A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 31


__ADS_3

Melodi menguap kembali. Matanya mengerjap-ngerjap, melihat sekeliling tenda. Tidak ada siapa-siapa. Kemana perginya Nisa dan Bianca? Hidungnyq mulai mengendus-endus, mencari keberadaan mereka. Sepertinya mereka diluar. Melodi membuka resleting tenda. Dan, mereka yang dicari ternyata sedang duduk manis menikmati pop mie.


"Eh Mel, lo udah bangun? Gimana tidur lo semalam? Nyenyak?" Gema bertanya pada Melodi.


Ingin rasanya Melodi menjawab bahwa tidurnya tidak nyenyak sama sekali di depan mereka saat ini. Bagaimana tidak? Bianca berisik sekali. Cewek dengan skill seorang model ternyata memiliki kebiasaan buruk. Semalaman, dia tidur sambil mendengkur. Suaranya kencang sekali, tepat di telinga Melodi. Selain itu, dia juga meracau tidak jelas. Sepertinya dia sedang bermimpi aneh atau apa. Melodi berusaha menenangkannya, perlahan dia bisa tidur dengan tenang. Dan kalian tahu? Melodi baru tidur dua jam. Jika saja ini kamarnya, ia pasti sudah memejamkan mata kembali.


"Ya.. begitulah." Jawab Melodi dengan asal, tidak mau menyinggung perasaan Bianca.


"Lo mau sarapan?" Rendi menawarkan pop mie yang sudah diseduh. Kemudian memberikannya pada Melodi.


Kekesalan yang tadinya menggebu-gebu, lenyap seketika. Makanan yang ada di hadapannya mampu membuat mood kembali baik. Melodi langsung melahapnya, tanpa mempedulikan mereka yang melihatnya makan seperti orang rakus. Sepersekian detik, mie yang ia makan habis ludes tanpa sisa.


"Lo kelaparan ya?" Gara terheran-heran melihat Melodi.


"Iya, gue lapar banget. Malah sekarang gue pengen makan lagi." Ujar Melodi, dilanjut dengan seringaian.


"Lo ini cewek atau bukan sih? Rakus amat." Sahut Bianca.


"Biar aja, yang penting bahagia." Ucap Melodi padanya.


Gema mengeluarkan satu bungkus roti yang ada di dalam tasnya, lalu menyerahkannya pada Melodi. Dia memang paling pengertian di antara yang lain. Tanpa berpikir panjang, cewek itu langsung memakannya. Benar-benar, Melodi merasa seperti orang kerasukan setan. Nafsu makannya meningkat setelah ia tidur di perkemahan ini. Melodi menampar pipinya sendiri, mencubitinya. Sakit begitu terasa. Tidak ada makhluk halus yang menghuni tubuhnya kan?


"Mel, lo baik-baik aja?" Tanya Nisa yang sedari tadi memperhatikan sikap Melodi.


"Gue baik-baik aja." Kata Melodi dengan tenang.


"Oke, sekarang kalian siap-siap buat pergi ke wahana bermain." Rendi memberi perintah kepada mereka.


"Sekarang? Gue kan belum mandi." Bianca kaget dengan perintah Rendi.


"Lo kira, kita lagi nginap di hotel." Sahut Melodi kesal. Melodi lupa, Bianca kan model. Dia harus terlihat sempurna di depan orang.


"Udah, lo cuci muka sama sikat gigi aja." Titah Gema, seraya masuk ke dalam tenda untuk bersiap-siap.

__ADS_1


Akhirnya, Bianca menuruti perkataan Gema. Dia mencuci muka dan menyikat gigi dengan air mineral yang dibawanya. Lalu, dia mengganti pakaian dengan dress selutut. Sementara kakinya dibalut dengan heels setinggi 5 senti meter. Wah, Bianca kurang obat sepertinya. Dia mau ke pesta atau apa?


"Bi, lo nggak salah?" Tanya Melodi, mencoba menyembunyikan tawa yang hampir keluar.


"Salah apanya sih Mel." Jawabnya dengan percaya diri.


"Itu Bi, maksud Melodi pakaian lo." Nisa menunjuk outfit yang dikenakan oleh Bianca.


"Loh, kita kan mau ke wahana bermain." Ucap Bianca berlagak sok benar.


Karena tidak mau berdebat lebih lama lagi, Melodi langsung memberikan satu set pakaian untuk Bianca berganti. Kaus pendek polos dengan jeans selutut. Sementara heels yang tadi dia kenakan ia ganti dengan sepatu miliknya.


"Gue pergi pakai setelan gini?" Ucapnya tidak percaya.


