
Sukma yang saat itu masih menyusuri lorong rumah sakit dengan kursi rodanya tiba-tiba melemah dan terus memegang dadanya,
Dia sangat gelisah, hingga kepalanya terasa berat dan pusing.
"Ada apa ini?"
Sukma terus bertanya apa yang terjadi padanya?
Dan tiba-tiba saja pandangannya mulai kabur dan seketika Sukma pun tidak sadarkan diri.
Untunglah Reiner yang saat itu melihat Sukma yang berusaha sendiri untuk terus maju dengan kursi rodanya menyadari jika si pemilik kursi roda pingsan.
Meski tidak mengenal wanita itu, Reiner langsung berlari menolongnya dan memanggil suster.
"Suster suster tolong, pasien ini tidak sadarkan diri?"
Teriak Reiner meminta tolong pada suster untuk menyelamatkan Sukma.
Suster pun terkejut dan panik, dia meminta Reiner untuk membawa Sukma ke ruangannya.
"Astaga nona, tolong bantu saya bawa nona muda ini ke kamar nya mas?"
Pinta suster pada Reiner untuk membantunya membawa Sukma ke kamarnya.
Meski tidak mau, Reiner pun tidak bisa menolak, akhirnya dia coba mengangkat tubuh Sukma yang lumayan berisi, saat melihat wajah Sukma, entah apa yang dirasakan Reiner, yang jelas jantungnya berdegup sangat kencang.
Dalam hati kecilnya, Reiner merasa jika dia mengenal wanita yang sedang dia gendong itu.
Dr Rafi tiba di waktu yang tepat, dia melihat Sukma yang sedang di pangku oleh Reiner menuju ruangannya,
"Siapa pria itu? Apa yang terjadi dengan Dara?"
Tanpa banyak berpikir dr Rafi pun segera menuju Sukma dan Reiner.
Reiner pun membaringkan Sukma di atas tempat tidurnya, dr Rafi yang datang langsung bertanya apa yang terjadi pada Dara? Dan siapa pemuda itu?
"Maafkan saya pak dokter? Tadi saya tidak sengaja melihat gadis ini kesakitan dan langsung tidak sadarkan diri, itu sebabnya saya memanggil suster dan langsung membawanya kesini atas perintah suster"
Jawab Reiner meminta maaf pada dr Rafi.
Dr Rafi pun berterimakasih dan meminta Reiner untuk pergi keluar.
Dr Rafi segera memeriksa Sukma yang tidak sadarkan diri itu.
Sementara Reiner kembali menuju pintu depan ruang ICU, dia mulai kesal karena sedari tadi pak Dirga tidak kunjung keluar, hingga akhirnya Reiner memaksa masuk sendiri kedalam.
Betapa terkejutnya dia saat melihat beberapa suster sedang menutup jasad Amira dengan kain putih.
__ADS_1
Reiner tidak bisa percaya jika yang dia lihat sekarang adalah kenyataan.
Kenyataan yang indah tentunya, karena akhirnya Amira tiada dengan sendirinya tanpa harus mengotori tangannya.
"Apa ini benar?"
Benak hatinya bertanya, namun melihat papanya yang sangat sedih dan terpukul, Reiner pun merasa heran, mengapa papanya bisa sesedih itu.
Reiner pun menghampiri pak Dirga yang berdiri tepat di samping jasad Amira, Reiner menarik lengan papanya dengan kasar.
"Ini apa sih pa? Untuk apa papa menangis?"
Tanya Reiner pada pak Dirga yang tidak suka melihatnya bersedih menangisi kematian Amira.
Dalam hati pak Dirga, dia tidak menyangka jika rencana untuk memalsukan kematian Amira justru menjadi kenyataan, dokter Aliya pun berpikir sama dengannya.
Namun pak Dirga mengingat pesan terakhir amira padanya untuk menjaga putrinya dengan baik.
