A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 51


__ADS_3

Setelah melampiaskan segala kekesalannya pada Rendi, Gema memutuskan untuk kembali ke kelas. Entah kenapa, rasanya ia merindukan Melodi. Padahal, ia sering bertemu dengan pacarnya itu.


Dengan senyum merekah, Gema menyembulkan kepala dari balik pintu, seraya meneriakkan nama pacarnya, "Melodi I Miss you.."


Oke, katakanlah Gema terlalu berlebihan. Gema yang terkenal dengan jiwa berandalannya memiliki sisi lebay. Sontak saja perbuatannya itu disaksikan oleh seisi kelas, mereka yang sedang sibuk beraktivitas tiba-tiba menoleh ke sumber suara.


Gema hanya memberikan cengiran lebar kepada teman-temannya. Toh dia sudah biasa melakukan hal ini. Di mata teman-temannya, Gema sudah tidak aneh jika berkoar. Yang aneh itu kalau dia diam sepanjang hari.


Matanya langsung berkeliling, mencari cewek pujaan hatinya. Setahu Gema, cewek itu memilih untuk berdiam di kelas istirahat kali ini. Tapi kenapa dari sekian cewek yang ia lihat tidak ada sosok yang ia cari?


Gema langsung masuk ke dalam kelas. Satu-satunya orang yang tahu segalanya di kelas ini adalah Cindy. Dengan terpaksa, Gema bertanya pada cewek itu perihal Melodi.


"Eh cin, gue mau tanya dong. Melodi mana ya? Perasaan pas gue pergi tadi dia ada disini deh. Kok sekarang nggak ada ya?"


Cindy meminta izin pada gengnya untuk berbicara sebentar dengan Gema. Kemudian dia mengajak Gema ke sudut ruangan. "Apa apa? Tadi lo nanya apa?"


"Gue tanya, lo tahu nggak Melodi dimana?"


Cindy menyilangkan tangan di depan dada, lalu berpikir sejenak. "Hm.."


"Hm?" Gema menautkan alis.


"Gue nggak tahu. Lagian gue nggak pernah urusin hidup Melodi. Satu-satunya orang yang patut gue urus ya cuma Tio, my honey sweety." Cindy lekas kembali ke perkumpulan teman-temannya.


"Aish! Terus ngapain lo ngajak gue kesini? Dasar cewek aneh! Pantesan aja Tio nggak ngelirik lo." Gema berdecak kesal.


Oke, salahnya sendiri bertanya pada cewek rempong di kelasnya. Tapi, bukannya cuma Cindy yang tahu segala tentang teman-temannya di kelas? Cindy itu seperti memiliki banyak pasang mata dimana-mana. Oleh karenanya, dia selalu menjadi murid paling update di kelas. Tapi kenapa saat Gema tanya dia menjawab tidak tahu? Tidak seperti biasanya.


Gema lekas merogoh ponsel di sakunya, lalu memencet tombol panggil di kontak bernama My Melodi♥️. Pendengarannya langsung mengarah pada meja di seberang, karena terdengar suara ringtone ponsel milik Melodi. Gema mendekati meja Melodi, dan menemukan ponsel miliknya tersimpan di kolong meja. Berjuta pertanyaan berkumpul di pikirannya. Kemana perginya Melodi? Kenapa dia meninggalkan ponselnya begitu saja?


Di tengah kebingungan yang melanda, dari arah pintu datang seorang cowok dan cewek. Si cewek tengah tertawa bersama si cowok. Mereka terlihat sangat akrab.


"Melodi!!!" Teriak Gema.


Mendengar teriakan itu, Melodi lantas menoleh. Gema memasang tampang mengerikan, bahkan matanya memancarkan kilatan super dahsyat yang mampu membuat kornea mata rusak. Melodi lekas menghampiri cowok itu, memberinya penjelasan bahwa semua yang dia lihat tidak sepenuhnya benar.


"Gema, gue bisa jelasin. Gue cuma.."

__ADS_1


"Gue sama Melodi tadi habis berduaan di perpustakaan. Romantis banget kan?" Sambar Deon.


"Deon! Lo ngomong apa sih? Please, Gema. Percaya sama gue. Deon bohong, jangan percaya sama dia." Elak Melodi.


Bisa-bisanya Deon memutar balikkan keadaan. Padahal jelas-jelas mereka tadi hanya berbincang santai. Seantusias itukah Deon padanya?


"Loh emang benar kan? Gue sama lo tadi berdua di perpustakaan. Terus kita ngobrol. Dimana letak kesalahannya?"


"Jelas salah Deon! Kita cuma ngobrol biasa, seputar tugas wirausaha kita. Tolong jangan memperkeruh suasana."


Gema menggebrak meja, "Cukup!!! Gue nggak butuh penjelasan apapun dari kalian. Dan lo, Deon. Pergi dari hadapan gue sekarang!"


"Lo cemburu sama gue?" Sinis Deon.


Gema mendengus kasar, "Cowok mana yang nggak cemburu lihat pacarnya dekat sama cowok lain? Lo harusnya mikir Deon. Melodi itu udah bahagia sama gue, lo nggak perlu berdusta cuma buat bikin gue cemburu." Gema menepuk-nepuk bahu Deon. "Gue miris sih lihat lo, ngemis-ngemis minta punya orang lain."


