A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 40


__ADS_3

Markas itu terletak di daerah Jakarta Selatan. Sebuah gedung lama yang sudah tidak dipakai, digunakan untuk tempat berkumpul geng zombie. Dulu, Gema sendiri yang memilih tempat itu, dan dia sendiri yang pergi meninggalkan tempat itu.


Masih terekam jelas dalam benaknya, bagaimana kejamnya anggota dari geng tersebut, yang membuatnya koma selama satu minggu. Dalang dibalik semuanya adalah Gara, temannya sekarang sekaligus mantan ketua geng zombie. Setelah membuatnya hampir mati, lalu apalagi yang akan mereka lakukan?


Gema melajukan motornya sangat cepat, tidak mempedulikan teriakan pengemudi lain yang terganggu karena perbuatannya. Dalam pikirannya hanya ada kata Melodi. Dia harus menyelamatkan pacarnya itu. Dia tidak mau terjadi apa-apa pada pacarnya.


Rasa sesal datang menyerbunya tanpa permisi. Seharusnya dia tidak pernah membiarkan Melodi dekat dengan Gara. Seharusnya dia tahu dari awal kalau Gara memiliki rencana jahat. Seharusnya dia tidak pernah ikut dalam geng itu, geng yang bisa membuat orang sekitarnya celaka.


Amarahnya mampu membuat dia sampai di lokasi dengan cepat. Dia langsung turun dari motornya, melepas helm yang dikenakannya. Pintu yang dikunci, membuatnya harus mendobrak paksa. Namun, berkali-kali dia menggunakan kekuatannya, pintu besi itu tidak terbuka sama sekali. Dia bersusah payah mencari alat apapun yang bisa menghancurkan gerbang menuju perkumpulan geng zombie.


"Gema, Gema, akhirnya lo datang juga." Suara yang tidak asing terdengar dari arah belakangnya.


Gema spontan menoleh. "Udah gue duga, pasti lo dalang dibalik semua ini. Dimana Melodi?" Tanya Gema sambil berjalan mendekati Gara.


"Wah, wah, rupanya lo mengkhawatirkannya. Tenang aja, dia aman di tangan gue." Gara menepuk-nepuk tangannya.


"Katakan, dimana Melodi!" Gema menarik kerah baju Gara, dia nyaris memukulnya jika dia tidak menahan emosinya.


"Lo mau pacar lo kembali?" Tanya Gara, dia melempar senyuman sinis. "Baiklah, gue akan melepaskan pacar lo. Tapi dengan satu syarat."


"Apa? Syaratnya apa?"


"Lo harus balapan motor sama gue. Kalau lo menang, gue akan melepaskan pacar lo. Tapi kalau lo kalah, lo harus menanggung semuanya." Gara melepaskan tangan Gema dari kerah bajunya.

__ADS_1


"Lo udah gila ya??" Gema berteriak tepat di depan wajah Gara.


"Lo tahu, semua kejadian ini lo yang buat. Kalau dulu lo tetap bertahan di geng zombie, hidup gue nggak akan menderita. Lo itu sumber keuangan kita," Jelas Gara. "Tapi kenapa lo malah mengkhianati kita? Bahkan om lo itu juga ikut campur urusan kita. Kalau bukan karena dia, adik gue nggak akan dipenjara!" Bentak Gara.


"Tunggu, maksud lo, adik lo dipenjara?" Gema kebingungan dengan perkataan Gara.


"Iya, lo udah ditipu selama ini. Mereka menangkap adik kembar gue, bukan gue. Dan sejak kejadian itu, gue mencari cara untuk menghancurkan lo! Dan sekarang lah waktunya." Gara memasang tampang sangarnya.


Fakta baru kembali terungkap. Gema tak habis pikir dengan perkataan Gara yang baru saja dia dengar. Ternyata, penjahat licik itu masih berkeliaran di sekitarnya. Dia terlalu bodoh menyadari situasi.


Tanpa menimang-nimang lagi, Gema menyetujui syarat yang diberikan oleh Gara. Baginya, Melodi lebih penting daripada dia. Bahkan, dia rela mengorbankan nyawanya demi pacarnya. Begitulah bentuk cinta Gema pada Melodi.


