
Pagi-pagi sekali, mereka sudah berkemas untuk pulang. Ini adalah hari terakhir mereka di perkemahan. Rasanya, Melodi enggan meninggalkan tempat ini. Terlalu banyak kenangan yang dilukis olehnya. Momen langka ini, tidak tahu kapan terjadi lagi.
"Bisa nggak kita nambah satu hari lagi?" Tanya Melodi tiba-tiba.
Pertanyaan yang ia lontarkan tidak dijawab sama sekali oleh teman-temannya. Itu tandanya, mereka sudah ingin angkat kaki dari sini. Apalagi Bianca. Sedari tadi dia sudah duduk manis di dalam mobil. Mungkin dia sudah tidak sabar ingin memanjakan dirinya.
Setelah semuanya selesai, mereka masuk ke dalam mobil. Tiga hari yang dilalui, terasa begitu cepat. Melodi menyembulkan kepala keluar, meneriakkan beberapa kalimat. Berharap alam mendengar setiap teriakannya.
Mobil telah memasuki jalan tol. Akhir pekan ini, membuat jalanan dipadati oleh kendaraan. Macet tidak bisa dihindari. Melodi malas melihat pemandangan sumpek seperti itu. Lebih baik, ia memasang headset dan memutar musik di ponselnya. Lantunan musik yang mellow, membuat kantuk datang. Alhasil, ia tertidur dengan nyenyaknya.
***
Mobil telah sampai di depan panti. Namun, Melodi belum juga membuka mata. Gema tidak tega membangunkannya. Akhirnya, dia memilih untuk menggendongnya hingga Melodi terlelap di kasur kesayangannya.
"Terima kasih ya Gema, udah repot-repot ngantar Mel. Sampai digendong pula ke dalam kamar." Ujar Nilam pada Gema.
"Iya nggak apa-apa bu. Nanti kalau Mel bangun, bilang aja kalau dia tidur sambil jalan." Ucap Gema mengusili Melodi.
"Oh gitu? Baik-baik nanti ibu sampaikan." Gema rasa, Nilam bisa diajak kompromi.
"Ya udah, saya pamit ya bu." Gema mencium punggung tangan Nilam sebelum pergi dari panti.
Selepas mengantar Melodi, Gema langsung menancap gas mobilnya menuju rumah. Gina pasti akan melontarkan banyak pertanyaan padanya. Pasalnya, ponsel Gema mati dari dua hari kemarin. Dia lupa membawa powerbank. Lebih singkatnya, dia tidak meminjam powerbank. Kekhawatiran Gina memang belum bisa terkendali, mengingat hanya Gema anak yang dimilikinya sekarang.
Sepuluh menit kemudian, mobil Gema sudah masuk ke halaman rumah. Well, dugaannya benar. Kini, Gina tengah berdiri di serambi depan sambil berkacak pinggang. Sebelum keluar, Gema menarik nafas dalam-dalam. Lalu menghembuskannya secara perlahan.
Gema memasang mimik wajah ceria di depan Gina. Supaya mood Gina berubah menjadi baik. Tetapi, Gema Angkasa memang tidak berbakat dalam bermain wajah. Tepat kakinya menginjak tangga pertama, Gina langsung membuka mulut.
"Gema, kamu baik-baik aja kan? Kenapa telepon mama nggak diangkat? Chat mama nggak dibalas? Selama disana nggak terjadi sesuatu kan sama kamu?" Pertanyaan Gina mirip seperti kereta express. Cepat sekali.
"Ma, pelan-pelan dong nanyanya. Tarik nafas dulu, keluarkan." Gema mencoba mengontrol emosi Gina. Setelah emosi Gina sudah meredam, Gema mulai menjawab pertanyaannya.
"Ma, aku baik-baik aja. Mama lihat sendiri kan aku pulang dengan selamat tanpa ada luka sedikitpun." Ucap Gema sambil memperlihatkan tubuhnya yang sehat sentosa.
"Lalu?" Gina bertanya kembali, karena masih ada pertanyaan pertama yang belum dijawab.
"Itu, ponselku mati. Aku lupa menchargernya." Gema terkekeh. Gina hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah anaknya.
