A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 7


__ADS_3

Gema dan Melodi lekas bersembunyi di semak-semak selepas mendengar langkah kaki mendekat ke arah mereka. Melodi merutuki dirinya karena kebodohan yang ia perbuat.


"Siapa disana?" Tanya Rendi memastikan bahwa pendengarannya tidak salah.


Keduanya langsung membungkam mulut masing-masing, agar Rendi tidak curiga akan keberadaan mereka.


"Siapa disana?" Ulang Rendi sekali lagi.


Bianca segera menghampiri Rendi, "Lo ngapain sih Ren disini, katanya nyuruh gue balik ke kelas. Ayo ah."


Melodi langsung mengepal tangannya keras-keras, mukanya merah padam, kepalanya sudah penuh api. Sepertinya sebentar lagi akan meledak karena perbuatan yang dilakukan oleh Bianca. Tapi, tidak menutup kemungkinan juga kalau Bianca sudah menolongnya dari Rendi.


"Ish, sebal banget deh. Gue pengen marah tapi Bianca udah nolongin gue." Geram Melodi. Rendi, trio beauty dan trio crazy kini sudah pergi meninggalkan kantin. Sehingga Gema dan Melodi keluar dari tempat persembunyian mereka. Berlama-lama dengan Gema di tempat seperti itu juga membuat Melodi tak nyaman. Ditambah lagi, semut yang menghuni semak-semak membuat kulitnya gatal dan bentol-bentol.


"Aduh, gatel banget sih." Melodi menggaruk kulitnya yang sudah berubah kemerahan.


"Kenapa Mel?" Tanya Gema sedikit khawatir.


"Ini, kayaknya kulit gue digigitin semut deh." Ucap Melodi seraya menunjukkan perubahan kulitnya.


"Jangan digarukin Mel, nanti malah jadi infeksi. Gimana kalau kita ke UKS aja?" Gema menyarankan.


Melodi terdiam sejenak, membuat Gema paham dengan gelagatnya. "Udah, tenang aja. Rendi udah balik kok ke kelasnya." Ujar Gema meyakinkan Melodi. "Emangnya, Rendi posesif banget ya ke lo? Sampe sampe nggak bisa lihat lo deket sama cowok lain?"


Melodi hanya mengedikkan bahu, kemudian berlalu pergi.


"Eh Mel, percaya deh sama gue. Kalau lo pacaran sama gue, gue nggak akan jadi pacar posesif. Tapi gue bakal jadi pacar idaman lo yang nggak akan pernah lo putusin sampe kapanpun." Teriak Gema karena Melodi sudah pergi jauh meninggalkannya.


Di UKS, Melodi langsung mencari salep untuk menghilangkan bekas kemerahan di kulitnya juga rasa gatal yang kian menyerbu. Gema, bukannya membantu Melodi, ia malah asyik tidur di atas bangsal. Ia bilang ingin merilekskan badannya yang pegal karena tugas negara dilanjut dengan misi rahasia.


"Harusnya lo nggak usah ikut gue kesini. Nggak ada gunanya, cuma nyusahin gue doang." Ucap Melodi sambil terus mencari salep yang sesuai.


Gema hanya menyeringai lebar, menampilkan sederet gigi putihnya. "Bangunin gue ya kalau udah beres obatin luka lo." Sedetik kemudian, cowok itu langsung memejamkan mata dan tidak bersuara kembali.


Dari balik pintu, tiba-tiba saja datang seorang cowok yang membuat salep yang Melodi pegang terjatuh. Itu Rendi. Sedang apa dia disini? Melodi hampir lupa kalau dirinya tidak sendirian di dalam UKS ini. Ada Gema juga. Melodi lekas menutup hordeng sebagai pembatas antara bangsal satu dengan yang lain.

__ADS_1


"Ren-Rendi?" Melodi berusaha agar dirinya tidak terlihat gugup di depan Rendi.


"Loh? Melodi? Kok lo ada disini sih?"


Melodi mengatur nafasnya yang tidak karuan. Rasanya oksigen di dalam UKS habis, karena Melodi tidak bisa menghirupnya sama sekali.


"Gue, gue, lagi obatin luka gue." Ucap Melodi sambil memperlihatkan luka-luka di kedua tangannya.


Rendi menyipitkan mata, "Lo makan kacang lagi?" Tanya Rendi yang langsung dibalas anggukan oleh Melodi. "Kan gue udah bilang, lo nggak boleh makan sembarangan. Lihat kan akibatnya." Rendi mengoleskan salep ke tangan Melodi dan mengusapnya dengan lembut.


"Iya Ren, habis tadi siomaynya enak banget sih." Melodi keceplosan.


Sontak Rendi langsung berkata, "Lo tadi ke kantin?"


Melodi menggigit bibirnya keras-keras. Bagaimana bisa ia keceplosan di depan Rendi? Apa yang harus dikatakannya sekarang? "Ehm, nggak kok Ren, gue nggak ke kantin. Tadi Nisa bawain ke kelas." Kilah Melodi. Untung saja Rendi tidak bertanya lagi, jika tidak, mati sudah Melodi.


