
Melodi menjejakkan kaki kembali di kantin setelah insiden dengan Bianca empat hari yang lalu. Di tempat yang sama, Melodi masih bisa merasakan lontaran kalimat jahat Bianca yang ditujukan padanya. Semuanya begitu jelas terekam dalam memori. Seakan tidak ingin singgah apalagi menghilang.
"Pesanan datang..." Suara Gema menyadarkan lamunan Melodi.
"Makasih Gema," Ucap Melodi dengan lembut. "Tunggu, tunggu. lo pesan sebanyak ini?" Melodi melongo melihat makanan dan minuman yang terhampar di atas meja.
"Ya... begitulah. Orang bilang sih, kalau suasana hati lagi sedih pasti pengen makan banyak." Gema melengkungkan senyuman.
"Jadi maksud lo, gue mesti abisin semua makanan dan minuman yang ada di meja ini?" Tanya Melodi, memastikan bahwa Gema hanya bercanda.
Tetapi, Gema bereaksi lain. Dia malah menganggukkan kepalanya, seolah memberi isyarat bahwa pertanyaan yang Melodi lontarkan memang benar.
Huft. Melodi menghirup semua oksigen yang ada di sekitar, tanpa memberikan sisa sedikit pun kepada pengunjung kantin. Kemudian menghembuskannya dengan kasar. Melodi mulai mengambil sepiring kwetiau. Ini akan menjadi makanan pembuka di siang hari ini. Setelah habis, Melodi mengambil semangkuk mie ayam. Racikan bumbu yang dimasukkan ke dalamnya mampu membuat lidahnya menari-nari. Tersisa satu piring. Isinya adalah lima potong martabak keju. Dalam sekejap, Melodi melahapnya. Dan terakhir, Melodi meminum Thai Tea.
"Euuu..." Melodi bersendawa saking kenyangnya. "Eh, maaf, maaf." Ucapnya sedikit malu.
Gema terkekeh geli melihat tingkah Melodi. Di matanya, mungkin Melodi manusia karet yang elastis. Sehingga dapat menampung apapun.
"Santai aja. Gimana perasaan lo sekarang? Udah merasa baikan?"
"Gue acungin jempol buat lo kali ini, karena pepatah yang lo bilang benar." Melodi mengacungkan kedua jempol.
"Siapa dulu dong, Gema Angkasa." Gema menyombongkan dirinya.
"Aish, harusnya gue nggak usah puji lo. Lo malah jadi besar kepala gitu kan."
"Haha, eh tapi gue ikut senang dengarnya." Gema, lagi lagi mengukir senyuman. Membuat hati Melodi lumer seperti cokelat yang dilelehkan.
Jam istirahat telah usai. Mereka bergegas untuk kembali ke kelas. Namun, langkah mereka terhenti di sebuah mading yang terletak di depan kelas X IPA 1. Disana telah ramai murid yang berkerumun. Mereka penasaran, kemudian mereka masuk ke celah-celah kerumunan.
Ternyata, hasil ulangan kimia sudah keluar. Tak perlu waktu lama, Melodi langsung menemukan namanya. Matanya tidak salah lihat kan? Urutan pertama dengan nilai 96 adalah Melodi Senja. Itu namanya. Melodi hampir memekik kegirangan. Matanya beralih kembali ke selembaran kertas tadi. Membantu Gema untuk mencari namanya. Dan, ketemu. Gema berada di urutan ke 25 dari 30 murid di kelas. Pencapaian yang cukup baik.
__ADS_1
"Gemaaa.. gue ada di urutan pertama." Melodi memeluk Gema saking senangnya. Bagaimana tidak? Ia mengalahkan Tio sang juara kelas di ulangan kali ini.
"Selamat ya Mel." Gema menyambut pelukan Melodi.
"Makasih ya Gema. Oh ya, pulang sekolah gue traktir es krim gimana? Anggap aja balas budi karena lo udah bikin kegalauan gue sedikit berkurang. Dan juga, karena gue dapet nilai bagus." Kalimat itu tiba-tiba saja terlintas dalam benak.
"Wiiiih... berangkat." Gema mengalungkan lengan kanannya di leher Melodi, mengajak cewek itu kembali ke kelas.
***
Melodi sedang asyik menggambar sebelum seorang wanita datang menghampiri. Mengeluarkan kata-kata seperti dia manusia paling benar di kelas ini. Siapa lagi kalau bukan Cindy. Mak Rempong yang paling tersohor di kelas X IPA 2.
"Mel, lo nyontek kan ke Tio?" Tuduh Cindy tanpa alasan yang jelas.
"Udah ngaku aja. Ulangan kemarin kan Tio duduk di seberang meja lo." Cindy berkata lagi.
"Mel, lo nggak dengarin gue ngomong ya?" Geram Cindy, karena Melodi tidak mengucapkan sepatah kata pun.