Karena tidak mau mendapat interogasi lebih lanjut, Gema langsung masuk ke dalam kamar. Dalam sekejap, dia sudah merebahkan diri di atas kasur king size miliknya. Tiga hari tidur beralaskan matras, membuat tulang-tulangnya seperti remuk. Dia perlu mengembalikan kebugarannya dengan beristirahat total. Oleh karenanya, dia sengaja mengunci pintu supaya Gina tidak mengganggu tidur panjangnya.
***
Melodi merenggangkan tubuhnya. Entah kenapa, ia merasa nyaman sekali. Dengan malas ia membuka mata, memandang sekitar. Sejak kapan mobil Gema seperti kamarnya? Melodi mengucek mata, belum percaya dengan apa yang ia lihat. Sepersekian detik kemudian, ia baru menyadari kalau ini adalah kamarnya. Melodi mengambil jam weker yang ada di atas nakas. Melihat jam sudah menunjukkan angka berapa. Melodi memicingkan mata, melihat sekali lagi angka yang tertera. Pukul tujuh tepat. Seingatnya, kemarin mereka pulang dari perkemahan sekitar pukul sembilan. Itu artinya, ia tidur selama empat belas jam! Rekor muri Melodi Senja.
__ADS_1
Setelah membersihkan diri, Melodi berjalan menuju ruang makan untuk sarapan. Pagi ini, Nilam memasak bubur ayam. Aromanya saja sudah enak, apalagi rasanya. Melodi langsung menyendokkannya ke dalam mulut.
"Bu, kok aku bisa ada di dalam kamar sih bu? Siapa yang bawa aku kesini?" Melodi bertanya karena rasa penasarannya.
"Kata Gema, kalau misalkan kamu tanya siapa yang bawa kamu kesini, ibu harus jawab kamu tidur sambil jalan." Perkataan Nilam sontak membuat cewek itu tertawa. Sepertinya, Nilam tidak tahu bahwa Gema berniat menjaili Melodi.
"Kok kamu malah ketawa?" Nilam terheran-heran melihat sikap Melodi.
"Nggak bu. Cuma, ibu lucu aja waktu bilangnya." Kata Melodi semakin terbahak.
Nilam hanya tersenyum melihat tingkah anaknya. Setelah merasa puas tertawa, Melodi kembali berbicara pada ibunya.
"Bu, bantuin Mel bikin kue yuk!"
"Tumben, pasti buat Gema ya?" Nilam menebak-nebak.
"Bukan bu. Ini buat mamanya. Kemarin, waktu kita pergi kemah, Mama Gema yang paling repot. Jadi, sebagai ucapan terima kasih, aku mau ngasih kue buat dia." Melodi menerangkan pada Nilam.
"Oh gitu. Ya udah. Kebetulan ibu punya pisang nih. Kayaknya enak kalau kita bikin banana cake."
Melodi dan Nilam sudah berkutat di dapur. Membuat satu loyang banana cake. Nilam hanya memberi tahu resep dan cara membuatnya. Selebihnya, Melodi yang mengatasi. Sesekali Nilam juga memantau, jika ada kesalahan dalam prosesnya. Dan.. 30 menit kemudian banana cake ala chef Melodi Senja sudah jadi.
Berkat bantuan mas gojek, Melodi tidak perlu susah lagi. Dia siap mengantar Melodi kemana pun tujuannya. Dengan secepat kilat, dia membawa Melodi ke kompleks rumah Gema.
"Eh, Melodi. Mau ketemu Gema ya?" Sambar Gina.
"Bukan ma, bukan. Sebenarnya.."
"Ya ampun, mama sampai lupa. Ayo masuk. Mau mama yang bangunin apa kamu aja?"
"Sebenarnya, kedatanganku kesini karena aku mau ngasih ini ke mama." Melodi meletakkan kantung plastik di atas meja.
"Wah, apa ini?" Gina melirik isi kantung plastik. "Banana cake? Kok kamu tahu sih kesukaan mama?"
"Ah itu.."
"Pasti Gema kan yang kasih tahu. Terima kasih ya Melodi, jadi ngerepotin begini."
Sebenarnya, Melodi juga baru tahu itu kue favorit Gina. Itulah jawabannya yang tidak tersampaikan.
