
Misi pertama dimulai. Pukul tujuh malam, semua telah siap di posisi masing-masing. Melodi memantau Rendi dari kejauhan. Kini, Rendi tengah memasuki mobil, melajukan mobilnya ke arah rumah Coki.
Tok. Tok. Rendi mengetuk pintu rumah Coki. Tak lama, seseorang membukakan pintu untuk Rendi.
"Loh, Rendi. Ngapain lo malam-malam gini ke rumah gue? Ada perlu apa?" Coki sedikit terkejut karena kedatangan Rendi secara tiba-tiba.
"Temenin gue nonton pertandingan basket yuk. Gue punya dua tiket nih. Cuma gue bingung mau ngajak siapa. Lo tahu sendiri lah, gue sama Melodi kan udah putus. Nggak mungkin kalau gue ajak dia." Ucap Rendi sambil memperlihatkan dua lembar tiket pertandingan basket yang dipegangnya.
"Wah? Serius lo? Kalau gitu, gue ganti baju dulu ya. Bentaran kok, lo tunggu disini jangan kemana-mana." Coki begitu antusias, dia buru-buru masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian. Dalam sekejap, dia telah siap pergi dengan mengenakan pakaian santainya.
Rendi mengedipkan mata pada Melodi, memberi isyarat bahwa sandiwara pertamanya berhasil. Melodi yang sedang sembunyi di balik semak, hanya mengacungkan kedua ibu jari tanpa mendongakkan kepala sama sekali.
Mobil perlahan pergi meninggalkan rumah Coki. Melodi, dan mas gojek yang setia membantunya hari ini, mengikuti mereka dari belakang. Sepuluh menit kemudian, mobil menepi di warung yang sudah tutup.
"Kok kita berhenti disini Ren? Kan tempatnya masih jauh." Tanya Coki.
"Sebentar Cok, gue kebelet." Rendi keluar dari mobil, meninggalkan Coki yang terkurung dalam mobil.
Lima menit berlalu. Tak ada tanda-tanda kedatangan Rendi sama sekali. Coki mulai gelisah, dia membuka ponselnya untuk menelepon seseorang. Sepertinya dia menelepon Rendi. Tetapi, berkali-kali dia mencoba menghubungi, hasilnya nihil. Kemudian, sebuah telepon masuk dari nomor tidak dikenal muncul di layar ponsel Coki. Tanpa ragu, Coki mengangkatnya.
"Halo?"
"Cepat datang kesini, kalau tidak pacar lo akan mati Coki."
"Apa maksud lo ngomong kayak gitu?"
"Pacar lo sedang berada di tangan gue saat ini."
"Siapa lo? Apa mau lo? Jangan berani-berani sentuh pacar gue."
"Cepat datang ke gudang yang ada di sekitar daerah lo. Jangan lapor polisi atau bawa orang lain. Jika dalam lima belas menit lo belum sampai, maka gue akan menghabisi cewek lo."
Bip. Telepon mati begitu saja. Coki mulai panik. Dia mencoba menelepon Rendi kembali, tapi nomornya mendadak tidak aktif. Coki kebingungan, dia tidak tahu harus berbuat apa. Daerah yang Coki singgahi sangat sepi. Tidak ada mobil atau motor yang berlalu lalang. Hingga akhirnya, Gema datang dari radius sepuluh meter menuju kediaman Coki.
"Mas, mas, saya boleh minta tolong nggak?" Coki keluar dari mobil, menghampiri Gema yang tengah duduk di balai warung.
"Minta tolong apa ya?" Gema berusaha bersikap ramah.
__ADS_1
"Teman saya tadi izin pergi ke toilet, tapi dia belum kembali sampai sekarang." Wajah Coki terlihat begitu khawatir. Keringat dingin mulai mengalir di sekujur tubuhnya.
"Toilet? Setahu saya, di daerah sini tidak ada toilet. Memangnya dia pergi ke arah mana?" Gema bertanya kembali.
"Ke arah sana mas." Coki menunjuk hutan besar yang terletak di belakang warung.
