
"Biancaaaa... gue punya kabar mengejutkan buat lo. Gue yakin lo bakal kaget banget dengarnya." Dengan napas tidak beraturan, Bela berbicara tanpa titik koma di hadapan Bianca.
Bianca yang sedang asyik menata rambutnya mendadak mengalihkan mata ke arah cewek yang baru saja masuk kelas. Setelah beberapa jam cewek itu menghilang tanpa sebab.
"Kalau nggak bikin gue kaget, lo mesti benarin tatanan rambut gue yang acak-acakan gara-gara kehebohan lo." Gerutu Bianca. Dilihatnya, Bela menganggukkan kepalanya. Detik kemudian, cewek itu sudah duduk di bangku depan Bianca, beserta Basma di sampingnya.
"Jadi gini, tadi gue lagi modus ke kelas XII IPS 8. Niatnya sih gue mau cari pacar gue. Tapi pas gue kesitu, pacar guenya nggak ada. Kan gue jadi kesal ya.." Wajah Bela berubah menjadi memelas. Membuat kedua temannya menautkan alis. Apa yang harus dibuat terkejut dari cerita tidak berfaedah seperti itu?
Bianca mengepal tangan, cewek di depannya sukses membuat dirinya kesal siang ini. Jadi Bela menganggu waktu berharganya hanya karena cerita bucinnya dia? Tapi tunggu dulu. Sejak kapan Bela punya pacar? Setahu Bianca, cewek itu belum pernah berkomitmen dengan cowok manapun. Walau sebenarnya cowok yang menyukainya berderet dari kelas X sampai XII. Jangan lupakan juga cowok yang tidak satu sekolah dengannya. Baiklah, Bianca memang kalah mempesona dibanding Bela.
Sambil membalas pesan dari pacarnya, Basma berkata, "Sejak kapan lo punya pacar? Kok lo nggak cerita-cerita sama kita sih? Wah, jadi lo mau gini sama kita." Nada bicaranya sedikit tidak suka.
Bela tampak berpikir, "Sejak... Ah! Pokoknya nanti aja deh gue ceritain. Ada yang lebih penting dari ini." Bela meminta Bianca dan Basma untuk mendekat.
"Males ah! Lo pasti ngomong yang nggak bermutu lagi." Tolak Bianca.
"Iya, gue juga males. Mendingan gue chattingan sama pacar gue." Basma hendak bangkit dari bangkunya, sebelum Bela menariknya untuk kembali duduk.
Bela memasang tampang memohon pada keduanya, "Please, gue mohon. Dengarin gue. Sini dekatan." Pinta Bela kembali.
Kedua temannya hanya menuruti permintaan Bela. Daripada Bela harus mempermalukan Bianca dan Basma dengan suara tangisnya yang membuat seluruh jagat raya bergetar, lebih baik Bianca dan Basma menurut saja.
"Jadi, gue lihat tadi ada cewek cupu yang ngobrol sama Rendi." Bela memelankan suaranya, namun masih terdengar oleh kedua temannya.
"Apa!?" Teriak Bianca dan Basma berbarengan. Membuat tubuh Bela hampir membentur meja di belakangnya. Kalau soal teriak karena hal mengejutkan, Bianca dan Basma memang jagonya.
Reaksi Bianca yang semula kesal pada Bela kini berubah menjadi amarah yang membludak. Sudah tidak perlu dijelaskan bagaimana penampilan Bianca sekarang. Yang jelas, dia sudah berubah menjadi cewek yang siap menerkam mangsanya.
__ADS_1
"Lo lihat dimana? Siapa dia? Cepat kasih tahu gue! Beraninya dia dekatin Rendi gue. Bela cepat ngomong, kok lo diam aja sih!" Bianca langsung memberondong pertanyaan.
"Ya lo nya mingkem dulu Bi, biar si Bela bisa jelasin yang sebenarnya. Jadi gimana Bel?"
"Gue ketemu sama mereka di depan ruang basket. Gue nggak tahu sih dia siapa, cuma kayaknya gue pernah lihat dia. Bentar gue ingat-ingat dulu." Bela mengembalikan memorinya yang sempat hilang. Sontak, ia memetik jari. "Ah! Dia teman sebangku Melodi. Berarti dia kelas XI IPA 2."
Bianca tersenyum sinis, "Oke, nanti pulang sekolah kita interogasi dia."
***
Sudah tidak terhitung berapa menit Neta mengembangkan senyumnya. Mungkin sejak Rendi mengatakan kalau kacamatanya cocok dengan wajahnya. Hal demikian membuat Melodi semakin keheranan dan bertanya-tanya apa yang membuat Neta menjadi seperti itu.
