
Dara pun terdiam saat Sadam bertanya hal seperti itu padanya, dia tidak menyangka jika ada yang melihatnya menangis saat memeriksa pak Dirga tadi.
Apa yang harus dia jawab padanya, alasan apa yang harus dia berikan agar Sadam tidak mencurigainya.
"Dia hanya teringat akan korban tabrak lari yang tidak bisa dia selamatkan nak, beruntung pak Dirga selamat karena dr Dara berhasil menyelamatkannya sebelum dia terbakar bersama mobilnya. Itu sebabnya anak saya merasa sedih teringat akan korban yang tidak bisa dia selamatkan tempo itu?"
Jaw dr Rafi membantu menjawab semua pertanyaan Sadam pada Dara.
Sadam pun merasa jawaban dr Rafi masuk di akal, dia juga bertanya apa yang dr Rafi maksudkan korban tabrak lari itu adalah Sukma?
"Ya, Sukma yang tadi saya ceritakan kepada semuanya, Dr Dara merasa sedih karena tidak bisa menyelamatkannya, itu sebabnya dia menangis saat memeriksa pak Dirga, karena beliau cukup beruntung daripada nasib Sukma"
Sadam pun terdiam dan sedikit menganggukkan kepalanya, Sadam tahu jika Sukma sudah tiada, namun dia tidak tahu jika Sukma tiada karena ulah Rio dan Reiner.
"Maafkan saya jika pertanyaan saya terlalu lancang, kalau begitu saya pamit, terima kasih "
Sadam pun pergi dari hadapan dr Rafi dan dr Dara.
Dr Rafi pun memeluk Dara yang tak kuasa menahan air matanya jika teringat akan takdirnya.
__ADS_1
"Sudah nak, tetap kuat, kini semua sudah berada di depan matamu, selangkah demi selangkah pembalasan dendammu akan segera dimulai"
Dr Rafi coba Menenangkan dr Dara dengan semua nasihatnya.
Dara pun minta ijin pada dr Rafi untuk pergi ke rumah sakit jiwa tempat dimana Amira di rawat.
"Kemarin saat pulang dari rumah sakit, Dara sudah berniat untuk pergi ke rumah sakit jiwa menemui Amira ayah, namun karena kejadian ini Dara hampir lupa akan niat Dara menjenguk Amira, bolehkah hari ini Dara pergi?"
Ucap Dara pada dr Rafi.
"Pergilah nak, temui adikmu, dia pasti merindukanmu."
Jawab dr Rafi mengijinkan Dara untuk pergi, dia pun berpesan untuk hati-hati dan menjaga dirinya baik-baik.
Dara begitu bahagia karena dia akan bertemu dengan amira. Tanpa banyak ini itu, Dara pun segera menuju rumah sakit jiwa dengan membawa mobil ayahnya.
Tak lupa Dara membawakan makanan serta pakaian untuk Amira sebagai hadiah permintaan maafnya karena selama ini dia menghilang tanpa kabar meninggalkan Amira.
Dengan suasana yang riang, Dara memilih baju yang sangat indah untuk Amira, Dara sengaja memilih baju berwarna peach dan abu, karena Amira memang menyukai warna baju yang soft, dia tidak menyukai warna yang mencolok.
__ADS_1
Setelah selesai memilih baju untuknya, Dara pun mengingat akan calon anaknya Amira.
"Amira pasti belum punya perlengkapan bayi, aku akan belikan sebagian dulu sebagai hadiah, sebagian nanti akan aku beli lagi bersamanya, agar dia sendiri yang memilih pakaian untuk bayinya"
Pikir Dara saat membeli sebagian perlengkapan bayi untuk bayi Amira.
Tak lupa Dara juga membeli donat madu kesukaan Amira, setelah semua sudah siap, Dara kembali melanjutkan perjalanannya menuju rumah sakit jiwa.
Sepanjang perjalanan Dara merasa sangat bahagia, rona wajahnya sangat indah karena kebahagiaan itu, dan semua itu membuat kecantikannya semakin terpancar dengan wajah barunya itu.
Setiba di gerbang rumah sakit jiwa, Dara turun, angin pun bertiup dengan pelan membuat hatinya damai,
"Wahai angin, aku sangat merindukan adikku"
Ucap Dara pada angin yang berlalu.
Dara pun mulai menginjakkan kakinya menuju rumah sakit jiwa, entah apa yang dia rasakan saat langkahnya tepat memasuki pintu untuk masuk kedalam.
Rasa gelisah yang tidak tahu apa sebabnya kini mulai dia rasakan.
__ADS_1
"Kenapa saat aku masuk kesini? Perasaanku menjadi gelisah? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa terjadi sesuatu pada Amira? Apa Amira tidak akan mengenaliku dengan wajah baru ini?"
Ucap Dara yang perlahan masuk kedalam.