
Sudah dua hari Melodi tidak melihat batang hidung Rendi. Apa Rendi masih marah padanya? Rasanya, Melodi ingin mencoba menghubungi Rendi. Melodi mengambil ponsel yang tergeletak di atas meja. Kemudian, ia mulai mengetikkan beberapa kata dalam kolom pesan. Berulang kali ia ketik, berulang kali juga ia hapus. Pikirannya buntu sekali, Melodi bingung harus mengirimkan pesan apa kepada Rendi.
"Woy!" Gara menggebrak meja, membuat Melodi terperanjat.
"Gara, ngagetin aja deh." Ketus Melodi.
"Haha, maaf maaf. Gema mana?" Gara melihat kursi Gema yang tidak berpenghuni.
"Nggak tahu, kantin kali." Jawab Melodi asal.
"Loh gimana sih. Lo kan pacarnya. Masa lo nggak tahu?"
"Emangnya gue mesti ngawasin Gema selama 24 jam penuh." Kata Melodi, seraya bangkit meninggalkan Gara.
Nama Rendi masih memenuhi pikiran Melodi. Ia tidak bisa merasa tenang sebelum bertemu dengan Rendi. Melodi perlu menjelaskan semua yang Rendi lihat. Melodi tidak mau Rendi selamanya menghindarinya.
__ADS_1
Duk! Salah satu kecerobohan Melodi adalah berjalan dengan menundukkan kepala.
"Maaf, gue nggak sengaja." Ucap Melodi.
Cowok di hadapan Melodi tidak merespon permintaan maafnya. Melodi mendongakkan kepala, berusaha melihat wajah cowok tersebut.
"Rendi?" Melodi sedikit terkejut.
"Permisi, gue mau lewat." Ketus Rendi.
"Ayo, ikut gue." Ajak Rendi.
Kini, mereka sudah berada di kebun belakang sekolah. Duduk di sebuah kursi besi. Letaknya yang ada di bawah pohon mangga, membuat setiap orang merasa teduh. Melodi menghirup napas dalam-dalam, kemudian menghembuskannya dengan perlahan. Berbicara dengan Rendi sama menakutkannya dengan berbicara kepada guru killer. Jika terdapat kesalahan sedikit saja, Rendi bisa murka. Itulah kelemahannya, Rendi tidak pandai dalam mengolah emosi.
"Pertama, gue minta maaf soal kejadian tiga hari yang lalu. Lo mau maafin gue?" Melodi menatap wajah Rendi. Berharap kata iya terucap di mulut manisnya. Namun, Rendi hanya membalasnya dengan anggukan.
__ADS_1
"Selama kita bersama, gue merasa hubungan kita nggak pernah berjalan baik. Banyak sekali rintangan yang selalu menghalangi. Selain itu, kenyataan bahwa kita nggak sependapat memang mengharuskan hubungan kita untuk berakhir." Terang Melodi.
Rendi hanya diam membungkam, matanya memilih untuk melihat tanah kering yang retak seperti hatinya saat ini.
"Lalu, kedatangan Gema membuat segalanya berubah. Gue merasa punya sosok yang seirama sama gue. Gue merasa nyaman ketika sama dia." Lanjut Melodi.
"Jadi, lo emang emang punya hubungan spesial sama Gema?" Rendi angkat suara setelah sekian lama bungkam.
"Iya." Jawab Melodi singkat.
Rendi tiba-tiba menarik kedua tangan Melodi, menggenggamnya dengan sangat erat.
"Mel, apa lo nggak bisa kembali ke gue? Apa Lo nggak bisa memberi gue kesempatan kedua?" Rendi memohon pada Melodi. "Mel, please. Gue nggak bisa hidup tanpa lo. Cuma lo satu-satunya orang yang gue punya saat ini." Manik mata Rendi begitu sendu, membuat hati Melodi tergores.
"Rendi, dengarin gue. Gue nggak akan pergi menjauh dari lo, gue akan selalu ada buat lo. Lo emang bukan pacar gue lagi, tapi bukan berarti lo nggak bisa memperoleh kebahagiaan dari gue. Lo, akan selamanya menjadi Rendi gue. Dan gue, akan selamanya menjadi Melodi lo." Melodi melepas genggaman tangan Rendi.
__ADS_1
Perlahan, Melodi melangkahkan kaki, berjalan keluar dari kebun. Meninggalkan Rendi yang masih terdiam kaku.