
Hari ini, jadwal kelompok belajar diliburkan karena masalah kemarin. Mereka diberi PR untuk introspeksi diri mengenai kesalahan masing-masing. Maka, sepulang sekolah Melodi memutuskan untuk langsung ke panti. Tidak pergi kemana-mana.
Ketika datang, Melodi disambut dengan pelukan Nilam. Pertanyaan-pertanyaan mulai dilontarkan olehnya. Seperti seorang anak yang baru saja pulang dari perantauan, begitulah perlakuan Nilam pada Melodi saat ini. Melodi hanya bisa membalas pelukan Nilam. Menciumi wajah Nilam. Melodi merasa bangga memiliki seorang ibu yang begitu perhatian.
Kini, Melodi sudah berada di meja makan. Menikmati santapan yang dimasak oleh Nilam. Melodi lupa, kapan terakhir tepatnya ia makan bersama seperti ini. Mengingat kegiatannya diluar sana yang menguras waktu dengan keluarganya. Nilam memasak rendang telor, sayur sop dan semur tahu. Menu sederhana yang disajikan mampu membuat lidah Melodi menari-nari karena kelezatan cita rasanya.
Tok. Tok. Terdengar suara ketukan pintu depan. Melodi hendak bangkit, namun Nilam mencegahnya. Nilam meminta agar Melodi menghabiskan makan siangnya. Akhirnya, Nilam yang menemui tamu tersebut.
"Permisi bu." Gema mencium punggung tangan Nilam.
"Gema kan? Temannya Mel?" Tanya Nilam sambil menelisik wajah Gema.
"Iya, Melodinya ada bu?" Jawab Gema memastikan.
"Oh ada, dia lagi makan. Emangnya kenapa?" Nilam bertanya perihal kedatangan Gema ke panti.
"Saya mau minta izin sama ibu, saya mau ngajak Mel pergi keluar sebentar. Boleh?" Gema merendahkan suaranya, berharap Nilam mengizinkan.
Raut wajah Nilam tampak berpikir. "Boleh boleh. Tapi jangan sampai larut malam ya."
"Baik bu." Gema menggangguk patuh. Nilam pasti masih cemas dengan kondisi Melodi.
"Silakan duduk dulu selagi menunggu Mel bersiap-siap." Nilam mempersilakan Gema untuk duduk di kursi rotan serambi depan.
Nilam kembali masuk ke dalam, kemudian membisikkan sesuatu pada Melodi. Dengan segera Melodi menghabiskan makanan yang masih tersisa dua sendok lagi. Lalu pergi menuju kamar untuk mengganti baju. Lima menit kemudian, Melodi telah siap dengan setelan kaos polos dan celana jeans panjang favoritnya.
__ADS_1
Gema melajukan motornya dengan kecepatan konstan. Melewati padatnya kota Jakarta. Melodi tidak bertanya kemana tujuan mereka kali ini. Melodi hanya memeluk erat cowok di hadapannya ini.
Setelah melewati fly over, motor berhenti di sebuah pantai. Melodi turun dari motor. Udara sejuk sore hari mulai menelusup ke dalam tubuhnya. Seakan Melodi harus merasakan sensasinya.
Mereka berpegangan tangan, menyusuri bibir pantai yang sore ini begitu ramai.
"Gema, kenapa lo ngajak gue kesini?" Tanya Melodi seraya duduk di atas pasir, memainkan setiap butirannya.
"Gue pengen lihat senja." Ucap Gema sambil memandangi langit yang perlahan warnanya berubah menjadi kemerahan.
"Kenapa lo pengen lihat senja?" Tanya Melodi lagi.
"Gue kira lo suka senja, jadi gue juga harus suka." Jawab Gema yang membuat Melodi mengernyitkan dahi.
"Gue lebih menyukai sunset daripada senja. Sunset itu sangat indah, ia mampu membuat orang yang melihatnya terkagum akan keindahannya. Sementara senja, ia hanyalah sebagai penyingkir keindahan sunset." Kata Melodi pada Gema.
