A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 49


__ADS_3

"Ren, gue balik duluan ya." Pamit Sammy pada Rendi yang langsung dibalas dengan anggukan kepala. Kemudian Sammy berteriak pada cowok yang masih betah dengan posisinya. "Woy! Gue balik duluan ya! Jangan kebanyakan diam, nanti kesambet penunggu sekolah ini tahu rasa lo."


Tidak ada sahutan dari pihak yang diteriaki. Sammy lekas menggendong tasnya di punggung, lalu melambaikan tangan pada mereka.


Jujur saja, sedari tadi Rendi sudah ingin pulang. Perutnya keroncongan akibat aktivitasnya yang cukup padat hari ini. Namun, Rendi tidak bisa meninggalkan adiknya begitu saja. Bagaimana jika terjadi suatu hal buruk padanya?


Akhirnya, dengan terpaksa Rendi menunggu Gema. Sambil bertopang dagu, ia membuka ponselnya, kemudian mengirimkan pesan kepada Melodi.


Mel, pacar lo nih nyusahin gue. Nggak tahu apa gue mau balik. Dia malah diam nggak jelas gitu di lapangan indoor sekolah.


_Rendi


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Rendi kembali menatap ke arah lapangan dimana Gema berada. Baru kali ini ia melihat adiknya serapuh ini. Padahal kalau dipikir kembali, Melodi dan Deon hanya sebatas menjadi rekan kelompok saja, tidak lebih. Gema terlalu mendramatisir situasi yang ada.


Setelah merasa puas melampiaskan segala amarahnya, Gema melempar bola basket itu dengan asal. Bola itu menggelinding entah kemana, persis seperti hatinya yang tengah melayang entah kemana. Raut wajahnya sangat sendu, berbeda dengan orang yang kelelahan selepas bermain basket.


Dengan langkah gontai Gema menghampiri Rendi yang sudah sejak tadi setia menemaninya. Walaupun Gema tahu, abangnya kesal karena perbuatannya. Tetapi, Rendi masih tetap mau menunggunya, melampiaskan segala kekesalan yang ada di dalam hatinya.


Gema duduk di samping Rendi yang sudah memasang tampang datar. "Gimana? Udah puas?"


Gema hanya menganggukkan kepalanya. Tangannya mengulur, membuat Rendi bingung. "Apaan?"


"Gue mau minum. Haus banget." Dengan wajah tanpa dosanya.


Rendi mengerutkan kening. "Lo daritadi cuma dribble bola doang loh. Gimana caranya lo bisa haus? Ngaco banget."


"Bang, lo nggak tau apa. Tadi gue habis berjuang sama hati gue. Mati-matian gue ngelawan supaya hati gue bisa berdamai sama situasi sekarang." Jawab Gema yang terdengar begitu melankolis. Rendi langsung memutar bola jengah ketika mendengar jawaban dari Gema.


"Ayo." Tangan kanan Rendi menarik tangan kanan Gema, sementara tangan kirinya membawakan tas milik adiknya.


"Mau kemana? Gue kan minta minum." Gema mengelak.


Rendi mendengus kesal, lalu mengatur napasnya yang naik turun tidak karuan hanya karena Gema. "Minum gue habis. Emangnya lo mau minum keringat gue?"


Gema tertawa terbahak begitu mendengar ucapan konyol dari abangnya. Rasanya, kekesalannya lenyap sudah setelah mendapatkan lawakan dari abangnya sendiri. Terkadang Rendi menjadi orang yang ceplas ceplos di situasi yang memungkinkan.


Tanpa sadar, Rendi menyunggingkan senyumannya. Ia merasa senang adiknya bisa ceria kembali. Ia selalu berharap, adiknya terus seperti ini.


***


Melodi masih berkutat dengan ponselnya sejak beberapa menit yang lalu. Ia menelepon sang pacar, tapi ia selalu mendapat jawaban dari operator. Melodi khawatir, takut Gema melakukan sesuatu yang tidak wajar. Pasalnya, suasana hati Gema sedang tidak baik hari ini.


Melodi dan Gema bisa dibilang jarang sekali pulang bersama. Mengingat jarak rumah mereka yang berjauhan, dan Gema tidak enak pada Nisa. Gema selalu membawa motor setiap ke sekolah, jika ia mengajak Melodi bersama, bagaimana nasib Nisa? Begitu maksud Gema. Padahal Nisa sendiri tidak pernah mempermasalahkan itu. Dia bisa pulang naik taksi atau ojek online.


Namun kali ini, entah ada angin dari mana tiba-tiba saja Gema memintanya untuk pulang bersama. Mungkin Gema takut kalau Melodi diantar oleh Deon. Oleh karenanya, dia langsung gerak cepat meminta Melodi untuk pulang bersamanya.


