
Terkadang, kau tidak perlu pergi jauh untuk mencari seseorang yang menciptakan kenyamanan. Lihatlah di sekitarmu dahulu. Bisa jadi, teman terdekatmu adalah orang tersebut.
Melodi tidak pernah berpikir bahwa anak lelaki itu adalah dia. Sosok Gema Angkasa yang tidak lain adalah pacarnya. Tuhan memang maha membolak-balikkan takdir. Hingga pada akhirnya, mereka dipertemukan kembali.
Sudah selayaknya janji yang terucap diwujudkan dalam dunia nyata. Termasuk janji Melodi pada Gema saat kecil. Kini, Gema sudah duduk manis di depan Melodi. Menunggu tangan cewek itu menggambarkan wajahnya di selembar kertas.
"Mel, udah belum?"
"Ish.. Gema. Lo bisa diam nggak sih. Kalau lo gerak terus, gambarnya nggak akan beres-beres." Gerutu Melodi kesal.
"Iya, iya, gue diam deh."
Melodi kembali mencoretkan pensil di atas kertas. Memberi ukiran-ukiran menyerupai garis wajahnya. Entah kenapa, tangannya begitu mahir menggambar setiap lekukannya. Apa mungkin karena ia selalu bersamanya?
Dan, berkat kerja sama yang baik antara mereka, hasil karya Melodi selesai lebih cepat dari perkiraan. Gema sudah tidak sabar ingin melihatnya. Tangannya mengulur, meminta Melodi menyerahkan padanya.
"Seratus ribu." Canda Melodi pada Gema. Telapak tangannya menengadah seraya orang meminta uang.
"Daripada kasih uang, mending kasih ini."
Cup. Gema mengecup pipi Melodi tanpa permisi. Perlakuannya membuat Melodi refleks memalingkan wajah. Melodi malu dibuatnya.
"Bilang-bilang dong, bikin kaget aja." Melodi mencoba menetralisir detak jantungnya yang tidak karuan.
"Ah, nggak asyik kalau bilang dulu." Gema mengecup kembali pipi Melodi, namun kali ini di sisi lain.
"Gemaaa.." Melodi mengejar Gema yang sudah lari terbirit-birit menuju halaman depan.
***
Pagi yang cerah di hari libur. Rendi memilih untuk duduk di serambi depan. Menyesap teh manis hangat buatan bibi. Orang yang selama ini selalu ada di sampingnya. Tanpanya, mungkin Rendi sudah menghilang dari bumi. Bibi telah menjadi sosok berharga dalam hidupnya. Dia merupakan keluarga satu-satunya milik Rendi.
Hari ini, Rendi tidak berencana untuk pergi keluar. Walau cuaca memaksanya untuk beranjak, namun dia tidak goyah dengan pendiriannya. Tiga hari berkemah kemarin, cukup membuat tubuhnya kelelahan. Dia butuh istirahat lebih. Sehingga, berdiam di villa merupakan hal yang tepat.
Detik yang dilewati sendiri, membuat kejenuhan menyerbu. Bahkan bunga yang mekar begitu cantik tidak mampu mengisi kekosongan. Akhirnya, Rendi mengambil ponsel yang tersimpan di atas meja. Membuka galeri yang isinya foto dirinya bersama Melodi. Dia menggeser layar dengan pelan ke arah kanan.
Senyuman hambar tersungging begitu saja. Mengingat hubungannya yang kandas di tengah jalan. Hanya karena sifat egois yang merasuki jiwanya. Kalau waktu bisa diulang, Rendi akan meminta satu hal. Tolong kembalikan harta berharganya yang tidak ternilai harganya.
"Den Rendi, lihat senter nggak? Bibi mau cari barang di gudang." Lamunannya buyar seketika mendengar panggilan bibi.
"Iya bi, sebentar aku cariin." Rendi beranjak dari kursi, pergi ke ruang penyimpanan.
