
Mendengar semua cerita Sukma tentang dirinya membuat nek Nilam ikut iba padanya,dia tidak menyangka nasib Sukma bisa tragis seperti ini,
Tapi nek Nilam juga bangga padanya,meskipun Sukma terlahir dari keluarga biasa,tapi dia merasa bangga padanya,karena dia mampu menempuh ilmu kedokterannya di tengah-tengah keuangan keluarganya yang berbasis sebagi buruh asisten,
Dan sebentar lagi ilmu kedokterannya akan selesai,
"Yang sabar ya nak,nenek percaya kamu orang baik,dan kamu juga akan menjadi orang yang berguna di masa depan,"..
Ucap nek Nilam berharap semua akan menjadi doa untuknya kelak,
Nek Nilam pun menyuruh Sukma untuk istirahat terlebih dahulu,
Nek Nilam tidak ingin Sukma sampai sakit karena kurang istirahat,
Di kamar yang sudah disediakan nek Nilam untuknya,Sukma memandang setiap foto yang terpajang,
Foto dua pria yang mungkin adalah anaknya nek nilam,
"Keduanya sangat gagah sekali"
Puji Sukma saat melihat foto tersebut,
Sukma menatap satu foto pria yang terpajang di sebelahnya,
Foto pria yang berprofesi sebagai dokter sedang berdiri bersama nek Nilam,
"Siapa dia,mengapa aku merasa seperti dekat dengannya?"
Ucap Sukma tak mengerti dengan perasaannya yang merasa tenang dan damai saat melihat foto dokter itu,
Sukma pun duduk di atas kasur,dia melihat sekitar kamarnya dan teringat akan kenangan ibunya dan Amira,
"Andai ibu masih ada,mungkin aku tidak akan seperti ini bu"
Lirihnya dalam hati,
Sukma teringat akan Amira,dia berharap Amira baik-baik saja dan akan segera sembuh,
Sukma pun coba menelpon ke rumah sakit jiwa,untuk menanyakan keadaaan amira,
Para suster memberitahu Sukma,bahwa Amira sangat senang sekali dengan hadiah pulpen dan buku yang Sukma bawakan untuknya
"Entah apa yang Amira gambar dibuku itu,tali Amira terlihat sangat asih menggambar di buku itu ka Sukma"
Ucap suster Emma pada Malika,
Mendengar itu,Sukma pun ikut merasa tenang,dia berbicara bahwa besok sepulang kuliah,dia akan pergi ke rumah sakit,
***
"Berhenti kau,menyerah lahkalau tidak,maka kau akan kami tembak,",
Teriak polisi saat mengejar Reiner ke dalam hutan,
Reiner terus berlari meski tanpa alas kaki,
Reiner berlari tanpa memakai baju atas,
Dia berlari sekencang mungkin menghindari kejaran polisi yang sedang mengejarnya,
"Sial,harus pergi kemana aku sekarang?"
__ADS_1
Tanya Reiner kebingungan dan takut polisi akan berhasil mengejarnya,
Dan tiba-tiba saja dari belakang,polisi berhasil menangkap Reiner,hingga dia tidak mampu berucap,
Hanya,
"Lepaskan,aku tidak bersalah,aku samasekali tidak bersalah,aku hanya sedang dikhianati,sekarang lepaskan aku,lepaskan"
Teriak Reiner berusaha melepaskan diri dari kepungan para polisi,
Reiner menginjak kaki polisi dan menendang nya,hingga reiner berhasil meloloskan diri,
Polisi yang marah langsung memberi peringatan kepada Reiner dengan menembakkan pistolnya ke arah atas agar Reiner berhenti berlari,
Namun naas saat Reiner berhasil kabur dari kepungan polisi,kini langkah Reiner terhenti karena sudah tidak ada pijakan,
Reiner terjebak diantara jurang yang sangat dalam dan para kepungan polisi di belakangnya,
Namun sesaat saat Reiner hendak pergi kearah samping,tiba-tiba saja sosok perempuan memakai topeng berseragam dokter mendekatinya dan terlihat ingin menolongnya,
Wanita bertopeng melambaikan tangannya dan coba meraih tangan Reiner,mereka berlari bersama-sama ,
