Air Mata Cinta Dara

Air Mata Cinta Dara
firasat buruk Amira


__ADS_3

Amira yang kini terbaring lemah efek dari obat penenang yang diberikan suster mulai sadar, Amira coba membuka matanya secara perlahan.


"Ka Sukma"


Panggil Amira saat pertama kali dia tersadar, ingatan Amira masih tertuju pada kakaknya, namun tidak dengan tingkah yang berlebihan seperti sebelumnya.


Suster Mita pun datang dan bertanya pada Amira, apa yang sedang dia rasakan saat ini? Mengapa dia terus memanggil nama kakaknya?


Amira mengatakan jika dirinya hanya ingin Sukma datang kepadanya sekarang juga, tanpa banyak menjelaskan jika dirinya tahu Sukma sedang dalam bahaya.


Suster Mita pun coba menghubungi Sukma, namun ponsel Sukma tidak aktif, berulang kali dia coba memanggilnya lagi namun masih tidak bisa tersambung.


"Tidak biasanya Sukma seperti ini? Apa yang terjadi dengannya? Mengapa Sukma tidak bisa di hubungi?"


Ucap hati suster Mita.


Suster Mita pun berpikir untuk melakukan sesuatu agar Amira tidak terlalu memikirkan kakaknya.


Suster Mita akhirnya membawa Amira pergi ke taman di area rumah sakit agar pikirannya lebih tenang.


***


"Amira, Amira, tunggu kakak dek"


Ucap Sukma dalam pelariannya dari anak buah Rio yang terus mengejarnya.


Sukma terus berlari mengikuti jejaknya tanpa tahu dia berlari ke arah mana, dalam pikirannya hanya satu, dia harus bisa lolos dari kejaran Rio.


Sukma menemukan gundukan semak belukar yang bisa menutupi tubuhnya, akhirnya dia bersembunyi, di dalam semak tersebut dan coba mengeluarkan memori card yang berisi rekaman pak Dirga dan Reiner.


Sukma sengaja mengubur memori card di bawah semak tersebut guna mengantisipasi jika sesuatu terjadi padanya.


"Aku harus simpan bukti terakhir ini, jangan sampai Rio menemukan memori card ini"


Sukma pun merunduk dan memejamkan mata saat anak buah Rio berhasil melewatinya.


Tepat di hadapan Sukma, Rio dan anak buahnya berhenti mencari keberadaan Sukma.


"Dimana gadis itu? Cepat sekali dia lari nya bos"


Ujar salah satu anak buah Rio.

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu, temukan Sukma dan bawa bukti itu, kalau perlu lenyapkan sekalian dia"


Perintah Rio.


Salah satu anak buah Rio coba membantah untuk menghabisi nyawa Sukma, karena pak Dirga tidak menyuruhnya untuk melenyapkan Sukma, pak Dirga hanya menyuruh mereka untuk merebut kembali bukti yang Sukma miliki.


Rio pun menjelaskan jika pak Dirga memang tidak menyuruhnya untuk melenyapkan Sukma, tapi Reiner yang memberi perintah,


"Kau jangan banyak bertanya, turuti saja perintahku, cepat temukan gadis itu"


Nada Rio naik memerintahkan anak buahnya untuk kembali mencari Sukma.


...


Air mata Sukma kembali menetes kala mendengar semua percakapan mereka, Sukma dibuat semakin kecewa kala mengetahui jika pak Dirga lah yang telah menyuruh Rio untuk mengejarnya.


"Pak Dirga, apa yang sudah bapak lakukan?"


Tangis air mata Sukma akan pak Dirga.


Sukma pun berpikir dia tidak boleh berlarut dalam kekecewaannya pada pak Dirga, dia harus segera pergi dari sana dan menyelamatkan diri terlebih dahulu, untuk bukti yang dia punya, biarlah terkubur di bawah tanah semak belukar di hutan ini.