Kini, keduanya sudah berada di jalanan yang biasa digunakan untuk balapan. Di sana ada beberapa anggota geng zombie yang akan menjadi saksi siapa pemenang dalam taruhan kali ini. Gema sudah siap di atas motornya, beserta helm di kepalanya, begitupun dengan Gara. Ketika peluit berbunyi, keduanya langsung tancap gas, melaju meninggalkan garis start.


Garis finish sudah di depan mata, senyuman Gema merekah sudah melihatnya. Namun, halangan kembali datang. Gara, yang kini berada di sampingnya, menendang sisi motor bagian kanan milik Gema. Dia kehilangan kendali, hingga akhirnya terjatuh bersama dengan motornya. Bersamaan dengan kejadian itu, datang dua mobil polisi. Gara dan anggotanya ditangkap, mereka dimintai keterangan di kantor polisi. Sementara Gema dibawa ke rumah sakit oleh Om Zainal.


***


Melodi membuka mata, mengedarkan pandangan ke sekeliling. Terlihat benda-benda usang, debu, lantai kotor. Sepertinya ini tempat yang sudah lama tidak digunakan. Melodu mencoba bangkit dari kediamannya, namun kedua tangan dan kakinya diikat pada sebuah kursi. Melodi panik sekali. Sebenarnya apa yang sudah terjadi padanya? Yang ia ingat hanyalah ada seseorang yang mendekap mulutnya saat ia di taman kota. Selanjutnya, ia tidak tahu apapun.


Melodi berteriak meminta tolong. Berharap siapapun mendengar teriakannya dari dalam sini. Tapi tidak ada satu orangpun yang datang. Melodi tidak putus asa, ia terus berteriak sekeras mungkin, tidak memikirkan pita suara yang hampir putus.


"Siapapun, tolong gue.. tolong.. tolong..."

__ADS_1


Tiba-tiba, terdengar derap langkah orang berjalan. Suaranya menuju ke arah sini. Seseorang itu mencoba mendorong tuas pintu, namun tidak bisa. Melodi rasa pintunya terkunci.


"Tolong.. tolong gue.." Sahutnya dari dalam, berharap orang itu mendengar suaranya.


Terdengar suara pukulan dari pintu. "Mel, lo di sana? Ini gue Rendi."


"Rendi, tolong gue Ren..."


Rendi mencoba mendobrak pintu kayu itu dengan tubuhnya, sedetik kemudian pintu itu terbuka. Rendi langsung berlari ke arah Melodi, membuka semua ikatan yang ada di tangan dan kakinya. Setelah terlepas, Melodi langsung memeluknya, ia takut sekali.


"Udah, nggak apa-apa. Ada gue disini." Ucapnya menenangkan Melodi.


"Gue takut Ren.." Kalimat itu terlontar dari mulut Melodi.


"Udah, lebih baik kita keluar dari sini." Rendi membantu Melodi berdiri, namun karena tali tadi mengikat kakinya cukup kencang, alhasil kakinya terluka. Ia tak mampu untuk berjalan.


Melihat itu, Rendi dengan cekatan menggendongnya, keluar dari tempat menyeramkan itu. Beberapa menit kemudian, mereka telah melesat pergi meninggalkan area geng zombie.


Ketakutan masih melanda diri Melodi, seluruh tubuh bergetar hebat, ia masih belum bisa melupakan kejadian tadi. Rendi menggenggam tangan Melodi, memberi isyarat agar ia tenang. Perlahan, Melodi bisa mengontrol kondisinya.


Tak lama, mobil berhenti di depan rumah sakit. Rendi meminta agar Melodi mengobati luka dulu. Akhirnya, ia menuruti perintahnya.


Setelah selesai pengobatan, mereka berniat pergi sebelum Melodi mendengar seorang dokter berkata. "Pasien atas nama Gema Angkasa tidak bisa diselamatkan"

__ADS_1


Sontak tubuhnya lemas, kakinya bergetar hebat, Melodi tak mampu menopang segalanya, hingga ia pingsan di lantai.


__ADS_2