A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 50


__ADS_3

Melodi terpaksa membawa cheese cake buatannya sendiri untuk menyogok Gema. Melodi sangat yakin kalau Gema masih marah padanya, terlebih teleponnya kemarin tidak ada sahutan sama sekali. Alhasil, Melodi bangun pagi demi pacarnya itu. Karena Melodi tahu, Gema pasti memaafkannya jika diberi satu kotak cheese cake.


Dan, dugaan Melodi benar. Melodi belum melontarkan pertanyaan sama sekali, Gema langsung mengangguk pasrah dan merebut kotak bekal dari tangan Melodi.


"Jadi lo maafin gue kan?" Tanya Melodi dengan hati-hati.


Gema menganggukkan kepalanya kembali, kemudian tersenyum pada cewek itu. Mulutnya yang penuh dengan cheese cake membuat pipinya sedikit mengembang. Sangat lucu, ucap Melodi dalam hati.


"Lo tahu nggak sih, gue bangun jam 4 tahu tadi pagi." Melodi memasang tampang memelas. Ia berharap, Gema bisa mengerti dengan keadaannya. Tapi kenyataannya, Gema menjawab perkataannya yang jauh dari prediksi.


"Ngapain? Rajin benar. Emang ada ulangan hari ini?" Ucapnya dengan wajah polos.


Melodi geram dengan ucapan Gema. "Ya gue bela-belain bangun pagi karena lo. Gue bikin cheese cake ini spesial buat lo, sekaligus tanda permintaan maaf gue."


Gema berhenti mengunyah cheese cake, tatapannya kini tertuju pada cewek di sampingnya. "Gue kan udah maafin lo dari kemarin juga." Jawabnya tanpa rasa bersalah. Dari raut wajahnya Melodi bisa menilai kalau Gema berbicara serius.


"Demi apa?" Melodi terkejut.


"Demi aku padamu." Gema tertawa renyah.


"Tapi kenapa telepon gue nggak dijawab kemarin? Gue ngomong panjang lebar tapi lo nggak ngomong satu patah kata pun. Dari situ makanya gue nyangka kalau lo masih marah sama gue."


Gema menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Oh itu, gue ketiduran. Habis omelan lo kayak pengantar tidur tahu." Gema terkikik.


Detik selanjutnya, Melodi memukul-mukul lengan Gema, tidak peduli cowok itu berteriak heboh karena merasakan sakit. Hingga akhirnya, datang seorang cowok yang menghancurkan mood Gema begitu saja.


"Wah, lagi pada ngapain nih." Deon duduk di depan Melodi. Sejurus kemudian, matanya menangkap satu kotak bekal yang masih menyisakan sepotong cheese cake. "Gue ma.."


Gema lekas menyingkirkan kotak bekal itu dari hadapan Deon, selepas mengetahui pergerakan Deon. Ditutupnya kotak bekal itu kemudian disimpan di mejanya.


"Ini, punya gue. Dibuat spesial sama pacar gue buat gue. Jadi lo, nggak berhak makan ini." Sinis Gema.


Deon menatap remeh Gema, satu alisnya terangkat. "Oh gitu, sayang banget ya. Padahal gue cuma mau cicipin sedikit. Soalnya nyokap gue tuh buka toko kue, nah kali aja kue buatan Melodi bisa dititip gitu disana kalau rasanya sesuai."


Melodi langsung antusias, matanya melebar. "Serius? Kok lo nggak pernah cerita sih? Kalau tahu kayak gitu kan gue bisa join bisnis sama nyokap lo."


"Ya gimana gue mau cerita sama lo. Orang lo tiap hari sama dia terus." Deon melirik Gema. "Tapi tenang aja, selama kita jadi rekan kelompok, gue bakal kenalin lo sama nyokap gue."


"Benar ya, makasih loh Deon." Tanpa sadar, Melodi menggenggam kedua tangan Deon. Spontan, jantung Deon berdegup begitu cepat. Gema lekas menepisnya, pemandangan di depannya sungguh membuat api berkobar di hatinya.


"Oke deh, gue balik ke tempat duduk ya. Jangan lupa nanti kita pulang bareng." Deon mengedipkan mata pada Melodi yang langsung dibalas tatapan tajam oleh Gema.


***


Ingin rasanya Rendi pergi ke planet mars detik ini juga. Bagaimana tidak? Jam istirahatnya suram sudah karena adiknya sendiri. Yang jadi masalah, bukan kehadirannya, melainkan omelan yang diulang-ulang. Rendi tahu, Gema tidak kesal padanya. Tapi Rendi merasa, ia seperti bahan pelampiasan kekesalan Gema.