Tapi pada kenyataannya, Melodi masih berada di dalam kelas. Bel sudah berbunyi sekitar setengah jam yang lalu. Teman-teman yang lain sudah pulang ke rumah masing-masing. Dan Melodi, masih berdiam di kelas menunggu Gema yang katanya izin pergi ke toilet sebentar.


Di tengah kekhawatirannya, Melodi mendapat sebuah pesan dari Rendi. Tanpa membalas pesan itu, Melodi lekas mengambil tasnya dan berlari menuju tempat yang disebutkan oleh Rendi di pesan.


Melodi berlari-lari di koridor kelas XI. Karena kecerobohannya, kepalanya dengan mulus menabrak dada bidang milik seorang cowok. Melodi spontan mendongakkan kepala, dan mendapati seorang cowok dengan wajah sumringah.


"Loh Melodi? Mau kemana? Kok lari-lari kayak gitu?" Tanyanya sambil mundur beberapa langkah, memberikan jarak di antara mereka.


Bukannya menjawab pertanyaan Sammy, Melodi malah menundukkan kepalanya. "Sorry Sam, gue nggak sengaja." Kedua telapak tangannya dirapatkan, memberi isyarat bahwa ia dengan tulus meminta maaf.


"Haha, santai aja kali. Lo belum jawab pertanyaan gue loh. Lo mau kemana?" Tanya Sammy lagi. Jiwa penasarannya kembali muncul.


"Gue mau ke lapangan indoor."


Merasa mengetahui dengan apa yang sedang dicari Melodi, Sammy lantas berkata. "Oh, dia dari tadi diam tuh disana. Galau banget kayaknya."


"...ya udah, gue duluan ya. Ada janji sama seseorang soalnya."


Melodi menghiraukan perkataan Sammy, ia lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju lapangan indoor sekolah.


Sesampainya disana, Melodi langsung mengedarkan pandangan ke segala arah. Mencari dimana sosok itu berada. Tetapi, sejauh matanya mencari, sosok yang sedang ia cari tidak terlihat sama sekali. Lebih tepatnya ia tidak ada disini. Melodi semakin khawatir, ia kembali menelepon Gema, namun kali ini ponselnya tidak aktif.


Aduh, lo kemana sih Gema. Bikin gue khawatir aja. Batin Melodi.

__ADS_1


Karena merasa tidak menemukan Gema, akhirnya Melodi berjalan keluar dari lapangan indoor. Sekolah tidak begitu sepi mengingat masih banyak murid yang menghidupkan sekolah dengan kegiatan ekstrakurikulernya. Karena tidak ingin pulang seorang diri, akhirnya Melodi berjalan menuju kelas Nisa.


"Nis, kita pul-"


Ucapannya terpotong ketika melihat Nisa sedang bercanda tawa dengan cowok yang Melodi kenal. Itu Sammy. Sedang apa dia disini?


Merasa ada yang memperhatikan, Sammy menoleh ke sumber suara. Di depan pintu, sudah berdiri seorang cewek dengan rambut dikuncir ala ekor kuda dan tas pink yang menghiasi punggungnya. Ia memasang tampang meminta pertanyaan yang tertuju pada Nisa.


"Jadi kalian?" Tanya Melodi tidak percaya. Ia berjalan mendekat ke arah Nisa dan Sammy.


Nisa yang tertangkap basah hanya bisa memasang wajah polos, dengan cengiran lebar di bibirnya. Sementara Sammy, ia hanya menggaruk rambutnya yang Melodi yakini tidak gatal sama sekali.


"Kok lo nggak cerita sama gue?" Tanya Melodi meminta penjelasan.


"Gue baru mau cerita hari ini, eh udah keburu ketahuan sama lo."


Melodi mengalihkan pandangannya ke arah Sammy, Sammy langsung merasa terintimidasi ketika Melodi menatapnya seperti itu. Namun, dugaannya ternyata salah besar. "Waaah, selamat ya buat kalian. Kalau gitu, sekarang gue dapat traktir dong. Pajak jadian kan. Ayo." Ajak Melodi kepada keduanya.


Nisa dan Sammy saling bertatapan, mereka bermain mata yang tidak Melodi ketahui. Gerak-geriknya seperti meminta salah satunya berkata pada Melodi.


"Cepatan lo kasih tahu ke dia." Kata Nisa setengah berbisik.


"Lo aja ah." Balas Sammy.


"Lo aja."


"Lo aja."


"Kalian kenapa sih bisik-bisik kayak gitu?" Melodi sedikit curiga dengan sikap Nisa dan Sammy.


