A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 32


__ADS_3

Melodi berusaha menggapai batang pohon yang tertanam di dinding tebing. Jika saja ia tidak memegang ranting, ia pasti sudah jatuh ke dalam jurang. Beruntungnya tangannya sigap dengan situasi. Dengan sekuat tenaga ia berteriak, menyerukan nama pacarnya yang sudah jauh berjalan di depannya.


"Gemaaa... Tolong gueee..."


Terdengar suara hentakan kaki dari arah sana mendekat menuju kesini. Disusul dengan uluran tangan pacarnya, Gema. Melodi mencoba meraih tangan Gema, namun posisinya tidak memungkinkan untuk menggapainya.


"Gema, nggak bisa.." Melodi hampir putus asa.


"Ayo Mel, lo pasti bisa. Lo pegang batang itu, Terus lo raih tangan gue." Ucap Gema meyakinkan.


Tatapan Gema yang terlihat begitu yakin, membangkitkan semangat Melodi kembali. Tangan kirinya berjuang menggapai batang pohon, dan berhasil. Selanjutnya, tangan kanannya digunakan untuk meraih tangan Gema. Cowok itu bersusah payah menarik Melodi keluar dari jurang. Rendi, yang berada di samping Gema, tidak tinggal diam. Dia ikut membantu Gema.


Berkat usaha mereka, Melodi berhasil keluar dari jurang menakutkan itu. Melodi mengontrol detak jantungnya yang berdetak tidak karuan. Pikirannya masih belum stabil. Melodi membayangkan bagaimana jika dirinya benar-benar terjun bebas ke dalam jurang. Lalu ia tidak sadarkan diri setelahnya. Dan tiba-tiba datang segerombolan binatang buas yang akan menerkamnya. Huft. Melodi segera menyingkirkan khayalan buruk itu dari benaknya.


"Lo baik-baik aja kan Mel? Ada yang luka?" Gema sangat khawatir melihat kondisi pacarnya. Melodi mengembangkan senyum padanya agar kekhawatirannya menghilang.


Gema langsung memeluk Melodi, erat sekali. Mencium puncak kepala Melodi, membelai rambut Melodi. Gema begitu khawatir dengan keadaan pacarnya sekarang. Melodi menggenggam tangan Gema, berusaha memberi isyarat bahwa ia baik-baik saja. Gema membantu Melodi berdiri. Namun akibat kejadian tadi, kaki kanannya sedikit terkilir. Alhasil, Gema menggendong cewek itu di punggungnya.


"Gimana kalau kita hentikan saja perjalanan ini?" Ujar Rendi.


"Tanggung lah, kita udah setengah perjalanan. Sebentar lagi sampai." Sahut Gara.


"Tapi gue nggak tega lihat kondisi Mel." Kata Rendi lagi.


"Ren, gue nggak apa-apa kok."


Biar bagaimanapun, tragedi yang menimpa Melodi tadi tidak boleh membatalkan niat mereka sebelumnya. Lagipula, Melodi sangat ingin melihat air terjun yang mengalir dari ketinggian. Merasakan dinginnya air yang membasahi tangannya. Suara gemercik air yang saling bersahutan. Juga keindahan alam yang begitu menakjubkan.


"Waaah... Bagus banget." Bianca membelalakkan matanya setelah melihat pemandangan di depannya.


"Tadi katanya nggak mau kesini." Sindir Gema.


"Ih, kapan ya gue bilang gitu." Bianca mengeles, kemudian dia mulai mengambil ponsel di tasnya untuk selfie. Ya, model tidak luput dari kata pemotretan.


Melodi duduk di pinggir curug. Memainkan setiap air yang mengalir. Kedua kakinya dimasukkan ke dalam air, berharap suhu dinginnya menyembuhkan lukanya.


"Eh, foto yuk foto." Seru Bianca.


"Ayoo.." Nisa langsung mengambil posisi.


"Eh, mendingan kita ambil backgroundnya air terjun deh. Lebih bagus asli." Rendi mengusulkan. Benar juga sih usulannya.


Akhirnya, mereka turun ke dalam air. Kedalamannya ternyata hanya sebatas lutut. Untung saja Melodi memakai jeans sedikit di atasnya.

__ADS_1


Bianca mengaitkan ponselnya pada tongsis, supaya wajah keseluruhan terpotret.


"Ciiis..." Gara dengan narsisnya mengucapkan kata itu.


Cekrek. Cekrek. Mereka berfoto dengan gaya berbeda-beda. Dari gaya kalem, aneh, gila, sampai biasa saja terpotret di ponsel Bianca. Jika dihitung, mungkin sudah ada sekitar 50 foto.


"Eh sebentar, gue lupa. Gue kan bawa kamera." Ucap Gema dengan polosnya, di saat mereka sudah kehabisan gaya.


"Huuh.. telat." Rendi menggeplak kepala Gema.


"Foto kan udah, gimana kalau kita renang?" Gara, yang teman-temannya tidak tahu sejak kapan sudah mengenakan celana pendek tanpa baju yang menutupi tubuhnya.


"Wah, pelanggaran lo." Kata Gema.


Beberapa menit kemudian, para cowok sudah siap dengan setelan renangnya. Mereka terjun satu persatu ke dalam air. Berenang kesana kemari. Melihat mereka, Melodi seperti memiliki kebahagiaan kedua setelah keluarganya di panti. Diam-diam ia mengeluarkan kertas dan pensil, menggambarkan suasana saat ini.


