
Menyadari jika bukti sudah tidak ada, Sukma berpikir apa yang harus dia lakukan sekarang, Sukma sudah bisa menebak, jika kedua preman itu adalah suruhan Reiner dan kawannya, mereka sengaja menyewa preman untuk mengambil paksa bukti yang di miliki Sukma, karena mereka takut akan ancamannya.
Sukma pun mengantar Vidia untuk pulang,
"Tapi ka, sekali lagi saya minta maaf, saya tidak bisa membantu ka Sukma?"
Dengan rasa bersalahnya, Vidia masih berusaha meminta maaf pada Sukma untuk bukti yang hilang itu.
Sukma pun memakan Vidia, dan memintanya untuk tidak memikirkannya lagi, karena semua sudah terjadi dan itu adalah musibah, Sukma hanya meminta Vidia untuk mendoakannya agar keajaiban datang padanya.
"Ia ka, aku doakan semoga kakak berhasil menyelamatkan Amira dan memberi keadilan pada mereka yang telah melecehkan Amira"
Ucap Vidia pada Sukma.
Vidia pun pamit dan berlalu meninggalkan Sukma, sementara itu, Sukma yang masih kebingungan harus mencari bukti apalagi untuk di serahkan ke polisi masih terus berpikir.
Dia pun pergi menuju rumah Reiner dan berniat untuk menyusulnya.
Dengan segala persiapan yang ada, Sukma pun bergegas.
***
Di kediaman pak Dirga, rumah nampak sangat sepi, tidak terlihat keberadaan mereka di dalam rumah, Sukma pun mulai masuk untuk melihat keadaan sekitar.
Namun saat perlahan Sukma masuk ke dalam melalui pintu belakang, Sukma tidak sengaja melihat pak Dirga, Bu Siska dan Reiner sedang berbincang di dalam sebuah ruangan tertutup.
"Papa tidak mau hanya karena kesalahanmu, nama baik dan reputasi papa dan ibumu jadi hancur Rei, kenapa kamu tidak mengingat semua itu sebelum kamu melakukan sebuah kejahatan, dan itupun kamu lakukan pada Amira, anak pembantu kita, cuh"
Pak Dirga marah besar pada Reiner, ingin rasanya dia menghabisi anaknya, namun Bu Siska selalu membela Reiner.
"Sudah pak, jangan marahi anak kita lagi, dia belum tentu bersalah, bisa jadi Amira nya saja yang menggoda dan mengejar cinta anak kita, itu sebabnya semua terjadi. Ibu benarkan nak?"
Tanya Bu Siska pada pada Reiner, membela anak kesayangannya itu.
"Sekarang sudah aman pa, kedua preman kita sudah berhasil merebut bukti yang Sukma miliki untuk menjebloskan aku, jadi papa dan ibu tidak perlu khawatir lagi, biarlah Sukma sibuk sendiri mencari bukti kejahatan ku?"
Ujar Reiner merasa aman setelah kedua preman yang sudah mereka sewa berhasil merebut bukti dari Vidia.
__ADS_1
...
Sukma tiba-tiba datang diantara mereka dan bertepuk tangan.
Mereka pun sangat terkejut dengan kedatangan Sukma.
"Selamat, selamat, sudah aku duga, hanya kalian yang bisa melakukan semua ini padaku"
Kata Sukma dengan tepuk tangannya.
"Sukma"
Ucap mereka.
Sukma berjalan menghampiri pak Dirga, sosok pria yang menjadi panutannya, sosok pria yang sudah dia anggap seperti ayahnya sendiri.
"Inikah cara bapak mendidik anaknya sendiri? Luar biasa, kau sungguh luar biasa, seseorang yang menjadi panutan hidupku untuk setiap masa depan yang akan datang, ternyata tidak lebih dari seorang penjahat"
Ujar Sukma pada pak Dirga, Bu Siska pun tidak terima Sukma berkata seperti itu pada suaminya.
