melodi yang tiba-tiba seperti ini.
"Pokoknya, gue senang banget." Melodi merenggangkan pelukannya.
__ADS_1
"Senang kenapa?" Gema bertanya lagi, dia semakin bingung dengan situasi.
"Gue senang karena lo masih hidup." Sahut Melodi girang, tapi ternyata perkataannya tadi malah membuat Gema cemberut. "Loh kenapa?" Melodi balik bertanya.
"Jadi lo mendoakan gue mati?" Gema menaikkan intonasi suaranya. Bukannya marah, Melodi malah tertawa melihat tingkahnya.
"Bukan gue. Tapi dokter tadi yang bilang."
"Dokter? Dia bilang kalau gue mati? Wah, minta dimusnahin itu dokter." Gema mengepalkan tangan, berniat menghajar dokter yang mengatakan hal itu.
"Ih, udah, udah. Apaan sih," Kata Melodi, mencoba menghentikan aksi brutalnya. "Seharusnya gue yang musnahin lo, karena lo udah bikin gue panik setengah mati." Melodi berdecak kesal.
"Tentu saja bisa. Kalau lo mati, gue kan bisa pacaran sama oppa-oppa Korea."
"Melodiii." Gema mengejar Melodi yang sudah berlari meninggalkannya.
Melodi berhenti di taman rumah sakit, kemudian duduk di bangku yang disediakan. Melepaskan segala masalah yang sudah menimpanya, berharap mereka pergi menjauh dan tidak akan pernah kembali. Di sampingnya, kini telah duduk cowok yang selalu setia menemaninya dan rela melakukan apapun untuknya. Ya, dia adalah Gema Angkasa, pacar yang sangat Melodi cintai.
"Oh ya Gema, lo mau lihat senja kan?" Tanya Melodi padanya yang tengah menikmati langit yang perlahan berubah menjadi kemerahan.
__ADS_1
"Lo kan bilang ke gue kalau lo nggak menyukai senja. Maka gue pun nggak akan menyukainya apalagi melihatnya." Sahutnya, matanya masih belum berpaling dari sana.
"Tapi sekarang gue memutuskan untuk menyukai senja."
"Kenapa?"
"Karena, senja dan angkasa selalu bersatu, dan itu membuat keduanya bahagia. Sama seperti kita." Melodi bersandar di bahu Gema.
"Lo benar. Tapi, gue lebih menyukai senja di samping gue sekarang. Bagi gue, senja yang ini lebih indah daripada di angkasa sana." Ucapnya, membuat Melodi tersipu malu. "Walaupun.." Gema menggantungkan kalimatnya.
"Walaupun apa?" Tanya Melodi penasaran.
"Walaupun dia menyebalkan." Ucapnya, kemudian berlari begitu saja. Melodi yang tidak terima dengan perkataannya ikut mengejarnya.
Mereka saling mengejar, mengelilingi taman rumah sakit. Tak peduli dengan orang-orang sekitar yang memperhatikan mereka. Bahkan, Melodi juga seperti tidak merasakan sakit yang ada di kakinya.
Setelah lelah berlarian kesana kemari, mereka duduk kembali di bangku taman. Menikmati sunset yang akan segera muncul kemudian dilanjutkan dengan senja. Momen yang sempat mereka lewatkan kala itu. Di dalam angin yang berhembus, Melodi membisikkan sesuatu di telinga Gema.
"Gema Angkasa, gue mencintaimu. Terimakasih sudah menjadi bagian dalam hidup gue."
__ADS_1