Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
Rencana berhasil


__ADS_3

Reiner pun sangat terkejut, apa maksudnya? Siapa yang mengerjai mereka seperti ini?


"Aku tidak tahu, aku juga tidak dapat paket itu? Siapa juga yang berani mengerjai kita?"


"Sebenarnya aku juga tidak mengerti, tapi apakah ada orang lain yang tahu dengan kejahatan kita selain orangtua kamu dan Vidia? Bisa saja dia pelakunya? Dia ingin memeras kita?"


Jawab Sadam dirasa masuk akal.


Reiner pun coba berpikir siapa lagi yang mengetahui kejahatannya pada Amira Selain mereka dan Vidia.


"Tapi tidak mungkin jika Vidia yang melakukan semua ini?"


Pikir Reiner coba menebak, karena dia tahu Vidi tidak akan sebodoh itu melakukan hal yang akan membahayakan dirinya.


Di waktu yang sama Vidia pun datang ke rumah untuk menjenguk pak Dirga.


Saat Vidia masuk suasana rumah nampak sepi, akhirnya dia menuju kamar Reiner, dan benar saja, semua sedang berada di disana.


"Reiner, pantas saja di bawah sepi sekali? Ternyata kalian ada disini? Aku lihat ada mobil kamu Rio, aku pikir aku akan datang mampir dan jenguk calon mertua gue"


Ucap Vidia membuat mereka bertiga terkejut akan kedatangannya yang tiba, dan tanpa basa basi, Rio yang masih diselimuti rasa kesal oleh paket misterius itu langsung melemparkan boneka bayi ke arah Vidia.


Dengan sigap Vidia pun menangkap boneka itu dan melihatnya


Vidia heran, mengapa Rio memberinya boneka bayi? Apa maksudnya.


"Amira"


Kata Vidia membaca tulisan nama yang ada di balik leher bonekanya itu.


"Amira apa ini maksudnya? Dan kenapa kamu melempar boneka ini padaku?"


Tanya Vidia yang tidak tahu apa-apa.

__ADS_1


"Alah kau tidak usah berlaga tidak tahu, pasti kamu yang melakukan semua itu kan?"


Tegas Rio menuduh Vidia yang menerornya.


"Kamu tuliskan kata mati di fotoku dengan darah agar aku ketakutan, dan bukankah hanya kamu yang tahu kejahatan kita pada Amira?"


Lanjutnya.


Reiner pun coba menengahi keduanya agar tidak terjadi pertengkaran.


Reiner meminta Rio untuk tenang, sementara Vidia marah dan tidak terima di tuduh seperti itu oleh Rio.


"Aku benar-benar tidak tahu, Rei kamu percaya kan sama aku? Aku tidak mungkin melakukan semua itu, percayalah"


Vidia memeluk Reiner dan meminta perlindungannya.


Reiner percaya pada Vidia, meskipun dulu dia sempat menolong Sukma untuk mencarikan bukti kejahatannya, tapi untuk kali ini dia tidak mungkin berbohong.


Sadam coba Menenangkan Rio.


Dara dan dr Rafi pun tersenyum melihat semua pemandangan yang terjadi di kamar Reiner, pertengkaran mereka yang mencari tahu siapa pengirim paket misterius itu.


"Rencana kamu berhasil nak, besok langkah keduamu akan di mulai? Apa kamu sudah benar-benar siap menghadapi mereka secara langsung?".


Tanya dr Rafi pada Dara akan semua rencananya.


Dara pun mengatakan jika dirinya sudah benar benar siap masuk ke dalam hidup para penjahat itu.


"Dara sudah siap ayah, di hadapan pusara Amira, Dara sudah berjanji jika Dara akan membalaskan dendam atas kematiannya, ayah doakan saja semoga aku bisa melewati semuanya dengan mudah"


Jawab Dara pada dr Rafi.


Dara pun tersenyum dengan tekadnya yang kuat untuk membalaskan dendamnya.

__ADS_1


...


Sejenak Reiner dan ketiga sahabatnya melupakan siapa pelaku yang telah mengirim paket misterius itu, Vidia pun bertanya tentang keadaan papanya.


"Bagaimana keadaan papa kamu sekarang Rei? Apa aku bisa menjenguknya?"


Tanya Vidia.


"Ya terserah kamu"


Vidia pun pergi untuk melihat keadaan pak Dirga, sementara ketiga sahabat itu kembali berpikir langkah apa yang harus mereka lakukan untuk mencari tahu kebenarannya.


"Aku sangat yakin semua itu pasti perbuatan mereka yang tahu dengan kejahatan kita? Tapi siapa?"


Ujar Rio masih dengan tebakannya.


Sadam dan Reiner pun memang menduga seperti itu.


Vidia pun tiba di depan pintu kamar pak Dirga, disana Bu Siska sedang menyuapi dia makan.


"Vidia kamu ada disini nak?"


Tanya Bu Siska yang merasa bersyukur dengan datangnya Vidia, karena dia bisa menggantikannya menyukai pak Dirga.


"Ayo duduk sini"


Mereka berdua pun banyak bicara kesana kemari di depan pak Dirga, dan tanpa Vidia sadari, perlahan Bu Siska membuat Vidia menyuapi pak Dirga dengan alasan ada telpon yang harus dia angkat.


"Tolong sebentar ya Vid, tante angkat dulu telponnya "


Ucap Bu Siska pada Vidia,


Vidia pun kini menggantikan Bu Siska menyuapi makan pak Dirga yang masih lemah.

__ADS_1


__ADS_2