A Romantic Badboy

A Romantic Badboy
Part 35


__ADS_3

Hujan deras perlahan berganti menjadi rintik-rintik. Membuat jalanan kering berubah basah. Bahkan, suara ban mobil yang melindas genangan air terdengar sampai ke dalam. Itulah kejadian di pagi hari musim hujan.


Setelah mengetahui realita sebenarnya, Rendi enggan bangkit dari kediamannya. Bumi yang dipijaki sudah tidak bersahabat dengannya. Begitupun makhluk di dalamnya. Terlalu banyak kebohongan yang disembunyikan. Lalu, masih pantaskah ia hidup?


Basah di sekujur tubuhnya, tidak membuatnya terganggu sedikitpun. Bahkan dingin yang menusuk-nusuk kulitnya, seakan tidak terasa sama sekali. Kondisi luar yang dialaminya tidak sebanding dengan tikaman dalam dirinya. Luka yang ditimbulkan oleh tikaman memang sedikit, namun meninggalkan sakit yang tiada henti. Begitulah hal yang dirasakan oleh Rendi.


Masih dalam dekapan Melodi, Rendi terdiam tanpa suara. Lidahnya begitu kelu, tidak mampu melampiaskannya lagi. Melodi terus memberikan semangat padanya, agar pikirannya jernih kembali. Biar bagaimanapun, Rendi tidak boleh kalah dengan masalahnya. Rendi harus melawan apapun resikonya.


Pelan-pelan, Melodi menepuk lengannya. Memberi isyarat bahwa mereka harus pergi dari tempat ini. Tetapi, Rendi tidak merespon. Wajahnya begitu pucat, seperti orang mati. Dingin yang menerpa membuat tubuhnya kaku seperti patung. Rendi pingsan detik itu juga.


Kepanikan muncul tidak sengaja. Melodi langsung menelepon Gema yang ada di dalam mobil. Memintanya untuk membawa Rendi pulang ke villa. Belum saatnya Rendi membicarakan permasalahannya. Biar, Melodi yang akan mengatasinya.


Telepon tersambung ketika terdengar suara dari seberang sana. Suara ibu yang khawatir karena anaknya belum pulang ke rumah. Padahal, hari telah larut.


"Mel, kamu dimana?"


"Bu, kayaknya malam ini aku nggak pulang. Ada urusan yang harus aku selesaikan."


"Urusan apa? Emangnya nggak bisa besok?"


"Ini menyangkut nyawa seseorang bu. Aku mohon, izinin aku ya?"


Suara mendadak hening seketika, kemudian terdengar kembali.

__ADS_1


"Ya udah, ibu izinin. Jaga diri baik-baik ya disana."


Setelah mengantar Rendi, Melodi ikut dengan Gema ke rumahnya. Karena, ia memiliki firasat buruk akibat kejadian tadi. Gema pasti salah paham, dan otomatis meluapkan emosinya. Melodi tidak mau hal itu terjadi. Dengan kemampuannya, ia menenangkan Gema dahulu. Menyuruhnya untuk beristirahat di kamar. Bukan Melodi ikut campur dalam urusan keluarga mereka, tapi ia ingin berbicara sebagai sesama wanita. Melodi yakin, Gina pasti menjelaskannya.


"Ma, boleh aku tanya sesuatu?"


"Tanya apa Mel?"


"Mama bisa tolong jelasin ini sama aku?" Melodi menyerahkan amplop coklat pada Gina. Dengan hati-hati dia membukanya.


"Ke--kenapa kamu punya ini?" Gina gelagapan. Jelas sekali terlihat bahwa dia terkejut melihat isi amplop itu.


"Ma, kumohon. Bisa mama jelasin ini ke aku? Ini demi keluarga mama."


"Ma, aku mohon. Apa alasan mama membohongi anak mama sendiri?"


Kalimat yang Melodi lontarkan ternyata mampu membuat Gina menatapnya. Kali ini, dia duduk mendekat. Menyisakan satu jengkal jarak di antara mereka.


"Sebenarnya.."


Sebelum menikah dengan suaminya, Gina pernah bekerja di sebuah bar. Mungkin mereka berkata bahwa pekerjaan itu hina karena background bar sendiri. Tapi, Gina selalu menghiraukan celaan mereka. Lagipula dia bukan wanita jalang yang bermain lelaki. Statusnya hanya sebagai seorang kasir di bar tersebut.