Dengan terpaksa, Nisa menjawab. "Mel, sorry banget ya. Gue mau jalan berdua aja sama Sammy. Kita mau ke cafe louis."


"Oh gitu, ya udah. Gue kan bisa nebeng sampai gang rumah aja." Ucap Melodi sangat antusias. Melodi benar-benar tidak paham dengan gerak-gerik Sammy dan Nisa.


"Bukan gitu. Masalahnya, Sammy nggak bawa mobil hari ini."


Melodi spontan menggebrak meja. "Loh, kenapa nggak bilang daritadi sih?"


"Tadinya sih gitu, cuma kayaknya dia udah pulang duluan deh."


Benar juga. Nisa dan Sammy tidak melihat sama sekali batang hidung Gema. Kalau ada Gema, pasti dia langsung heboh saat mengetahui Nisa dan Sammy resmi berpacaran.


Dengan hati-hati, Sammy bertanya pada Melodi. "Lo lagi ada masalah ya sama dia?"


Melodi menggigit bibirnya, kemudian memutar bola matanya ke kanan dan ke kiri. "Cuma masalah sepele sih sebenarnya. Tapi ya udahlah. Have fun ya buat kalian."


Melodi melambaikan tangan kepada Nisa dan Sammy, lalu keluar dari kelas Nisa.


***


Melodi langsung teringat sesuatu selepas keluar dari kelas Nisa. Ia lekas merogoh ponsel yang ada di saku roknya, kemudian menelepon seseorang. Tak lama, seseorang yang ia telepon menjawab panggilan Melodi.


"Halo Mel?"


"Halo Ren? Lo sama Gema?"


"Nggak, kenapa?"


"Tadi lo ketemu sama Gema tapi?"


"Iya, tadi dia galau banget. Tapi santai aja, sekarang dia lagi di jalan pulang kok."


"Dia baik-baik aja kan? Kenapa nggak pulang bareng sama lo aja sih."


"Iya dia baik-baik aja kok. Loh gimana sih. Gema kan bawa motor sendiri."


"Ya udah deh, kabarin gue kalau udah sampai rumah."


Melodi memutus panggilan begitu saja. Ia menghela napas lega setelah mendapat kabar bahwa Gema baik-baik saja. Perlahan, kekhawatirannya hilang seketika.

__ADS_1


Sekarang, Melodi tinggal memikirkan bagaimana ia pulang. Sambil mencari ide, Melodi berjalan menuju gerbang depan sekolah. Sepertinya ia akan pulang naik taksi.


Melodi menghentakkan kakinya ke permukaan trotoar sambil menunggu taksi kosong yang lewat. Tak lama, muncul sebuah mobil dari arah timur, berhenti di depan Melodi. Sang pemilik mobil langsung membuka kaca mobil ketika melihat Melodi.


"Mel, nungguin siapa?"


Itu Deon. Cowok yang sudah membuat hubungannya sedikit renggang. Kenapa ia ada disini?


Karena tidak ada respon dari Melodi, Deon bertanya lagi. "Mel, nungguin siapa?"


"Taksi." Jawab Melodi dengan singkat.


Deon keluar dari dalam mobil, lalu menghampiri kediaman Melodi. Deon lekas membuka pintu mobil penumpang, meminta Melodi untuk masuk.


"Gue, bisa pulang sendiri kok." Tolak Melodi.


"Yakin?"


Melodi mengangguk, tidak mau banyak basa basi.


"Eh Mel, lihat ke atas deh." Ucap Deon tiba-tiba.


Sontak Melodi mendongakkan kepalanya ke atas, menatap langit yang berwarna abu-abu. Matahari sudah tertutup oleh awan, menandakan sebentar lagi akan turun hujan. Melodi langsung mengerti perkataan Deon, dengan cepat ia masuk ke dalam mobil. Bukan apa-apa, Melodi tidak mau membuat bundanya khawatir apalagi kalau melihat anaknya pulang dalam keadaan basah.


Sepanjang perjalanan, Melodi memilih untuk diam. Padahal, Deon sedari tadi mengajaknya berbicara, bahkan bercanda. Namun Melodi tidak ada keinginan untuk membalasnya. Merasa keadaan menjadi canggung, Deon memutar musik pop Indonesia yang berjudul 'harusnya aku' yang dibawakan oleh grup band armada. Sebuah lagu yang mewakili segenap perasaan Deon.


Melodi langsung merasa kalau Deon tengah menyindir dirinya dengan lagu itu. Alih-alih mendengarkan musik yang diputar oleh Deon, Melodi memilih memasang earphone di telinganya. Lebih baik mendengar musik favoritnya daripada musik sindiran ala Deon.