"Ada apa ini?" Sambar Tio yang baru saja masuk kelas.
"Dia nyontek ke lo kan Tio, masa nilainya lebih tinggi daripada lo." Seloroh Cindy.
"Lo ini ngomong apa sih, ngelantur aja. Ya kalau emang Melodi nilainya lebih tinggi daripada gue, itu bagus dong. Artinya gue harus berjuang lebih keras lagi karena gue punya saingan yang kuat sekarang." Jelas Tio, membuat Cindy perlahan mundur. Berlari ke tempat duduknya. Mungkin dia malu.
Cindy Martha. Seorang wanita yang berperawakan tinggi, melebihi Melodi. Dia berparas cantik, tetapi tidak memikat hati kalangan cowok karena sifatnya. Memiliki rambut keriting sebahu. Kalau dilihat sekilas, Cindy ini mirip seperti Bianca. Hanya saja, Bianca tidak berambut keriting. Melainkan rambut lurus sebahu. .
"Gue minta maaf ya atas Cindy." Tio merapatkan kedua telapak tangan di depan dada, seraya meminta maaf.
"Iya, santai aja. Sekarang lo jadi perantara Cindy buat minta maaf? Cieee.. udah mulai dekat ya." Ledek Melodi pada Tio.
"Lo ini aneh-aneh aja deh." Tio salah tingkah, kemudian dia kembali ke tempat duduknya.
__ADS_1
Melodi menengokkan kepala, melihat penghuni meja di sampingnya. Tidak ada. Kemana perginya anak itu? Melodi melirik jam yang melingkar di tangan. Sudah jam sebelas. Ini bukan jam istirahat.
Suara gaduh di luar, membuatnya beranjak dari kediaman. Melodi penasaran dengan yang terjadi. Banyak orang berlarian menuju ke arah lapangan. Ada apa memang? Melodi bertanya-tanya dalam hati.
"Eh, eh, ada apaan sih?" Sergah Melodi pada seorang cewek, sepertinya dia anak kelas X IPA 4.
"Dua cowok lagi taruhan di lapangan."
"Dua cowok? Siapa mereka?" Sontak Melodi terkejut. Tidak mungkin mereka kan?
Melodi berlari sekuat tenaga menuju ke arah lapangan. Menerobos orang-orang yang menghalangi. Melodi tidak mampu berpikir jernih saat ini. Ia terlalu takut menghadapi situasi pertarungan antara kedua cowok itu saat di taman kota. Sesampainya di lapangan, anak-anak sudah ramai bersorak sorai. Seperti para penonton pertandingan sepak bola.
"Oke, jadi teknisnya begini. Kalian berlari sebanyak lima putaran. Setelah itu, kalian kembali lagi ke tempat asal. Kemudian melakukan serangkaian senam pembentukan otot yang sudah ditentukan. Siapapun yang menyelesaikan misinya dalam waktu lima menit, dia pemenangnya. Mengerti?" Ucap salah seorang cowok, yang merupakan teman Rendi. Tangannya memegang selembaran, persis seperti pembaca UUD.
Dugaan Melodi benar. Firasatnya tidak salah. Dua orang manusia itu kini tengah berada di lapangan, di bawah teriknya sang raja siang. Melakukan beberapa senam pembentukan otot seperti run, sit up, squat jump, push up dan squat thrust. Entah apa yang mereka taruhkan Melodi tidak tahu.
"Katanya mereka melakukan ini demi memperebutkan seorang cewek." Celetuk cewek di samping Melodi.
"Oh ya? Beruntung banget dia, direbutin sama dua orang cowok ganteng." Sahut salah satu temannya. "Siapa nama cewek itu?" Tanya temannya lagi.
"Kalau nggak salah..." Ucapan mereka terpotong karena suara asing yang tiba-tiba datang.
"Melodi Senja." Cowok itu berdiri tepat di hadapan Melodi, menatap lurus ke wajah Melodi.
Sammy. Bisa dibilang, dia cinta pertama Melodi. Mereka saling mengenal sejak masih duduk di sekolah menengah pertama. Kala itu, Melodi tidak ingat tepatnya apa masalah yang membuat mereka berpisah.
"Jadi, mereka gini karena rebutin gue?" Mata Melodi membelalak kaget. "Mereka pikir gue barang apa yang bisa direbutin seenaknya."
"Iya, lo ini emang selalu jadi rebutan para cowok ya Mel." Melodi mengabaikan perkataan Sammy. Melodi memilih untuk memasuki area pertandingan, menghentikan aksi konyol mereka.
"Benar-benar. Mereka bikin gue malu di depan banyak orang. Lihat aja, bakal gue kutuk mereka jadi batu kayak Malin Kundang." Gerutu Melodi dalam hati.
__ADS_1