"Kamu harus mengikhlaskan temanmu. Karena, tidak ada yang kembali lagi setelah dia masuk ke dalam hutan terlarang itu. Terakhir saya mendengar beritanya, mereka dimakan oleh binatang buas. Tetapi, ada juga yang mengatakan bahwa mereka diculik oleh penghuni hutan ini." Nada bicara Gema membuat Coki bergidik ketakutan.
"Mas, mas tidak sedang mengada-ada kan?" Kekhawatiran Coki mulai menjadi-jadi.
"Jika kamu tidak percaya, silakan saja coba sendiri." Gema beranjak dari duduknya, meninggalkan Coki.
"Tu.. tunggu." Coki menarik tangan Gema, mencegahnya untuk pergi. "Sebenarnya, saya harus pergi ke gudang sekitar daerah sini. Pacar saya diculik oleh seseorang. Saya tidak tahu harus kesana menggunakan apa. Mobil yang saya tumpangi tadi milik Rendi, teman saya. Sementara saya tidak bisa menyetir. Bisakah mas membantu saya? Mas tahu kan lokasinya?" Coki memohon pada Gema agar dia membantunya.
"Gudang sekitar sini?" Gema tampak berpikir. "Oh! Saya tahu! Kita hanya perlu menghabiskan waktu sepuluh menit untuk mencapai kesana. Baiklah, saya akan membantumu." Gema melepaskan genggaman tangan Coki.
Jalanan yang begitu sepi menambah kesan mistis cerita yang dibicarakan Gema tadi. Coki menutup kaca mobil rapat-rapat, agar tidak ada sosok menakutkan yang mencoba menerkam atau menculiknya. Cerita Gema benar-benar membuat Coki ketakutan. Sampai-sampai, dia tidak berani membuka mata sama sekali selama di dalam mobil.
"Kita sudah sampai." Sahut Gema pada Coki yang masih menutup matanya.
"Terima kasih." Ucap Coki, kemudian keluar dari dalam mobil.
"Mas tidak usah ikut, karena penculiknya akan menghabisi pacar saya jika saya membawa orang lain." Coki menghentikan langkah Gema.
"Baiklah, kalau kamu butuh pertolongan, saya menunggu di depan gerbang sini." Gema membalikkan badan, berjalan ke arah gerbang.
Coki menghidupkan senter di ponselnya, berjalan dengan perlahan menyusuri halaman sambil sesekali memanggil nama pacarnya. Dia mencari gudang tempat pacarnya disekap. Namun, sejauh dia berjalan, dia tidak menemukan gudang tersebut. Yang ada hanyalah pepohonan, semak-semak, dan tanah yang banyak dengan bebatuan.
"Lo datang tepat waktu. Ikuti petunjuk gue jika ingin pacar lo selamat. Cari kertas yang sudah gue selipkan di bawah pohon."
Bip. Telepon mati kembali. Coki mulai mencari kertas yang dikatakan oleh penculik tersebut. Dia mencari di setiap pohon, dan dia menemukan kertas pertama. Isinya adalah 'kamu harus minta maaf, atau pacarmu yang akan menanggung akibatnya'. Coki membuang kertas tersebut setelah membacanya. Tidak menghiraukan isi dalam kertas tersebut.
Kemudian, dia mencari kertas yang lain. Kali ini isinya adalah 'kamu telah mengabaikan isi kertas pertama, maka pacarmu akan menanggung akibatnya'. Tiba-tiba, terdengar suara teriakan cewek yang begitu keras, seperti merasa kesakitan. Coki mencari-cari asal suara tersebut. Namun dia tidak berhasil menemukannya. Hingga dia sampai di kertas terakhir. Isinya adalah 'kamu tidak akan berhasil menyelamatkan pacarmu. Kutegaskan sekali lagi, kamu harus meminta maaf. Dan kamu harus berjanji untuk pergi menjauh darinya. Selain itu, kamu juga harus putus dengan pacarmu. Jika tidak, akan kupastikan kamu dan pacarmu akan hidup menderita'.
