
Gudang sekolah yang letaknya jauh dari jangkauan orang memang tempat paling cocok untuk menginterogasi Neta. Dengan ukuran yang cukup luas disertai dinding kedap suara. Barang-barang tidak layak pakai berserakan dimana-mana, bahkan yang rusak sekalipun. Debu-debu bertebaran sampai sarang laba-laba yang menambah kesan mengerikan gudang sekolah ini.
Bianca dan Basma sudah berdiam di depan gudang sekitar sepuluh menit. Menunggu kedatangan Bela dan Neta. Berkali-kali cewek itu mendecakkan lidah karena sudah tidak sabar mengeluarkan kata-kata pedas dari mulutnya.
Akhirnya, yang ditunggu-tunggu pun tiba. Tampak Bela dan Neta menuju ke arah sini, dengan sigap Bianca dan Basma bersembunyi. Walau begitu, samar-samar masih terdengar suara keduanya.
"Kok kita kesini kak?" Tanyanya dengan raut wajah polos.
"Oh iya, gue lupa kasih tahu ke lo. Tadi gue dikerjain sama temen sekelas, dompet gue dilempar ke gudang ini. Mereka emang suka keterlaluan kalau bercanda. Jadi, lo mau temanin gue kan masuk ke dalam sini? Soalnya gue nggak berani." Bela sedikit memohon pada Neta, raut wajahnya dibuat memelas agar Neta percaya.
Neta terdiam sejenak. Ia juga sebenarnya tidak memiliki keberanian untuk masuk ke dalam gudang itu. Rumor yang beredar mengenai siswa yang bunuh diri di gudang tersebut membuat bulu kuduknya berdiri. Walau kepala sekolah menindak tegas tidak pernah ada kejadian yang dimaksud, hanya sebagian siswa saja yang masih mempercayainya, termasuk Neta.
Kalau bukan karena impian yang didambakannya selama tiga tahun ini, Neta tidak mau merelakan dirinya berakhir di tempat ini. Ia lebih memilih pulang dan mengerjakan tugas wirausahanya. Tapi, ini kesempatan langka sekali baginya. Tidak mungkin ia menolaknya dengan cuma-cuma.
"Jadi gimana?" Bela masih menunggu keputusan Neta, karena cewek itu tidak menjawab sama sekali.
Dengan mengumpulkan segala keberanian beserta doa yang ia lafalkan dalam hati, Neta mengangguk. Langkahnya menuju pintu gudang, dengan perlahan ia tarik tuas pintu yang sudah berkarat itu. Debu-debu langsung menyambutnya kala pintu itu terbuka lebar.
"Di.. dimana teman kakak lempar dompetnya?" Neta berjalan begitu hati-hati, menelusuri gudang yang penerangannya remang-remang.
"Gue juga nggak tahu. Aduh, mana gue kebelet lagi. Gue ke toilet bentaran ya!"
"Tap.. tapi kak.. gue giman.."
Namun, semuanya hanya sia-sia. Bela sudah melesat pergi meninggalkan gudang, beserta Neta yang sudah mengeluarkan keringat dingin. Padahal, di luar sana panas begitu terik. Tapi mengapa tubuhnya bisa sedingin ini? Tenang Neta, di sini tidak ada apa-apa. Ia mencoba menenangkan dirinya.
Dan bodohnya, Neta tidak menanyakan pada Bela bagaimana ciri-ciri dompet tersebut. Sungguh, ia sangat merutuki dirinya.
Kakinya terus melangkah, entah kemana tujuannya. Yang pasti, Neta harus menemukan dompet itu, apapun resikonya. Ini demi ekskul modelling. Ini demi impiannya. Hingga akhirnya, Neta sampai di sebuah meja guru yang rusak. Di bawah meja, ada sebuah benda kecil mirip seperti dompet. Neta sedikit berjongkok, mengamati benda itu dari dekat.