"Kau seringkali menasihati ku agar aku bisa menjadi anak yang baik, Putri yang mempunyai harga diri dengan pendidikan yang tinggi, tapi kenapa didikan mu kepada anakmu sendiri seperti ini? Mengapa kau mengajarkan anakmu menghadapi kejahatannya dengan kejahatan yang lain, bukankah itu sebuah kesalahan?"
Tanya Sukma dengan nada tinggi palda pak Dirga yang tidak menyangka jika pak Dirga nya tega melakukan semua itu padanya.
"Jawab aku pak, tatap mata Sukma"
Teriak Sukma dengan tangisan yang kecewa akan sikap pak Dirga yang tidak membela kebenaran akan keadilannya.
"Dan kau, bukankah kau seorang ketua LSM keadilan wanita? Dimana keadilan untuk adikku Amira Bu?
Dimana? Pada siapa aku harus meminta keadilan itu?"
Ucap Sukma pada Bu Siska dengan raut wajah yang sangat kecewa karena tidak ada jalan keadilan untuk adiknya.
"Pergi kamu dari sini Sukma"
Reiner meminta Sukma untuk pergi dari rumahnya.
__ADS_1
"Kalian tidak bisa menjawab ku, ayo jawab aku pak, Bu?"
Sukma menghiraukan semua ucapan Reiner yang mengusirnya, Sukma terus bertanya pada kedua orangtua Reiner untuk keadilan Amira, namun mereka masih tidak bersuara.
"Baiklah kalian diam, terima kasih karena diam kalian membuat seorang Sukma tidak akan mempercayai lagi seorang anggota dewan dan ketua lembaga perempuan untuk setiap keadilan, terima kasih karena kediaman kalian membuat seorang Sukma kehilangan panutan hidupnya"
Sukma mundur perlahan meninggalkan mereka, pak Dirga hanya menahan sesak di dadanya karena tidak mampu membela Sukma untuk keadilan adiknya,
Sedangkan Bu Siska menggerutu di dalam hatinya untuk semua perkataan Sukma padanya.
"Diam kamu Sukma, pergi dari sini sekarang?"
Reiner kembali mengusir Sukma dari ruangan itu.
Sukma yang mulai menyeka air mata yang membasahi pipinya, sedikit tersenyum pada pak Dirga Bu Siska da Reiner, dengan memperlihatkan dan menyetel suara rekaman saat mereka sedang bicara tadi, Sukma pun langsung menutup pintu.
Ternyata saat Sukma masuk dan mendengar semua percakapan mereka yang menyewa dua preman untuk merebut bukti yang dimiliki Sukma terekam jelas di handphone nya, saat itu juga Sukma langsung berpikir untuk merekam semua perbincangan mereka agar bisa menjadi bukti.
Pak Dirga sangat terkejut kala mendengar suara rekaman pembicaraan mereka di ponsel Sukma,
Pintu ruangan yang sengaja Sukma kunci dari luar, membuat mereka bertambah kesal dan marah,
"Sukma "
Teriak Reiner yang sangat marah untuk ulah Sukma yang menguncinya dari dalam.
Sukma keluar dari rumah pak Dirga dgn sangat terburu-buru, dia harus segera pergi ke ke kantor polisi untuk menyerahkan bukti rekaman pengakuan mereka, dan untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk terjadi padanya, Sukma langsung menyalin suara rekaman di card memori ponselnya dan langsung mengeluarkan card tersebut dari ponselnya.
Sukma merasa lega saat dirinya benar-benar keluar dari rumah neraka itu, dengan membawa bukti yang kuat untuk menjebloskan mereka yang telah menganiaya adiknya.
Air mata Sukma pun kembali menetes kala teringat pak Dirga yang begitu licik dan membuatnya sangat kecewa, Sukma masih tidak menyangka jika pak Dirga bisa sejahat ini padanya.
Sukma pun kembali teringat masa dimana pak Dirga selalu memberinya perhatian dan kasih sayang seorang ayah padanya, dan semua itu yang membuatnya sedih.
"Aku yakin, bapak orang baik, tapi mengapa bapak bisa berubah seperti ini?"
Tanya air mata Sukma yang terus menetes kala teringat kenangan bersama pak Dirga.
__ADS_1