Deon mengepal kedua tangannya keras-keras, jika saja Bu Loli tidak datang, mungkin ia sudah melayangkan pukulan tepat di wajah Gema. Cowok berengsek yang sudah merebut miliknya.


***


Ah, semakin dipikir, semakin membuat pening kepala. Melodi sangat kesal berada di posisi ini. Posisinya persis saat ia berpacaran dengan Rendi kemudian Gema masuk ke dalamnya dan berhasil merebut hati Melodi. Mengingat itu, Melodi sedikit ngeri. Dan sekarang, ia dihadapkan kembali dengan masalah seperti ini? Oh tuhan, rasanya Melodi ingin pergi ke planet mars saja.


Bel sudah berdenting sekitar sepuluh menit yang lalu. Diliriknya cowok di sebelahnya, masih dalam posisi sama. Duduk manis, tidak bergerak sedikitpun. Sesekali matanya menatap wajah Melodi, lalu menyunggingkan senyuman.


Melodi menarik napas dalam-dalam, kemudian bertanya dengan hati-hati. "Lo, nggak pulang?"


"Gue kan nungguin lo."


"Nungguin gue?" Melodi terkejut.


"Iya, kan gue mau pulang bareng sama lo. Ayolah, kita jarang banget pulang bareng."


"Tap, tapi, gue nggak bisa kalau hari ini. Gue mau ngerjain tugas wirausaha di rumah Deon." Melodi sedikit terbata.


"Ya udah, gue yang antarin lo ke rumah Deon. Simple kan?" Gema beranjak dari kursi, kemudian menggendong tasnya di punggung. "Ayo!"


"Gue udah terlanjur bilang pulang bareng sama Deon. Maaf ya."

__ADS_1


Sayatan terukir sudah di hati Gema. Baru kali ini ia merasakan sakit yang teramat dalam. Bukan karena Melodi pulang bersama Deon, tapi lebih menjurus pada sikap Melodi yang berubah. Apa Melodi mulai menaruh hati pada Deon? Ah, sial. Singkirkan pikiran negatif itu dari kepala lo Gema.


***


Deon langsung membukakan pintu mobil ketika melihat cewek itu berjalan mendekatinya. Dari jarak jauh saja Melodi sudah terlihat cantik dengan rambut yang selalu dikuncir kuda khasnya. Bukan hanya itu, kulit putih yang terpapar sinar matahari membuatnya terlihat menawan. Deon semakin gencar ingin merebut Melodi dari pelukan Gema.


"Kok lama banget? Gema nggak izinin lo ya?" Tanya Deon.


"Dia izinin gue kok."


"Terus kenapa lama? Eh ngomong-ngomong nih ya, kok kayaknya si Gema makin hari makin posesif ya ke lo. Persis banget kayak Rendi. Apa mungkin karena mereka saudaraan?" Celetuk Deon.


Kalimat itu langsung menohok hati Melodi begitu saja. Kenapa Deon bisa sejahat itu pada Gema? Gema tidak seperti yang Deon pikirkan. Gema jauh lebih baik dari Deon. Gema melakukan itu karena Gema cemburu pada Deon. Itu hal wajar, bukan?


"Oh, sorry. Gue salah ngomong ya."


"Nggak seharusnya lo ngomong kayak gitu. Gema melakukan hal itu pasti ada alasannya."


"Ya, ya, ya. Gue tahu. Gema sayang dan cinta banget sama lo, begitu juga dengan lo. Jadi wajar-wajar aja sih. Asli, gue iri deh sama kalian."


"Ya kalau lo iri, lo ikutin lah. Toh cewek di sekolah banyak kok yang tergila-gila sama lo. Si cewek kelas sebelah siapa tuh namanya? Intan apa siapa gitu. Dia juga sesuai kriteria lo kan. Pintar dan cantik. Idaman para cowok."


Tapi, seberapa keras pun Melodi mengalihkan perhatian Deon pada yang lain, perasaan Deon tetap untuk Melodi. Tidak ada yang bisa menggantikan sosok Melodi di hatinya.


Deon tertawa pelan, "Iya juga sih, lo ada benarnya. Tapi jujur, gue masih punya perasaan ke lo."


Melodi menghembuskan napas kasar, seraya berkata, "Deon, berkali-kali gue bilang. Gue udah punya Gema. Gue nggak bisa balas semua perasaan lo."


"Kenapa sih lo nggak bisa lirik gue sedikit aja Mel? Gema itu datang setelah gue nyatain perasaannya ke lo. Harusnya lo ngelirik gue, bukan dia. Toh gue lebih sempurna dibandingkan Gema. Apa sih yang lo banggain dari dia? Pintar nggak, berandalan iya."


"Deon stop! Jaga ya mulut lo. Mungkin Gema jelek di mata lo, tapi di mata gue, dia jauh lebih baik daripada lo."


"Dia baik karena dia ada maunya Mel. Lo nggak takut apa, Gema itu dulu pernah tergabung ke geng zombie yang tersohor dengan kenakalannya."


"Tapi Gema nggak kayak mereka! Gema beda! Stop omongin kejelekan Gema, Deon! Kalau lo nggak mau berhenti ngomongin, mending turunin gue disini aja."


Akhirnya, Deon memilih membungkam. Baiklah, ini bukan cara yang tepat untuk membuat Melodi takluk padanya. Deon perlu beberapa bukti pendukung untuk membuat Melodi tidak percaya lagi pada Gema.

__ADS_1


__ADS_2