Beruntungnya, kantin tidak terlalu ramai siang ini. Sehingga Rendi bisa menutupi rasa malunya karena ulah Gema.


"Bang, asli gue kesal banget sama si Deon. Masa ya, tadi tuh dia ngeganggu gue sama Melodi waktu lagi ngobrol. Ditambah lagi, dia nawarin Melodi buat join bisnis sama nyokapnya lagi. Udah gitu, Melodi megang tangan Deon lagi di depan gue bang. Lo bayangin, depan mata gue. Gimana nggak cemburu coba gue." Gema mengatur napasnya yang tidak beraturan. Emosinya benar-benar terkuras hanya karena seorang Deon.


Telinga Rendi panas mendengar setiap keluhan Gema. Ia memilih untuk melanjutkan makannya. Baru saja akan menyuap sebuah bakso, Gema menyela. "Bang, kok lo tega sih sama gue. Adik lo lagi menderita kayak gini lo malah enak-enakan makan gitu. Dimana perasaan lo bang."


Sendok yang di atasnya terdapat sebuah bakso refleks jatuh ke dalam mangkuk. Bibir yang tadinya menganga, terkatup sudah. Rendi mengepal tangannya keras-keras, bahkan uratnya saja sampai terlihat keluar.


"Jadi lo maunya apa sih?" Rendi sedikit membentak. Jujur saja, kesabarannya hampir habis menghadapi sikap kekanakan Gema. Bukan hanya itu, perut yang bergejolak juga tenggorokan yang gersang mampu menyulut emosinya.


Gema terdiam. Detik berikutnya, ia memasang wajah memelas. Wajah yang paling tidak mau Rendi lihat. Karena tentu saja, Rendi pasti akan merasa sangat kasihan.


"Ya udah, lo maunya apa adikku sayang?" Nada bicaranya sedikit direndahkan.


"Gue lapar. Gue mau bakso punya lo." Gema langsung menarik mangkuk yang ada di depan Rendi.

__ADS_1


Rendi spontan menganga. "Woy! Lo beli aja lagi gih sana. Ngapain makan bakso punya gue."


Tetapi, Gema sudah terlanjur menyantap bakso itu. "Nggak mau. Gue pengennya bakso ini."


"Gema, lo ngidam? Asli deh, gue nggak ngerti banget." Rendi hendak bangun dari kursi, sebelum Gema mencegahnya.


"Mau ngapain?"


"Ya gue mau beli lagi lah. Gue juga kan lapar."


Gema mengerucutkan bibir. Sungguh sangat menjijikkan sekali. "Bang, gue nggak bisa lihat lo makan bakso dengan santai. Dengan wajah bahagia. Gue nggak bisa.."


"Lah terus?"


"Abang cukup duduk disini aja, lihatin gue makan." Gema memohon pada Rendi. Tapi, apalah daya. Rasa lapar Rendi mengalahkan segalanya. Ia lekas meninggalkan Gema, berlama-lama dengannya juga hanya membuatnya mati. Entah itu karena kelaparan atau karena gila.


***


Cemburu itu wajar. Yang tidak wajar adalah tidak memiliki perasaan cemburu.


Melodi membaca kutipan yang tertera di akhir cerita. Ia sedang membaca sebuah novel di perpustakaan. Entahlah, ia tidak mau mendengar suara apapun sekarang. Apalagi omelan Rendi yang dikirim via pesan.


Awalnya, Melodi ingin menghabiskan waktu istirahatnya di kelas. Lagipula G-Namica sudah jarang kumpul di kantin. Mengingat padatnya aktivitas mereka setiap harinya. Selain itu, Gema juga melesat begitu saja tepat saat bel berdering, tanpa ada ucapan sama sekali padanya.


Namun, keinginannya pupus sudah ketika mendapat pesan dari Rendi. Ia mengatakan kalau Gema melampiaskan kekesalannya padanya, lalu ingin datang ke kelas Melodi. Rendi ingin melabrak Deon karena sudah membuat adiknya menderita, begitu isi pesannya.


Membaca sederet kalimat itu, Melodi langsung khawatir. Dengan terpaksa ia menyeret Deon ke dalam perpustakaan. Mungkin suatu kemenangan tersendiri bagi Deon karena Melodi sudah bisa menerima kehadirannya.