"Lo ngapain kesini?" Melodi mengalihkan pembicaraan agar Rendi tidak terus memojokkan dirinya.


"Oh iya hampir lupa. Gue mau cari plester sama betadine." Ucap Rendi sambil mencari benda yang ia sebutkan tadi.


"Lo luka?" Tanya Melodi. Ia menelusuri seluruh bagian tubuh pacarnya, merasa khawatir karena benda yang tengah pacarnya cari.


Melodi membelalakkan mata, "Buat Bianca? Lo balikan sama dia?" Melodi bersedekap, bibirnya dibuat secemberut mungkin.


"Haha, ya nggak lah. Masa gue balikan sama dia. Tadi pas pelajaran prakarya tangannya si Bianca kena gunting. Jangan cemburu gitu ah. Gue kan cuma sayangnya sama lo." Rendi mencubit pipi Melodi, karena pacarnya itu terlihat lucu ketika sedang marah.


"Awas ya kalau lo ada main sama Bianca!" Ancam Melodi. Saking gemasnya, Rendi mencium pipi tirus Melodi, menyebabkan cewek itu blushing.


"Udah ah, gue balik ke kelas ya. Lo cepat sembuh, jangan lupa minum obatnya." Rendi mengedipkan mata.


Tanpa mereka sadari, percakapan awal sampai akhir tadi disaksikan oleh Gema. Dan ketika melihat Rendi mencium Melodi, rasanya sepotong hati Gema lenyap, menyisakan sakit yang luar biasa. Entah mengapa Gema bisa merasakan hal ini, ia tak mengerti sama sekali.


Melodi teringat sesuatu, ia membuka hordeng, dan menggoyangkan tubuh Gema supaya cowok itu bangun dari tidur lelapnya.


"Bangun woy banguuun.."

__ADS_1


Sambil mengucek mata, Gema berkata, "Gue dimana?" Reaksinya persis seperti aktor sinetron yang habis kecelakaan dan ketika terbangun suasananya berbeda.


"Ah, lebay lo. Balik kelas yuk!" Ajak Melodi.


Gema menggeleng, "Nggak mau ah! Gue laper. Tadi kan gue nggak jadi makan siomay gara-gara si nenek sihir itu. Jadi kita balik kantin, okay?" Gema memasang tatapan memohon.


"Nggak, nggak usah. Gue punya yang lebih spesial buat lo.


"Apaan? Martabak?" Gema berbinar-binar.


"RAHASIA!" Melodi mengikuti perkataan Gema pada saat di toilet tadi.


***


Beruntungnya, jam pelajaran kedua kosong. Sehingga Melodi bisa bersantai sejenak. Karena Melodi ketinggalan pelajaran di jam pertama, akhirnya dengan terpaksa ia meminjam catatan Neta, teman sebangkunya. Neta ini adalah cewek paling introvert di kelasnya. Ia hanya berkata singkat, tak pernah panjang lebar. Oleh karenanya, Melodi tak mau berteman dengannya. Bukan karena Melodi pilih-pilih teman, hanya saja ia tak bisa berinteraksi sama sekali dengan spesies seperti Neta.


"Net, gue pinjem catatan fisika lo ya?" Sambar Melodi ketika Neta sedang asyik membaca buku.


"Iya boleh." Sambil terus menatap ke deretan kata di buku, Neta menunjuk buku catatan fisika miliknya yang tergeletak di atas meja. Melodi tidak membalas perkataan Neta lagi, karena ia tak mau mengganggu aktivitas Neta.


Sementara, cowok di seberang meja Melodi terus menerus mengoceh, meminta makanan rahasia yang sempat dikatakan Melodi. Jujur saja, perutnya meronta-ronta sedari tadi, minta diisi oleh sesuatu.


"Mel, mana ih!" Todong Gema.


Melodi membuka resleting tas, dan memberikan sekotak bekal pada Gema. Yang dikasih langsung tersenyum senang. Dalam sekejap, cheese cake buatan Melodi habis ludes menyisakan kotaknya saja.


"Lo laper atau rakus?"


"Dua-duanya." Jawab Gema. "Oh ya Mel, gue haus nih." Gema mengusap-usap lehernya.


"Ya terus?" Sinis Melodi.


"Ya harusnya lo paham dong. Kalau kita ngasih sesuatu itu nggak boleh setengah-setengah."


"Yee, bilang aja lo minta minum gitu. Ribet amat sih." Melodi menyodorkan botol minum pada Gema. "Oh ya, jangan lupa lo cuci kotak bekal sama botol minumnya sebelum dibalikin ke gue. Soalnya gue nggak mau ketularan bakteri yang bersarang di mulut lo." Ucap Melodi sedikit jail.

__ADS_1


"Iiih.. lo jahat banget sih sama gue." Gema mengerucutkan bibirnya. Sementara Melodi tergelak karena raut wajah memelas Gema.


Mohon maaf atas ketidaknyamanannya karena banyak revisi


__ADS_2