
"Tidak, pasti suster sedang bercanda kan? Bagaimana mungkin Amira pergi tanpa meminta ijin kakak nya"
Ucap Dara yang tidak percaya makam yang ditunjuk suster Vita adalah makam Amira.
Suster Vita pun kembali menjelaskan jika memang itu adalah makam Amira, dengan memperlihatkan batu nisan Amira yang bertanggal lahir 23 mei 1995, air mata Dara pun tak mampu dia bendung.
"Tidak ini tidak mungkin"
Dara mundur perlahan dari hadapan makam Amira dan bayinya, karena dia memang tidak percaya jika Amira sudah tiada.
Suster Vita pun pergi sejenak meninggalkan Dara sendirian,
"Ini tidak mungkin, pasti ini mimpi buruk, dik, kakak sedang mimpi kan? Kamu dimana Amira? Kakak sudah datang, lihatlah Kaka bawa apa untuk kamu? Kakak membawakan semua yang kamu suka? Kemari lah dik"
Kata Dara dengan semua khayalannya jika Amira pasti akan datang sebentar lagi menghampirinya.
Tak lama kemudian, suster Vita pun datang membawa sebuah kotak berisikan buku curahan Amira, karena sebelum dia wafat, Amira sempat berpesan padanya.
Jika nanti ada seorang wanita cantik datang mencarinya, maka berikanlah buku ini untuknya, dan sampaikan salam dan cintanya untuk wanita itu.
__ADS_1
Mengingat pesan itu, suster Vita pun langsung membawa buku Amira dan hendak memberikannya pada Dr Dara.
Dr Dara yang saat itu sedang duduk di bawah pohon rindang, tempat dimana Amira biasa berteduh menikmati suasana alam disana, masih menahan rasa sesak di dadanya karena kehilangan Amira.
Suster Vita pun menghampiri Dara, dan menyerahkan bukunya.
"Sebelum Amira tiada, dia sempat berpesan untuk memberikan bukunya pada seorang wanita cantik yang mencarinya, dan mungkin maksud Amira adalah dokter, saya tidak tahu ini benar atau tidak, tapi saya merasa wanita yang dimaksud Amira memanglah dr Dara"
Ucap suster Vita memberikan bukunya.
Dr Dara pun hanya diam dengan linangan air matanya saat menerima buku Amira.
Suster Vita pun pamit untuk kembali bekerja, kemudian berlalu meninggalkan dr Dara sendirian.
Dara pun mulai menyeka air matanya dengan lemah,
Di halaman pertama Amira menuliskan kehidupan bahagianya bersama sang ibu dan kakaknya, semua terasa indah meski hanya hidup bertiga tanpa seorang ayah.
Bayangan dr Dara pun seketika tertuju pada masa lalu nya bersama Amira, dimana mereka selalu bersama dan selalu melindungi, pesan sang ibu sebelum tiada pun memang menitipkan Amira, jangan sampai dia meninggalkannya apapun yang terjadi.
__ADS_1
Senyum kecil dengan air mata yang terus mengalir kembali membasahi pipinya,
Dara pun mulai membuka lembaran selanjutnya dimana Amira menuliskan tentang rasa sayangnya yang besar kepada sang kakak, karena diam-diam Amira menjadikan Sukma sebagai panutannya tanpa sepengetahuan Sukma.
"Jadi selama ini kamu menjadikan aku sebagai panutan hidupmu de?"..
Amira menuliskan rasa sayang dan kekaguman kepada kakaknya yang baik, bijak, dan cerdas itu.
Dara pun tak kuasa untuk melanjutkan membaca buku adiknya itu, Dara memeluk erat buku Amira dengan berteriak memanggil namanya.
"Amira"
Dara meluapkan semua kerinduannya dengan air mata yang terus mengalir deras membasahi pipinya, Dara tak henti memanggil Amira dalam setia napasnya.
...
Kematian Amira dan anaknya berhasil menumbuhkan api balas dendam yang semakin menyala di hatinya.
Dara berjanji di hadapan batu nisan Amira, jika dirinya akan membalaskan dendam kematiannya kepada para pelaku yang telah melecehkannya dan membuat hidupnya hancur.
__ADS_1
Dengan air mata menjadi saksinya, Dara berjanji
"Kakak berjanji dik, Kakak akan berusaha memberimu keadilan atas semua kehancuran dihidupmu, kakak tidak akan merasa tenang sebelum kakak berhasil menghancurkan semua penjahat itu"