"Justru harusnya aku yang terima kasih ma, berkat mama, kemah kita kemarin berjalan lancar." Akhirnya, setelah sekian lama perkataannya terpotong oleh Gina, kini Melodi bisa berkata panjang lebar kembali.
"Saling bilang sama-sama aja kali ya?" Ucap Gina yang dilanjut dengan tawa keduanya.
__ADS_1
"Oh ya, gimana kalau kita makan cake ini bersama? Sekarang, kamu masuk ke kamar Gema. Bangunin dia. Soalnya, dari kemarin dia belum bangun-bangun." Ujar Gina seraya menyerahkan satu buah kunci. Melodi rasa, itu kunci kamar Gema.
Gina menunjukkan pada Melodi kamar Gema yang berada di lantai dua. Pelan-pelan, Melodi memutar kunci kemudian mendorong tuas pintu. Ia masuk ke dalam kamar Gema. Kakinya melangkah menuju kasur yang di atasnya masih terbaring pemiliknya.
Melodi duduk di samping Gema, memperhatikan dia yang sedang tertidur dengan nyaman. Tangan Melodi yang usil, beralih ke wajah Gema. Melodi menyentuh alis hitam tebal Gema. Lalu turun menuju kelopak mata Gema. Tiba-tiba, mata Melodi tertarik pada hidung mancung yang dimiliki Gema. Tanpa peri kemanusiaan sama sekali, Melodi menarik hidung Gema cukup keras. Membuat pemiliknya terlonjak kaget.
"Aww, mama. Kan udah aku bilang, aku masih ngantuk. Jangan ganggu tidur panjangku ma." Cerocos Gema tanpa melihat sosok di sampingnya.
"Sebenarnya, hari ini gue bawa banana cake. Gue kira lo suka. Tapi karena lo pengen tidur panjang, ya udah gue bawa lagi aja pulang."
Gema langsung menoleh ke arah Melodi. Matanya membelalak, seperti orang yang melihat hantu. Dia menampar pipinya sendiri, berharap ini bukan mimpi.
"Ini Melodi pacar gue?" Pertanyaan bodoh yang dia lontarkan membuat Melodi ingin menjewer telinga Gema.
"Menurut lo? Ini Melodi pacar Rendi?" Jawab Melodi dengan sinis.
"Ngambek?" Katanya sambil memperhatikan perubahan wajah Melodi.
"Udah ah! Cepat sana mandi. Mama udah nunggu di ruang makan. Kalau dalam lima menit kamu belum ada di ruang makan, terpaksa banana cakenya kita habiskan." Melodi menakut-nakuti Gema.
Mendengar itu, dia langsung bangkit dari kasurnya. Bergegas berlari menuju kamar mandi. Memang hebat Melodi. Selalu berhasil menjaili seseorang.
Di ruang makan, mereka menanti seorang cowok yang tengah membersihkan diri. Tidak lama, dia datang menghampiri dengan menggunakan pakaian santainya.
"Nih, udah mama potong cakenya. Ayo dicicipi. Ini buatan Mel sendiri loh Gema."
Gema menyuap satu sendok cake ke dalam mulutnya. "Enak banget. Pacar gue emang yang terbaik." Gema memuji Melodi di depan Gina. Tanpa merasa malu sama sekali.
"Makanya, kamu harus banyak belajar dari Melodi. Selain pintar di bidang akademik, dia juga pintar di bidang non akademik." Gina ikut memuji Melodi.
"Ah, mama. Nggak usah berlebihan gitu." Ucapk Melodi sedikit malu.
"Aduh, Gema ini. Dia emang nggak ada romantisnya sama sekali." Ucapan Gina membuat mulut Melodi dan Gema menganga.
"Maksud mama?" Tanya Gema.
"Itu, masa kamu kasih Melodi gelang rotan buatan mama. Kasih tuh bunga, cokelat, boneka, atau apa lah." Jawaban Gina semakin membuat keduanya kebingungan.
Melodi melirik gelang yang melingkar di tangannya, lalu berkata. "Maksud mama gelang ini?" Tanyanya memastikan.
"Iya, Gema kasih itu ke kamu? Dulu, mama membuatnya sendiri loh."
"Jadi, anak kecil itu..." Melodi dan Gema berbicara bersamaan.
__ADS_1