Tanpa menghiraukan keadaan sekitar, Neta membuka novel yang selalu setiap hari ia bawa. Fokusnya kini tertuju pada sederet kalimat yang membuat bibirnya semakin mengutas senyum. Hingga sebuah tubuh besar berdiri di sampingnya dan menggagalkan Neta melanjutkan bacaannya.
"Hari ini kita kerja kelompok di rumah gue ya. Soalnya gue nggak bisa bertamu ke rumah cewek selain pacar gue sendiri. Oke?"
Neta refleks mendongak, menatap wajah cowok itu. "Ma.. maksud lo.. di rumah lo?"
Neta menggeleng. Tentu saja ia tidak keberatan sama sekali. Justru ini adalah kesempatan langka baginya. Kapan lagi Neta bisa berkunjung ke rumah calon pacarnya. Oh tidak! Ia terlalu berlebihan memang.
"Oke deh. Nanti gue tunggu di parkiran ya. Soalnya gue tahu lo pasti lama berkemasnya." Kemudian beralih pada cewek di samping Neta. "Lo juga kerja kelompok kan hari ini? Di rumah Deon?"
"Iya, di rumah Deon. Nggak apa-apa kan?" Tanyanya penuh harapan.
"It's okay."
***
__ADS_1
Bel pulang sekolah lima menit lagi akan berdering. Tetapi, trio beauty sudah mengemas alat tulisnya ke dalam ransel. Mereka akan melancarkan aksinya pulang sekolah kali ini.
Beruntungnya, jam pelajaran terakhir di kelas XII IPS 2 kosong. Sehingga mereka tidak perlu susah payah keluar dari kelas. Sebelumnya, mereka sudah menyusun rencana untuk menginterogasi Neta.
Bela, yang jelas-jelas tahu wujud Neta, datang ke kelas XI IPA 2. Saat itu masih ada beberapa murid di kelas XI IPA 2. Bela langsung mengedarkan mata, mencari sosok Neta. Dalam sekejap, matanya menangkap keberadaan Neta. Cewek itu masih berkutat dengan catatan fisikanya yang belum selesai. Bela lekas menghampiri cewek itu.
"Hai!" Sapanya dengan ramah. Neta terlihat menautkan alis, bingung dengan cewek yang tiba-tiba berdiri sampingnya.
"Lo pasti bingung ya. Kenalin, gue Bela dari ekskul modelling." Bela mengulurkan tangan. Cewek di hadapannya masih tidak merespon sama sekali.
"Oke, daripada gue basa basi nggak jelas, mending gue langsung to the point. Gue kesini mau nawarin lo buat gabung di ekskul modelling. Lo bersedia nggak?"
"Ekskul modelling?"
"Iya, kebetulan kita kekurangan personil buat event di Bandung pekan depan. Dan kata teman lo, katanya lo minat banget ikut ekskul ini. Gimana? Lo mau kan? Ini kesempatan emas loh buat lo. Kapan lagi ekskul modelling merekrut secara acak gini." Bela menjelaskan panjang lebar agar Neta percaya.
Neta menutup buku fisikanya, lalu mengemas alat tulisnya. Ia menggendong ransel di punggungnya. "Iya kak, gue mau kok." Ucap Neta dengan semangat.
Bela berteriak girang dalam hati. Ternyata, tidak sulit membujuk cewek cupu satu ini. Tinggal satu langkah lagi, Bela harus membawa cewek ini ke hadapan Bianca.
"Oke kalau gitu. Sekarang lo ikut gue ya. Kita harus bahas apa aja yang harus lo persiapkan buat event nanti." Bela menarik lengan Neta, namun cewek itu menolak.
"Kalau hari ini gue nggak bisa kak, soalnya gue mau kerja kelompok. Besok bisa nggak?"
Bela cepat-cepat memutar otak, mencari cara agar Neta bersedia ikut dengannya. "Yah, gue nggak yakin sih kalau besok tawaran ini masih bisa berlaku buat lo. Soalnya lo tahu sendiri kan, ekskul modelling itu kalau sekali kasih tawaran ya cuma buat sekali. Itu artinya, lo harus terima tawaran itu kalau nggak mau hangus gitu aja. Ya, itu terserah lo sih." Bela berlalu. Tak lama kemudian, Neta mencegahnya.
"Tunggu kak! Gue bisa kok. Tapi gue cuma punya waktu satu jam, nggak apa-apa?"
__ADS_1
"No problem."
"Jangankan satu jam, lima menit di hadapan Bianca juga lo udah ketar ketir cewek cupu." Ucap Bela dalam hati.