
Rumah megah yang berdiri di sebuah kompleks itu bernuansa pastel. Halamannya ditumbuhi banyak bunga yang membuat kesan segar setiap orang yang berkunjung. Samping kanan halaman, terdapat sebuah kolam ikan berukuran sedang yang dihuni oleh ikan mas dan ikan nila.
Pintu setinggi dua meter terbuka dengan lebar. Mereka melangkahkan kaki masuk ke dalam rumah yang lebih pantas disebut istana. Ruang tamu yang begitu luas sepertinya cukup untuk menampung dua puluh orang. Kemudian mereka berjalan menuju ruang TV dan terakhir beralih ke pintu samping rumah. Itu adalah akses menuju halaman belakang rumah.
Melodi mendapati sebuah kolam renang besar yang berada di tengah halaman. Tepat di sisi kolam, dibuat air mancur kecil yang menambah kesejukan orang yang melihatnya. Gema membawa teman-temannya menuju paviliun yang letaknya tidak jauh dari air mancur.
"Gema, rumah lo bagus banget." Sahut Melodi dengan wajah tidak percaya.
"Ah, biasa aja kali." Jawab Gema santai.
"Oh ya, rumah lo kayaknya sepi. Nggak ada orang sama sekali." Tanya Nisa. Karena memang sedari mereka masuk tidak ada satupun orang yang terlihat.
"Biasanya, jam segini nyokap gue lagi ikut acara arisan sama teman-temannya. Kalau bokap gue, dia kerja di luar kota. Dia pulang satu kali dalam seminggu." Tutur Gema kepada teman-temannya.
"Terus, pembantu sama yang lainnya?" Ucap Rendi penasaran.
"Perlu gue ceritain juga? Itu bikin ngulur waktu aja." Kata Gema dengan malas.
"Gimana kalau kita mulai belajar aja?" Sahut Melodi, tidak mau membuang waktu lebih banyak lagi.
"Oke."
Mereka mulai mempelajari materi pertama yang akan menjadi soal UAS. Ditemani dengan suara gemercik air mancur juga angin yang berhembus. Membuat Gema hampir memejamkan matanya, jika tidak cepat-cepat Melodi pukul kepalanya dengan buku.
__ADS_1
"Pembelajaran hari ini kita cukupkan sampai disini. Sampai bertemu kembali besok." Melodi menutup pembelajaran pada sore hari ini.
"Sial! Gue lapar." Celetuk Gara tepat di samping Gema.
"Ah, dasar manusia karet." Sahut Rendi.
"Nggak, dia lebih cocok disebut lilin mainan." Gema spontan tergelak. Sementara yang lain hanya memasang wajah datar melihat tingkahnya.
"Hentikan! Gue tahu solusi untuk mengatasi kelaparan kalian." Bianca angkat suara.
Bianca mengambil ponsel di saku roknya, kemudian menelepon sebuah nomor. Beberapa menit kemudian, dia mematikan ponselnya.
"Oke udah. Gimana kalau kita membuat sedikit permainan sambil nunggu pesanan datang?" Ajak Bianca. Dua jam belajar memang membuat otak mumet sehingga refresh adalah metode yang cocok untuk mengembalikan otak seperti semula.
"Gue tahu. Gimana kalau para pria lomba renang?" Melodi memberikan usul.
"Wah, boleh tuh." Sambar Gema.
"Yang kalah berarti yang bayar pesanan ya." Kata Rendi menyepakati usul yang Melodi lontarkan.
"Siapa takut." Tantang Gara.
"Lebih seru lagi, sebelum mereka renang para cewek dandanin para cowok dulu." Nisa menambahkan usul Melodi, yang dibalas dengan kata setuju oleh teman-temannya.
__ADS_1
Karena teknis perlombaan adalah para cowok didandani sebelum berenang, maka mereka dibagi menjadi tiga kelompok. Para cowok melakukan hompimpa untuk menentukan siapa pasangan yang akan mendandani mereka. Pemenang pertama, akan berpasangan dengan Bianca. Pemenang kedua, akan berpasangan dengan Nisa. Dan terakhir, akan berpasangan dengan Melodi.
Mereka mulai melakukan hompimpa. Pemenang pertama diraih oleh Gema. Pemenang kedua diraih oleh Rendi. Dan terakhir diraih oleh Gara. Dengan menggunakan stopwatch, mereka menentukan durasi perlombaan. Tiga menit mereka sepakati untuk mendandani para cowok, dan lima menit untuk perlombaan berenang. Para pria harus melakukan gaya katak, gaya punggung dan gaya kupu-kupu dalam waktu tersebut. Setelah stopwatch berbunyi, mereka mulaiĀ beraksi. Para cewek dengan cekatan mendandani cowoknya. Tak lama, stopwatch berbunyi kembali pertanda para cowok harus masuk ke dalam air.
"Ayo ayo." Para cewek saling bersahutan, menyemangati pasangan masing-masing.
"Semangat Garaaaa." Melodi meneriakkan nama pasangannya kali ini.
"Yo. Semangat Gemaaa ayeee..!" Bianca mulai menari-nari, gerakannya seperti seorang cheer leaders.
Sementara Nisa hanya meneriakkan, "Rendi, Rendi."
Waktu terus berjalan. Rendi memimpin di depan, dalam sekejap dia telah mencapai garis finish. Sekarang tinggal Gema dan Gara yang masih di dalam air. Mereka masih melakukan gaya terakhir. Mereka berenang menuju garis finish. Melodi dan yang lain tidak dapat memprediksi siapa yang akan menjadi pemenangnya. Karena Gema dan Gara berenang berdampingan. Namun tiba-tiba, Gema menambah kecepatannya dan dia berhasil mencapai garis finish sebelum Gara.
"Yah, Gara.. gimana sih." Decak Melodi kesal, karena Gara kalah dalam perlombaan. Itu artinya, mereka berdua harus membayar pesanan kali ini.
"Haha, kasian deh." Ledek Bianca pada Melodi.
Rendi dan Gema berjalan mendekati Bianca. Sepertinya mereka terusik dengan sikap Bianca terhadap Melodi. Terlihat dari tatapan yang begitu menusuk mata Bianca. Jika saja mata Gema dan Rendi terbuat dari pedang, mungkin Bianca sudah tidak bisa melihat dunia lagi.
"Iya, iya. Gue bercanda." Bianca mencoba menetralisir keadaan.
Semenjak hubungan Rendi dengan Melodi berakhir, sikap Bianca memang sedikit melunak. Dia mulai sedikit sopan pada Melodi dan menganggap Melodu nyata. Hanya terkadang, sikap nyinyirnya belum bisa diatasi. Tapi setidaknya, Melodi merasa memiliki satu teman unik lagi.
__ADS_1