Memang benar. Seharusnya Melodi menyukai senja karena itu merupakan salah satu namanya. Tetapi pada kenyataannya, ia sangat membenci senja.
Melodi Senja adalah nama pemberian Nilam. Nilam mengatakan, cewek itu mirip seperti melodi karena suaranya yang begitu indah. Sementara senja? Nilam menemukannya di sebuah taman kota saat senja. Oleh karenanya, Melodi sangat membenci senja. Karena mengingatkannya dengan kejadian orangtua yang menelantarkannya.
"Maafin gue udah ngajak lo jauh-jauh kesini cuma buat lihat senja, hal yang paling lo benci." Gema menggapai tangan Melodi agar cewek itu berdiri.
"Nggak apa-apa Gema, lagian lo kan nggak tahu. Tapi, gue minta satu hal ke lo, jangan pernah panggil gue dengan nama senja." Melodi meraih tangan Gema, lalu berdiri.
Gema membawa Melodi menuju dangau yang terletak tak jauh dari pantai. Menyesap secangkir teh manis hangat ditemani dengan beberapa ubi goreng. Gema urung melihat senja. Baginya, senja yang ada di hadapannya lebih indah daripada senja di langit nun jauh disana.
__ADS_1
"Kalau arti nama lo sendiri apa?" Pertanyaan yang tidak pernah terpikirkan sama sekali oleh Melodi.
"Sebenarnya, nama gue juga menyimpan suatu kepedihan. Tapi lo berhak tahu. Jadi..."
Terdapat suatu kepedihan dibalik nama Gema Angkasa. Kala itu, orangtua Gema sedang bermain dengan anak pertamanya di sebuah hutan. Anak itu begitu senang bermain disana, dia berlarian kesana kemari. Saking asyiknya bermain, dia pergi begitu jauh dari jangkauan orangtuanya. Dia ketakutan, sampai dia tersungkur jatuh ke dalam jurang. Orangtua Gema mulai khawatir, mereka mencari kesana kemari tapi tidak menemukan jejak sang anak. Bahkan, tim sar juga ikut membantu dalam proses pencarian. Namun hasilnya nihil.
Gina belum bisa menerima kepergian anak pertamanya. Dia selalu datang ke hutan itu, meneriakkan nama anaknya. Suaranya sangat menggema sampai ke angkasa. Dia berharap, angkasa mendengar setiap keluh kesahnya. Sampai akhirnya, tepat setahun kepergian anaknya, dia dikaruniai kembali seorang anak lelaki. Dan Gina menamainya dengan Gema Angkasa karena kepedihan akan anak pertamanya.
"Jadi, abang lo hilang?" Melodi hanyut dalam cerita Gema.
"Nggak, dia meninggal. Mama bilang, setelah satu minggu pencarian, tim sar menemukan jaket yang dikenakan abang gue berlumuran darah. Mereka memprediksi bahwa abang gue dimakan oleh hewan buas." Jelas Gema.
"Gema, gue turut prihatin mendengarnya." Melodi menggenggam tangan Gema.
"Tapi, sepertinya kita memang ditakdirkan untuk bersama." Ucap Gema tiba-tiba.
"Kenapa lo bisa berasumsi kayak gitu?" Tanya Melodi.
"Gema Melodi mengeluarkan suara yang indah dan sangat menggema, namun membuat dua anak manusia merasakan kesedihan. Sehingga, Angkasa Senja berdoa supaya menghadirkan senja di angkasa yang dapat menghibur kedua anak manusia itu." Gema berasumsi.
"Wow, It's amazing. Dari mana lo belajar merangkai kata-kata kayak gitu?" Melodi takjub dengan penuturan Gema.
"Haha, hebat kan gue? Lo harus bangga punya pacar kayak gue. Oh ya, mau minta tandatangan gue?" Tawar Gema.
"Untuk?" Melodi menaikkan sebelah alis.
__ADS_1
"Kalau-kalau lo nanti nggak ada waktu minta tandatangan karena kepadatan aktivitas gue menjadi penyair dan penggemar gue yang banyak." Gema tergelak.
"Omong kosong macam apa itu." Melodi memukul lengan Gema.