"Eh Mel, rencananya kita mau bikin apa nih?" Deon mengawali pembicaraan. Karena sudah sepuluh menit mereka duduk disana, tidak ada obrolan sama sekali. Keduanya sibuk dengan dunia masing-masing. Selain itu, peraturan yang menetapkan tidak boleh berisik membuat Deon tidak bisa berkutik.


Melodi menoleh, kemudian menyimpan telunjuknya di bibir. Dengan suara rendah ia berkata, "Suuut! Jangan berisik."


Deon langsung mengecilkan volume suaranya, kemudian memberikan buku resep makanan yang sedari tadi ia baca. Jarinya menunjuk foto kue dengan bermacam topping di atasnya. Di bagian samping foto, terdapat bahan dan cara membuatnya.


Melodi berpikir sejenak, menerka-nerka apakah dirinya bisa membuat makanan tersebut. Sedetik kemudian, ia menganggukkan kepalanya. Setuju dengan pendapat Deon.


"Oke kalau gitu, berarti sekarang jadi ke rumah gue?" Deon kembali mengambil buku resep tadi dan membolak-balik setiap lembarannya.


Melodi menyatukan alisnya sampai ke tengah, lalu berkata. "Ngapain? Kan pelajaran wirausaha rabu depan. Masih ada waktu lima hari lagi kali. Yang ada kalau bikin sekarang basi kali." Melodi sedikit tertawa.


"Bukan gitu, maksud gue ya kita susun teks buat presentasinya atau beli bahan yang awet gitu." Deon tidak kehabisan akal. Yang jelas, ia ingin waktu lima hari ini dimanfaatkan sebisa mungkin. Tentunya ia tidak boleh gagal merebut hati Melodi--lagi.


"Ya kalau misalnya bikin teks presentasi disini juga bisa, ngapain di rumah lo. Terus beli bahan mending nanti aja, sekalian jadinya nggak mesti bulak-balik."


Deon kembali memutar otak, mencari alasan agar Melodi bisa meluangkan waktunya pulang sekolah sekarang. "Oh ya, katanya lo mau ngobrol-ngobrol sama nyokap gue. Kebetulan nyokap gue ada di rumah hari ini. Kalau hari lain, jangan harap lo bisa ketemu. Nyokap gue sibuk banget."


"Yang benar? Ya udah deh kita ke rumah lo pulang sekolah." Melodi berjalan menuju rak panjang, kemudian menyimpan novel tadi.


Deon langsung melengkungkan senyuman. Ditatapnya cewek yang tengah berdiri di samping rak, seraya berkata dalam hati.


"Lo pasti bisa jadi milik gue Mel, gue pastiin itu."


***


"Melodi mana?" Tanya Rendi pada teman sekelas Melodi. Sudah ke-sekian kalinya Rendi bertanya, tapi semua teman Melodi hanya mengedikkan bahunya, tidak tahu Melodi kemana.


"Kalau Deon?" Tanyanya lagi.


Dan, Rendi tetap tidak mendapat jawaban. Semuanya nihil. Kemana perginya Melodi? Padahal jelas-jelas tadi Gema mengatakan kalau Melodi ada di kelasnya.


Ada satu orang yang belum Rendi interogasi. Yaitu seorang cewek yang tengah duduk sendirian di kelas, tidak ikut nimbrung dengan teman-temannya yang lain. Rendi bergegas menghampiri cewek itu, duduk di sampingnya.

__ADS_1


"Lo teman Melodi kan?" Rendi mengulurkan tangan. "Gue Rendi."


Neta, yang sedang asyik menulis puisi sontak menoleh mendengar suara cowok di sampingnya. Jujur saja, ia sangat terkejut. Pasalnya, baru kali ini ada seorang cowok yang datang kepadanya lantas mengenalkan diri.


Masih mengulurkan tangan, Rendi berkata. "Gue Rendi."


"Gu-gue Neta." Katanya gelagapan. Sejujurnya, Neta sudah tahu kalau cowok di sampingnya adalah Rendi, mantan pacar Melodi sekaligus kakak dari Gema. Dan, dia juga sudah sering melihat Rendi. Tapi entah kenapa, berada di dekat Rendi seperti ini membuat jantungnya memompa lebih cepat.


"Lo, baik-baik aja?"


"I-iya." Ucap Neta dengan susah payah. Oh tuhan, ada apa dengan dirinya? Neta yang terkenal introvert ternyata bisa berinteraksi dengan kapten basket di sekolahnya.


"Oh ya, gue mau tanya. Lo tahu nggak dimana Melodi?"


