
Setelah media berhasil meliput berita tentang kecelakaan yang menimpa sang ketua dewan, akhirnya merekapun membubarkan diri untuk kembali meliput berita lain.
...
"Terimakasih untuk semua pujiannya dr Dara, selain cantik, dokter juga sangat baik hati?"
Ucap terimakasih bu Siska dengan wajahnya yang memerah karena tersipu malu akan semua pujian Dara padanya, dia tidak menyangka jika Dara bisa melakukan hal itu dihadapan media.
"Aku yakin dengan pengakuan dr Dara akan semua kebaikan tentangku, pasti akan menaikan namaku jauh lebih tinggi lagi, bahkan mungkin aku bisa menjadi seorang anggota dewan juga seperti suamiku"
Bu Siska tersenyum sediri dengan semua yang dia pikirkan.
Bu siska bahkan membayangkan jika dirinya bisa menjadi seorang anggota dewan seperti suaminya.
Disanjung dan dipuja masyarakat karena kebaikan dan kinerjanya yang bagus.
Mendapat semua pasilitas hidup mewah tanpa harus bekerja lebih keras.
"Bu...Bu."
Seketika khayalan Bu Siska buyar kala Reiner menepuk bahunya dengan sangat keras hingga mengejutkannya.
"Ibu kenapa? Apa yang sedang ibu pikirkan?"
Tanya Reiner melihat ibunya yang tersenyum sendiri dengan semua khayalannya.
Bu Siska pun tersadar dan bertanya kemana dr Dara?
Reiner pun berkata jika sedari tadi hanya ada ibunya yang berada disini, tidak ada siapapun termasuk dr Dara.
"Tapi tadi ibu bersama dr Dara Rei, kemana perginya dia?"
"Entahlah, ayo masuk, papa membutuhkan kita"
Reiner pun mengajak Bu Siska untuk kembali ke kamar papanya berharap pak Dirga bisa cepat sadar.
Dan ternyata saat Bu Siska dan Reiner masuk, dr Dara sudah berada di dalam kamar pak Dirga bersama Sadam dan Rio.
Mereka terlihat sedang bicara satu sama lain. Bu
"Baiklah jika nanti ada apa-apa panggil suster ya, saya harus pergi menemui pasien lain"
Ucap Dara pada Rio.
Dengan senyum penuh gairah melihat kecantikan dr Dara Rio pun menjawab semua pesan dr Dara
"Baiklah cantik"
Sadam pun mencubit lengan Rio saat dia menyadari jika sahabatnya itu mulai meresahkan dr Dara dengan semua jawabannya.
Rio pun tersadar dan minta maaf,
"Maafkan saya dok, habisnya dr Dara sangat cantik, hihi. baiklah nanti saya akan beritahu dr Dara jika sesuatu terjadi pada om Dirga"
Jawab Rio meminta maaf.
Reiner yang melihat kedua sahabatnya terlihat sangat dekat pun penasaran mengapa mereka bisa dengan mudah dekat dengan dr Dara?
__ADS_1
Reiner pun mendengar sedikit tentang apa yang mereka perbincangkan.
Bu Siska dan Reiner pun masuk,
"Ternyata dr Dara sudah ada disini? Tapi dari kapan?"
Tanya hati Bu Siska tentang dr Dara.
"Ah sudahlah, "
Bu Siska pun bertanya bagaimana kondisi suaminya sekarang? Kapan dia akan segera sadar?
"Denyut nadi pak Dirga sudah mulai normal, mungkin sebentar lagi beliau akan sadar, berdoalah karena beliau sangat memerlukan itu dari semuanya, kalau begitu saya pamit ya"
Dr Dara pun berlalu meninggalkan mereka.
Namun saat Dara membuka pintu kamar menuju keluar, terdengar seseorang memanggilnya dengan suara yang berat.
"Sukma"
Seketika panggilan itu membuat langkah Dara terhenti dan menoleh ke belakang untuk melihat siapa yang memanggil nama lamanya.
"Sukma cucuku"
Lanjutnya memanggil Sukma sebagai cucunya.
Bu Siska pun berteriak memanggil dr Dara untuk segera kembali memeriksa suaminya.
"Dok, kemari dok, suami saya mulai sadar"
Dalam hati Bu Siska dan Reiner bertanya, mengapa papanya menyebut nama Sukma? Apa sebenarnya yang terjadi? Mungkinkah semua berhubungan dengan meninggalnya Amira? Mereka pun kesal jika memikirkan semua itu.