"Ku titipkan bukti ini padamu Tuhan, aku akan membawanya kembali setelah berhasil lolos dari kejaran mereka"


Setelah di rasa aman, Sukma pun keluar dari persembunyiannya perlahan Sukma lari ke arah sebaliknya, arah berlawanan dengan anak buah Rio, Sukma terus berjalan sedikit berlari dengan langkah yang dia tahan agar tidak menimbulkan suara.


Keringat bercucuran di seluruh wajah Sukma, rasa takut semua bercampur aduk menjadi satu,


Sukma tidak membiarkan sedikit celah agar dia ditemukan oleh Rio.


Di pertengahan jalan, Sukma sejenak berhenti di sebuah pohon yang menurutnya sudah dia lewati, namun kini dia berakhir kembali di tempat ini.


"Perasaan tadi aku sudah lewat pohon ini? Apa yang terjadi? Apa aku tersesat?"


Pikir Sukma saat menyadari jika langkahnya hanya berputar pada tempat yang sama.


Sukma pun mulai lelah dan lengah, kepalanya serasa berputar. Dan disaat yang bersamaan, Rio yang melihat keberadaan Sukma langsung menariknya dengan keras dan menyeretnya secara paksa mengikuti dirinya.


"Ah lepaskan aku lepaskan"


Dalam kelemahannya, Sukma berusaha berontak dan melepaskan diri dari genggaman tangan Rio yang kasar, Sukma terus melawan Rio dengan tenaga yang tersisa.

__ADS_1


"Lepaskan aku Rio, lepaskan, bukankah sudah aku bilang jika aku sudah tidak mempunyai bukti itu, kamu sendiri yang sudah menghancurkan ponselku"


Ujar Sukma pada Rio yang terus menyeret nya.


"Diam kamu diam, aku tidak bodoh sepertimu"


Rio membentak Sukma dengan sangat keras, dia masih percaya jika Sukma mempunyai bukti lain.


Namun Rio masih teguh dengan pendiriannya, akhirnya Rio membawa tas Sukma dan menggeledahnya.


"Diam


dimana bukti itu, Dimana?"


Rio kembali bertanya pada Sukma dengan emosi yang membludak karena dia tidak menemukan bukti itu di tas Sukma.


Rio menyuruh anak buahnya untuk memegang erat Sukma dan jangan sampai biarkan dia lolos.


Sementara itu Rio menghubungi Reiner untuk memberitahu jika buktinya sudah tidak ada.


"Halo Rei, sepertinya Sukma sudah tidak mempunyai bukti tentang kita"


Rio menceritakan semua yang telah dia lakukan dari menghancurkan ponsel Sukma sampai dia menggeledah isi tas Sukma.


"Jangan biarkan dia lolos, dia wanita yang sangat pintar, kamu jangan terkecoh olehnya, jika perlu kamu tahan dan sekap Sukma agar dia tidak bisa bertingkah"


Jawab Reiner dari sebrang telpon meminta Rio untuk tidak melepaskan Sukma begitu saja.


Rio pun kembali perlahan berjalan menuju Sukma, Rio menatap Sukma dari ujung kaki sampai ujung rambutnya dengan senyum licik.


"Boleh juga"


Ujar Rio saat melihat Sukma.


"Lepaskan aku Rio, jika tidak kau akan menyesali semua ini, lepaskan aku"


Sukma terus berusaha melepaskan dirinya.


Namun Rio tidak mendengarnya sedikitpun.


"Sekali lagi aku beri kamu kesempatan untuk bicara yang sebenarnya padamu Sukma, cepat katakan dimana bukti itu?, Jika tidak kau katakan maka nasibmu akan sama dengan adikmu yang manis itu"

__ADS_1


Mendengar Rio menyinggung tentang Amira, api dendamnya mulai membara, ingin sekali Sukma menghabisi Rio saat itu juga, namun apa daya, Sukma masih tidak lemah dia hanya berusaha melepaskan diri dari ketakutannya.


Sukma pun menatap Rio dengan tatapannya yang tajam, dalam hati, Sukma berpikir untuk memberinya pelajaran.


__ADS_2