"Melodi?" Neta balik bertanya. Bukankah Rendi sudah putus dengan Melodi? Kenapa ia masih bertanya seputar cewek itu?


"Iya Melodi. Gue mau ngomong sesuatu sama dia."


"Gue nggak tahu." Neta melanjutkan menulis puisinya.


"Oh gitu, ya udah makasih." Sebelum pergi, Rendi berkata. "Ngomong-ngomong, puisi lo keren."


Desiran aneh menjalar di sekujur tubuh Neta. Entah apa yang membuatnya demikian. Diberi pujian oleh Rendi rupanya mampu membuat gembok hatinya hancur. Neta baru menyadari, perasaan yang dulu ia coba singkirkan dengan susah payah ternyata tumbuh kembali.


***


"Rendi datang, Rendi datang." Bela mengintip dari balik jendela kelas. Dilihatnya, cowok berambut hitam legam itu tengah berjalan menuju kelas XII IPS 2.


Bianca merapikan tatanan rambutnya yang sedikit berantakan, kemudian melihat wajahnya di depan cermin. "Liptint dong liptint, bibir gue pucat banget." Pintanya pada Basma yang memegang pouch milik Bianca.


Rendi muncul dari ambang pintu. Raut wajahnya tidak bisa diprediksi sama sekali. Rendi lekas menuju singgasananya, diikuti oleh trio beauty di belakangnya.


Rendi mengacak-acak rambutnya asal, kedua tangannya bertumpu pada meja. Bianca langsung shock melihat cowok pujaannya bereaksi seperti itu.


"Rendi, lo kenapa?" Tanyanya dengan hati-hati. Bianca tidak mau salah bicara, ia takut Rendi murka.


"Gue lapar, gue haus." Suaranya terdengar lirih.


Bianca berbisik pada Bela. Sejurus kemudian, cewek itu berlari menuju meja Bianca. Mengambil satu kotak bekal dan sebotol air mineral, kemudian menyerahkannya pada Bianca.


"Ini, makan aja bekal gue. Kebetulan gue lagi diet. Oh ya, itu gue yang bikin sendiri loh." Bianca menyodorkan kotak bekal dan air mineral itu pada Rendi.


Rendi mengerjap. Ada angin apa Bianca membawa bekal? Apa kartu debitnya disita oleh orangtuanya? Ah, masa bodo.


Rendi lekas membuka tutup kotak bekal, kemudian menyantap isi di dalamnya. Rendi mengunyah setiap butir nasi, lalu menerka-nerka rasa nasi goreng tersebut. Lidahnya seperti tidak asing dengan rasa ini.


"Gimana? Enak?" Bianca menopang dagu di atas meja. Matanya dengan bebas melihat setiap lekuk wajah Rendi. Wajah yang belum bisa hilang dari ingatan Bianca.


"Lumayan." Ucap Rendi seadanya. Kemudian menyendok kembali nasi goreng, sampai habis tidak tersisa. Dibukanya tutup botol, lalu Rendi meneguk perlahan air mineral yang ada di dalamnya.


"Makasih ya Bi. Nanti biar gue cuci dulu kotak bekalnya."


Bianca langsung menyanggah. "Eh, nggak usah. Biar gue aja. Kebetulan gue lagi suka cuci piring." Bianca nyengir.


"Gitu? Oke deh. Sekali lagi makasih ya." Rendi tersenyum. Dalam sekejap, pipi Bianca merah merona. Sudah lama sekali ia tidak melihat senyum itu, senyum tulus yang selalu menghiasi hari-harinya.


Bianca bergegas kembali menuju tempat duduknya, hatinya bisa meleleh jika terus berada di hadapan Rendi. Bukan hanya itu, wajah putihnya bisa hangus terbakar karena panasnya api yang menerjang wajahnya tiba-tiba.


"Bi, sejak kapan lo hobi cuci piring?" Tanya Bela dengan polosnya. Dibanding Basma, Bela memang temannya yang paling lemot.


"Ish, lo itu bolot banget sih. Itu trik biar Rendi terpesona sama Bianca. Rendi itu suka cewek yang rajin tahu." Basma mencubit pinggang Bela, membuat Bela meringis kesakitan. Sementara Bianca memberi gestur pada Basma untuk mengunci mulutnya.

__ADS_1


Nah lo, ada apa dengan Neta? Kira-kira Bianca bisa jadi pacar Rendi lagi nggak ya? Terus Melodi bakal pilih Deon apa Gema? Selamat berbelit-belit wkwk


__ADS_2