Deon tersenyum ketika melirik Melodi asyik dengan dunianya. Melodi memang sangat sulit untuk dilumpuhkan. Deon harus mencari cara yang jitu agar Melodi bisa jatuh ke dalam pelukannya. Karena sampai kapanpun, Deon tidak akan menyerah kalau belum mendapatkan apa yang diinginkannya.


Setengah jam kemudian, mobil menepi di sebuah rumah megah. Deon kembali melirik cewek di sampingnya, ia sudah terlelap sejak beberapa menit yang lalu. Deon menepuk pundak Melodi pelan, seraya membangunkannya.


"Mel, kita udah sampai."


Kelopak mata Melodi berkedut-kedut, disusul dengan kedua matanya yang mengerjap. "Oh, udah sampai ya. Makasih." Ucap Melodi sambil membuka earphone di telinganya. Lalu memasukkan ponsel beserta earphone ke dalam tasnya. Masih dengan setengah nyawa, Melodi keluar dari mobil Deon.


Deon melambaikan tangan pada Melodi ketika Melodi berjalan menjauh darinya. Padahal jelas-jelas Melodi tidak menoleh sama sekali. Tapi sungguh, kebahagiaan tersendiri bagi Deon bisa mengantar Melodi pulang. Setidaknya, ia merasa selangkah lebih maju.


***


Setelah bersalaman dengan Gina, Gema langsung memasuki kamarnya yang terletak di lantai atas. Gina keheranan melihat tingkah anaknya yang sedikit berbeda, ia langsung melontarkan sejuta pertanyaan pada Rendi.


"Dia kenapa?" Tanya Gina sambil menyesap secangkir teh hangat. Aktivitas siangnya kalau tidak memanjakan dirinya, tentu saja pergi arisan bersama teman-temannya.


"Biasa, galau dia ma." Sahut Rendi sekenanya. Ia mengambil kue nastar yang tersimpan di atas meja, kemudian melahapnya begitu saja.


"Galau kenapa?"


"Melodi sekelompok sama Deon."


"Loh terus? Apa hubungannya?"


"Deon suka sama Melodi, jadi dia cemburu ma."


Gina terbahak-bahak mendengar cerita dari Rendi. Anak bungsunya itu rupanya masih jauh dari kata dewasa. Tubuhnya saja yang tinggi besar, tapi kelakuannya masih cocok jika disandingkan dengan anak tk.


"Oh ya ma, mama masak apa hari ini?" Ucap Rendi mengalihkan perhatian.


"Itu, kamu lihat aja sendiri di meja makan. Sana makan gih, pasti lapar kan. Biar mama nanti yang ngomong sama Gema."


Tanpa menjawab perkataan Gina, Rendi langsung melesat menuju meja makan. Ia memilih untuk mengisi perutnya yang sedari tadi meronta-ronta. Rendang daging sapi dengan kentang kering balado langsung disantapnya begitu saja.


Di sisi lain, Gema melempar tasnya asal ke lantai kamar. Lalu merebahkan dirinya ke atas kasur, mencoba memejamkan matanya. Entah mengapa Gema merasa dirinya menjadi lemah sekali hanya karena masalah sepele seperti tadi.


Gema memaksakan matanya untuk terpejam, tetapi tidak kunjung bisa. Akhirnya, ia memutuskan mengambil ponselnya yang sedari tadi ia lupakan. Gema sengaja mematikan ponselnya karena ia malas diganggu jika sedang merasa kesal.


Begitu menyalakan ponsel, sederet pesan dan panggilan tak terjawab langsung bermunculan. Semua itu berasal dari Melodi. Gema jadi merasa tidak enak hati pada Melodi karena telah membuatnya khawatir. Dengan sedikit keraguan, Gema menekan tombol panggil kepada pacarnya dan betapa terkejutnya ia ketika panggilannya dijawab cepat oleh pacarnya.


"Gema, lo kemana aja sih? Gue khawatir banget tahu sama lo. Lo baik-baik aja kan? Please, maafin gue. Harusnya gue tadi nolak aja tawaran lo. Gema, jangan marah dong. Gue janji, gue nggak akan macam-macam kok sama Deon. Gue satu-satunya pacar lo, dan lo satu-satunya pacar gue. Nggak akan ada orang lain di antara kita. Jadi please, percaya ya sama gue? Gema, kok nggak jawab sih? Halo? Halo?"

__ADS_1


Gema memilih untuk mendengarkan segala kekhawatiran Melodi. Senyuman tersungging begitu saja ketika mendapati Melodi begitu perhatian padanya. Masih dengan ponsel menempel di telinga, dan suara Melodi yang mengoceh di seberang sana, Gema kembali memejamkan mata. Kali ini ia benar-benar terjun ke alam mimpinya. Baginya omelan Melodi seperti pengantar tidur.


__ADS_2