"Wah, gambar lo bagus banget." Puji Bianca.


"Terima kasih." Ucap Melodi padanya.


"Gue yang harusnya berterima kasih sama lo. Berkat lo, gue nggak kesusahan sekarang." Bianca tersenyum. Dia pasti ingat persoalan mengenai pakaian di tenda tadi.


"Eh, eh gambar gue juga dong. Bisa kan?" Pinta Bianca. Lalu, dia duduk di atas batu. Posenya mirip seperti orang sedang bertapa.


"Bi, udah beres." Sahut Melodi kemudian.


"Mana coba gue lihat." Katanya sambil berlari ke arah Melodi. "Gila, keren banget Mel. Sejak kapan lo punya bakat kayak gini? Seharusnya, bakat ini lo salurkan. Jangan cuma dipendam aja." Puji Bianca.


"Itu cuma hobi gue aja Bi, nggak lebih." Jawab Melodi.


"Mel emang gitu. Hobinya nggak pernah dikembangkan." Ujar Nisa. Sebenarnya bukan tidak mau, hanya saja karya Melodi belum layak jika dipromosikan. Ia masih harus belajar lebih banyak lagi.


***


Langit yang dipenuhi dengan bintang, berkelap kelip tiada henti. Meminta manusia di bumi untuk memperhatikan secara detail cahayanya. Di tanah kering ini, Melodi duduk sambil memandanginya. Ditemani dengan secangkir susu hangat juga api unggun kecil di depannya. Perasaan Melodi begitu tentram sekali hari ini.


"Tuhan, terima kasih telah menghadirkan mereka untukku. Mereka tidak hanya mengukir kebahagiaan, tapi juga membuat kenangan indah. Aku berharap, semuanya tidak berhenti sampai disini."


"Mel, lo nggak tidur?" Tanya Rendi yang baru saja keluar dari dalam tenda.


"Gue belum ngantuk Ren." Kata Melodi. "Oh ya Ren, gue boleh tanya sesuatu?" Melodi berbalik tanya padanya.


"Apa?"

__ADS_1


"Gimana rasanya pernah memiliki orangtua utuh?" Entah mengapa, tiba-tiba Melodi ingin menanyakan hal itu.


"Kenapa lo tanya kayak gitu?"


"Gue cuma pengen tahu aja Ren."


"Ya, rasanya menyenangkan sekali. Setiap hari, lo bisa mendapatkan kasih sayang keduanya. Mama yang masak, papa yang ngantar dan jemput sekolah, tiap hari libur bermain bersama, dan banyak banget momen yang bisa lo buat sama mereka." Jelas Rendi pada Melodi.


"Kedengarannya menyenangkan banget ya.." Kata Melodi lirih.


"Emangnya kenapa Mel? Lo merindukan mereka?"


"Gue sangat merindukan mereka Ren. Gue pengen tahu dimana keberadaan mereka sekarang. Gimana kondisi mereka. Apa alasan mereka menelantarkan gue." Air mata Melodi perlahan mengalir.


Rendi membawa cewek itu ke dalam pelukannya. Menyandarkan kepala cewek itu di bahunya. Rendi menghapus air mata Melodi yang keluar. Setelah sekian lama Melodi memendamnya, hari ini ia tumpahkan segalanya.


"Mel, lo tahu. Gue juga sangat merindukan mereka. Di setiap doa, gue selalu minta sama Tuhan untuk mempertemukan gue dengan mereka walau dalam mimpi."


"Tapi, gue nggak pernah tahu gimana wajah mereka Ren."


"Udah, jangan sedih. Suatu saat nanti, lo pasti akan mengetahui siapa orangtua lo." Gema mengusap lengan Melodi. "Oh ya, gimana kalau kita membuat permintaan?"


"Maksud lo?"


Rendi bergegas masuk ke dalam tenda, tanpa menjawab pertanyaan cewek itu. Tidak lama, dia kembali dengan membawa dua lembar kertas dan dua pensil.


"Ini, lo tulis semua permintaan lo di kertas ini. Apapun yang lo inginkan."


Melodi mengikuti perintah Rendi. Menuliskan semua permintaannya dalam kertas tersebut. Begitupun dengan Rendi. Dia melakukan hal yang sama.


"Udah Ren."


"Kalau udah, kertas tadi lo bentuk menjadi perahu."


Melodi menuruti perintahnya kembali. Setelah terbentuk menjadi perahu, Rendi membawanya ke sebuah sungai kecil yang tidak jauh dari tenda.


"Kenapa kita kesini Ren?"


"Perahu tadi, lo apungkan di atas air." Rendi mengapungkan perahu miliknya, begitupun Melodi.


"Manfaatnya apa Ren?" Tanya Melodi kebingungan.


"Anggaplah perahu tadi sedang membawa penumpang. Nah, penumpangnya adalah semua permintaan lo.  Pengemudi akan membawa mereka ke tempat tujuannya masing-masing untuk bertemu keluarga mereka kembali. Oleh karenanya, lo nggak perlu khawatir. Pelan-pelan, segala permintaan lo akan terwujud. Segala sesuatu yang menjadi milik lo, pasti kembali ke tempat asalnya." Rendi melemparkan senyuman pada Melodi.

__ADS_1


Cewek itu berharap, perkataan Rendi kali ini tidak salah. Permintaannya untuk bertemu kedua orangtuanya benar-benar terwujud. Semoga saja.


__ADS_2