"Udah, nggak usah banyak omong. Yang pasti, lo berutang ucapan terima kasih ke gue." Kata Melodi.


Jarak wahana bermain dengan tempat mereka berada, cukup jauh. Oleh karenanya, mereka perlu menggunakan akses kendaraan untuk mencapainya. Alih-alih memakai mobil, mereka memilih menyewa sepeda. Selain menyehatkan, tidak ada polusi yang ditimbulkan. Melodi mengayuh sepedanya dengan kecepatan standar. Menikmati semilir angin yang menerpa wajahnya. Menghirup oksigen alami yang belum tercampur zat lain. Entah kapan terakhir kali ia merasakan kenikmatan seperti ini. Yang jelas, pengalaman ini akan selalu tersimpan di dalam memori.


Setelah mengayuh cukup lama, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan. Mereka memarkir sepeda terlebih dahulu sebelum masuk ke area wahana bermain. Lalu, mereka berjalan menuju loket untuk membayar tiket masuk. Dikenakan biaya sepuluh ribu per orangnya. Itu hanya tiket masuknya saja, belum termasuk wahana di dalamnya.


"Gema, nanti fotoin gue ya."


"Iya, gue pasti akan memberikan hasil yang terbaik. Lo akan terlihat cantik di foto ini." Ucapnya.


Setelah menyabet antrian yang begitu panjang, akhirnya Melodi mendapat giliran. Awalnya jantungnya berdegup kencang memang. Untung saja ia tidak memiliki phobia ketinggian, jadi ia bisa mengatasi degupan jantungnya.


"Wuuuh.." Melodi berteriak untuk melepaskan rasa takut.


Setelah mencoba wahana ayunan sky swing, matanya beredar mencari wahana yang ekstrim kembali. Hari ini nyalinya sedang ingin diuji sepertinya. Buru-buru Melodi menarik tangan Gema lagi, menuju wahana zip bike. Wahana berfoto ini berupa sepeda dalam track tali yang tergantung. Karena terdapat dua sepeda dalam wahana itu, akhirnya ia meminta Gema untuk turut serta.


***


Setelah puas bermain dengan semua wahana, mereka berkumpul kembali di area parkir. Tanpa direncanakan sama sekali, pada saat bermain, mereka berpisah begitu saja bersama pasangan masing-masing. Dan mereka memutuskan untuk berkumpul disini sesudahnya. Memang benar apa kata orang kalau sudah bertemu yang baru, pasti yang lama ditinggalkan.

__ADS_1


Waktu masih menunjukkan pukul sebelas siang. Bosan rasanya jika harus dihabiskan dengan bermalas-malasan di tenda. So, mereka memilih untuk pergi ke curug yang letaknya dekat dengan tenda. Tanpa basa-basi lagi, mereka langsung meluncur ke lokasi.


Jalan menuju ke curug, hanya untuk jalan setapak. Tidak memungkinkan jika naik sepeda. Maka, mereka sepakat untuk berjalan kaki. Lagipula, perjalanan memakan waktu 30 menit. Melodi sih, sanggup-sanggup saja.


"Kita serius mau pergi kesana?" Ucap Bianca tiba-tiba. Melodi tahu, dia pasti tidak sanggup melewatinya.


"Ya iyalah. Emangnya lo mau diam sendiri di dalam tenda?" Kata Rendi.


"Tapi itu kan jauh. Kalau kaki gue lecet gimana. Kalau ada yang luka gimana. Gue ini kan model, gue.."


Dengan cepat Melodi mendekap mulut Bianca. Manja sekali cewek satu ini. Jika tahu begini, kemarin Melodi tidak usah ajak dia.


"Lepasin!" Elak Bianca.


"Iya, sorry."


"Tenang aja Bianca. Lelahmu akan tergantikan dengan keindahan." Terang Gema. Tumben otaknya encer.


Sepanjang perjalanan, Bianca hanya mengeluh. Dari mulai kakinya pegal, tubuhnya bentol-bentol digigit nyamuk, sampai terik matahari yang menyengat kulitnya. Seharusnya dari kemarin dia tidak menyetujui usulan Melodi.


Jalan yang dilalui cukup terjal. Banyak bebatuan dan licin. Jika tidak hati-hati, bisa terjatuh. Karena merasa jenuh, Melodi menyanyikan lagu soundtrack film kartun.


Mendaki gunung


Lewati lembah


Sungai mengalir indah


Ke samudera


Bersama teman


Bertualaaang

__ADS_1


Sraaak.. lagu berhenti bersamaan dengan suara kaki yang terpeleset juga teriakan histeris yang lain.


"Gemaaa... Tolong gue.."


__ADS_2