A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 12


__ADS_3

Melodi memasuki area terlarang untuk orang lewati. Wasit sudah membunyikan peluit memberi peringatan bahwa ia harus pergi. Sementara para penonton heboh melihat kedatangannya di area pertandingan. Melodi menghampiri kedua manusia itu. Memasang tampang yang paling menyeramkan.


"Mel, lo..." Keduanya gelagapan, tidak mampu untuk berbicara. Langsung saja Melodi menarik sebelah telinga mereka, tidak peduli mereka meronta-ronta meminta untuk dilepaskan. Lalu, ketiganya pergi meninggalkan lapangan dengan para penonton yang masih melongo melihat aksi Melodi.


Mereka sudah berada di depan gudang sekolah. Inilah saatnya Melodi melakukan interogasi. Melodi mulai mengitari keduanya yang terduduk di lantai seperti budak.


"Oke, jadi bisa jelasin ke gue kenapa bisa ada tragedi kayak tadi?" Pertanyaan mulai Melodi lontarkan pada mereka.


"Gue nggak suka lihat dia dekat-dekat lo." Seru Rendi, menunjuk cowok di sebelahnya.


"Urusannya sama lo apa? Lo kan udah putus sama Melodi." Sahut Gema sambil mendongakkan dagunya.


"Tapi gue masih mencintai dia!" Sentak Rendi.


"Gue juga sama." Ucap Gema dengan santai.


Deg. Jantung Melodi seperti berhenti berdetak. Pendengarannya kali ini normal kan? Gema mengatakannya dengan santai di depan Melodi? Tanpa memperhatikan hati Melodi yang kini tengah meloncat-loncat? Mendadak, pipinya blushing. Buru-buru saja ia membuang muka.


"Apapun alasan kalian, kalian udah mempermalukan gue. Sebagai hukumannya..." Melodi berpikir sejenak, mencoba memberikan hukuman yang pantas. "Kalian harus damai." Cetusnya sambil menjentikkan jari.


"Hah?" Keduanya spontan membuka mulut.


"Nggak mau." Gema memalingkan wajah.


"Gue juga nggak mau." Rendi tidak mau kalah, dia memalingkan wajah juga.

__ADS_1


"Kalau kalian maunya gitu. gue bakal puasa ngomong mulai detik ini." Ide jail itu terlintas begitu saja.


Salah satu dari mereka akhirnya luluh, mengulurkan tangannya. Rendi hanya menyentuh uluran tangan Gema, tanpa ingin menjabatnya.


"Yang benar dong!" Melodi meraih kedua tangan mereka kemudian membuatnya berjabat cukup lama.


***


Pulang sekolah kali ini, Melodi mengajak Rendi dan Gema yang sudah berdamai ke dapur es krim. Melodi berencana untuk mentraktir mereka es krim. Sekaligus membuat mereka menjadi lebih dekat lagi. Kalau bisa sih, sampai mereka berteman. Tetapi, perdebatan terjadi sebelum ketiganya menuju kesana. Huft. Lama-lama Melodi bisa mati berdiri kalau seperti ini terus.


"Mel pergi bareng gue." Rendi menarik tangan kiri Melodi.


"Nggak, melodi ikut gue." Gema menarik tangan kanan Melodi.


"Nggak, gue nggak mau lihat Mel kepanasan." Bela Rendi.


Akhirnya, setelah perdebatan yang memakan waktu lima menit, Melodi mengambil keputusan. Dan keputusannya adalah mereka akan pergi ke dapur es krim menggunakan angkutan umum. Di dalam angkot pun, perdebatan terjadi kembali. Kedua cowok itu ingin duduk di sebelah Melodi. Akhirnya, Melodi duduk di antara mereka.


Tak butuh waktu lama, ketiganya sampai di sebuah dapur es krim. Letaknya yang dekat dengan taman bermain membuat dapur es krim ini ramai dikunjungi. Beruntungnya, masih ada satu meja yang kosong untuk mereka tempati.


"Kalian harus coba mix ice cream disini, Kalian pasti ketagihan." Sahut Melodi sambil menunggu pesanan datang.


"Berarti lo harus sering-sering ajak gue kesini." Gema terkekeh.


"Nggak bakal gue biarin kalian jalan berdua aja." Rendi memelototi Gema.

__ADS_1


"Udahlah, lo move on aja sih. Masih banyak cewek lain. Oh itu, teman sekelas lo yang model itu, lo balikan aja." Canda Gema.


"Sampai kapanpun, Mel nggak bakal tergantikan sama siapapun!" Rendi melempar senyuman sinis.


"Ehem, ehem. Kalian itu emang frontal banget ya, ngomong di depan objeknya langsung."


Keduanya hanya nyengir kuda. Sulit memang menyatukan kedua musuh dalam waktu singkat. Sepertinya Melodi harus menyusun strategi untuk membuat keduanya semakin dekat. Tetapi, jika dilihat sekilas, wajah mereka terlihat mirip. Perbedaannya terletak dari Rendi dengan setelan rapi, dan Gema dengan setelan anak berandalan. Melodi memperhatikan mereka, sampai-sampai membuat mereka salah tingkah karena perlakuannya.


"Mel, gue tahu lo pasti terpesona dengan ketampanan gue." Gema dengan pedenya menyombongkan diri.


Sementara di sisi lain, Rendi pun turut menyombongkan diri.


"Mel, gue tahu lo pasti masih cinta sama gue. Karena kita kan udah menjalin hubungan selama setahun." Kata Rendi, tidak mau kalah dari Gema.


"Kalian ini ngomong apa sih? Gue cuma lihat, ternyata kalian itu sekilas mirip ya." Melodi terkekeh.


"What? Lo nyamain gue sama dia? Gue sama Gema jauh beda kali. Gue lebih tampan daripada dia." Rendi menjulurkan lidah pada Gema.


"Emangnya gue mau disamain sama lo?" Gema mendelikkan mata.


Dan, debat bertemakan wajah gue lebih tampan daripada lo terjadi begitu saja. Jika saja pelayan datang lebih lambat, mungkin debat telah berlangsung selama 60 menit. Lama-lama Melodi gemas melihat tingkah keduanya.


"Sebentar, pesanan kita kan sama, tapi kenapa punya Mel nggak ada topping kacangnya?" Tanya Gema.


"Mel alergi kacang." Sahut Rendi.

__ADS_1


"Oh begitu. Makasih udah kasih tahu. Nanti kalau gue udah resmi sama Mel, gue nggak akan beli makanan yang mengandung kacang buat dia." Gema menekankan kata resmi saat mengucapkannya, membuat Rendi hampir melempar sendok yang sedang dipegangnya.


__ADS_2