
Nisa berjalan gontai memasuki rumah besarnya. Jujur, ia tidak siap bertemu dengan bundanya. Apalagi harus bersandiwara di hadapannya. Berbagai kalimat yang diajarkan oleh Rendi tadi berputar-putar di pikirannya, memaksanya untuk mengeluarkannya detik ini juga.
Wajah kusutnya mendadak ia rubah menjadi wajah ceria. Senyum palsu merekah begitu saja. Sisa air mata yang masih membasahi wajahnya ia hapus. Walau memang, itu tak mampu menutupi mata sembab bekas tangisannya.
"Loh nis, udah pulang?" Tanya Riri selepas anaknya memberi salam dan duduk di sampingnya. Terlihat, Nisa hanya menganggukkan kepalanya.
"Melodi mana?"
Pertanyaan yang Nisa tidak ingin dengar di telinganya saat ini terjadi. Nisa belum siap mengatakan yang sebenarnya, tapi Nisa juga tidak bisa berbohong pada bundanya. Ia terlalu takut menatap wajah bundanya, sehingga ia hanya menundukkan kepalanya. Bibirnya bungkam, tak mau menjawab sama sekali. Membuat Riri sedikit curiga dengan sikap anaknya.
"Kok nggak jawab bunda?" Tanya Riri lagi. Diangkatnya wajah Nisa. Seketika ia terkejut melihat mata sembab Nisa.
"Kamu kenapa? Habis nangis?" Kekhawatiran mulai merasuki Riri. Kini, Nisa tak bisa berbuat apa-apa selain menceritakan semuanya pada Riri.
"Sebenarnya Mel.."
Perkataannya terpotong begitu melihat seorang cewek datang dan langsung menghambur ke dalam pelukan bundanya. Ia datang bersama pacar dan mantan pacarnya.
"Tadi Melodi habis dari rumah Gema." Melodi memeluk bundanya begitu erat, seakan ia baru bertemu dengan wanita itu. Riri hanya bisa mengusap rambut anaknya, mengecup puncak kepalanya.
Nisa melirik ke arah Rendi, terlihat ia mengedipkan matanya. Sementara Gema mengacungkan satu jempolnya, pertanda mereka berhasil menyelamatkan Melodi.
"Tadi Nisa ditanyain malah nggak jawab." Sahut Riri kemudian. "Terus kenapa mata Nisa bisa sembab gitu Mel?"
"Oh, tadi dia minta beliin es krim, cuma nggak aku kasih." Kilah Melodi. Dibanding Nisa, Melodi memang pandai bermain dengan situasi, apalagi bersandiwara.
"Eh, iya bun. Tahu nih, Melodi emang jahat!" Nisa menjulurkan lidahnya.
"Suruh siapa nggak bawa duit." Balas Melodi.
"Suruh siapa nggak ingatin."
__ADS_1
Dan, terjadilah pertengkaran palsu diantara kedua cewek itu. Riri hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah keduanya. Cewek yang sudah belasan tahun namun bersikap seperti anak lima tahun.
"Ya ampun, bunda sampai lupa gara-gara kalian berantem. Silakan duduk, Gema, Rendi."
Sedari tadi, Gema dan Rendi memang tidak berinisiatif untuk duduk. Mereka paham kalau pemilik rumah belum mengizinkan, maka mereka tidak akan berlaku seenaknya.
"Iya Tante." Ucap keduanya.
"Biar aku yang bikinin minum buat mereka." Ujar Melodi yang langsung disanggah oleh Nisa.
"Nggak! Biar aku aja." Nisa lekas pergi menuju dapur. Bukan apa-apa, Nisa tidak tega melihat Melodi. Ia telah melewati masa-masa menegangkan beberapa jam yang lalu.
"Aish, Nisa!"
"Oh ya, habis ngapain tadi di rumah Gema?" Riri kembali melontarkan pertanyaan, seakan ia masih belum percaya dengan jawaban anaknya tadi.
"Habis bantuin Gema ngerjain pr Tante." Jawab Gema sekenanya. Di antara mereka, Gema yang paling pandai dalam bersandiwara. Lebih tepatnya berbohong.
"Oh gitu ya.."
"Silakan diminum, Gema, Rendi." Ucap Riri. Keduanya spontan mengangguk. Persis seperti anak kembar. "Bunda tinggal ke dalam ya. Kalian ngobrol aja disini."
Selepas Riri pergi, mereka langsung menghela napas. Layaknya orang yang sudah diinterogasi oleh polisi, begitulah keadaan mereka. Untung saja salah satu dari mereka tidak ada yang keceplosan. Jika ada, maka tamatlah riwayat mereka tadi.
"Kaki lo masih sakit?" Tanya Rendi pada Melodi yang tengah duduk santai seperti di pantai.
"Emang kaki lo kenapa?" Gema menelusuri kejanggalan di kaki Melodi, dan ia menemukan balutan perban disana. "Luka?"
"Lo gimana sih. Bukannya tadi pas di rumah sakit lo sama dia terus ya. Masa lo nggak tahu kalau dia luka." Cibir Rendi.
"Bukan gitu bang. Gue kayaknya saking terpesonanya sama wajah Melodi, jadi nggak lihat kaki Melodi yang luka."
__ADS_1
"Ah, ngeles aja lo!"
Melodi menyimpan telunjuknya di bibir, pertanda kedua cowok itu harus mengakhiri perdebatan konyol tersebut. "Jangan berisik. Nanti bunda dengar, gue yang kena omel."
"Tahu nih. Tapi lo benaran nggak apa-apa kan Mel?" Tanya Nisa sedikit khawatir.
"Gue baik-baik aja."
"Siapa sih dalang dibalik semua ini? Biar gue patahin tuh tangannya." Nisa mengepal kedua lengannya, siap untuk menghajar orang tersebut.
Melodi, Gema dan Rendi saling pandang. Mereka bingung harus mengatakan apa pada Nisa. Pasalnya, saat ini Nisa sedang dekat dengan Gara. Dan Nisa pasti kecewa jika mengetahui Gara adalah dalang penculikan Melodi.
"Kita juga nggak tahu sih siapa dalangnya. Tapi tenang aja, dia nggak bakal muncul di hadapan kita lagi. Om Zainal udah tanganin semuanya." Rendi memberikan penjelasan.
"Oh gitu, bagus deh. Tapi kok gue curiga sama seseorang ya." Nisa memainkan jari jemarinya.
"Siapa?" Tanya ketiganya antusias.
Nisa terdiam sejenak. Sepertinya ia ragu untuk mengatakannya.
"Siapa?" Tanya mereka lagi.
Nisa memberi isyarat pada teman-temannya untuk mendekat. "Sebenarnya, semalam gue ketemu sama Gara."
Sontak ketiganya membelalakkan mata, mulutnya menganga. "Terus dia ngomong apa?" Tanya Melodi.
"Dia suka sama gue."
"Terus?" Gema semakin penasaran.
"Gue nggak suka sama dia, gue cuma anggap dia teman selama ini. Cuma dia beranggapan beda."
__ADS_1
"Terus dia ngapain lagi?" Kali ini, Rendi yang bertanya.
"Dia.. ngancem gue." Ucap Nisa hampir tak terdengar sama sekali.