"Apa maksud kekonyolan ini? Gue harus minta maaf ke siapa, bodoh?" Geram Coki sambil *** kertas tersebut.
"Nisaaa.." Suara menyeramkan terdengar begitu saja.
__ADS_1
"Si.. si.. siapa disana? Cepat keluar kalian! Gue nggak takut sama ancaman kalian!" Coki bangkit, berjaga-jaga jika ada seseorang yang akan melukainya.
Dari arah utara, datang sosok berpakaian putih, Coki menghampiri sosok tersebut. Namun, dia malah menjerit karena sosok itu adalah kuntilanak. Coki berlari tunggang langgang, hingga akhirnya dia terjatuh di depan kaki yang terbalut kain putih.
"Maafin gue, gue nggak sengaja." Coki mendongakkan kepala, namun ternyata yang dia tabrak bukanlah manusia. Melainkan sosok pocong yang menyeramkan.
"Aaaaah... pocoooong..." Coki segera bangkit, berlari menuju gerbang untuk meminta pertolongan Gema. Namun, gerbang terkunci begitu saja. Padahal, saat Coki datang gerbang ini tidak dikunci sama sekali.
"Mas, mas, tolong saya." Coki menarik-narik gagang pintu, berharap Gema mendengar suaranya. Namun, tidak ada sahutan sama sekali.
"Sini, biar aku yang menolongmu." Suara wanita yang begitu menyeramkan membuat bulu kuduk Coki berdiri. Coki menengok ke samping. Dia menjerit kembali, sampai-sampai dia pipis di celana. Di hadapannya, kini seorang wanita dengan perut yang mengeluarkan banyak darah.
"Sundel bolooong...." Coki mencoba memanjat gerbang. Namun, gerbang yang cukup tinggi tidak dapat dijangkaunya. Sementara sundel bolong itu menarik-narik kaki Coki, membuatnya terjatuh ke tanah.
Coki berjalan dengan posisi setengah terbaring. Dia tidak tahu harus melakukan apa. Dia tidak sanggup lagi untuk berlari.
"Coki, kamu harus meminta maaf pada Nisa. Hihihi..." Suara kuntilanak yang sedang duduk di pohon membuat Coki menoleh ke arahnya.
"Jika tidak, kamu akan menanggung akibatnya." Coki berhenti karena di belakangnya ada sosok yang menghalangi. Coki mendongakkan kepala, itu pocong.
"Kamu juga harus putus dengan pacarmu, jika kamu melanggar maka kamu dan pacarmu akan menderita." Sundel bolong di depannya tertawa, membuat keringat Coki bercucuran. Sedetik kemudian, Coki pingsan di tempat.
Coki dibopong oleh Rendi dan Gara menuju mobil yang telah disiapkan. Kemudian, mobil tersebut melaju meninggalkan tempat itu.
"Kalian sukses hari ini." Melodi mengacungkan kedua ibu jari.
"Mari kita tos..." Sahut Rendi, si kuntilanak.
"Hei, lo gila ya. Gue nggak bisa tos, tangan gue diikat gini." Gema si pocong menggerakkan badannya, mencoba melepas ikatan.
"Haha, itu nasib lo pocong." Ledek Gara si sundel bolong, membuat Gema melempar tatapan menyeramkan.
"Uuuh seram. Maafin gue, tuan pocong." Gara membungkukkan badannya.
"Haha, udah udah. Pokoknya, kalian sukses hari ini. Gue bangga banget sama sandiwara kalian." Melodi melemparkan senyuman, tetapi ketiga cowok itu malah memasang tampang menyeramkan. "Ka, kalian masih cowok-cowok konyol yang gue kenal kan?" Melodi berjalan mundur perlahan.
"Haha, emang segitu seramnya ya kita?" Tanya Rendi.
__ADS_1
"Ya jelas lah, lebih menyeramkan daripada hantu aslinya." Sahut Melodi, kemudian berlari ke dalam mobil Rendi yang sudah terparkir di depan gerbang.
"Hahaha." Ketiganya menertawakan cewek itu yang berlari karena ketakutan.