Pak Dirga tidak mendengarkan apa.yang Reiner katakan padanya, dia hanya diam dan memikirkan bagaimana caranya agar Reiner dan keluarganya tidak mengetahui jik bayi Amira masih hidup.
"Bayinya juga ikut mati kan pa?"
Sebuah pertanyaan Reiner yang membuat pak Dirga akhirnya marah dan menamparnya.
Plak...
"bukan anak Rei pa, karena bukan hanya Rei yang melakukan nya, mungkin masih banyak pria lain yang telah menodainya, bisa jadi kan?"
Jawab Reiner menyangkal jika itu bukanlah anaknya.
"Diam kamu, sekarang juga pergi kamu dari sini"
Pak Dirga meminta Reiner untuk pergi meninggalkannya.
Dengan kesal dan penuh amarah, Reiner pun pergi meninggalkan rumah sakit itu bersama kabar yang menggembirakan hatinya akan kematian Amira dan bayinya.
***
Pak Dirga kembali menangis di samping jasad Amira,
"Maafkan bapak Amira, semoga kamu memaafkan sema kesalahanku pada kakakmu"
Ucap hati nya yang terwakili dengan linang air mata pak Dirga.
"Maaf pak, kami harus segera memindahkan Amira"
Ucap suster hendak membawa Amira ke kamar jenazah, pak Dirga pun meminta suster untuk segera mengurus keperluan pemakaman Amira dengan secepatnya.
__ADS_1
Dr Aliya membawa bayi Amira pada pak Dirga untuk dia lihat,
"Ini bayi Amira pak?"
Pak Dirga pun langsung memeluk dan mencium bayi tersebut dan memberinya nama Sukma dirgantara.
Sebuah nama yang pak Dirga ambil dari nama kakaknya yang pernah dia lukai yaitu Sukma.
Pak Dirga berharap semoga baby Sukma bisa sekuat dan sepintar Sukma dan sebaik Amira.
...
Sukma yang saat itu masih tidak sadarkan diri akhirnya mulai membuka matanya, dia melihat dr Rafi sangat mencemaskan nya.
"Bagaimana keadaanmu Dara?"
Selepas wajah Dara kini menjadi Sukma, dr Rafi tidak pernah berhenti memanggil Sukma dengan nama anaknya Dara, hingga Sukma pun mulai terbiasa dengan nama itu.
"Entahlah ayah, dadaku rasanya sesak, kepalaku sangat pusing sekali"
Dr Rafi pun mengatakan jika untunglah tadi Dara diselamatkan pemuda baik hati yang membawamu ke ruangan ini.
"Siapa pemuda itu ayah?"
Tanya Sukma penasaran.
"Ayah pun tidak tahu siapa pemuda itu, tapi yang jelas ayah bersyukur karena dia telah menolong anak ayah"
Dengan senyum penuh kasih sayang, dr Rafi memeluk Sukma selayaknya anak kandung.
Sukma pun menikmati kasih sayang dr Rafi sebagai ayahnya. Keduanya pun kini saling tersenyum datu sama lain.
Sukma bertanya pada dr Rafi kapan keadaan nya bisa kembali pulih dan berapa lama lagi.
"Ini sudah hampir 7 bulan aku di rumah sakit ayah, Dara sangat merindukan Amira, Dara ingin sekali menemui nya, melihat keadaannya"
Ucap Sukma dengan sedih.
Melihat putrinya sedih, akhirnya dr Rafi pun menginginkan Sukma untuk keluar dari rumah sakit dalam seminggu ini, tapi tentunya dengan pengawasan dirinya. Karena Sukma memang masih belum sembuh total.
"Baiklah terimakasih ayah"
Sukma kembali memeluk dr Rafi, dia pun sangat bahagia karena sebentar lagi dia akan bertemu dengan Amira.
"Tunggu aku dik, Kaka pasti akan datang menjemputmu?"
Ucap hati Sukma yang tidak sabar ingin bertemu dengan Amira.
__ADS_1