Disaat semua mulai panik dan berharap yang terbaik untuk pak Dirga, Sadam melihat dr Dara menitikkan air matanya kala memeriksa pak Dirga.
Dalam hati Sadam bertanya,
"mengapa dr Dara seperti menangis dan sedih saat memeriksa om Dirga?"
Namun meskipun Sadam menyadari itu, dia memilih untuk diam dan tidak membicarakan hal ini kepada sahabatnya.
...
Pak Dirga pun kini perlahan mulai membuka matanya,
Dan wajah pertama yang pak Dirga lihat adalah wajah Dara, tentunya itu sangat membuat pak Dirga bingung? Dimana saya? Apa yang terjadi dengan saya?
Semua pertanyaan itu mulai terucap dari bibir pak Dirga yang bingung akan semua yang terjadi.
"Syukurlah pa, papa sudah sadar, papa sekarang sedang di rumah sakit, papa kecelakaan dan baru saja melakukan operasi"
Jawab Bu Siska yang langsung memeluk pak Dirga dengan lembut.
Pak Dirga pun mulai mengingat semua kejadian yang menimpa dirinya, dimana dirinya saat itu hilang kendali karena mengemudi dibawah kemarahannya pada Bu Siska paska pertengkaran mereka mengenai Amira.
Pak Dirga pun kembali diam, rasanya malas jika harus membicarakan kembali semua itu dengan istrinya.
Pak Dirga melihat dr Dara yang berdiri di sampingnya,
__ADS_1
Entah mengapa pak Dirga merasa aman kala melihat tatapan dr Dara padanya.
"Mengapa aku merasa mengenal dan tidak asing dengan tatapan itu?"
Pikir hati pak Dirga saat melihat Dara.
Dr Dara tersenyum pada pak Dirga, dia merasa tenang dan ikut bahagia karena beliau sudah sadarkan diri.
"Syukurlah, pak Dirga sudah sadar, pak Dirga istirahat dulu ya"
Suster pun meminta agar tidak ada banyak orang yang menemani pak Dirga karena itu hanya akan mengganggu waktu istirahatnya.
"Cukup satu atau dua orang yang menemani pasien ya, mohon pengertian semuanya agar bisa keluar, kasihan pasien harus istirahat"
Ucap suster kepada yang lainnya.
Kemudian Sadam dan Rio pun pamit keluar pada pak Dirga, mereka ikut bahagia karena pak Dirga sudah sadarkan diri.
"Lekas sembuh ya om, Sadam pamit dulu"
Ucap Sadam sebelum berlalu meninggalkan ruangannya.
Pak Dirga pun berterimakasih karena sudah menemani keluarganya selama dia tidak sadarkan diri dengan kode tersenyum.
Di susul dengan dr Dara dan suster, mereka pun pergi meninggalkan pak Dirga.
"Jangan lupa makan yang teratur dan habiskan obatnya ya pak"
Pesan dr Dara pada pak Dirga membuatnya mengingat kembali sosok Sukma dalam diri Dara.
"Mungkinkah rasa bersalahku yang teramat besar kepada Sukma membuat aku merasa seperti ini?"
Pikir hati pak Dirga teringat akan Sukma saat Dara mengingatkannya untuk tidak lupa makan dan minum obat.
"Baik dok, saya akan mengingatkannya "
Jawab Bu Siska pada dr Dara.
Merekapun akhirnya pergi dari ruangan pak Dirga.
Di luar, Sadam masih menunggu dr Dara, ada hal yang ingin dia tanyakan akan rasa penasarannya.
Saat dr Dara keluar, Sadam memanggilnya dengan sopan.
"Dr, maaf jika saya mengganggumu? "
Tanya Sadam.
"Ya ada apa?"
"Maaf sebelumnya jika saya tidak sopan menanyakan hal ini kepadamu, tapi semua ini membuatku penasaran, mengapa dokter tadi terlihat sangat sedih dan menangis saat memeriksa om Dirga?"
maaf ya min, 3 hari kmrin tidak up.
ceritanya kemarin dompet author hilang bersama hp didalamnya, dan ternyata dompet author jatuh bersembunyi di kolong kursi angkutan umum 🤠selama 3 hari baru ada yang nemuin dan allhmdllh yg nemuin langsg mengembalikan dan mengantarkan ke rumah saya karena d dlm dompet ada KTP ..
ternyata masih banyak org yg jujur dan baik ya...allhmdllh hp author bisa di pakai nulis lagi.
__ADS_1