Dia mencari-cari senter di dalam kotak. Biasanya, bibi selalu menyimpannya disini. Tapi kenapa tidak ada yah? Dia beralih ke laci yang ada di lemari. Namun, bukan senter yang didapat melainkan amplop coklat yang sudah usang. Dia hendak membukanya, tetapi urung karena panggilan bibi.
__ADS_1
"Den Rendi, ada nggak?" Tanya bibi.
Segera Rendi mencari senter kembali. Sedetik kemudian, dia menemukannya. Dia langsung menyerahkannya pada bibi.
Alih-alih menuju serambi depan, Rendi memilih masuk ke ruang penyimpanan tadi. Dia masih penasaran dengan isi amplopnya. Pelan-pelan, dia membuka amplop. Di dalamnya terdapat secarik kertas dan sebuah foto. Dari kedua benda yang dilihat, dia merasa tidak asing dengan fotonya. Foto yang menggambarkan potret dirinya bersama seorang wanita. Timbul pertanyaan dalam benak. Siapa wanita yang ada di sampingnya? Ia yakin pernah melihatnya, tapi entah dimana.
Karena dia membutuhkan jawaban, dia membaca isi kertasnya.
"Rendi, kami ingin meminta maaf padamu. Sejujurnya, kami bukanlah orangtua kandungmu. Saat kamu masih bayi, teman mama menitipkanmu padaku. Mama tidak bisa menjelaskan apa alasannya, karena mama tidak mau menimbulkan perselisihan di antara kalian. Lebih baik kamu mencari tahu sendiri semuanya. Dibalik foto itu, ada sebuah nama yang akan menjadi petunjuk dalam pencarianmu. Sekali lagi, maafkan kami karena menyembunyikan semua ini darimu."
Rendi langsung membalikkan foto yang dia pegang, mencari tahu siapa nama yang dimaksud. Dan disitu tertera tulisan 'Rendi Permana anak Gina Wulandari'. Dia langsung membungkam mulut, tidak mampu mengatakan apapun. Di lantai yang dingin, dia memeluk kedua lututnya. Mengacak-acak rambutnya. Kenapa semua ini harus terjadi padanya?
"Aaaaaa...." Rendi berteriak sekencang-kencangnya. Meluapkan sakit yang masih bersemayam dalam diri.
Dalam kerapuhannya, terdengar suara orang berlari menghampiri. Wajahnya terlihat begitu panik.
"Den Rendi kenapa?" Tanya wanita paruh baya itu.
Pikiran kalut yang bersarang, membutakan mata dan hatinya. Pertanyaan lembut itu dibalas dengan dorongan keras kedua tangannya. Mengakibatkan wanita yang tidak bersalah terpental. Kepalanya mendarat di dinding ruangan ini.
***
Tidak ada hal yang paling menyenangkan selain menghabiskan waktu bersama orang tersayang. Begitupun dengan Melodi. Setelah tangannya digunakan untuk menggambar, sekarang ia berganti peran. Ia digunakan untuk memegang ponsel. Layarnya menampilkan sepasang kekasih yang melengkungkan senyuman. Akan tetapi, hal itu tidak berkunjung lama. Bibir salah satunya mengerucut sesudah melihat nama villa Rendi. Pemilik ponsel langsung mengangkatnya.
"Halo Non Melodi, ini bibi. Den Rendi kumat lagi Non."
"Maksud bibi? Kumat gimana?"
"Den Rendi teriak-teriak nggak jelas. Bibi juga nggak tahu kenapa."
"Sekarang Rendi dimana bi?"
"Den Rendi lari keluar Non. Bibi juga mau ngejar dia ini."
Bip. Ponsel dimatikan begitu saja. Wajah bahagia berubah menjadi cemas.
"Ada apa Mel?" Tanya Gema penasaran.
"Gema, cepat antar gue ke TPU Melati."
"Iya tapi kenapa?"
"Cepat antarin aja."