Setiap hari, dia pergi bekerja malam. Lalu pulang ketika pagi sudah menjelang. Semua dilakukan demi kelangsungan hidupnya. Gina bukanlah keturunan bangsawan, dia hanya anak seorang penjual ikan di pasar. Sebagai anak sulung, dia rela menghabiskan waktunya untuk bekerja. Sementara wanita seumurannya dahulu lebih memilih untuk melanjutkan pendidikannya. Gina merupakan orang yang tekun. Dia bekerja tidak mengenal lelah sama sekali.

__ADS_1


"Gin, ini minum dulu." Ucap kekasihnya, yang juga bekerja di tempat itu. Tanpa ragu, Gina meminumnya sampai habis. Dahaganya memang tidak bisa ditahan. Setelah merasa dahaganya hilang, mendadak kepalanya pusing. Pandangannya kabur begitu saja. Gina hanya bisa merasakan tangan seseorang yang membopongnya ke suatu tempat.


Beberapa menit kemudian, Gina membuka mata kembali. Dia terkejut melihat ruangan yang ditempatinya. Itu sebuah kamar hotel. Gina langsung mengecek kondisinya. Rupanya benar. Pria itu telah merebut harta berharganya. Bahkan dia pergi begitu saja tanpa mempedulikan Gina.


Semenjak peristiwa itu, Gina memutuskan untuk mengurung diri di rumahnya. Dia terlalu malu menampakkan dirinya. Sampai suatu hari, seorang pria datang ke rumahnya. Dia adalah mantan kekasih Gina sebelum Gina menjalin hubungan dengan pria bejat itu. Kedatangannya tidak lain adalah untuk mempersunting Gina. Karena merasa frustasi, dia menerima pria yang kini menjadi suaminya.


Sebulan mereka menikah, Gina telah mengandung anak dari pria bejat itu. Gina tidak menceritakan hal yang sebenarnya kepada suaminya. Rumah tangga yang berjalan harmonis itu menyimpan banyak kebohongan. Semua berawal dari dirinya sendiri.


Genap sembilan bulan Gina melahirkan anak pertamanya, dia masih membungkam mulut. Dia sangat takut jika menceritakan yang sebenarnya. Suaminya pasti akan menyingkirkan anaknya. Biar bagaimanapun, Gina begitu menyayangi anaknya. Hingga suatu hari, ketika mereka bermain di sebuah hutan. Gina sengaja menitipkan anaknya pada temannya. Dari sanalah Gina membuat kebohongan kembali. Dia mengatakan pada suaminya bahwa anaknya hilang dan ditemukan tewas. Hal itu semata-mata dilakukan untuk melindungi anaknya.


Gina tidak pernah memiliki niat untuk menelantarkan anaknya. Dia memfasilitasi semuanya demi anaknya. Bahkan, dia selalu menemui anaknya. Namun, saat anaknya berumur 7 tahun, temannya membawa pergi anaknya. Mereka menculik anaknya dan Gina tidak pernah mengetahui keberadaannya. Sampai akhirnya, hari ini Gina mengetahui fakta yang terungkap. Ternyata, anaknya tidak pernah pergi jauh darinya. Dia selalu ada di dekatnya.


Mendengar cerita Gina, Melodi ikut prihatin dengan kondisinya. Dibalik sifat cerianya, ternyata Gina memiliki masa lalu yang kelam. Melodi menggenggam tangan Gina,, menguatkannya agar tetap tegar.


Tiba-tiba saja, dari arah belakang mereka terdengar suara pintu dibanting. Orang yang membuat kegaduhan itu langsung berlari ke arah Gina. Dia memeluk mamanya sangat erat. Gema sudah mendengar semuanya.


"Ma, maafin aku udah berprasangka buruk sama mama."


"Iya Gema, mama paham kok. Nggak seharusnya mama terus melanjutkan kebohongan mama."


"Ma, apa Bang Rendi mau menerima penjelasan mama?"


"Mama nggak tahu. Tapi mama akan coba bicara dengannya besok."

__ADS_1


Pemandangan dua orang di hadapan Melodi membuat air mata terjun bebas di pipi. Bukan menangis karena sedih, tapi bahagia. Melodi terharu menyaksikannya. Satu masalah sudah terselesaikan, tinggal satu masalah lagi. Melodi berharap, esok hari Rendi dapat menerima segalanya.


__ADS_2