"Halo, Arneta Safira." Suara cewek yang tidak asing di telinga Neta membuatnya gagal mengambil benda itu. Neta menoleh ke arah cewek itu, mendongakkan kepala. Spontan ia berdiri kemudian membungkukkan badan tatkala tahu siapa pemilik suara itu.
"Halo kak, salam kenal. Makasih udah rekrut gue jadi.."
__ADS_1
Bianca langsung memotong, "Oke, karena gue nggak suka basa-basi, gue langsung ke intinya aja. Gue peringatin ya sama lo. Jangan dekat-dekat sama pacar gue. Kalau lo, nggak mau gue musnahin."
Neta sedikit bingung, "Ma.. maksud kakak?"
"Nggak usah sok lugu lo! Gue tahu lo suka kan sama Rendi Permana? Dengar ya baik-baik. Lo harusnya ngaca dong, Rendi siapa, lo siapa. Lo nggak pantas suka sama dia, Rendi terlalu sempurna buat lo. Dan sampai kapanpun, Rendi cuma cocok bersanding sama gue. Bukan sama lo cewek lugu." Bianca menyilangkan kedua lengan di depan dada seraya tersenyum sinis. Dilihatnya cewek itu dari atas sampai bawah. Sungguh, tidak ada menariknya sedikit pun. Bandana di rambutnya sama sekali tidak cocok, apalagi kacamatanya. Dan dia berani menyukai Rendi yang jelas-jelas milik Bianca?
"Benar banget! Lo punya kaca nggak sih? Apa perlu gue beliin?" Ucap Basma, perkataan yang semakin memojokkan Neta. Jika saja Neta tahu akhirnya akan begini, mungkin Neta akan menyerah saja dengan impiannya.
"Lo dengar kan gue ngomong?" Bianca menjambak rambut Neta, membuatnya meringis kesakitan. Dicopotnya kacamata Neta, kemudian dengan cepat dilempar ke lantai. Selanjutnya, Basma menginjak kacamata tersebut hingga hancur berkeping-keping. Neta ingin berteriak detik ini juga, tidak sanggup melihat kacamata barunya tergeletak mengenaskan seperti itu.
"Kenapa? Lo nggak rela kacamata lo hancur? Lo, bakal berakhir tragis kayak kacamata ini kalau sampai lo berani dekatin Rendi lagi. Sekarang, lo pungut serpihan kacamata itu, gue nggak mau terluka cuma gara-gara kacamata murahan milik lo. Cepat!"
Layaknya babu, Neta memungut serpihan kacamata itu, tidak peduli jari-jarinya yang tertusuk dan mengeluarkan darah.
"Maafin gue kak, maaf. Gue nggak ada niat buat rebut Kak Rendi dari kakak, gue cuma suka sama Kak Rendi aja. Apa itu salah?" Sambil berlinangan air mata, Neta mencoba membela diri. Perlahan, rasa sakit di jari jeraminya semakin menyiksa.
"Jelas salah! Lo itu cuma sampah! Sampai kapanpun, lo nggak akan pernah dilirik sama Rendi! Pokoknya, gue kasih tahu sekali lagi. Lo harus jauhin dia! Kalau nggak, lo bakal tahu akibatnya." Dengan kasar Bianca melepas rambut cewek itu. Tanpa rasa kasihan keduanya meninggalkan Neta sendirian yang menangis karena ulah mereka.
***
"Ah, apa gue tanya Mel aja kali ya?"
Gema menyambungkan panggilan kepada pacarnya. Tak lama, Melodi mengangkatnya.
"Iya, kenapa Gema?"
"Mel, gue minta nomor ponsel Neta dong. Soalnya Neta belum nyamperin gue juga. Gue udah nunggu satu jam loh di tempat parkir. Udah berasa kayak partnernya tukang parkir sekolah."
"Loh, kok bisa? Apa mungkin Neta belum beres nyatet kali ya. Oke kalau gitu, gue kirimin ya nomornya via chat. Gue lagi marut keju nih soalnya. Nanti kalau tangan gue yang keparut gimana?"