Reiner merasa lega karena dirinya kini sudah bisa menghindar dari kepungan para polisi,
Mereka pun berhenti di tengah hutan,wanita bertopeng itu melepaskan tangannya dari tangan Reiner,
Wanita itu mundur beberapa langkah dari Reiner,
Saat jarak keduanya sudah agak jauh,
Wanita itu tiba tiba menodongkan pistol ke arah Reiner,
Dia bingung siapa wanita yang memakai topeng itu,mengapa dia ingin membunuhnya,.apa salahnya,
Reiner terus bertanya pada wanita itu,
Namun wanita itu hanya diam dan terus menodongkan pistol ke arahnya,
"Dor"
Satu tembakan berhasil wanita bertopeng itu layangkan ke arah bawah tepat dengan kaki Reiner,
Reiner pun mundur menghindari peluru yang terus wanita itu tembakan ke arahnya,
Reiner semakin ketakutan,dia tidak kuasa melawan karena dia tidak tahu siapa wanita itu,
Reiner terus mundur sampai dia tidak menyadari bahwa langkahnya sudah tidak bisa berpijak pada tanah,
"Ah tolong"
Reiner jatuh ka jurang,dia bertahan dengan memegang akar pohon yang ada di sisi jurang,
"Tolong aku?ampuni aku,tolong"
Teriak Reiner pada wanita itu memohon untuk diselamatkan,
Namun wanita itu hanya berdiri diam tak menjawab teriakan Reiner,
Reiner sangat terkejut saat wanita berseragam dokter itu membuka topengnya,
Dan ternyata,
__ADS_1
"Amira kau"
Ucap Reiner terkejut saat melihat wajah Amira lah yang ada dibalik topeng tersebut,
"Terimalah pembalasanku Rei"
Teriak Amira menembak Reiner tepat di tangannya agar dia tidak bisa bertahan pada akar pohon yang menjadi tenaganya,hingga akhirnya Reiner pun terjatuh ke dasar jurang,
"Ah..."
Teriak Reiner membangunkan seisi rumah,hingga akhirnya dia pun terjatuh dari tempat tidurnya karena mimpi buruk itu,
Mimpi yang sangat membuat Reiner ketakutan hingga jatuh dari tempat tidur,
"Rei"
Panggil Bu Siska mengetuk pintu kamar Reiner yang terkunci,
"Kau tidak apa-apa nak,bukalah pintunya nak"
Pinta bu Siska cemas dengan teriakan Reiner,
"Untunglah semua hanya mimpi"
Ucap Reiner berkeringat karena takut akan mimpi itu,
Semua berasa nyata dirasa Reiner,
Amira mengejarnya dengan tatapan penuh amarah dan bara api dendam padanya,
"Astaga aku kenapa,tidak mungkin Amira bisa melakukan itu semua,dia sudah tidak wara"
Masih dalam ketakutan dan kecemasan Reiner terus mengumpat akan mimpi buruk itu,
Reiner pun membuka kan pintu kamar,
Bu Siska terlihat sangat cemas dengan teriakan Rei dan saat tubuh Rei basah berkeringat,bu Siska semakin cemas,apa yang sebenarnya sudah terjadi,
"Kau kenapa nak,kenapa kau basah berkeringat seperti ini,kau sudah lari dari mana?"
Bu Siska tidak mengerti dengan semuanya,
Dalam hati Rei mengumpat bahwa dirinya baru saja lari dari kejaran Amira,dan terjatuh ke jurang,
"Sudahlah Bu,aku tidak apa-apa,aku hanya sedikit mimpi buruk,tapi sudahlah,ibu kembali saja ke kamarmu,aku baik-baik saja"
Rei memaksa ibunya keluar dari kamarnya,
Rei ingin menenangkan dirinya terlebih dahulu dari mimpi yang sangat membuatnya takut untuk memikirkan Amira,
Saat Bu Siska keluar dari kamarnya,Rei duduk di sisi tempat tidurnya dan mengingat kembali mimpi itu,
"Apa mungkin yang dikatakan Sukma akan menjadi kenyataan,bahwa dia tidak akan mengampuni mereka yang telah melecehkan adiknya dan membuatnya gila"
Pikir Rei teringat akan semua ucapan yang keluar dari mulut Sukma,
"Ah sudahlah,itu semua hanya mimpi"
Meski masih takut untuk kembali tidur,
Namun tetap memaksakan diri untuk kaembali berbaring
__ADS_1