
Pemakaman Amira pun selesai di laksanakan, Amira di makamkan di belakang rumah sakit jiwa tempat dia di rawat, bersama dengan jasad bayi palsu yang sengaja pak Dirga setting agar semua mengira jika Amira dan bayinya juga sudah tiada.
Untuk yang terakhir kali, pak Dirga meminta maaf di samping makam Amira yang masih basah,
Pak Dirga berjanji akan menjaga dan membesarkan bayinya dengan baik sebagai penebus dosanya atas semua kejahatannya pada Sukma.
"Aku berjanji Amira, bapak akan membesarkan dan menjaga anakmu dengan baik"
Ucap terakhir pak Dirga pada Amira.
Semua berduka atas meninggalnya Amira dan sang bayi, terlebih suster pita yang selalu bersamanya mengurus Amira setiap hari, dia sangat terpukul dan tidak percaya jika Amira sudah tiada.
...
Di rumah, Bu Siska yang mengetahui kabar meninggalnya amira dari Reiner merasa kesal, karena suaminya lebih memilih sibuk mengurus Amira daripada dirinya.
Setiba pak Dirga di rumah, Bu Siska dengan semua ocehannya terus memarahi pak Dirga karena kesal,
"Papa lebih memilih wanita gila itu daripada mama? Papa keterlaluan, seharian ini mama pergi kesana kemari menggantikan papa meeting dengan semua klien, tapi apa yang papa lakukan, papa hanya membuang waktu papa hanya untuk mengurus wanita tidak waras itu?"
Ujar Bu Siska yang kesal pada pak Dirga.
Pak Dirga yang saat itu masih berada dalam suasana duka pun tidak terima istrinya terus memarahinya.
__ADS_1
"Cukup, jangan sebut Amira wanita gila, anakmu yang sudah membuatnya tidak waras, jadi anakmu lah yang gila, dan kamu sebagai ibunya juga lebih gila karena membiarkan wanita itu tiada"
Sebuah jawaban yang membuat Bu Siska terdiam dan tidak menyangka jika suaminya tega bicara seperti itu padanya.
Reiner pun yang mendengar ikut terkejut, kenapa papanya sampai tega mengatakan jika dia dan ibunya gila.
Dengan sedih dan air mata yang menetes, bu Siska pun pergi ke kamarnya dengan kesal.
Dia sangat sakit hati dengan apa yang pak Dirga katakan padanya.
"Ah..."
Pak Dirga pun berteriak marah karena ikut kesal dengan suasana yang sedang dia hadapinya sekarang, di satu sisi, rasa bersalahnya pada Amira dan Sukma semakin membesar dan membuat hidupnya tidak tenang.
Akhirnya pak Dirga pun kembali pergi dari rumah,
Pak Dirga coba menepi sejenak dari semua masalahnya dengan pergi ke vila sendirian.
Reiner yang melihat papanya pergi melajukan mobilnya dengan sangat kencang, hingga dia tidak sempat untuk menahannya.
"Papa ..
Papa?"
__ADS_1
Teriak Reiner memanggil pak Dirga untuk berhenti, Reiner bingung, apa sebenarnya yang terjadi pada keluarganya, kenapa kematian Amira membuat keluarganya hancur.
"Sudah tiada saja kamu masih membawa petaka Amira"
Umpat Reiner akan semua kesialan yang menimpa keluarganya itu.
***
Keesokan harinya, Dara yang sudah bersiap untuk pergi ke rumah dr Rafi merasa sangat bahagia,
Karena akhirnya dia bisa keluar dari rumah sakit ini.
"Akhirnya, aku akan segera pulang, aku sangat bahagia sekali ayah"
Ucap Dara pada dr Rafi.
Dr Rafi pun ikut bahagia dengan kebahagiaan Dara,
Dr Rafi tersenyum bahagia melihat Sukma menjelma sebagai anaknya, sosok Dara begitu melekat pada Sukma, karena bukan hanya sikap dan kepribadiannya yang sama, namun semua yang dimiliki Dara, ada pada Sukma, sehingga dr Rafi kini tidak merasa kehilangan sosok Dara lagi karena ada Sukma bersamanya.
Sukma pun berniat sebelum dia pergi ke rumah dr Rafi, dia akan berkunjung ke rumah sakit jiwa untuk menemui Amira terlebih dahulu.
T
__ADS_1