"Jangan dong, kalau lo mati nanti pacar gue siapa?"
"Woy! Tangan keparut emang bisa bikin mati? Udah ah! Gue kirimin ya."
__ADS_1
Setelah mendapat nomor ponsel Neta, Gema lekas menghubungi cewek itu. Ponselnya aktif memang, tapi mengapa ia tidak mengangkatnya? Sebenarnya apa yang terjadi?
Tidak putus asa, Gema terus menghubungi Neta. Sudah hampir puluhan kali sepertinya Gema melakukan itu. Tapi tidak ada jawaban dari seberang sana.
"Aish! Kenapa cewek sukanya bikin ribet sih? Gue samperin ke kelas aja deh!"
Bukan Gema namanya kalau senang menunggu. Jelas sekali, ia sangat benci menunggu. Dengan terpaksa ia kembali ke kelas, mencari cewek itu. Dalam pikirannya, dia akan langsung menyeret Neta ketika bertemu nanti. Namun, rencananya gagal total. Neta tidak ada di kelas. Lantas, dia pergi kemana? Tidak mungkin kan dia lupa kalau mereka akan kerja kelompok?
Bertepatan dengan itu, Tio sang ketua kelas menyapanya. Dia sudah mengenakan kostum karatenya, karena hari ini merupakan jadwal latihan ekskul karate. Gema sempat berpikir, bagaimana bisa ia berlatih sementara besok ada tugas wirausaha? Apa mungkin ia sudah selesai mengerjakannya? Ah, tidak penting! Gema harus bertanya mengenai keberadaan Neta, kali saja Tio tahu.
"Eh Gema, tumben lo belum pulang?" Tanyanya dengan ramah.
"Lo tahu nggak Neta dimana?" Gema tidak menjawab pertanyaan Tio, ia malah kembali melontarkan pertanyaan.
"Neta, tadi sih gue lihat.."
Kalimat Tio terpotong karena Neta yang tiba-tiba muncul di hadapan keduanya. Bandana di rambutnya sudah dilepas, sementara kacamata barunya digantikan dengan kacamata lamanya. Untung saja Neta membawa kacamata itu.
"Lama ya! Sorry ya, gue tadi nyatetnya salah mulu. Ayo!" Neta buru-buru memalingkan wajah dari keduanya. Ia tidak mau ketahuan kalau dirinya habis menangis.
Seperti mengetahui kondisi Neta, Gema berkata, "Lo yakin bisa konsen dengan keadaan lo yang kayak gini? Cerita sama gue, lo kenapa?"
"Iya Net, mata lo kok sembab gitu." Tio berusaha melihat mata Neta, memastikan bahwa penglihatannya tidak salah. Namun Neta segera menutupinya dengan buku.
"Nggak, ini tadi gue kelilipan, terus sama gue dikucek jadi gini deh."
Ingin rasanya Neta berkata jujur pada Gema, karena Neta yakin, Gema pasti akan membalas perbuatan cewek itu. Gema paling benci melihat cewek terluka. Tapi Neta tidak kuasa, Bianca mengancam dirinya untuk tidak bercerita pada siapapun. Oleh karenanya, Neta memilih untuk berbohong.
"Lo yakin Net?" Tanya Gema setengah percaya.
"Iya, gue nggak apa-apa kok. Ayo, nanti keburu sore. Gue janji sama nyokap sampai di rumah jam 6 sore soalnya."
Neta melenggang pergi terlebih dahulu. Di belakangnya, Gema memperhatikan cewek itu. Seragam putihnya tampak sedikit kumal, jauh berbeda dari tadi pagi. Bandana yang melingkar di rambutnya tidak ada. Dan, lihat tangan kanannya. Sejak kapan tangannya mengeluarkan darah? Oke, ini bukan waktu yang tepat untuk menanyakan perihal tersebut pada Neta. Lebih baik nanti saja ketika sudah di rumah.
__ADS_1
I wanna say sorry for all, kalo misalnya jarang apdet, mohon maaf🥺