__ADS_1
Sepanjang perjalanan, hati Melodi tidak tenang sama sekali. Ia takut terjadi apa-apa pada Rendi. Melodi tidak mau peristiwa satu tahun yang lalu terulang kembali. Ia terus berdoa, berharap Rendi baik-baik saja.
Setelah sampai di TPU, Melodi bergegas turun dari mobil. Mencari makam orangtua Rendi. Saat Rendi sedang frustasi, dia pasti mengunjungi makam ini. Dan benar saja. Kini dia tengah duduk di samping nisan kedua orangtuanya.
"Ren.." Panggil Melodi dengan lembut.
Mendengar namanya disebut, Rendi langsung luruh dalam pelukan Melodi. Dia menangis, seperti saat dia kehilangan orangtuanya dahulu. Dalam kebingungan yang datang, Melodi hanya bisa memberikan ketenangan. Menyalurkan energi yang mampu membuatnya pulih kembali.
"Sebenarnya ada apa Ren? Kenapa lo jadi kayak gini?" Melodi mengusap punggung Rendi. Kepalanya tersandar di bahu Melodi.
"Mel, orangtua gue masih hidup." Katanya dengan suara serak.
"Maksud lo?"
"Iya, nyokap gue masih hidup. Dan nyokap gue adalah nyokap dia!!" Rendi menunjuk cowok di hadapannya. Apa maksud perkataan Rendi? Kenapa dia mengatakan bahwa mamanya adalah mama Gema?
Rendi memberikan sebuah amplop coklat pada Melodi. Melodi langsung membukanya. Melihat isi di dalamnya, ia juga ikut terkejut. Apa yang dikatakan Rendi benar. Dia tidak berbohong sama sekali.
"Omong kosong apa itu. Anak nyokap gue cuma satu selepas meninggalnya abang gue." Gema tidak terima dengan pernyataan Rendi.
"Lo pikir gue bohong? Kalau lo nggak percaya lihat aja sendiri!" Rendi melemparkan amplop tadi ke wajah Gema.
Gema langsung terduduk lemas setelah melihat isinya. Dia pasti tidak percaya dengan kenyataan ini. Perkataan mamanya berbanding terbalik dengan isi amplop. Lantas, siapa yang harus dipercaya?
"Sekarang lo percaya kan?"
"Hhh. Miris sekali hidup gue. Ditelantarin sama orangtua gue sendiri. Diasuh sama orang lain, terus ditinggalin pergi. Kalau tahu gini, mendingan gue nggak usah ada di bumi ini!!!" Rendi mengepal lengannya, memukul-mukul tanah kering di sampingnya.
"Mama pasti punya alasan dibalik semua ini Ren." Ucap Gema.
Namun, orang yang berada dalam kondisi kalut tidak akan mendengar ucapan orang lain. Di pikirannya hanya ada kata mati. Bagi Rendi, kehidupannya sudah berakhir semenjak kepergian kedua orangtuanya. Rendi bagaikan mayat hidup yang berjalan di permukaan bumi.
"Gema, mendingan lo tinggalin kita berdua disini." Cetus Melodi.
"Tapi Mel, gue perlu kasih penjelasan ke Rendi. Mama nggak mungkin melakukan hal itu." Gema bersikeras.
"Gema, gue mohon.."
Gema memenuhi permohonan Melodi. Dengan wajah pilu, dia pergi meninggalkan Melodi dan Rendi. Di bawah derasnya hujan, juga guntur yang menggelegar. Rendi harus menerima realita pahit yang menimpa dirinya. Sebuah rahasia lama yang baru saja terungkap. Layaknya bangkai yang terkubur dalam, namun baunya tetap tercium sampai keluar.
Rendi memeluk Melodi sangat erat, seakan memberi isyarat bahwa cewek itu harus tetap disini. Mengusir kesepian yang setiap hari menghantuinya. Menyingkirkan kesendirian yang selalu menetap dalam dirinya. Menghilangkan luka yang menjalar di sekujur tubuhnya.
"Ren, gue janji. Gue pasti bantu lo memecahkan teka-teki ini."
__ADS_1